NovelToon NovelToon
Kenzo & Nada

Kenzo & Nada

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Dareen

Kenzo dibesarkan oleh Ibunya. Dia mempunyai teman yang bernama Nada. Nada dan Kenzo pada akhirnya menikah, bagai mana kisahnya? Dan sesungguhnya, ke mana Ayahnya Kenzo? Silakan ikutin alur ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 31 ( Gundah )

“Jangan sedih, tidur di rumah aja. Kan ada Ibu juga. Atau mau tidur bareng Gue?” aku memainkan alis dan melengkungkan senyuman najis.

Nada menjewer telingaku.

“Aaaduhh ... sakit, Nad!” ucapku sambil nyengir karena rasa sakit.

“Ya ... Kamu nakal!” terlihat wajah Nada yang seolah ingin menerkam mangsa.

“Iya ... Iya ... bercanda kok,” ucapku sambil mengusap telinga yang tadi dijewer Nada.

Nada ngeloyor masuk dalam rumahnya. Hari mulai gelap. Aku menggenggam gawai dan memperhatikan sekitar kontrakan. Nada belum keluar kamar, mungkin ia marah gara-gara tadi aku becandain dia.

Jeprettt!

Lampu padam, aliran. Gelaaap!

“Kenzoooo!” suara teriak Nada yang seperti ada dalam kamarnya.

Aku menyalakan senter yang terdapat dalam aplikasi hand phone. Segera melangkahkan kaki menuruni anak tangga.

“Nad!” Aku menggedor jendela kamarnya.

Aku tarik, ternyata tidak dikunci. Aku masuk dari jendela kamar, terlihat Nada sudah meringkuk di sudut ranjangnya.

Aku mendekatinya. Terlihat Nada sedang memeluk bantal guling, membenamkan wajahnya pada bantal guling yang ia peluk. Nada menangis karena fobia gelap.

“Nad,” Aku mengusap rambutnya.

Nada mendongak, tersadar ketika mendengar suaraku dan sentuhan lembut dari tanganku.

“Aku takut ....” ucap Nada kelu dengan tangan yang gemetar.

“Iya. Kamu tidur di kontrakan Gue aja ya? Biar nanti tidur sama Ibu,” ucapku yang masih menggenggam tangannya.

Nada mengangguk.

Jendela kamar pun aku kunci. Aku menggenggam tangan Nada menuju pintu utama. Nada telah mengunci pintu rumah dan kaki kami melangkah menuju kontrakan.

“Ken, Nada kenapa?” tanya ibu menghampiri Nada.

Nada memeluk ibu dan ibu membalas pelukkannya seraya mengusap lembut punggung Nada. Mungkin ibu mencoba menenangkan Nada.

“Nada takut gelap, Bu. Nada nanti nginep sini aja ya? Tidur sama Ibu,” ucapku pada ibu.

“Iya. Nanti Nada tidur sama Ibu aja kayak waktu lalu, ya?” ucap ibu sambil memandang wajah Nada.

Nada mengangguk tanpa ada kata. Mungkin ia masih belum stabil.

Aku melangkahkan kaki ke dapur, aku mengambil gelas dan mengisi air minum untuk Nada.

“Minum dulu, Nad.” Aku menyodorkan gelas yang berisi air minum.

Glek ... Glek ... Glek ....

Terdengar suara tegukan air yang meluncur dalam tenggorokan orang yang sedang ketakutan. Wajahnya basah dengan keringat.

***

Aku mulai ngamen malam ini. Setelah adzan magrib aku beranjak ke Kota Tua mencari peruntungan di sana.

Ketika aku mulai bernyanyi, sedikit demi sedikit orang mulai berkumpul mengelilingiku hingga membentuk sebuah lingkaran. Muda-mudi yang berpasangan yang lebih mendominasi, mereka ikut serta tenggelam dalam lagu-lagu yang ku nyanyikan.

Sebuah kotak yang terbuat dari kardus pun, kini telah terisi uang receh. Sedikit demi sedikit, pengunjung yang mengelilingiku memberikan uang receh mereka. Tak hanya uang receh sih. Yang kasih lima puluh ribu pun ada.

