NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BARANG BUTUT

“Apa yang mau kalian lakukan?” Suara Maira terdengar lantang dan tajam.

Ia berdiri tegak, dengan dua orang pria berseragam teknisi mengikutinya dari belakang. Keduanya membawa tas peralatan dan tampak kebingungan melihat ketegangan yang terjadi.

Dini yang masih meringis karena kakinya terhantam linggis langsung tersentak.

“T-tadi aku sama Ibu dengar suara kucing dari dalam kamar, Mbak…” Nada suaranya gemetar, mencoba terdengar meyakinkan. “Iya, kan, Bu?” Dini melirik ke ibunya, meminta ibunya untuk mengikuti kebohongannya dengan bantuan sorot mata.

Mendapat kode dari Dini, Bu Susi segera ikut bicara. "Iya, Maira… Tadi itu Ibu denger ada suara kayak kucing dari kamar kamu. Waktu mau dibuka, eh… terkunci. Ibu takut ada apa-apa, jadi nyuruh Dini buat buka paksa.”

Maira yang berdiri tak jauh dari mereka, menyipitkan mata. “Oh... Lalu apa kalian siap tanggung jawab kalau pintu kamarku rusak karena ‘inisiatif’ kalian itu?”

Tak ada jawaban baik dari Bu Susi maupun Dini. Keduanya terlihat saling pandang, mulut mereka terbuka seolah ingin menjawab, namun tak ada satu kata pun keluar.

Tanpa basa-basi, Maira melangkah maju ke arah pintu kamarnya. Sekali putar kunci—klik, pintu terbuka dengan mudah. Ia mendorong daun pintu dan memperlihatkan bagian dalam kamar yang tampak rapi.

“Lihat kan? Jangankan kucing bisa masuk, jendela kamar saja tertutup rapat." Ucapnya sambil menyilangkan tangan di dada. Matanya mengarah tajam ke dua perempuan yang jelas terlihat gugup itu.

Dalam hati, Maira menghela napas. Ia tahu benar ibu dan adik tirinya itu sedang tidak jujur. Mungkin mereka sedang merencanakan sesuatu.

Entah apa yang akan mereka ambil jika ia tak datang tepat waktu. Tapi yang jelas, barang-barangnya tak lagi aman di rumah ini.

Sejak terakhir kehilangan beberapa stok persediaan, Maira memang sudah berniat memasang CCTV. Dan hari ini adalah pelaksanaan pemasangannya di beberapa titik rumahnya.

Maira menoleh ke arah dua teknisi yang sejak tadi berdiri menunggu. “Pak, nanti tolong pasang CCTV-nya di beberapa sudut ya." Ujarnya mantap. “Di lorong depan kamar, ruang tamu, dapur, sama pintu belakang.”

Mendengar itu, mata Bu Susi langsung membulat. “Maira? Kamu mau pasang CCTV?” Tanyanya dengan nada terkejut.

Sorot mata tajam Maira menusuk, namun ia mengangguk tenang. “Iya. Biar kalau ada maling, aku bisa tahu siapa pelakunya.”

Kata “maling” sengaja ia tekan, seolah melemparkan tuduhan yang tak langsung tapi sangat jelas.

Wajah Dini langsung memerah. “Kamu nuduh aku, Mbak? Kamu pikir aku mau maling?!” Desisnya sengit, merasa tersinggung.

“Aku nggak nuduh. Tapi kalau kamu ngerasa kesindir… ya itu urusan kamu.” Jawab Maira tenang.

“Maira!” Seru Bu Susi dengan nada suara mulai naik. “Ini rumah keluarga. Kamu pikir kita ini apa? Orang asing? Sampai harus diawasi pakai kamera segala?!”

Maira tersenyum sinis. “Justru karena rumah ini isinya keluarga yang bisa masuk seenaknya, bongkar pintu kamar orang seenaknya, dan suka bohong makanya aku pasang kamera.”

Teknisi menunduk sopan, menahan diri dari ketegangan yang semakin meningkat, lalu mulai memasang perangkat sesuai arahan.

Dini memandang Maira dengan amarah. Matanya tak lepas dari sosok Maira yang berdiri tenang tak jauh dari teknisi yang kini sedang memasang kamera. Dadanya sesak oleh amarah yang menumpuk, dan akhirnya mulutnya tak bisa lagi dikekang.

“Sombong sekali kamu, Mbak!” Hardiknya tajam. “Makin hari semakin besar kepala, lagaknya kayak udah jadi orang paling kaya saja! Pasang CCTV segala! Emang kamu pikir rumah ini museum? Apa yang mau dimaling, isi rumah juga cuma barang butut doang!”

Suasana mendadak hening. Teknisi yang tadi sibuk bekerja langsung melirik ke arah mereka, canggung, lalu pura-pura kembali fokus pada kabel di tangannya.

