Kabir hanyalah pemuda biasa yang bekerja sebagai satpam, harus menghadapi kekejaman di dalam hidupnya yang tidak pernah terbayangkan. Ia harus melawan takdirnya untuk selamat dari permainan kesenangan seseorang yang memiliki banyak uang.
Di Pulau Kematian ia bertemu banyak orang yang bernasib sama dengannya yaitu penculikan, ia bertemu dengan wanita cantik yang lembut bernama Kirana yang selalu menolong orang lain dari pada dirinya sendiri hingga cinta dan kasih pun tumbuh di antara keduanya.
Kabir juga bertemu dengan sahabat satu pekerjaannya Hendro dan model juga artis dunia Mona.
Mereka berempat berusaha untuk mempertahankan nyawa dan keselamatan mereka juga semua korban penculikan.
Mampukah mereka melawan takdir yang sudah ditentukan oleh Alberto seorang konglomerat kejam?
Mampukah mereka selamat dari jebakan dan permainan di Pulau Kematian dengan taruhan nyawa?
Diselingi intrik percintaan lokasi yang mengharu biru dan lucu.
Penasaran ... Ayo simak kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syafridawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa cinta
Marta membersihkan luka Darmanto yang masih menganga, akibat ledakan granat. Sebagian bahunya sudah terkoyak dan darah mengalir dengan derasnya,
Marta yang masih terluka dibagian kakinya, rasa nyerinya pun tidak dihiraukannya. Ia membersihkan luka Darmanto secepat kilat dengan alkohol dan menyemprotkan botol obat.
Marta benar-benar khawatir akan keselamatan Darmanto, "Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi, apalagi di sini." Marta terus saja membersihkan luka Darmanto.
Setelah selesai mengobati luka Darmanto, Marta membersihkan sekujur tubuh Darmanto dengan kain dari baju yang ia sobek dari kausnya.
Ia hanya ingin membersihkan luka agar Darmanto segera sadar, kemudian ia pun mengobati lukanya dengan secepatnya, ia kembali di sisi Darmanto membelai wajahnya, "Wajahnya tampan sekali," batin Marta.
Ia memandang ke arah celah gua, di luar ia melihat cahaya merah api yang terus sambar menyambar di angkasa dan percikan bunga api akibat dari ledakan listrik.
Suasana gelap gulita cahaya penerangan dari listrik padam seketika, "Bagaimana nasib yang lain?" batin Marta khawatir.
Ia masih menggenggam tangan Darmanto, "Mar ... ta!" lirih Darmanto di antara sadarnya.
"Aku di sini, cepatlah sadar!" balas Marta mendekat ke wajah Darmanto, ia berusaha memberikan kasihnya.
Tubuh Darmanto sepanas api, ia benar- benar demam. Berulang kali Marta mengompresnya dengan kain basah.
Ia terus menggenggam dan memeluk tubuh Darmanto, sepanjang waktu Darmanto mengigau menyebut nama Marta.
"Marta, aku suka wajah dan senyummu juga ketangkasanmu ...." lirih Darmanto di sela igauannya.
Wajah Marta memerah sesudah hampir 5 tahun ia sendiri, baru kali ini hatinya berdesir karena seseorang pria memujinya.
Semenjak kematian suaminya ia tidak pernah melirik pria lain, apalagi berniat untuk menggantinya.
Ia sangat mencintai suaminya, ayah dari Marina putrinya yang kini berumur 8 tahun. Ia tidak menyangka di Pulau Kematian ia menemukam seorang pria yang mampu membuat hatinya berdesir.
"Apakah aku menyukainya?" batin Marta bertanya. Ia memandang wajah Darmanto, debar-debar kasih menggelitik sendu di sanubarinya.
Will memasuki celah gua, dengan membawa Toto yang luka di kakinya.
Di belakangnya Heru memapah Zai, disusul Mona dan Hendro yang langsung menutup celah gua.