Aku menghibur mereka sampai jam setengah sepuluh malam.

.

“Bang, kenapa gak nyanyi di Southbox lagi? Dulu Abang vokalis di sana kan?” tanya seorang pengunjung.

Aku tersenyum “Iya, Mba. Kok tau?” tanyaku.

“Iya tau lah. Aku selalu ke sana, apa lagi kalau hari minggu, agenda wajib itu. Oh, iya nama Aku Desi, Bang,” mba Desi mengulurkan tangannya.

Kami bersalaman.

“Semenjak diganti vokalis, di sana agak sepi Bang,” keluh mba Desi.

“Emang kenapa?” tanyaku.

“Ya emang, Kami ke sana ingin makan. Tapi bukan hanya itu, kalau makanan enak mah banyak di mana-mana. Poin plus dari sana itu ada live music-nya yang bikin suasana hati tenang. Itu yang membuat Kami sering datang ke sana. Selain perut kenyang, hati pun tenang,” timpal mba Desi panjang lebar.

“Loh ... kan masih ada yang nyanyi di sana, Mba Desi.”

“Iya. Tapi entah kenapa kok kayak kurang gimana gitu. Nyanyinya gak kayak dari hati,” ucap mba Desi.

Aku hanya tersenyum. Enggan berkomentar takut salah ngomong.

“Oh iya, Aku pamit ya? Udah malem,” ucap mba Desi.

“Oke! Hati-hati, Mba.”

Aku pun membereskan perlengkapan yang aku bawa sementara meja dan kursi aku titipkan di tempat penitipan. Aku pulang hanya membawa gitar dan penghasilan dari ngamen.

Aku masukan uang recean ke dalam tas selempang kecil yang aku bawa. Menaiki motor dan bergegas pulang.

.

“Assalamualaikum,” ucapku sambil mendorong pintu.

“Wa’alaikum salam, Nak,” ucap ibu dari arah dapur.

“Ibu lagi apa?” tanyaku sambil menyalimi tangan ibu.

“Habis buat wedang jahe. Ini diminum,” ibu menyerahkan satu gelas wedang jahe hangat.

“Makasih, Bu,” aku duduk dan meminum wedang jahe buatan ibu.

“Ken,” ucap ibu memanggil.

“Apa, Bu?” ucapku yang menghentikan tegukanku.

“Apa gak sebaiknya Ken fokus ke kuliah aja, ya?” tanya ibu.

Aku mengernyitkan dahi, heran.

“Ibu kasihan lihat Kamu kalau malem-malem harus nyanyi, di luar lagi,” ungkap ibu yang sepertinya khawatir.

Aku tersenyum.

“Bu, Ken ingin belajar mandiri. Dapat uang sendiri, cari pengalam sendiri. Lagian, Ken senang kok menjalani semua ini,” ucapku sambil memandang wajah ibu.

“Ya sudah kalau itu memang keinginan, Kenzo. Ibu hanya takut, Kenzo nyanyi kepasa.” Ungkap ibu.

***

Hari-hari aku lalui nyanyi di Kota Tua. Di salah satu sudut jalan yang menjadi tempatku mengais rezeki ketika malam tiba.

Di Kota Tua juga, akhirnya aku di pertemukan dengan Mba Desi. Orang yang bekerja di salah satu label musik di Jakarta.

Mba Desi mengajakku bergabung dengan label musik di tempat ia bekerja sekarang. Sebenarnya, mba Desi dari dulu ingin mengajakku bergabung dengan label musiknya ketika aku masih kerja di Southbox. Namun, terhalang karena tiba-tiba aku menghilang dari Southbox, itu pengakuan dari mba Desi.

“Ayolah, Ken. Kamu bergabung di label musik tempat Aku sekarang bekerja. Aku yakin, Kamu pasti bisa berhasil,” ajak Mba Desi yang sekarang mulai akrab memanggil namaku.

Aku tersenyum.

“Bukan nolak rezeki, Mba. Tapi Gue ingin berjalan di kaki Gue sendiri dulu. Mungkin, lain kali kalau Gue masih ada kesempatan, Gue akan bergabung,” ucapku menolak.

