NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Trauma masa lalu / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Ibu Pengganti
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.

Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.

Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke titik nol

Pagi menyapa dengan sisa-sisa aroma tanah basah, namun suasana di rumah Elang jauh dari kata segar. Matahari mulai menyapa naik, sinarnya mengenai pipi bulat Kanara, membangunkan dari tidurnya.

Sosok kecil itu turun dari tempat tidurnya dengan langkah gontai. Rambutnya berantakan, dan matanya bengkak. Hal pertama yang ia lakukan bukanlah mencari susu atau mainan, melainkan membuka pintu penghubung ke kamar Nura.

“Kak Nura…?

Kosong.

Tempat tidur terlalu rapi. Harum lavender yang biasa menenangkan Kanara masih tertinggal di udara, namun pemiliknya tidak ada. Kanara mulai melangkah ke kamar mandi, ke balik tirai, hingga ke dalam lemari besar.

“Kak Nura…?” panggilnya lagi, kali ini suaranya pecah, nyaris tidak terdengar.

Ia berlari turun ke bawah, kakinya yang kecil menepuk lantai marmer dengan tergesa. Di ruang makan ia menemukan Elang yang sedang sarapan dengan wajah lelah.

“Kak Nura mana, Ayah?” tanya Kanara, matanya mulai berkaca-kaca.

Elang bangkit, berjongkok di depan Nura, menggenggam jemari kecilnya. “Kak Nura harus pulang ke rumahnya. Pekerjaannya di sini sudah selesai…”

Kanara menggeleng kuat-kuat. Ia berlari ke dapur mencari Bu Yati. “Bu Yati, Kak Nura sembunyi di mana? Kak Nura janji nggak akan hilang. Kak Nura bohong, ya?”

Bu Yati yang sedang menyiapkan piring hanya bisa menunduk dalam, tidak sanggup menatap mata bulat Kanara. Air matanya sendiri hampir tumpah. “Kak Nura… sudah pergi, Non.”

Mendengar kata ‘pergi’, dunia kecil Kanara seolah runtuh untuk kedua kalinya. Bayangan saat ibunya pergi dan tidak pernah kembali mendadak bertumpuk pada sosok Nura. Kanara berdiri mematung di tengah dapur. Tangannya mulai gemetar.

“Kak Nura bohong!” teriak Kanara tiba-tiba. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri dengan tangan mungilnya. “Kanara nakal, ya? Makanya Kak Nura pergi? Kak Nura benci Kanara!”

“Kanara! Jangan, Sayang!” Elang berlari mendekat, mencoba memeluk putrinya, tapi Kanara meronta hebat.

Ia memegang tangan Kanara, menahannya dengan tegas agar bocah itu berhenti memukuli kepalanya.

“Kanara, dengar Ayah! Kanara percaya sama Ayah?” ujar Elang, suaranya rendah dan tajam.

Kanara mengangguk.

“Ayah akan membawa Kak Nura kembali, tapi Kanara harus janji sama Ayah tidak boleh sakiti diri sendiri. Bisa?” Elang menatap mata Kanara penuh kelembutan.

“Bisa,” jawab Kanara di sela isakan.

Elang membawa Kanara dalam dekapannya. “Kak Nura tidak benci Kanara, dia hanya sedang marah sama Ayah. Kanara sabar, ya? Ayah akan minta maaf dan membawa Kak Nura ke sini lagi.”

Kanara menganggukkan kepalanya di dada Elang.

“Elang…,” panggil Bu Sofia dari ruang tamu.

Elang bangkit sambil menggendong Kanara menuju arah suara ibunya. Di ambang pintu, Bu Sofia berdiri dengan seorang wanita muda.

“Elang, ini Siska. Mulai hari ini, Siska yang akan menggantikan tugas Nura sebagai terapis Kanara. Dia salah satu terapis anak terbaik di Jakarta, lulusan–”

Bu Sofia tidak melanjutkan kalimatnya karena Elang sudah berbalik pergi, menaiki tangga menuju lantai dua, masuk ke dalam kamar Kanara.

