Aku tidak menyangka jika pernikahanku ternyata membuatku harus memilih antara tetap hidup dengan seorang pembunuh Ayahku atau aku harus membalaskan dendam atas kepergian Ayahku.
Sebuah cerita perjuangan hidup seorang wanita yang besar dengan bertahan hidup di jalanan karena sejak usia sepuluh tahun kedua orangtuanya harus meninggal dengan keadaan tenggelam di laut bersama mobil yang mereka kendarai. Beruntung saat itu ia tidak ikut dengan kedua orangtuanya untuk makan malam dengan kliennya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30. Perjanjian Gara pada Mr. Dave
Setelah Gara mendapat informasi dari Randa, ia segera kembali masuk ke ruang rawat Tuan Tedy.
"Ada apa, Gara?" tanya Nyonya Harina penasaran.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Gara pergi dulu yah." ucapnya hendak melangkah keluar, namun Nyonya Harina sudah lebih dulu memanggilnya.
"Gara."
Gara pun menoleh. "Sarapan dulu, Ibu sudah membawakan sarapan untukmu." tutur Nyonya Harina.
Gara yang tidak ingin membuat hati ibunya kecewa, akhirnya memakan sarapan yang sudah di bawa Nyonya Harina.
Tuan Tedy dan Nyonya Harina memandang putra mereka dengan tatapan dalamnya.
Tiba-tiba suara Tuan Tedy terdengar. "Maafkan Ayah, Gara." ucapnya lirih.
Gara yang tengah menikmati sarapan itu kini berhenti. "Ayah." ucapnya kemudian berdiri dari duduknya. Meletakkan sarapannya dan mendekat pada Tuan Tedy.
Gara duduk di samping Tuan Tedy lalu menggenggam tangan sang Ayah.
"Untuk apa Ayah meminta maaf?" tanya Gara.
"Ayah telah memaksamu menikah dengan wanita yang tidak ayah ketahui pribadinya." tutur Tuan Tedy.
Gara terkejut mendengar ucapan Ayahnya saat ini, ia sangat bingung harus mengatakan apa kali ini.
"Tidak mungkin aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Ayah." gumam Gara begitu canggung.
Tuan Tedy dan Nyonya Harina menatap wajah putranya seakan merasa ada yang Gara sembunyikan saat ini.
"Gara, ada apa?" tanya Tuan Tedy dengan suara yang masih begitu lemah.
Gara tersadar dari lamunannya. "Tidak ada apa-apa, Ayah. Gara harus segera pergi. Ayah jangan merasa bersalah. Kharisa memang benarlah wanita yang baik."
Tanpa menjelaskan apa-apa, kini Gara sudah pergi dari ruangan itu meninggalkan sejuta rasa bingung di wajah kedua orangtuanya.
"Bu, mengapa Gara jadi berubah seperti itu pada Kharisa? bahkan dia membelanya." ujar Tuan Tedy.
"Ibu juga tidak tahu, Ayah." ujar Nyonya Harina.
***
Kharisa yang pagi ini begitu bersemangat melamar pekerjaan dengan pakaian formalnya tidak tampak kesulitan, karena ia sebelumnya sudah pernah mendapat tawaran di salah satu perusahaan yang ternama.
Perusahaan Kairin Group yang bergerak di bidang fashion. Kharisa mendapatkan tawaran di posisi Merchandiser. Perusahaan sangat yakin dengan kecerdasan Kharisa, ia akan mampu menyiapkan strategi pemasaran yang baik untuk menarik pelanggan.
"Bismillah, semoga pekerjaan ini masih ada untukku." tutur Kharisa dengan melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan.
"Selamat datang di perusahaan Kairin Group, ada yang bisa kami bantu?" ucap salah satu staff kantor itu dengan ramahnya.
"Maaf, saya beberapa waktu lalu mendapat tawaran kerja di kantor ini. Apakah saya bisa mengetahui tentang peluang itu saat ini?" tanya Kharisa dengan sopannya.
"Baik terimakasih untuk kunjungan anda, mari saya antar, Nona."
Kini Kharisa yang sudah melangkah masuk mengikuti wanita yang melangkah di depannya dengan anggun tampak tegang. Sangat besar harapan Kharisa bisa bekerja di tempat itu.
