NovelToon NovelToon
Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Supernatural / Contest / Cinta Beda Dunia / Dunia Lain / Mengubah Takdir / Barat
Popularitas:2.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Pangeran Buluk

Lalu Argadana anak laki - laki yang memiliki garis darah keturunan setengah manusia dan setengah siluman. Di umur sepuluh tahun telah diangkat menjadi raja di Kerajaan Siluman Darah.

Tetapi sebelum dapat memimpin takhta, sang ibu memberinya misi untuk menghabisi seorang pengkhianat kerajaan selain mencari ayah kandungnya yang merupakan seorang manusia.

Dapatkah Argadana menyelesaikan misinya itu?
Silakan ikuti ceritanya dalam kisah 'Ksatria Lembah Neraka' yang akan kami update in sya allah 1 chapter/hari

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pangeran Buluk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kematian Deboq Kao

Suasana pertarungan di halaman Perguruan Belibis Putih tiba - tiba saja menjadi hening. Tidak ada lagi murid kedua belah pihak yang bertarung.

Semua menoleh ke arah pertarungan yang terjadi antara Deboq Kao dengan seorang pemuda yang tidak mereka kenali. Pemuda berusia sekitar dua puluh tahun itu tampak sangat mendominasi pertarungan. Hingga pada suatu kesempatan serangannya menyasar dengan telak di tubuh Deboq Kao membuatnya terlempar muntah darah.

"Aku beri satu kesempatan lagi, katakan di mana La Huda. Atau aku hanya akan bertanya pada mayatmu"

Pemuda itu yang tidak lain adalah Argadana mengeluarkan cahaya merah mengerikan dari tubuhnya menekan semua orang yang ada di situ tidak terkecuali Wardana dan Deboq Kao.

Tekanan itu merambah ke seluruh area Perguruan Belibis Putih. Tubuh Deboq Kao bergetar hebat, tanpa terasa bulu kuduknya meremang merasakan tekanan yang membuatnya kesulitan bernafas.

"Baiklah. Karena kau diam, itu artinya kau sudah siap. Maka kau berdiamlah untuk selamanya" kata Argadana.

Pendekar kita itu mengangkat tangannya terkepal menengadah langit sejajar dengan bahu. Setelah beberapa detik kemudian tangannya dari jari - jari hingga ke ujung siku berubah warna menjadi putih keperakan mengeluarkan asap putih.

Sedetik lagi Argadana hendak melepaskan 'pukulan api salju' ...

"Tu... Tunggu. . . Tunggu dulu, anak muda. Aaa.... Aku akan mengatakannya" kata Deboq Kao cepat saking takutnya.

"Terlambat ..." desis Argadana seraya melepaskan pukulannya.

Duar. . .!!!

Deboq Kao terpental sejauh dua puluh lima tombak bagai daun kering tertiup angin. Dia jatuh ke tanah dengan kondisi tubuh dalam keadaan membeku. Tidak lama kemudian terlihat retakan - retakan di tubuh bekunya. Sesaat kemudian mayatnya hancur membentuk kristal - kristal es kecil dan raib tertiup angin.

Semua orang yang menyaksikan hal itu bergidik ngeri. Pada hari itu juga penyerangan terhadap Perguruan Belibis Putih berakhir dengan tewasnya Deboq Kao di tangan pemuda berrambut emas.

Kemenangan itu tidak lantas menjadikan anggota Perguruan Belibis Putih bergembira, karena pada penyerangan itu hampir separuh murid mereka gugur mempertahankan martabat perguruan mereka.

***

Setelah sehari pemakaman terhadap murid - murid yang gugur diadakan Argadana ikut berkumpul bersama Wardana dan beberapa orang tetua Belibis Putih, smentara sisanya mengatur pengobatan para murid yang masih terluka.

"Anak muda, kami sangat berterimakasih atas Budi baikmu hari ini. Karena mu perguruan kami akhirnya dapat bertahan dari kehancuran" kata Wardana penuh kekaguman.

"Ahh. . . Paman Wardana bisa saja. Lagi pula, tanpa saya bantu sekalipun bukankah paman akan sanggup menghadapi orang itu kemarin?" Argadana merendah.

"Kau memang benar, Argadana. Tetapi aku tidak akan berdaya jika mereka menyekap keluargaku, dan beruntungnya kamu masih sempat menolong. Jika tidak, perguruan ini mungkin akan beralih haluan menjadi perguruan aliran hitam karena aku hampir putus asa waktu itu" keluh Wardana.

"Benar kata ketua, Argadana. Kami tidak akan bisa bertahan jika kau tidak datang membantu waktu itu" kata seorang tetua bernama Wulung Pati.

"Ah... Iya... Kulihat, kau sangat penasaran dengan 'ilmu lintah maut' milik Perguruan Tengkorak Darah kemarin. Kalau boleh kami tahu, apa kau punya alasan khusus mencari orang yang disebut leluhur pendiri Perguruan Tengkorak Darah itu?"

"Ahh. . . Hanya sedikit masalah kecil, paman" kata Argadana.

Wardana yang mengerti bahwa Argadana enggan menjelaskannya pun tidak memaksa.

"Emm. . . Jadi kemana tujuanmu setelah ini, Argadana?" tanya Wardana.

"Saya ingin mencari keluarga saya di Kota Rambiga, paman. Namanya Wisesa, orangnya sering bepergian untuk keperluan dagang. Paman kenal atau pernah mendengar namanya?" jawab Argadana sedikit berbohong.

