NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Syukuran

Suasana desa yang biasanya sepi dan tenang, mendadak berubah menjadi lautan kegembiraan. Sesuai keinginan Alex, syukuran ini tidak hanya berlangsung satu kali makan bersama, melainkan digelar selama dua hari dua malam penuh. Alex ingin memastikan bahwa seluruh warga desa merasakan kebahagiaan yang sama dengan apa yang ia rasakan saat ini.

Pagi hari di hari pertama, lapangan desa sudah penuh sesak. Aroma kayu bakar bercampur dengan harum bumbu rempah-rempah yang tajam menusuk hidung. Belasan ibu-ibu desa, termasuk Sari, sahabat karib Almira, sudah sibuk di dapur umum sejak fajar menyingsing. Mereka mengaduk gulai dalam kawah-kawah besi besar sambil sesekali bersenda gurau.

Almira turun dari rumah lamanya dengan pakaian sederhana namun terlihat sangat anggun. Ia mengenakan gamis berwarna pastel yang lembut. Di sampingnya, Alex berjalan dengan santai, menggendong Adrian yang tampak menggemaskan dengan topi bayinya.

"Wah, Almira! Benar-benar seperti mimpi melihat kamu pulang begini," seru seorang ibu tua yang sedang memotong sayuran.

Almira tersenyum lebar, ia langsung mendekat dan tanpa ragu ikut duduk lesehan di atas tikar, mencoba mengambil pisau untuk membantu. Namun, Alex langsung menahan tangannya sambil tertawa kecil.

"Sayang, sudah aku katakan, hari ini kamu tamu kehormatannya. Biarkan ibu-ibu ini yang bekerja, nanti aku beri mereka bonus tambahan," goda Alex.

Warga pun bersorak sorai. Alex benar-benar memanjakan warga desa. Ia mendatangkan dua ekor sapi terbaik dan puluhan ekor kambing. Daging-daging itu dimasak menjadi berbagai hidangan; mulai dari rendang, gulai, hingga sate yang asapnya mengepul tinggi ke langit, mengundang siapa saja untuk datang.

Siang harinya, lapangan desa benar-benar seperti pasar malam. Alex menyewa grup musik rebana dan kasidah untuk menghibur warga. Ia duduk di barisan depan, beralaskan tikar pandan, menyantap nasi liwet beralaskan daun pisang. Pemandangan Tuan Muda kaya raya makan menggunakan tangan bersama warga desa menjadi momen yang tak terlupakan. Alex tidak terlihat canggung sama sekali; ia justru lahap menambah porsinya.

Malam tiba, namun suasana desa justru semakin hidup. Ratusan obor dipasang di sepanjang jalan menuju rumah Almira. Acara dilanjutkan dengan pengajian dan doa bersama sebagai bentuk syukur atas kesembuhan Alex dan keselamatan keluarga mereka.

Suara lantunan ayat suci menggema di seluruh pelosok desa, menciptakan suasana yang sangat syahdu. Alex duduk bersila di tengah-tengah para bapak-bapak, menundukkan kepala dengan khusyuk. Di sampingnya, Almira sesekali menyeka air mata haru. Ia tidak pernah menyangka, pria yang dulu begitu angkuh, kini bisa duduk rendah hati di rumah tuanya yang reyot.

Setelah doa selesai, acara makan-makan kembali berlanjut. Kali ini menunya adalah sate kambing dan martabak telur yang dimasak langsung di tempat. Tawa warga pecah saat Alex mencoba ikut membalikkan martabak di atas wajan besar, meski hasilnya agak berantakan.

"Ternyata memimpin perusahaan lebih mudah daripada membalik martabak, ya?" canda Alex, disambut tawa riuh penduduk desa.

****

Memasuki hari kedua, fokus acara beralih kepada anak-anak desa. Alex menyiapkan ratusan paket alat tulis dan mainan. Ia juga mengadakan berbagai perlombaan sederhana. Lapangan desa penuh dengan teriakan riang anak-anak yang berlomba lari karung dan kelereng.

Alex dan Almira duduk di bawah pohon mangga besar, memperhatikan Adrian yang sedang asyik bermain di atas rumput dengan beberapa anak kecil lainnya.

"Terima kasih, Alex. Ini jauh lebih berarti daripada pesta mewah di hotel bintang lima," bisik Almira sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.

Alex merangkul bahu Almira erat. "Aku baru sadar, Al. Kekayaan itu tidak ada artinya jika tidak bisa membuat orang lain tersenyum seperti ini. Melihatmu bahagia di sini, membuatku merasa menjadi pria paling kaya di dunia."