"Apakah semua sudah lengkap?" tanya Hendro. Ia memandang sekeliling, "Sial, Kabir dan Kirana!" teiaknya ingin kembali ke luar.
"Jangan dulu! Kita tunggu dulu reda, baru kita cari mereka. Aku tidak melihat orang-orang beeluf menangkap mereka," cegah Heru.
Mona mengobati luka Toto, Will mengobati luka Zai. Secepat kilat mereka menyelesaikan pengobatan dan kembali berjaga-jaga menunggu keributan reda.
Ledakan-ledakan listrik terus membahana, entah berapa lama akhirnya ledakan beruntun pun usai yang tinggal hanyalah kebisuan dan sisa-sia darah yang masih bertebaran.
Mayat-mayat orang-orang beeluf, bertebaran di segala penjuru markas mereka. Bangunan batu bata sudah luluh lantak rata menjadi abu menambah tumpukan gurun pasir yang baru yanh panas akibat ledakan.
Pagi sudah menjelang, semburat jingga sudah menampakkan wujudnya. Keheningan mencekam, suara gaokan gagak mulai mengitari gurun.
Kumpulan gagak mulai berpesta, karena banyaknya mayat yang bertebaran. Heru dan Hendro ke luar celah gua menyusuri gurun, di antara mayat-mayat orang-orang beeluf mencari Kabir dan Kirana.
Namun mereka tidak menemukan hingga tengah hari, akhirnya mereka kembali ke gua untuk menghindari pasukan Alberto Kuro yang menyusuri gurun mencari para pion yang membuat keonaran.
Di kastil Alberto Kuro benar-benar murka, akan kelakuan para pion yang membuat kehancuran Wilayah gurun.
Brakk!
Alberto Kuro menggebrak mejanya, ia benar-benar murka. Ia merasa sangat geram, ia tidak menyangka kali ini pionnya benar-benar sekawanan srigala yang pintar.
Biasanya ialah yang menggiring kawanan rusa hingga tercerai berai namun, kali ini ialah yang menjadi rusa yang terdesak.
Ia mengumpulkan semua pemegang saham untuk berunding dan mengenai Pulau Kematian yang mulai hancur sedikit demi sedikit.
"Apa yang harus kita lakukan? Aku ingin kali ini, kalian ikut berperan di dalam semua ini." Alberto memandang satu demi satu wajah-wajah di layar monitornya.
Mereka mengadakan meeting virtual, masing-masing mengeluarkan unek-unek.
Sementara di gurun pasir di sebelah selatan, sepasang anak muda yang sedang terluka tertimbun pasir.
Kawanan burung gagak mematuk-matuk kaki yang menyembul di permukaan bumi, sebagian tubuh mereka tertimbun pasir.
Patukan-patukan burung gagak membangunkan Kabir, "Argghh." Kabir terbangun, ia melompat mengangkat tubuhnya. Pasir berjatuhan dari tubuhnya, ia memegang kepalanya dengan kedua belah tangannya ia merasakan pusing.
Namun kawanan gagak mengitari mereka, ia melihat matahari tepat di atas kepalanya. Ia mencoba melihat ke sekelilingnya penuh dengan mayat-mayat yang bergelimang dan dirubungi burung gagak.
"Kirana?!" teriak Kabir melihat Kirana tertimbun pasir, ia mendekati Kirana membersihkan pasir yang menimbun tubuhnya.
Ia membopong Kirana menjauhi kawanan gagak, ia melewati lautan pasir yang begitu panas.
Tanpa terasa ia menjauh meninggalkan gurun hingga sampai ke sebuah oasis,
Kabir membaringkan Kirana di dekat sebuah danau air di tengah gurun sebuah oasis yang sangat indah, "Paling tidak ini adalah sebuah surga," lirih Kabir.