Maira menoleh perlahan. Tatapannya datar, bahkan tidak terlihat marah. Ia hanya menatap Dini seperti sedang menatap hal kecil yang mengganggu tapi tak layak dibalas emosi. Senyuman tipis terbit di sudut bibirnya.

“Kok kamu yang sewot sih Dini kalau Mbakmu ini mau pasang CCTV di rumah? Tapi... memang bener kamu, Din. Kamu bener, isi rumah ini cuma barang butut.”

Alis Dini mengkerut, ia sedikit terkejut karena tak menyangka Maira akan mengakuinya begitu saja. Tapi Maira belum selesai bicara.

“Tapi tau nggak? Barang butut ini kalau aku jual, bisa buat kamu, sama anak dan suami kamu makan—dua tahun.” Alisnya terangkat dengan tatapan meremehkan.

Dini menggertakkan gigi, wajahnya memerah sampai ke telinga. Tapi Maira tak lagi memandangnya. Wanita itu berbalik, memberi instruksi pada teknisi.

“Pak, tolong dipastikan posisi kameranya tepat ya. Saya tidak mau kehilangan barang-barang 'butut’ saya.”

Teknisi mengangguk, mencoba menahan senyum karena suasana yang panas tapi janggal itu.

Bu Neni memasang wajah masam saat melihat kedatangan Farid di ambang pintu. Ia tidak berdiri menyambut, hanya duduk di sofa dengan tangan menyilang di dada dan pandangan yang dingin menatap anak lelakinya itu.

“Masih ingat punya ibu, kamu?" Sindirnya tanpa senyum, suaranya pelan tapi menusuk.

Tangan Farid mengelus dadanya perlahan. Ia tahu ibunya masih marah padanya sejak uang bulanan tidak di terima oleh ibunya dan juga Farid yang selalu menghindarinya.

“Bu, aku mau lihat keadaan Ibu." Jawabnya dengan nada serendah mungkin, mencoba meredam suasana.

“Lihat keadaan Ibu? Hah! Baru sekarang?” Bu Neni mengangkat alis, nadanya naik. “Waktu Ibu nunggu transferan bulanan dan ngehubungin kamu, kamu ke mana?!"

“Aku nggak maksud kayak gitu, Bu. Aku lagi ada urusan—” Kepala Farid tertunduk, rahangnya mengeras.

“Urusan? Urusan apa? Urusan sama istri kamu yang sok berkuasa itu?” Potong Bu Neni dengan nada tajam. “Sampai uang buat bulanan Ibu aja diputus!”

Farid terdiam. Dalam hatinya, ia memang menyimpan rasa kesal pada Maira. Sejak istrinya itu mulai membatasi akses keuangan,

Farid merasa seperti laki-laki yang kehilangan kendali di rumah tangganya sendiri. Tapi meski begitu, ia juga tak tahu harus bagaimana menghadapi sikap istrinya itu.

“Udahlah. Mau kamu kasih atau nggak, Ibu udah nggak ngarep sekarang." Lanjut Bu Neni. “Yang penting sekarang kamu pikirin adik kamu. Risky itu nunggu jawaban kamu soal uang itu.”

“Uang lima puluh juta itu, Bu?” Tanya Farid, suaranya nyaris berbisik.

Bu Neni mengangguk cepat, nadanya berubah lebih tajam. “Iya. Apa kamu tega liat Risky gagal cuma gara-gara kamu nggak mau bantuin dia? Cuma kamu satu-satunya harapan dia sekarang, Farid.”

Farid mengusap wajahnya pelan. Kepalanya berdenyut. Ia ingin membantu adiknya, tapi bagaimana jika Maira tahu?

Uang di rekening bersama tak bisa lagi ia sentuh saat ini karena ia takut jika Maira akan semakin marah padanya. Apalagi… ia belum bicara apa pun pada Maira soal rencananya menikahi Vina.

“Ah, Bu…” Farid menelan ludah. “Em… nanti aku coba usahakan, tapi nggak sekarang.” Ia menatap ibunya, ragu. “Ada hal lain yang mau aku omongin.”

Belum sempat Bu Neni menjawab, terdengar suara salam dari arah pintu “Assalamualaikum…”

1
Aerik_chan
duh jadi deg degan
Aerik_chan
lah kok marah 🤭
Aerik_chan
katanya nominalnya kecil kok minjam 🤭🤭🤭
Aerik_chan
yeeee

semangat kak 💪 iklan untukmu
Aerik_chan
minta mamakmu lah

semangat ya thor satu bunga untukmu nih biar ssmangat
Aerik_chan
enteng bener mulutnya...


kak yuk saling dukung
Nesakoto: Siap kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!