Keinginan Alex untuk membahagiakan Almira terus mengalir. Di sela-sela keramaian hari kedua, Alex menarik Almira masuk ke dalam rumah tua mereka sebentar. Di sana, di tengah ruangan yang remang-remang karena sinar matahari hanya masuk lewat celah dinding, Alex memeluk Almira dari belakang. Ia mencium leher istrinya dengan lembut, menikmati ketenangan sesaat sebelum kembali ke Jakarta.

"Aku janji, Al. Kita akan sering-sering pulang ke sini," bisik Alex, membuat Almira merinding karena rasa sayang yang begitu besar dari suaminya.

Malam terakhir ditutup dengan acara ramah tamah yang lebih santai. Ada layar tancap yang dipasang di lapangan untuk menghibur warga. Alex juga membagikan sembako dalam jumlah besar kepada setiap kepala keluarga. Tidak ada satu pun rumah di desa itu yang tidak mendapatkan berkah dari syukuran tersebut.

Almira berkeliling menyalami teman-teman lamanya, memberikan pelukan perpisahan. Sari, sahabatnya, menangis sesenggukan. "Jangan lupakan kami ya, Al. Walaupun sekarang kamu sudah jadi orang besar."

"Nggak akan pernah, Sari. Desa ini rumahku," jawab Almira dengan suara bergetar.

Sebelum tengah malam, suasana mendadak tenang saat Alex naik ke panggung kecil yang didirikan warga. Ia memegang mikrofon dan menatap seluruh warga desa yang hadir.

"Bapak, Ibu, dan saudara-saudara sekalian. Dua hari ini adalah hari yang luar biasa bagi saya. Saya datang ke sini sebagai menantu desa ini. Terima kasih sudah menerima saya dan istri saya dengan tangan terbuka. Rumah ini mungkin kecil, tapi cinta yang saya rasakan di sini jauh lebih besar dari apa pun."

Alex terdiam sejenak, menatap ke arah makam Yusuf yang terlihat di kejauhan dengan lampu yang meneranginya. "Saya juga ingin mengumumkan bahwa saya akan membangun puskesmas dan memperbaiki sekolah di desa ini sebagai tanda terima kasih saya kepada mendiang ayah mertua saya, Bapak Yusuf."

Tepuk tangan warga bergemuruh, bahkan ada yang bersorak haru. Almira menutup mulutnya karena terkejut; Alex tidak pernah membicarakan rencana ini sebelumnya. Ia langsung berlari memeluk Alex di atas panggung, tidak peduli lagi pada pandangan orang banyak di bawah panggung.

Setelah acara selesai dan warga mulai pulang satu per satu, Alex dan Almira berdiri di teras rumah tua mereka. Mereka menatap lapangan yang kini mulai sepi, hanya menyisakan beberapa lampu yang masih menyala.

"Kamu serius soal puskesmas dan sekolah itu?" tanya Almira.

Alex mengangguk pasti. "Sangat serius. Aku ingin nama Ayahmu terus diingat sebagai orang yang membawa kebaikan bagi desa ini. Dan aku ingin Adrian tahu, bahwa kakeknya adalah orang hebat."

Dua hari dua malam itu berakhir dengan sejuta kenangan manis. Tidak ada lagi sisa kepahitan dari skandal Jakarta. Namun, saat mereka bersiap untuk kembali ke Jakarta keesokan paginya, Alex melihat Rendy yang sedang sibuk menerima telepon dengan wajah tegang.

"Ada apa, Rendy?" tanya Alex, instingnya langsung waspada.

"Tuan Bramanto, Paman Anda... dia sudah berada di mansion Jakarta sejak kemarin. Dia membawa pengacara dan mengatakan bahwa karena Anda meninggalkan Jakarta tanpa izin dewan direksi saat situasi genting, dia memiliki hak untuk mengambil alih sementara urusan rumah tangga dan keamanan keluarga."

Senyum di wajah Alex menghilang, berganti dengan tatapan sedingin es. Perjalanan indah di desa telah memberinya kekuatan baru, tapi ia tahu, di Jakarta, serigala sudah menunggu untuk menerkam.

"Al, masuklah ke mobil sekarang. Amankan Adrian," perintah Alex dengan suara tegas. "Waktunya kita pulang dan menunjukkan kepada Paman, siapa pemilik rumah yang sebenarnya."

Almira menggenggam tangan Alex. Ia tahu masa-masa indah dua hari ini hanyalah jeda sebelum badai besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!