NovelToon NovelToon
Conquer Me

Conquer Me

Status: tamat
Genre:Teen Angst / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Romansa / Bad Boy / Tamat
Popularitas:550.9k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.

Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.

Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?

Conquer me ~》Taklukan aku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30🩷 Keterbukaan

Dea muncul turun dari tangga, sementara Gibran sudah duduk di sofa memperhatikan beberapa barang yang sudah bergeser dari tempatnya atau hilang dan tak lagi ada disana, tanda jika ucapan Dea tentang perpindahannya itu benar adanya.

Tak ada kuda-kuda yang dipasang, Dea langsung saja menyerang, "mau ngapain kesini?"

Namun mama tak sampai menegurnya, sebab itu---hal biasa.

"Mau jagain gue tidur juga? Atau mau mantau hape gue?" Dea bahkan menaruh ponselnya di meja dan mendorong ke arah Gibran dimana panggilan Rifal telah berakhir.

Wajahnya itu, sepertinya ia meniru dari Rifal. Wajah malas dan jengah.

Gibran menunduk singkat dan memejamkan matanya, "sorry. Oke udahan. Gue benci jadi canggung begini." Ia bahkan tak tertarik untuk melihat ponsel Dea yang tergeletak itu dengan wallpaper foto Minion.

Dea menatapnya masih dengan ekspresi yang sama.

"Sorry gue lost control. Gue kelewat kesel aja kemaren...gue cuma ngerasa, kehadiran dan posisi gue terancam."

Kebersamaan yang sekian lama itu, membuat Gibran merasa memiliki Dea, rasa protektifnya terhadap Dea berubah menjadi over, apapun-siapapun yang mendekati Dea...ia merasa---- ia perlu tau dan ikut menyeleksi.

Jujur saja, kabar berita anak-anak sekolah tentang Dea dan Rifal yang ramai kemarin, jelas....sosok Rifaldi Elvan Januar bukan sosok pemuda yang cocok untuk Dea menurutnya.

Tentang perasaannya, yeah...memang cukup sulit untuk legowo, tapi jika berujung hubungannya dan Dea menjadi renggang begini, ia memilih untuk menerima apapun keputusan Dea.

Dea mendengus sumbang, "sejak kapan posisi Lo, Inggrid sama Willy terancam, Gib? Apapun yang Lo bilang gue iyain, sekalipun gue tau...itu salah. Suka duka kita barengan, cuma sama Lo, gue bisa jadi diri sendiri, bahkan Inggrid sama Willy aja ngga sedalam itu tau gue. Jangan....jangan begini, gue ngga mau. Kebayang kan, kalo kita punya hubungan, terus kita marahan kaya apa? Ngga enak, terus gue harus minta bantuan, cerita sama siapa?"

Gibran tersenyum dan mengehkeh sumbang, kemudian ia mengambil posisi duduk di samping Dea menarik kepala Dea dan mendekapnya, "gue mesti gimana kalo gini, De...patah hati gue...Lo-nya ngga mau, tapi gue ngga bisa jauhin lo. Tapi juga deg-degan kalo deket Lo, bisa denger ngga Lo?"

Dea mendongak mencoba menjauh namun Gibran masih mendekapnya, "ya jangan lah an jirrr. Coba buat ilfeel sama gue."

Gibran tertawa, "ngga bisa lah, do ngo banget." Gibran bahkan sudah mendorong kepala Dea, "namanya perasaan yang atur Tuhan."

"Kalo gitu gue doain biar Allah bisa bolak-balikin hati Lo cepet-cepet. Ngga enak kalo kita pacaran, lagian gue udah tau dalem-dalemnya Lo, ngga bikin deg-degan. Caweet Lo aja gue tau, soalnya tante Silvi sering jemur, ukuran M...hahahaha!"

Dea tertawa tergelak dengan Gibran yang telah mengeratkan dekapannya di kepala Dea.

Mama melihat kedekatan itu, cukup getir juga mengingat harus memisahkan sang putri dengan kehidupan nyamannya.