“Ya udah deh, Aku juga gak bisa maksain kalau Kamunya sendiri belum bisa. Tapi Kamu pegang kartu nama Aku ya? Semoga lain waktu, Kamu bisa bergabung dengan label music Kami,” ungkap mba Desi yang menyerahkan secarik kertas kecil berbentuk persegi panjang.

Aku meraih kertas itu, lalu ku masukan dalam dompet “Thank’s Mba.”

Akhirnya, selesai juga ngamenku malam ini. Aku membawa uang yang di dominasi dengan pecahan dua sampai lima ribuan. Walau ada juga yang lima puluh ribuan tapi tak banyak, itupun sesekali aku dapat. Sering kali dapat di hari minggu.

Hari Minggu merupakan hari yang paling menguntungkan untukku. Karena di hari minggu, aku bisa mengumpulkan uang sekitar tujuh ratus ribu dalam waktu kurang dari empat jam saja.

Sedikit demi sedikit, aku juga menyisihkan uang untuk aku tabung sendiri. Entah buat apa? Buat modal kawin mungkin. Hehe ....

Drett ... Drett ....

Gawaiku bergetar. Aku merogoh gawai yang ada dalam saku celana dan aku menggeser layar yang terkunci dalam gawai.

‘Mas Bro, besok Gue main ke rumahmu boleh enggak? .Indra.’

“Oh ... Ini dari Indra toh,” ucapku yang masih terpaku pada layar gawai.

‘Oke! Main aja, ditunggu ya, Bro!’ balasku.

Aku melanjutkan perjalanan pulang dengan si matic berwarna hitam. Aku menembus kemacetan Kota Jakarta di bawah pekatnya langit malam ini.

Sretttt!

Aku mengerem motorku tepat di depan kontrakan. Aku masukan motorku dalam halaman rumah, tiba-tiba pintu rumah Nada pun terbuka.

“Ken,” Nada memanggil.

Aku menoleh “Iya.”

Nada mendekat.

“Ken, besok sepulang kuliah Aku ada perlu sama Mawar. Jadi besok Kamu pulang langsung aja ya? Gak usah nungguin Aku. Nanti Aku pulang diantar Mawar,” ucap Nada.

“Owalah ... Kirain ada apa? Oke deh! Padahal bisa ngomong besok,” ucapku.

Nada tersenyum.

“Hemmm ... kangen pasti ya, sama Gue?” aku terkekeh.

Nada mengangguk, masih dengan senyum yang ia sembunyikan dengan telapak tangannya.

“Tumben, jujur?” aku bertanya.

“Memang beberapa hari ini, Kamu sibuk terus,” jawab Nada.

Aku terdiam.

“Maafin Gue ya, Nad? Gue belum bisa bahagiain Lu,” ucapku menatap netra Nada lekat.

“Kata siapa Aku gak bahagia?” timpal Nada menjawab.

“Ya ... Buktinya, sampai saat ini Gue belum bisa kasih apa pun terhadap Lu, Nad,” ucapku sambil memegang dagunya yang runcing.

Kembali Nada tersenyum. Mengukir lengkungan tipis pada bibirnya.

“Cukup Kamu berikan Aku seperangkat alat sholat, itu akan membuatku bahagia, Ken.”

Hening.

Keadaan menjadi kaku.

Tidak ada kata lagi yang keluar dari mulut kami berdua dan akhirnya Nada pamit pulang.

Ia bangkit dari tempat duduk yang ada di teras luar kontrakanku dan ia melangkahkan kaki.

Aku meraih tangannya dan berbisik.

“Nad, tunggu Gue sampai bisa halalin Lu.”

Nada berbalik, menatapku lekat. Netra kami mulai saling memandang. Ku perhatikan kedua netra Nada kini mulai berkaca-kaca. Ia berkedip, hingga air bening yang ada di ke dua sudut matanya kini luruh, membasahi pipi putihnya.

“Aku tunggu ... Aku akan setia menunggu hal itu datang, Ken,” Nada memelukku erat.

