"Siapa sangka, pertemuan yang tidak disengaja itulah yang membuat kita sampai saat ini masih bersama" ~ Nadila Azzahra Putri Gunawan.
"Lo bisa nggak sih, seharii aja nggak gangguin gue Vin?" Tanya Nadila kesal.
"Enggak bisa!!!"
"Sebenarnya mau lo itu apa sih Vin?"
Vino mendekat. "Kan udah gue bilang, gue mau jadi pacar lo"
Deg
_________________________________________
Bukankan ada pepatah yang mengatakan, bahwa apapun yang tengah kamu hadapi, kamu harus percaya dan yakin, bahwa Allah akan memberikan jalan keluarnya, bahkan dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan.
Jodoh, memang tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu seperti apa kita akan dipertemukan dengan jodoh. Seperti halnya dengan Nadila yang bertemu dengan jodoh dengan cara yang tidak pernah ia sangka.
Nadila fikir, pertemuan singkat pada saat itu hanya akan berakhir sampai disana saja. Namun siapa sangka, semuanya masih berlanjut sejak beberapa tahun mereka kembali dipertemukan. Dan ternyata, memang pria yang bernama Vino itulah yang menjadi jodohnya.
Mau tau gimana kisah Nadila dan Vino? Kuy baca. Jangan lupa di like, komen, dan vote :)
Copyright © Afrialusiana
Dont copy my story. Ingat dosa!!
Follow Ig Author : @Afrialusiana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afria Lusiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemaksaan
Hari ke 30 setelah mendapat penolakan di Coffe Shop. Sedikitpun Vino tidak pernah berhenti untuk meluluhkan hati Nadila. Setiap hari pria itu rela jauh-jauh datang dari Fakultas Teknik menuju FIP hanya untuk mencari Nadila.
Vino bahkan tidak pernah menjelaskan pada Nadila sejak kapan pria itu menyukai dirinya. Namun, ia hanya tak pernah menyerah untuk mengejar cinta gadis itu.
"Nad" Panggil Vino saat Nadila baru saja hendak menaiki mobil saat Pak Aji baru saja datang menjemput dirinya di depan gedung A Fakultas Ilmu Pendidikan.
Nadila menoleh, langkah gadis itu terhenti. Nadila sejenak melirik Vino dengan raut wajah datarnya.
Vino berjalan medekat ke arah Nadila. Pria itu menarik tangan Nadila dengan paksa. "Pak, Nanad pulang sama saya aja ya Pak" Putus Vino sepihak, memerintah Pak Aji dengan seenak jidatnya.
Alis Nadila tertaut. "Apa-apaan sih Vin!" Berontak Nadila.
"Udah lo ikut gue aja nggak usah nolak!" Vino menarik tangan Nadila. Pria itu tak lupa untuk melambaikan tangannya pada Pak Aji yang saat ini berada di dalam mobil.
Vino memakaikan helm pada Nadila setelah pria itu memakaikan helm untuk dirinya sendiri.
Vino duduk di jok motornya, sementara Nadila masih planga plongo melirik pria tersebut dengan raut wajah bingung. Vino menoleh ke arah belakang. "Ayok" Ajaknya.
Nadila memutar bola matanya jengah. Dengan sangat terpaksa, gadis itu segera menaiki motor Vino. Gadis itu duduk di belakang Vino dengan raut wajah masih terlihat kesal. Pasalnya, Vino memang seenak jidatnya seringkali memaksa Nadila.
***
Sekitar 30 menit di perjalanan, Vino menghentikan motornya di halaman rumah sederhana yang bertema all white tersebut.
Netra Nadila melirik ke arah sekitar. Bingung? jelas saja iya. Pasalnya ini adalah pertama kali Nadila mengunjungi tempat ini.
Nadila turun dari motor Vino, gadis itu membuka helm dengan netranya yang masih memandangi pemandangan sekitar. Asing sekali bagi Nadila.
Vino mengambil helm yang masih ada di tangan Nadila. "Ayok" Ajaknya menarik tangan Nadila lembut untuk masuk ke dalam rumah.
"Ini rumah siapa?" Tanya Nadila masih dengan raut wajah bingungnya.
"Udah, nggak usah banyak tanya deh lo" Vino kembali melanjutkan langkahnya, berjalan memasuki rumah yang terlihat sepi siang itu.
"Assalamu'alaikum" Sorak Vino.
"Wa'alaikum salam" Sahut seseorang dari ruang tengah.
Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya datang dengan daster khas ibu rumah tangganya berjalan menuju ruang tamu dimana Nadila terlihat sedang duduk manis disana. Sementara Vino, baru saja permisi untuk mengganti pakaiannya.
"Hai" Sapa wanita yang bernama Susi dan yang tidak lain adalah Mama Vino itu dengan sangat ramah. Wanita itu tersenyum, berjalan menghampiri Nadila.