**********

Hari itu, langit Jakarta kembali mendung, seolah ikut merasakan kebuntuan yang mencekik hidup Elang. Sudah dua Minggu sejak Nura pergi, dan setiap hari Elang datang ke kontrakan sempit itu.

Ia datang dengan berbagai cara, membawa bunga, membawa makanan kesukaan Nura, hingga berdiri berjam-jam di bawah teras hanya untuk diusir kebisuan Nura.

Nura tetap pada pendiriannya. Setiap kali Elang memohon, Nura hanya menjawab dari balik jendela yang tertutup. “Kembalilah pada duniamu, Mas. Jangan rendahkan dirimu hanya untuk mengejar bayangan.”

Sementara, di rumah besar Elang, sebuah badai yang lebih sunyi mengamuk.

“Pak… maaf, Kanara…?” Siska berlari menuruni tangga sesaat mendengar deru mesin mobil Elang memasuki halaman.

Elang yang baru saja pulang dengan wajah lelah segera berlari menuju kamar Kanara. Di sana, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya. Kanara duduk di sudut ruangan yang gelap, membelakangi pintu. Di depannya, gambar-gambar yang pernah dia buat bersama Nura telah dicoret-coret dengan crayon hitam hingga tak berbentuk.

“Kanara… Sayang, ini Ayah,” bisik Elang sambil mendekat perlahan.

Kanara tidak menoleh. Gadis kecil itu gemetar hebat. Yang lebih menyakitkan, seminggu setelah ditinggalkan Nura, Kanara kembali berhenti bicara, ia kembali takut dengan permukaan yang memantul, bahkan ia menolak untuk disentuh siapa pun termasuk Elang. Regresi traumanya kembali dengan kekuatan ganda.

“Dia mulai menyakiti dirinya sendiri, Pak. Dia mencakar tangannya saat saya mencoba mendekat,” tangis Bu Yati pecah.

Elang menatap Bu Yati dengan tatapan kosong. Hanya ada satu jalan terakhir. Ia segera meraih ponselnya, bukan untuk memohon cinta, melainkan untuk memberikan peringatan terakhir.

“Nura, dengarkan aku. Tolong, jangan ditutup,” ucap Elang saat sambungan telepon diangkat Nura. Kali ini, Nura mendengarkan Elang, dia tidak langsung mematikannya.

“Aku tidak akan memintamu kembali untukku lagi. Aku menyerah. Tapi, aku mohon datanglah sebegai terapis. Kanara mengalami regresi total. Dia kembali ke titik nol, bahkan lebih buruk. Dia menyakiti dirinya sendiri, Nura.”

Nura menutup matanya rapat-rapat, meremas ponsel di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap kata yang diucapkan Elang melalui telepon seperti sembilu yang menyayat jantungnya. Mendengar Kanara, gadis yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri, kembali ke titik nol dan menyakiti dirinya sendiri, membuat pertahanan Nura nyaris runtuh.

Namun, bayangan Pak Darmawan yang berdiri angkuh di ruang tamu, dan suara Bu Sofia yang menyebutnya ‘racun’ masih terlalu nyata.

“Mas… Mas punya uang. Mas punya kekuasaan,” suara Nura keluar dalam bisikan yang pecah. “Cari terapis terbaik di negeri ini. Cari dokter dari luar negeri jika perlu. Mereka pasti bisa lebih membantu Kanara lebih baik dariku.”

“Nura! Kamu tahu ini bukan soal kompetensi!” suara Elang meninggi, frustasi yang mendalam meledak di sana. “Ini soal ikatan! Kanara tidak butuh teknik medis, dia butuh kamu! Dia merasa dikhianati oleh satu-satunya orang yang dia percayai setelah ibunya. Dia pikir kamu pergi, karena dia salah, karena dia anak yang cacat mental!”