"Udah nyoba buat cari contoh soal utbk UGM taun-taun sebelumnya?" tanya Gibran diangguki Dea, pandangannya pada Dea itu ...sungguh ia tak siap mendengar dua fakta yang bikin jantungnya copot itu. Satu, jika Dea tak membalas perasaannya ditambah ia mendengar kedekatan Dea dan Rifaldi. Dua, Dea akan pergi jauh darinya. Tak ada lagi wajah Dea yang akan menghiasi pagi, siang, sore dan malamnya. Harus sebegininya ia patah hati.

"Ing sama Willy belum Lo kasih tau, mau kapan?"

Dea mengangguk membenarkan, "gue belum siap buat ngadepin tantrumnya Inggrid. Jahat banget kayanya gue, bilang mau nemenin dia bangkit, tapi gue malah mau ninggalin..."

Gibran mengangguk, "jahat emang."

"Jadi bulan apa fixnya pindah?" tanya Gibran lagi.

"Coba daftar online dulu, terus isi persyaratan...nyari jadwal sama tempat UTBK nya, jadi mulai bulan Mei-an udah mulai bolak-balik Jogja. Kalo keterima Juni udah stay disana."

Gibran mengangguk, hmmm tinggal beberapa bulan lagi.

"Jogja?" lirih seseorang membuat obrolan itu langsung senyap. Dea dan Gibran mendongak.

Seorang gadis yang niatnya ingin menghabiskan waktu sore nongki cantik sambil ngobrol santai atau sekedar ngejokes dan ngomongin hal random dengan teman-temannya justru mendapati fakta mengejutkan.

"Ing,"

"Dea, Lo mau ke Jogja? Lo mau kuliah di UGM?"

/

Dea meringis dalam dekapan Inggrid yang menangis, "gue sama siapa disini, De? De, lo tau ngga...dulu tuh, gue sama sekali ngga punya temen yang tulus. Semuanya liat gue cuma karena gue anak orang berkecukupan. Ngga ada yang bertahan, semuanya ngomongin gue di belakang, semuanya bullshit, semuanya---- itu kenapa gue benci banget sama mereka yang ngga setara, semuanya muka dua...gue cuma mau nunjukin pribadi angkuh sama orang, biar ngga dimanfaatin mulu." Ucapnya yang masih diliputi dendam dan kesal, memukul rata semua orang.

"Ya gue sadar, gue emang nyebelin. Tapi Lo, Gibran, sama Willy, cuma kalian yang tahan sama sifat dominan gue. Gue sadar, temen yang sebenernya adalah temen yang ada waktu kita jatuh, temen yang ada waktu gue bener-bener di titik terendah, temen yang berani marah kalau gue marah." Ia bicara terbata dan terisak membuat Dea ikut menangis sambil tertawa.

Gibran hanya memalingkan wajahnya ke lain arah, menahan sedih yang sejak tau kepergian Dea itu.

"Ya kalo gitu Lo mesti berubah, Ing....sedikit lebih baik sama orang, lebih sabar, berusaha adaptasi sama orang lain."

Inggrid menggeleng, "gue maunya Lo. Kenapa ngga pernah bilang sihhh?! Mungkin mami sama papi bisa bantu!" ia menangis tersedu-sedu.

Dan untuk yang itu, Dea tak memiliki jawaban apapun. Yang dilakukannya hanyalah, pukk---puk...punggung Inggrid.

"Lo dah janji mau nemenin gue bangkit, De."

"Gue masih disini sampai kelulusan." Jawab Dea membuat Inggrid kembali menggeleng.

"Ing, gue mau ngaku sesuatu sama Lo...kalo gue ini sebenernya punya asma juga, selain dari mata gue yang minus." Ucap Dea lagi-lagi membuat Inggrid menatapnya nanar, "ya ampun, Dee...."

"Gue juga----"

Kini Gibran turut penasaran sebab menurutnya ia yang paling tau Dea, dan tak ada lagi yang Dea sembunyikan selain asma dan mata yang minus.

