Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.
Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.
Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.
Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.
Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"
"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.
Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 30: PRIA ANEH DAN SEPASANG MATA YANG TIDAK ASING
“Yang Mulia, ada pengacau di luar. Yang Mulia mungkin terganggu karena kebisingannya. Aku akan keluar sebentar untuk menanganinya,” ucap Mei Zhiyi meminta izin.
Liu Yan tidak percaya. Mei Zhiyi bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Apalagi urusan orang asing yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Di luar memang berisik, tapi para pelayan restoran itu juga bisa menghadapinya. Kenapa Mei Zhiyi tiba-tiba ingin menjadi penengah dengan dalih menyingkirkan kebisingan yang mengganggu?
“Ada pelayan restoran yang akan mengurusi mereka. Kau tidak perlu repot ikut campur.”
“Apa mereka bisa diandalkan? Sudah lima menit berlalu dan keributan itu masih terjadi. Yang Mulia, izinkan aku melerai mereka,” mohon Mei Zhiyi sekali lagi.
“Tidak usah. Kau di sini saja. Kalau kau keluar, urusannya akan lebih merepotkan. Jangan membawa masalah untukku. Diam saja di sini dan seduhkan teh untukku.”
Mei Zhiyi agak kesal juga. Dia berkejar-kejaran dengan waktu. Jika misi tidak segera diselesaikan, sistem akan menjatuhkan hukuman.
Rasanya tidak lucu kalau Mei Zhiyi tiba-tiba saja disambar petir atau disengat listrik di depan Liu Yan. Apalagi hari sedang cerah. Liu Yan pasti menertawakannya.
Kalau aku pukul dia sampai pingsan, apa tidak masalah? Ya ampun, aku keluar sebentar saja, bukan mau kabur!
Terkejut atas pemikiran tersebut, Liu Yan akhirnya mengalah. “Baiklah. Kuizinkan kau keluar. Tapi hanya sebentar dan pastikan tidak ada yang mengenalimu.”
“Yang Mulia memang baik hati.”
Mei Zhiyi buru-buru lari keluar dari ruangan pribadi. Setelah pintu ditutup, dia menghampiri keributan yang terjadi di depannya.
Ada seorang pria berpakaian seperti sarjana sedang bertengkar dengan seorang pelayan restoran. Tapi wajah pria itu sama sekali tidak terlihat seperti seorang pelajar.
“Pergi saja kau! Ini restoran, kenapa kau membawa racun? Mau menakuti pelanggan sampai mati, ya?” ucap si pelayan dengan kesal.
Pria aneh itu berbalik marah. “Racunku tidak digunakan untuk orang-orang seperti kalian. Jika bukan karena aku kehilangan petunjuk pencarianku dan datang kemari, mana mungkin aku sudi menginjakkan kaki di tempat ini!”
“Alasan saja! Kau sudah makan makanan restoran kami dan belum membayar! Kalau tidak punya uang jangan makan di restoran ini!”
“Siapa bilang aku tidak punya uang?”
“Kalau begitu cepat keluarkan dan pergi dari sini! Membawa sial saja!”
“Kurang ajar. Kau mau aku racuni sampai mati?”
Si pelayan dan si pria aneh itu masih beradu mulut. Keributan mereka menarik perhatian orang-orang di kamar pribadi lain, membuat mereka mengintip dari celah pintu. Jika tidak segera dihentikan, bisa jadi akan melibatkan lebih banyak orang dan itu akan sangat merepotkan.
“Ada apa ini? Tidak tahukah kalian kalau beberapa tamu di sini merasa terganggu dengan ulah kalian?” tanya Mei Zhiyi.
“Nona, pria ini sudah makan dan minum di restoran kami tapi belum membayar. Dia malah membawa racun, beberapa pelanggan kami sensitif terhadap bau dan mengajukan keluhan. Dia malah keras kepala,” jawab si pelayan sembari sinis.
“Hei, kau bilang apa barusan? Keras kepala? Mau lihat apakah tulang kepalamu yang keras atau racunku?”
Si pria merasa sangat kesal dan marah. Dia telah menjelajahi banyak tempat dan selalu mendapat perlakuan baik. Kenapa saat tiba di sini dia malah diomeli? Bahkan orang yang punya kuasa tinggi pun tidak berani marah padanya. Siapa pelayan ini sampai berani memarahinya?