Kalimat itu menghujam Nura. Ia terisak hebat, menutup mulutnya agar Elang tidak mendengar tangisannya. “Justru karena itu aku tidak bisa kembali, Mas. Kalau aku kembali sekarang, lalu suatu saat nanti orang tua Mas menekanku kembali dan aku harus pergi lagi, Kanara akan mati. Lebih baik dia sakit sekarang dan belajar melupakanku, daripada dia hancur berkali-kali karena keberadaan ku yang tidak diinginkan di rumah itu.”

“Nura, kumohon–”

“Maaf, Mas. Aku nggak bisa.”

Nura mematikan sambungan telepon itu. Ia segera mencabut kartu SIM dari ponselnya dan mematahkannya jadi dua. Ia tidak sanggup lagi mendengar suara Elang yang bisa meruntuhkan logikanya kapan saja.

Zoya yang sejak tadi memperhatikan dari ambang pintu, hanya bisa terdiam. Ia melihat sahabatnya itu merosot ke lantai, memeluk lutut dalam posisi janin, menangis tanpa suara namun bahunya berguncang hebat.

Sementara di seberang sana,

Elang menatap layar ponselnya yang kini gelap. Ia melempar benda itu ke dinding hingga jatuh berkeping-keping.

“Pak… gimana? Mbak Nura mau datang?” Bu Yati bertanya dengan wajah pucat di ambang pintu kamar Kanara.

Elang menoleh, menatap wajah staf yang sudah lama menemaninya. “Dia tidak akan datang, Bu. Dia terlalu hancur dengan perlakukan orang tuaku.”

“El… semua baik-baik saja?” Aditya sudah berdiri di ujung tangga, memegang dokumen di tangannya.

Elang menatap Aditya dengan wajah heran, seolah bertanya ‘kenapa kamu di sini?'

“Tadi Rian memintaku memberikan laporan audit independen untuk diantarkan padamu. Dia harus ke rumah sakit karena ibunya tiba-tiba masuk IGD,” jelas Aditya mengartikan tatapan adik sepupunya itu.

Tiba-tiba dari dalam kamar, terdengar suara benda pecah dan jeritan histeris Kanara.

“Pak, cepat masuk! Kanara memecahkan cermin dan mencoba melukai tangannya sendiri dengan pecahannya,” Siska berteriak panik.

Ketiganya berlari ke dalam. Mereka melihat Kanara di bawah meja, kedua tangannya menutupi wajahnya, sementara pecahan kaca berserakan di sekitarnya.

Di tengah ketegangan yang memuncak, Aditya melangkah maju. Wajahnya dihiasi gurat kecemasan yang tampak tulus. Ia melewati Elang yang masih terpaku, lalu mendekat ke arah meja di mana Kanara meringkuk.

“El, biar aku coba,” ucap Aditya lembut. “Dulu saat Mentari meninggal, Kanara sempat mau bicara sedikit padaku. Mungkin dia hanya butuh suasana yang lebih tenang.”

Elang tidak menjawab. Ia berdiri dengan napas memburu, tatapannya tidak lepas dari putri kecilnya. Ada rasa tidak rela, namun ia juga merasa tidak berdaya karena kehadirannya malah membuat Kanara semakin gemetar.

Aditya berlutut di depan meja, menjaga jarak agar tidak mengejutkan Kanara. “Kanara, ini Om Adit. Ingat, kan? Om Adit yang sering bawakan es krim?”

Kanara yang tadi terisak, tiba-tiba berhenti. Ia menurunkan tangannya sedikit dari wajah, mengintip dari celah jarinya. Namun, bukannya tenang, tubuh kecil itu justru mulai bergetar lebih hebat. Matanya melebar, menatap Aditya seolah sosok yang paling menakutkan di dunia.

