NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem / Dark Romance
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.

Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.

Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.

Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Situasi yang tak biasa

Tasya langsung melepaskan pelukannya. "So... sorry, Dim." Wajahnya merah padam. Ia baru sadar, tadi tanpa pikir panjang langsung memeluk pria yang hampir tiap hari berseteru dengannya.

Dimas tak banyak bicara. Ia menyorotkan senter ke lubang pembuangan. Benar saja, kepala seekor ular sawah dengan setengah badannya sudah melata di lantai kamar mandi. Dengan sigap, Dimas menarik tubuh ular itu, lalu membawanya ke pintu gerbang pemandian.

"Waduh, Kang... ada ular lagi ya?" tanya seorang warga yang baru datang, membawa ember mandi.

"Iya, Teh. Ini mau saya buang dulu," jawab Dimas santai. Ia lalu melemparkan ular itu ke arah sawah, jauh dari tempat pemandian. Setelah urusan selesai, ia kembali menghampiri Tasya yang masih berdiri mematung, memeluk dirinya sendiri.

"Kalau lo masih mau mandi, udah ada temen tuh," kata Dimas, menunjuk seorang gadis muda yang sedang membawa petromak di samping Tasya.

"Gue... balik aja deh," ucap Tasya pelan, mengusap lengannya yang dingin karena angin malam.

"Ayo atuh, Teh. Biar saya temenin, saya juga sekalian mau mandi," ujar gadis itu dengan ramah.

Dimas hanya mengangguk, memberi kode pada Tasya agar ikut saja. Akhirnya Tasya mengalah, berjalan bersama gadis itu masuk ke pemandian.

Dimas menunggu di luar, duduk di atas tumpukan batu bata. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan ponsel, lalu menatap foto almarhum ibunya, Ratih. Ada rindu yang mengendap di matanya. Tanpa sadar, ia mengelus layar ponsel dengan jempolnya.

Derap langkah terdengar. Dimas buru-buru memasukkan ponsel itu kembali ke saku celana.

"Mari, Kang. Saya duluan ya," pamit gadis yang tadi menemani Tasya.

"Terima kasih, Teh, udah nemenin," ucap Tasya sambil tersenyum kecil, masih sedikit canggung dengan situasi tadi.

Setelah gadis itu berlalu, Tasya tanpa ragu menggamit lengan Dimas. Keduanya berjalan pelan menuju rumah tinggal sementara.

Sesampainya di sana, Nina sudah terkapar di lantai, tertidur dengan selimut kusam milik istri Pak Kades menutupi tubuhnya.

"Dasar jorok," gumam Tasya geli, melewati tubuh Nina yang terlelap.

Pukul sebelas malam, Dimas masih sibuk menatap layar laptop, merapikan semua data penelitian mereka. Sementara Tasya hanya bisa memandangi dari bale-bale di sampingnya, memeluk lutut, merasa bersalah.

"Mendingan lo istirahat gih," ucap Tasya lirih. Rasa bersalahnya makin menumpuk karena sebagian besar beban penelitian dilimpahkan ke Dimas.

"Lo tidur aja duluan, Sya. Gue harus beresin ini biar lo bisa langsung olah datanya," jawab Dimas tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada laptop.

Tasya diam, pandangannya tak lepas dari Dimas. Ia bisa melihat dengan jelas raut lelah dan beban berat di wajah laki-laki itu. Meski mereka sering berseteru, malam ini Tasya sadar, Dimas memikul lebih banyak luka dan kemarahan dari yang pernah ia bayangkan.

Apalagi setelah kejadian di rumah Rahmat tadi sore-Tasya tahu, Dimas sedang menahan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar lelah.

"Lo mau gue bikinin kopi?" tanya Tasya, mencoba mencairkan suasana di antara mereka.

Dimas melirik dari balik layar laptop. "Wah, mulai nyaman ya sama gue?" bibirnya menyungging, nadanya setengah menggoda.

"Ih, kepedean lo!" Tasya langsung mengernyit, urat di lehernya sedikit menegang.

"Canda, Sya..." Dimas terkekeh kecil. "Kopinya ada di tas gue tuh, lo ambil aja. Gue lagi nanggung nih," katanya sambil menunjuk ransel yang tergeletak di kursi.

Tasya hanya menggeleng, lalu bangkit menuju dapur untuk membuat dua gelas kopi. Setelah itu, dia duduk di samping Dimas, matanya melirik layar laptop yang dipenuhi rangkuman data.

Baru kali ini dia memperhatikan betul-Dimas ternyata cukup cerdas. Tulisan-tulisannya rapi, strukturnya jelas, kalimatnya mudah dipahami. Semua jauh dari kesan sembrono yang selama ini Tasya pikirkan tentang Dimas.

"Sorry ya, hari ini gue udah bikin lo nggak nyaman, Sya." Dimas mengangkat gelas kopinya, menyesap sedikit.