Nadila kaget, gadis itu baru sadar, dan ia sudah bisa menebak dirinya sekarang berada di mana. Dimana lagi jika bukan di rumah Vino. Dan wanita ini, siapa lagi jika buka Mama Vino. Fikirnya.
Nadila berdiri dari duduknya, gadis itu sedikit menunduk, meraih tangan Susi untuk segera bersalaman.
"Hai tante" Sapa Nadila ramah.
"Hai sayang, teman Vino ya?" Tanya Susi tersenyum.
"I-iya tante" jawab Nadila sedikit gugup.
Vino baru saja kembali dengan kaos putih berlapis kemeja polos biru muda miliknya. Pria itu tersenyum ramah dan segera mendudukkan tubuhnya di sofa tepat di sebelah Nadila.
"Tumben banget sih kamu Vin" Rayu Susi pelan pada Vino. Sementara pria itu hanya membalas ucapan Susi dengan seulas senyuman.
"Tunggu disini bentar ya, tante mau ngambil minuman dulu" Pamit Susi.
Nadila mengangguk, tersenyum sembari memperhatikan langkah Susi yang semakin lama semakin menjauh dari pandangan matanya.
Beberapa saat kemudian. "Lo apa apaan sih Vin..."
"Apa apaan gimana?" Sahut Vino sebelum Nadila selesai melanjutkan ucapannya.
"Ngapain lo pake bawa-bawa gue ke rumah lo segala?" Gerutu Nadila dengan penuh penekanan.
"Kenapa? Salting ketemu mertua?" Rayu Vino dengan tampang songongnya.
"Ihh lama-lama lo makin ngeselin tau nggak sih Vin?"
"Ngeselin gini juga pasti lo diam-diam naksir gue kan Nad?"
"Yaelah bambang, kepercayaan diri lo terlalu tinggi" Sewot Nadila memutar bola matanya malas.
"Tatapan mata seseorang nggak pernah boong lo Nad"
"Maksud lo?.."
"Nggak, nggak ada maksud!"
"Aishhh ngeselin banget sih ini orang!" Celetuk Nadila menatap tajam ke arah Vino.
Hingga tak berselang lama, Susi datang dengan dua gelas minuman yang ia bawa dengan baki yang ada di tangannya.
"Silahkan diminum. Maaf ya di rumah Vino cuma ada ini" Ucap Susi sungkan.
"Enggak papa kok tan" Nadila tersenyum canggung. Gadis itu sedikit menundukkan kepalanya merasa tidak enak pada Susi.
"Tumben banget nih Vino bawa teman cewek ke rumah, mau belajar kelompok ya?" Tanya Susi sambil mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal yang ada di depan Nadila dan Vino.
"Enggak Ma, nggak belajar kelompok!" Sahut Vino.
"Lah terus?"
"Ya nggak papa, mau ngenalin calon mantu Mama aja?" Ucap Vino dengan santainya.
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Vino, sepasang netra Nadila melotot dengan sempurna seakan gadis itu sama sekali tidak terima dengan apa yang telah diucapkan oleh Vino.
Namun, Vino dengan segala ke angkuhannya hanya tersenyum jahil penuh kemenangan melirik ke arah Nadila yang sudah tampak benar-benar kesal seolah ingin menerkam dirinya saat itu juga.
Bibir Nadila bergetar, ingin sekali Nadila melontarkan kata tidak, namun entah mengapa rasanya gadis itu sungguh merasa tidak enak hati dengan wanita paru baya yang saat ini terlihat duduk di depan dirinya.
"Kamu serius Vin? Aneh banget lo ini, nggak biasanya?" Tanya Susi bingung sekaligus tidak percaya.
Pasalnya, selama ini Vino sungguh sangat tidak suka jika Susi selalu saja membahas tentang pacar. Namun, sekarang justru pria itulah yang dengan sendirinya tanpa merasa malu memperkenlkan Nadila pada ibu dua anak itu.
"Ya serius lah Ma, ngapain juga aku boong. Kalo Mama nggak percaya tanya aja sama orangnya langsung!" Ucap Vino dengan tatapan angkuh melirik ke arah Nadila.
Sementara Nadila, gadis itu tak henti melotot tajam ke arah Vino. Rasanya gadis itu sungguh tidak terima. Namun, bibirnya selalu saja tidak bisa menolak jika melihat raut wajah Susi.
Susi melirik ke arah Nadila, menatap gadis itu tidak percaya. Tangan Susi bergerak menyentuh tangan Nadila.
"Beneran sayang, kamu pacarnya Vino?" Tanya Susi antusias.
Raut wajah Nadila terlihat bingung, gadis itu menoleh ke arah Vino. Menatap laki-laki yang sudah tersenyum jahil tersebut dengan tatapan menjengkelkan.
"I-iya tante" Jawab Nadila terbata-bata.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya.Terimakasih :)