Ia menangkupkan tangannya untuk mengambil air, ia meminumnya beberapa teguk air dan membawanya ke mulut Kirana. Ia memberikan minuman melalui mulut ke mulut, ia berusaha membersihkan luka yang diderita Kirana.
Setelah itu ia menyemprotkan botol obat yang diberikan oleh Nara di saku masing-masing mereka, ia juga memberikan sebuah kapsul obat kepada Kirana.
Kabir mengobati lukanya di bagian pinggang dan kakinya, ia berusaha untuk tegar dan kuat untuk membawa Kirana selamat dari pulau kematian, "Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada dirimu, aku ingin kita pulang dengan selamat!" batin Kabir.
Ia membelai wajah ayu Kirana, ia kembali membopong Kirana membawanya ke sebuah pohon yang sedikit rindang. Ia merasa sangat lapar, Kabir mencari ikan di danau kecil namun ia tidak mendapatkannya.
Ia sudah putus asa, namun Kabir melihat seekor ular yang tidak berbisa, ia langsung membunuh ular tersebut mengulitinya dan membakarnya. Ia mencoba memakannya dengan lahap,
"Aku tidak tahu harus berbuat apalagi? Hanya untuk mengganjal perut, dan bertahan di pulau gila ini." Kabir makan dengan lahapnya.
Kabir merasa sedih namun ia berusaha untuk tegar, ia menyuapi Kirana melalui mulutnya. setelah selesai memakan daging ular yang dipanggangnya, Kabir mencari tempat persembunyian namun sejauh ia melangkah.
"Seperti hanya oasis inilah yang sedikit menguntungkanku, namun aku tidak yakin bila Alberto tidak mengetahui keberadaan oasis ini. Ia akan secepat kilat mengirimkan tim pembersihnya," batinnya.
Kabir kembali menggendong Kirana di punggungnya, ia berusaha berjalan secepat mungkin. Namun sejauh mana pun ia berjalan yamg terlihat hanyalah melihat sebuah Fatamorgana.
Ia sudah lelah dan semakin lelah "Ya, Allah! Tunjukkanlah kepadaku jalan agar aku dan Kirana selamat dari pulau kematian ini," ucap Kabir.
Ia menengadahkan tangannya, ia terus saja berjalan hingga kawanannya gagak terbang di depannya, seakan-akan menuntunnya ke suatu tempat.
Kabir terus mengikuti kawanan gagak sebagai pemandunya Hingga ia menemui sebuah hutan kecil sangat jauh dari oasis di gurun pasir,
ia tidak tahu berada di mana yang ia tahu, semua senjatanya telah hilang entah ke mana. Begitu juga dengan Kirana, mereka hanya mengantongi persediaan obat dan sangkur di selipan sepatu botnya.
Ia terus mencoba mencari sebuah jalan dan sebuah persembunyian untuk dia dan Kirana, ia tidak tahu harus ke mana hingga Ia mendapatkan sebuah pohon yang sangat besar dengan lubang di tengahnya.
Kabir merasa aneh dengan pohon yang memiliki gerowong di batangnya, ia membawa masuk Kirana dan dirinya ke dalamnya, karena hujan sudah mulai turun mengguyur bumi.
Ia semakin erat memeluk Kirana yang belum sadar juga, luka yang diderita Kirana sangat besar. Kirana hampir Kehilangan daging di bagian punggung dan lengannya, Namun karena botol obat yang telah disemprotkannya
membuat luka tersebut kembali seperti sedia kala, tanpa ada celah sedikit pun di bekas luka. Namun untuk mendapatkan kesadaran, hal itu juga dibutuhkan kesabaran dan suatu mukjizat yang luar biasa.
Untuk kesembuhan yang diderita alam bawah sadar dan juga luka bagian dalam, botol obat hanya bisa digunakan untuk kepentingan luka luar saja tidak dianjurkan untuk luka dalam.
Kabir semakin cepat berpikir untuk mencari perlindungan lain lagi selain batang kayu yang berlubang di bagian tengahnya.