"Soal apa?" Tasya pura-pura nggak paham, meskipun dalam hati dia tahu maksudnya.

Dimas menatap layar lagi. "Gue cuma... nggak suka orang lain tahu terlalu banyak soal hidup gue."

Tasya menatap langit-langit, menarik napas pelan. "Semua orang punya masa lalu, Dim. Tapi bukan berarti lo harus nyimpen semuanya sendirian."

Dimas terdiam, matanya melirik ke samping, menatap gadis di sebelahnya. Rambut Tasya diikat rapi, kacamata hitam masih nangkring di atas kepala. Wajahnya lelah tapi ada ketulusan di sana.

"Gue tuh bukan orang baik-baik, Sya. Bahkan mungkin nggak layak dapet perlakuan manis dari orang terhormat kayak lo."

Tasya mendengus pelan. "Terhormat? Terlalu dituntut sempurna juga bisa bikin orang jadi gila, Dim."

Dia memutar matanya, lalu menatap Nina yang masih tidur di pojokan.

"Tapi gue beruntung sih... punya Nina, sahabat yang selalu ada buat gue." Tatapannya kembali pada Dimas. "Dan sekarang ada lo juga-meskipun tiap hari kerjaan lo bikin gue kesel."

Dimas mengatupkan bibir. Ada sesuatu di dadanya yang menghangat, meskipun ia berusaha menepisnya. Belum pernah ada perempuan yang bisa membuatnya nyaman secepat ini. Apalagi biasanya, hubungan mereka selalu diwarnai ribut-ribut kecil.

Suara jangkrik dan angin malam mengisi keheningan. Di sela-sela itu, keduanya saling curi pandang. Namun, jari-jari Dimas tetap lincah menari di atas keyboard, seolah menahan apa yang sebenarnya ingin ia rasakan.

Angin malam semakin menusuk kulit. Dimas melepas jaketnya dan tanpa banyak basa-basi, menyodorkannya ke arah Tasya.

"Kalau lo masih mau nemenin gue, pake ini," katanya singkat.

Tasya terdiam. Tangannya ragu-bukan karena dingin, tapi karena ini Dimas. Orang yang selama ini dia anggap sebagai musuh bebuyutan di kampus. Namun, tubuhnya mulai menggigil.

"Yakin nggak mau pake?" Dimas kembali mengangkat jaketnya, nadanya tetap datar tapi matanya menunjukkan kepedulian yang tak biasa.

Akhirnya Tasya mengambil jaket itu, lalu menyelimutkan tubuhnya. Aroma parfum maskulin langsung memenuhi indera penciumannya. Tasya menarik jaket itu lebih rapat, mencoba menahan dingin yang menusuk baju tidurnya yang tipis.

Pukul satu dini hari, semua data penelitian akhirnya rampung dikerjakan Dimas. Tapi saat menoleh, Tasya sudah tertidur pulas, memeluk kedua lututnya di sudut ruangan.

"Sya... bangun," bisik Dimas, menepuk pelan pundaknya. "Sya...!"

Tasya menggeliat pelan, mengusap matanya. "Astaga... sori, gue ketiduran ya?" gumamnya dengan suara serak.

"Ayo pindah ke kamar. Besok kita balik pagi-pagi," ujar Dimas, menuntun Tasya masuk ke dalam rumah.

Pagi harinya, Tasya dan Nina terbangun lebih dulu. Saat keluar, mereka menemukan Dimas masih terlelap di atas bale-bale, hanya beralaskan kain sarung kusam.

"Lo emang tega, Sya," bisik Nina, menatap Dimas yang masih tertidur pulas di luar rumah.

"Semalem dia ikut masuk kok, Na..." Tasya mengerutkan kening. Ia yakin betul tadi malam Dimas sempat mengunci pintu utama. Tapi entah kenapa sekarang dia tidur di luar.

Belum sempat bertanya lebih jauh, ponsel Tasya berdering. Nama Ivone muncul di layar-panggilan video.

"Gimana? Udah beres penelitiannya?" suara Ivone langsung mengisi ruang, tajam seperti biasa.

"Tinggal bagian aku, Mi..." sahut Tasya sambil pura-pura santai, merangkul Nina agar tak kelihatan gugup.

"Astaga! Masih belum kelar juga?!" bentak Ivone, membuat suara di video call terdengar lebih lantang.

"Tapi, Mi... semalam aku-"

"Sya! Mami udah bilang, tugas itu harus kelar, jangan ditunda-tunda!" potong Ivone lagi, nada suaranya makin tinggi.

Saat suasana semakin tegang, tiba-tiba Dimas membuka mata dan bersuara dari balik bale-bale.

"Udah selesai, Tante. Nggak usah khawatir. Malam ini kita kirim hasilnya."

Nina dan Tasya sontak saling pandang, sama-sama terkejut. Dimas baru saja menyelamatkan situasi atau malah memperburuk keadaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!