"Gue adalah korban bullying waktu SMP." akui Dea.

Bukan hanya Inggrid melainkan Gibran ikut terkejut, "hah?!"

"Gue dikucilin sekelas," Dea menggeleng dan merotasi bola matanya, "se-sekolah tepatnya, selama 3 tahun karena gue yang punya penyakit asma sama pake kacamata."

"Iya? Wah kurang ajar." Umpat Gibran.

"Temen lo yang mana, siapa?" lagi, tanya Gibran.

"Gue ngga ngerti apa masalah mereka di rumah atau di luar, karena yang jelas...dendam, marahnya mereka itu, dilampiasin sama gue, yang memang waktu itu dirasa cukup---lemah. Pernah gue coba lapor, melawan, tapi---" Dea menggeleng tak acuh, "yang ada gue makin diteken."

Inggrid menatap Dea dengan pandangan buram.

"Kok Lo ngga pernah ngomong sama gue, De? 3 tahun loh, bukan waktu sebentar? Siapa, yang dulu pernah ke rumah bukan?"

Dea menggeleng, "bukan. Itu udah ngga penting Gib...belakangan gue udah memaafkan semuanya, ngga mau lagi hidup dengan dendam. Cuma mau hidup tenang aja, oh ya...gue juga udah sempet minta maaf sama Naila, Samanta...gue ngga mau, pindahan ninggalin musuh atau do'a jelek dari orang yang pernah sakit hati."

"Ngomong sama gue De, siapa orangnya, sekolah dimana tuh anak-anak yang bully Lo?" tanya Inggrid diangguki Gibran.

.

.

.

.

1
satya
bagus banget ceritanya, jadi kita bisa menilai dari berbagai sudut pandang, terimakasih author ceritanya 👍
dheey
gemes banget sumpah sama critanya. beneran abg banget. ekwkwkwkw... kan jadi flash back waktu skolah. wkwkwkw
Poetri
slalu the best
Tiffany_Afnan
menjadi orang lain agar tdk jdi keset ya de.. bertahan hidup versimu kah ??
Siti Nina
Oke ceritanya 👍👍👍
Dewi Susanti
bagus
Tiffany_Afnan
Semoga kelak kau lebih sukses diatas mereka² para pembullymu. dan dberi keberuntungan menyaksikan pembalasan Tuhan terhadap meraka. 💪/Smile/
Tiffany_Afnan
/Panic//Panic//Hammer//Hammer/
Tiffany_Afnan
paling benci sama yg namanya bullying !! klo tau ada yg dibully, auto gerak mulut, tangan, kakiku !! ndak suka aku! /Cleaver//Cleaver/🤸🏻‍♀️🤸🏻‍♀️🤸🏻‍♀️
Susanti
di igeh udah muncul judul baru, kok blom nongol dilapak ini teh
Narto Aja
ooohhh noooo🤣🤣👍
El aisya
oh jadi si Rere
El aisya
kalau Dea tau udah ketahuan pasti malunya sampe ubun ubun🤣🤣
El aisya
di bayar berapa itu si sopir Ama kernetnya 🤣🤣🤣
Shinta Apriyani
setiap kali habis baca rasanya ikut bahagia ikut seneng..berasa jd tokoh utama..bgtu selesai baca kembali kedunia nyata..langsung jungkir balik dunianya..🤭
Rika O Amir
blm ada cerita baru ya 🤭
El aisya
ternyata gitu ya orang yg langgeng hubungannya karna memang saling menerima sifat pasangannya, mau cowok itu emosian atau apalah bahasanya tempramen dia tetep setia, karna cinta 🥰🥰
El aisya
awal baca nama kak manik aku kira cewek 🤣
El aisya
ya ampunnnnnn udah seminggu keknya aku baru baca update nya teteh,, kemarin2 lagi jadi orang sok sibuk gag bisa baca Dea Ama om Ipal,, wes kangen pwolll🥰🥰
Mymy Zizan
the best
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!