Aku mengusap rambutnya pelan. Memberikan waktu untuk Nada berada dalam pelukanku. Hingga akhirnya Nada melepaskan pelukannya.

“Pulang ya, Ken,” ungkapnya sambil melepas pelukannya.

Aku mengganggukan kepala dan tersenyum padanya.

Nada kembali masuk ke dalam rumah. Sedangkan aku memasukkan motorku ke dalam rumah. Aku mengambil air wudu dan segera shalat isya.

Aku merenungkan perkataan Nada tadi. Apakah ia Nada telah siap aku persunting? Tapi, aku belum mempunyai pekerjaan yang layak. Ngamen hanya hobiku untuk menyalurkan lagu. Memang ada penghasilan, tapi seumpama telah berumah tangga? Pekik dalam hati.

Pikiran yang menggelayut dalam otakku saat ini yang membuatku tak dapat tidur. Di malam ini aku merasa gundah. Ada rasa bahagia namun rasa takut lebih mendominasi. Takut kalau nanti Nada tidak bahagia bersamaku.

“Ya Allah, semoga Engkau selalu menuntunku. Semoga Aku dapat membahagiakan orang-orang yang Aku sayang,” terucap dengan lirih.

Waktu telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Namun mata ini masih terjaga. Sudah miring sana sini, tetap saja tidak bisa tidur. Baru saja aku dapat memejamkan mata, namun aku di kagetkan dengan suara tangisan dari ibu. Aku meraih gawai, menyalakannya untuk melihat jam dalam gawai.

Ternyata masih jam dua pagi. Mungkin, Ibu sedang berdo’a di shalat malamnya. Aku mencoba untuk tidur namun tetap terdengar.

Ingin sekali bertanya sama Ibu. Namun, aku masih berharap ibu yang akan menceritakan sendiri kepadaku. Entah sampai kapan?

Sampai tangisan ibu berenti, akhirnya aku dapat tertidur nyenyak entah jam berapa. Aku sudah tak sadarkan diri. Tertidur lelap.

1
Ilham Ilham
bagus cerita ny
Rosa Rosiana
hadir
ꈊNnayy
komen
Dareen: balas😅
Terima kasih sudah, kak.
Maaf, saya aktif di platform sebelah jadi notif baru terbaca 🙏
total 1 replies
Yuyun Rohimah
ceritanya menarik,,,lanjut thorrr
Dareen: terima kasih sudah singgah, Kak Yuyun.. 🙏
Sekarang saya menggarap novel di platform sebelah🙏😅
total 1 replies
Bersama bintang
keren
Falina Adhianthi
vas bunga
Falina Adhianthi
Haruka dipanggil "Bee" itu maksudnya apa ya ?
Falina Adhianthi
by the way
Falina Adhianthi
ladies
uutarum
hanna adiknya doni tuh
Falina Adhianthi
ko jadi Lo gw lagi🤔
Falina Adhianthi
ko bs langsung pesan, ga nanya alamat rumahnya dmn
Falina Adhianthi: platform yg mb kk
total 2 replies
Falina Adhianthi
kanker
gah ara
saya juga akan marah kalau jadi nada..
gah ara
kita aja yang baca dari awal kayak merasa kehilangan juga.. kayak ngga baca novel
gah ara
ya elaaahhh,,,jadi kite ni yang di suruh berfantasi mereka ngapain... 🤭🤭🤭
Dareen: tengkyu ulasannya kak 🙏😅
total 1 replies
gah ara
serangan fajar Ken 😁🤭🤭
Asti Asyifa
jd kangen gue
Inne Saptadji
Bahasa Sunda ibunya terlalu halus untuk bicara dengan anaknya... Karena ada b.Sunda ada tingkatannya, untuk yg lebih tua, untuk yg sebaya, untuk diri sendiri, dan untuk yg lebih rendah..
Dareen: siap kak. Makasih krisannya. Kebetulan Mama ada turunan Sunda dan saya hanya ngikutin klo Mama ngomong. 🙏😅
total 1 replies
Fatimah D'Ratu
Astagfirullah, pecat saja Stevani wanita penggoda🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!