“Berapa utangnya?”
“Lima tael, Nona.”
Mei Zhiyi lalu mengeluarkan uang lima tael perak dari sakunya. Itu seharusnya digunakan untuk belanja Liu Yan. Tapi tidak apa-apa, digunakan saja dulu. Pria aneh ini juga keterlaluan sekali. Kenapa makan makanan yang begitu mahal dan tidak membayar?
“Ambil. Jangan ribut lagi. Kau tidak akan sanggup menanggung kemarahan tuanku jika dia marah karena ketenangannya diganggu.”
“Terima kasih, Nona. Hei, kau, lekas pergi dari sini. Jangan datang kalau tidak punya uang!”
“Orang sialan!” ketus si pria aneh.
Lalu dia menatap gadis bertubuh kecil yang barusan mengeluarkan uang untuk membayar tagihannya. Keningnya mengernyit.
Sepasang mata itu… rasanya tidak asing. Dia pernah melihatnya pada seseorang dan di suatu tempat yang sangat jauh, pada seseorang yang melampaui garis ruang dan waktu.
“Nona, apa kau datang dari tempat yang sangat jauh?” tanya pria itu pada Mei Zhiyi.
“Maksudmu?”
“Ah, maksudku, apakah kampung halamanmu terletak di tempat yang sangat jauh?”
“Kampung halamanku memang sangat jauh dari sini. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
Dunia modern adalah tempat yang sangat jauh. Mei Zhiyi tidak berbohong dan tidak mengatakan kebohongan, kan?
“Ah, bukan apa-apa. Terima kasih karena kau sudah membantuku mengurusi orang itu tadi. Tapi aku ingin menegaskan kalau aku bukan tidak punya uang. Aku punya uang, hanya saja belum mau menyerahkannya karena pekerjaanku belum selesai di sini.”
“Kau seorang pekerja? Apa pekerjaanmu?”
Apa dia seorang sarjana? Tapi, kenapa dia membawa begitu banyak racun di tubuhnya? Pekerjaan apa yang menuntutnya membawa benda berbahaya sebanyak itu?
“Bukan pekerjaan pada umumnya. Aku bekerja mewakili temanku melihat dunia.”
“Oh? Temanmu lumpuh sehingga tidak bisa bepergian? Atau miskin?”
“Tidak, tidak. Temanku punya tubuh sehat dan kuat, juga sangat kaya. Dia hanya tidak bisa pergi saja.”
“Begitu rupanya. Lalu kau sudah tiba di sini, pekerjaanmu bisa dianggap selesai.”
“Tidak juga. Sebenarnya aku datang kemari untuk mencari keturunan teman lamaku. Kudengar mereka datang ke Shangjing untuk mencari pekerjaan.”
“Mencari orang di tengah jutaan orang di Shangjing ini seperti menemukan jarum di tumpukan jerami. Kau mungkin butuh waktu cukup lama untuk menemukan orang yang kau cari.”
“Aku tahu. Nona, sebagai ucapan terima kasih, kau ambillah ini. Ingat untuk digunakan di saat yang tepat.”
Pria itu kemudian memberikan sebotol racun dan sebuah buku pada Mei Zhiyi. Dia harap jika menebarkan sedikit kebaikan, keturunan teman lamanya dapat ditemukan.
Jika masih tidak bisa, mungkin memang sudah takdir yang tidak bisa dipaksakan. Dia tentu akan pergi dari sini dan kembali menjelajahi dunia.
“Baru kali ini aku menerima ucapan terima kasih berupa racun dan buku.”
“Itu gayaku dan tidak semua orang dapat menerimanya. Nona, sampai jumpa. Jika berjodoh, kita mungkin akan bertemu lagi.”
“Siapa namamu?”
“Orang yang kebetulan bertemu tidak perlu menyebutkan nama. Nona, sampai jumpa. Sampaikan permintaan maafku pada majikanmu yang terganggu oleh keributan yang ditimbulkan olehku.”
Setelah itu, pria aneh tersebut menuruni tangga dan pergi. Mei Zhiyi masuk lagi ke dalam ruangan. Nyatanya butuh waktu lebih dari setengah jam untuk menyelesaikan misi.