“Kanara, ayo keluar dari sana. Om Adit bantu, ya?” Aditya mengulurkan tangannya perlahan ke bawah meja.

“NGGAK! JANGAN!”

Sebuah pekikan serak dan hancur keluar dari tenggorokan Kanara. Itu bukan kata-kata yang jelas, tapi lebih pada teriakan instingtif. Kanara merangkak mundur, hingga punggungnya menabrak dinding, ia mengambil satu pecahan kaca di dekatnya dan mengarahkannya ke depan, seolah ingin melindungi dirinya dari Aditya.

“Adit! Mundur!” perintah Elang tegas. Ia merasakan ada yang salah. Reaksi Kanara terhadap Aditya bukan sekedar regresi trauma biasa, ini ketakutan murni.

“El, dia cuma kaget. Biar aku–”

“Aku bilang mundur!” Elang meringsek maju dan menarik bahu Aditya dengan kasar hingga pria itu berdiri.

Aditya menunduk, memasang wajah terluka. “Maaf El, aku tidak bermaksud… aku hanya ingin Kanara tenang. Mungkin pengaruh terapisnya, Nura, yang tiba-tiba hilang membuat dia merasa kalau semua orang itu musuh.”

Elang kemudian berlutut di depan Kanara, mengabaikan semua orang di ruangan itu. “Kanara… lihat Ayah. Ayah ada di sini. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi. Om Adit akan pergi sekarang.”

Mendengar kata ‘pergi’, Kanara menurunkan pecahan kacanya. Napasnya masih tersenggal, namun matanya terus tertuju pada Aditya yang masih berdiri di belakang ayahnya.

“Kalau begitu, aku permisi keluar dulu. Sekali lagi, Maaf El.”

Setelah memastikan Aditya menghilang dari pandangannya, Kanara merangkak menuju Elang. Tangannya terulur memeluk ayahnya. Elang mendekap Kanara dengan sangat hati-hati. Saat itulah, Kanara membisikkan sesuatu yang membuat darah Elang membeku. “Ayah… Ibu… Ibu.”

1
Meee
Yeay, selamat kepada Elang dan Nura 🥳 akhirnya Kanara punya Ibu, hihi.
Alfatia🌷
Paniknya Kanara sama sakitnya Ayah Elang, nembus layar banget.
Alfatia🌷
Ayah Elang gimana sih, Kanara masih tahap pengobatan, kenapa dibiarin sekolah. Nggak ambil home schooling dulu apa.
GreenForest
panas banget kalau othor budak bikin kaya gini mah 🤭
GreenForest
gak jadi nikah siri berarti ya
Rivella
kayaknya Elang mulai suka sama Nura deh🤭
Icha sun
selamat ya Nura, moga bahagia terus
Icha sun
gitu dong Ra, harus jadi wanita kuat jgn gampang nyerah
Icha sun
ortunya Elang nih egois bgt deh
Icha sun
rasa bersalah itu jauh lebih menyakitkan ya Ra
Icha sun
Nura aslinya sayang bgt sama kalian😢
suryani duriah
jangan2 mentari n aditya mencurigakan bgt🤔🤔lanjuut👍👍
imel
tiba tiba banget Barra 🤭
Nuri_cha: hahahaha.... salah novel. makasih kak udah detail
total 1 replies
WDY
lho kenapa gak nikahi di KUA aja dulu. kenapa harus siri si pak elang
WDY
Wah... elang otw halalin Nura dok🤭🤭🤭
WDY
ya Allah thor kasihan banget sama Kanara😭😭😭
WDY
Oalaaa.... Siska Siska dasar edan. bisa bisa nya lu 😤😤😤😤
D'Mas0712
mantap... lanjutkan bro halalin
D'Mas0712
waduh kasian kanara. syo sadar kak nura uda dateng
D'Mas0712
siska wanita edan.. elang ringkus aja tuh dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!