"Tunggu sebentar...." Wardana tampak berpikir sambil mengelus dagunya yang ditumbuhi sedikit janggut yang sudah mulai memutih.

"Wisesa. . . Wisesa. . . Nama itu seperti tidak asing. Dari Kota Rambiga, seorang pedagang" kata Wardana seolah bergumam sendiri

Tiba - tiba tetuanya yang bernama Parso dengan cepat berkata

"Ketua, bukankah Wisesa itu adalah pedagang kaya tempat kita memesan kain untuk keperluan seragam para murid?"

"Ahh. . . Benar. Aku ingat sekarang" Wardana hampir terjungkal dari tempat duduknya saking terkejut.

"Jika Wisesa yang kau maksud pedagang dari kota Rembiga itu adalah dia, maka kau tunggulah sampai besok. Mereka akan kemari membawakan barang pesanan kami" kata Wardana tersenyum senang.

"Akhirnya aku dapat alasan untuk menahan pemuda ini di sini. Jika aku bisa menjadikan dia menikahkan dia dengan Gayatri, perguruan ini akan mendapat tambahan kekuatan yang cukup besar" kata Wardana tertawa dalam hati.

***

Malam hari di kediaman Wardana.

"Kakang Argadana, apa kakang akan pergi dari sini setelah bertemu keluarga kakang?"

Gadis berpakaian serba merah dengan rambut panjang berumbak sebahu bertanya pada seorang lelaki muda berambut emas berkilau terkena sinar lampu pijar di sampingnya.

"Yah... Begitulah, masih ada beberapa misi yang harus diselesaikan. Jadi tidak bisa berlama - lama di sini" kata pemuda berambut emas yang tiada lain adalah Argadana adanya.

Argadana tahu bahwa Gayatri, putri Wardana itu memang menyukai dirinya. Terlihat dari perlakuan gadis itu terhadapnya. Tetapi dia hanya berpura - pura tidak mengerti karena tidak ingin mengecewakan harapan Ningrum, terlebih lagi Argadana hanya menganggapnya sebagai adik saja.

Sebaliknya Gayatri telah mencoba berbagai macam cara untuk memperlihatkan pada Argadana bahwa dia memperhatikan dirinya. Melihat ekspresi Argadana yang tampak biasa saja dan terkesan pendiam membuat dia tersenyum kecut.

"Apa mungkin dia sudah punya kekasih di luaran sana?" batin Gayatri putus asa.

"Kakang. . ." panggil Gayatri lagi mencoba mencairkan suasana kaku antara keduanya.

"Iyah. . ."

"Apakah kakang sudah punya kekasih di luaran sana?"

Wajah Gayatri memerah setelah melontarkan pertanyaan tersebut, gadis itu merasa sangat malu dengan pertanyaan konyolnya.

"Emm. . . Yah ... Memang, ada yang sedang menunggu kepulangan ku di Sampang Daru"

"Eh. . .? Kakang berasal dari sana?" kejut Gayatri yang mengira Argadana berasal dari kerajaan yang sangat jauh dari tempatnya saat ini. Argadana hanya menjawab dengan gelengan kepala.

"Dia yang berasal dari sana" jawab Argadana singkat.

"Kekasih kakang?"

"Adik seperguruanku, juga tunanganku"

Argadana tersenyum sendiri mengingat apanyang mereka perbuat sebelum berpisah, dia hampir saja menodai perasaan kasih di antara keduanya.

Gayatri merasa tersayat hatinya, tanpa sadar mengalir air mata di pipinya. Sejak pertama kali mereka bertemu ketika Argadana membebaskan ikatan di tubuhnya ketika insiden penyerangan yang dilakukan oleh Perguruan Tengkorak Darah Gayatri sudah jatuh hati pada pandangan pertama kepada Argadana. Kini harapannya untuk mendapatkan Argadana pupus sudah sebab Argadana ternyata telah mempunyai seorang tunangan yang tengah menunggu kedatangannya.

"Nah, sudah larut malam. Segeralah istirahat" kata Argadana segera mengakhiri obrolan dan segera beranjak menuju kamar yang telah disediakan untuknya.

Argadana sempat berhenti dan menoleh ke belakang setelah jauh dari Gayatri

"Maafkan aku, Gayatri. Tiada niatan untuk menyakitimu, tetapi aku tidak mungkin mengatakan kebohongan hanya demi menyenangkan hatimu selama sesaat"

1
Audrey Maritza Kanedy
Luar biasa
Ihwan Udin
menyebut natuhanku Alloh emang udah ada Islam
Amelia putri
sampah
Amelia putri
bertele tele
Amelia putri
naif gk di bunuh aja
Hariadi Siregar
lanjut
Mbak Shity
lanjut terus🥰
Mbak Shity
mantap🤩
Mbak Shity
bagus ceritanya🥰
Musa Torpas
cerita bagus enak di baca
Bayu Putra
Mantap lanjutkan suhu
Herry Susanto
bagus ceritanya.
Mawan Iwan
akhir cerita 😆😆
Lil Badri
sangat bagus
Pajero Asia
Keren
Ristalia Noer
mantul banget pengen denger kelanjutan nya lagi
Bang Roy
lanjutkan sampai selesai thor..
Bang Roy
punya wanta cantik selalu diganggu
Bang Roy
makin mantap nih cerita..
Bang Roy
bagus nih cerita kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!