Suara sistem terdengar, memberi tahu bahwa misi berhasil dan sepuluh poin telah ditambahkan ke bank poin. Walau saldo poin Mei Zhiyi saat ini hanya 85 poin, dia merasa tidak terlalu miskin.
“Apa yang ada di tanganmu?” tanya Liu Yan begitu tahu Mei Zhiyi sudah masuk lagi.
“Buku dan racun. Orang aneh itu yang memberikannya sebagai ucapan terima kasih.”
“Kau berencana menggunakan racun itu pada siapa?”
“Entahlah. Aku belum tahu jenis racun apa ini. Tapi, barangkali jika bisa, ini akan kugunakan pada Yang Mulia.”
Liu Yan terkekeh. Jika raja mati, maka pelayan juga mati. Kalau Mei Zhiyi mau hidup, maka Liu Yan tidak boleh mati.
“Mimpi saja. Kau tidak bisa meracuniku.”
Mei Zhiyi membuka buku tersebut. Keningnya mengernyit saat membaca halaman demi halaman dari buku bersampul biru tua itu. Ada banyak sekali gambar dan keterangan.
“Yang Mulia, coba kau lihat,” ucapnya sambil memperlihatkan isi buku pada Liu Yan.
Liu Yan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dalam buku itu memuat gambar dari tubuh manusia dan bagian-bagiannya, lengkap dengan segala keterangan mengenai nama-namanya. Di beberapa halaman juga disertakan suatu teknik memperbaiki tubuh.
“Ini adalah teknik pengobatan tubuh manusia. Mei Zhiyi, teknik ini lebih maju daripada yang dikembangkan oleh Rumah Sakit Istana.”
Mei Zhiyi juga merasa begitu. Di zaman kuno ini, anatomi tubuh manusia jarang digambarkan dengan begitu jelas. Tapi, buku ini malah memuat dengan begitu jelas. Mirip seperti sebuah ensiklopedi.
“Yang Mulia, kau ambil saja buku ini.”
“Kau memberikannya padaku?”
“Aku meminjamkannya. Kembalikan bersama dengan kotak medisku jika sudah selesai dipelajari.”
Ada senyuman terukir di bibir Liu Yan. Ia pikir Mei Zhiyi akan menyembunyikannya dan menyimpan buku berharga itu untuk dirinya sendiri.
Namun, Mei Zhiyi dengan terang-terangan menyerahkannya. Padahal jika dia mau, buku ini bisa dijadikan alat negosiasi untuk mendapat apapun yang dia inginkan.
Buku berharga itu bisa sangat berguna untuk kemajuan ilmu pengobatan di kekaisaran yang ia pimpin. Jika bisa dipelajari dan dikembangkan, maka rakyat akan selamat lebih banyak.
“Aku mewakili rakyatku berterima kasih padamu.”
“Yang Mulia bersikap sungkan begini, aku jadi tidak terbiasa. Buku itu juga tidak akan berguna jika terus disimpan. Aku yang seorang pelayan ini mana mungkin mengerti soal ilmu pengobatan.”
Walau sebenarnya aku cukup paham. Tapi tetap saja, aku bukan dokter.
Liu Yan merasa perjalanan kali ini tidak sia-sia. Hatinya jadi agak menyesal sudah mengerjai Mei Zhiyi tadi pagi.
Tapi dia berpikir lagi, jika tidak membuatnya bekerja, dia tidak akan membawanya kemari. Hukum sebab akibat memang selalu lebih kuat seperti biasanya.
Mei Zhiyi mengembuskan napas. Setelah pertemuan hari ini, dia jadi punya pertanyaan baru.
Mungkinkah pria aneh tadi juga orang dari dunia lain? Atau, apakah ada penjelajah waktu lain juga di dunia ini? Siapa dia? Di mana dia sekarang dan apa latar belakangnya?
Mei Zhiyi hanya bisa memikirkan jawabannya dalam hati. Dia berharap, dia benar-benar bisa berjumpa lagi dengan pria aneh tadi agar dia bisa menanyakan bagaimana asal-usul buku ini.
Takut knp knp sama Liu yan
😁😁😁😁
nebak" aja dulu
Emang enak di ghibahin sama Mei