Setelah sampai di salah satu ruangan, Kharisa di pertemukan dengan seorang sekertaris wanita. Sayangnya saat itu pemilik perusahaan tersebut sedang tidak ada di tempat.
"Nona Kharisa, saya sudah mengecek seluruh berkas anda, dan saya sudah melaporkan pada pimpinan. Beruntung sampai saat ini kami belum menemukan pengganti posisi untuk anda. Dengan senang hati pimpinan perusahaan ini menerima tenaga anda untuk bekerja sama dengan perusahaan kami." seru sekertaris itu seraya tersenyum lembut.
Kharisa yang mendengar sangat senang, ingin sekali rasanya ia memeluk wanita di hadapannya jika tidak mengingat tempat saat ini.
"Terimakasih, terimakasih." tutur Kharisa.
Berkali-kali ia mengucapkan rasa syukur yang tak henti-hentinya.
"Anda bisa memanggil saya, Rika." ucap sekertaris itu lagi.
Kharisa menjulurkan tangannya dan menyebut namanya. "Kharisa."
Hari itu juga Kharisa segera masuk kerja, ia sudah memiliki ruang kerja yang tidak begitu sempit dan juga tidak begitu luas. Namun jika di lihat ruang kerjanya sudah sangat bagus.
Hari-hari telah Kharisa lewati dengan baik selama bekerja di tempat itu. Kini ia tidak lagi memikirkan keadaan keluarga suaminya.
Tuan Tedy yang sudah keluar dari rumah sakit di antar Gara pulang.
"Ayah, Ibu. Kalian istirahatlah dengan baik. Aku ada pekerjaan." tutur Gara.
Tuan Tedy dan Nyonya Harina tidak bisa mencegah kepergian putranya.
Gara sedang menjalankan tugas dari Tuan Tedy untuk memulai misi mereka bekerja sama dengan perusahaan luar demi mendapatkan keuntungan yang berlipat.
Mr. Dave sangat suka bermain dengan perusahaan asing demi menghindari pajak. Terutama pada negara yang menganut perpajakan.
Ia sama sekali tidak ingin jika kekayaannya akan di berikan meskipun tidak banyak pada negara.
Gara sudah pergi ke luar negeri bersama Randa dengan fasilitas pribadi yang di beri Mr. Dave.
"Apa ada perkembangan tentangnya, Randa?" tanya Gara.
"Masih belum ada, Tuan. Istri anda masih fokus bekerja tanpa melakukan hal lain." tutur Randa.
"Sepulang dari Cina, aku akan kembali membawanya pulang ke rumah dan menjelaskan pada orang tuaku." ucap Gara.
"Baik, Tuan." jawab Randa.
Sudah beberapa minggu Gara dan Kharisa tidak bertemu semenjak insiden itu. Kini Gara yang masih dalam tugas di Cina tiba-tiba mendapat kabar dari anak buahnya melalui Randa, jika Kharisa sedang berada di rumah sakit.
"Apa yang terjadi?" teriak Gara begitu paniknya saat Randa memberitahunya di kamar hotel.
"Masih belum tahu, Tuan. Mungkin Nyonya Kharisa sedang kelelahan akibat bekerja. Tadi pengawal telah membawanya ke rumah sakit saat melihat Nyonya jatuh pingsan di pinggir jalan sepulang kerja." terang Randa.
Tak lama kemudian ponsel Randa kembali berdering. "Bagaimana?" tanya Randa pada pria yang menelponnya di seberang sana.
"Tuan, Nyonya Kharisa hamil. Kami baru di beri tahu oleh Dokter." terangnya.
Randa yang mendengar begitu kaget, ia tampak meneguk kasar salivahnya dan matanya melirik tajam pada Gara.
Gara bisa melihat raut wajah tegang pada Randa. "Katakan!"
"Nyonya Kharisa hamil, Tuan." ucapnya dengan ragu.
Mata hitam Gara terbelalak mendengarnya. "Hamil, Kharisa hamil?" tanyanya dalam hati.
"Kita harus pulang." ucap Gara.
"Tapi, Tuan pekerjaan kita belum selesai." bantah Randa.
"Aku tidak perduli. Kita harus pulang sekarang juga." ucap Gara panik.
Gara dan Randa segera menuju bandara lalu mereka menuju jet pribadi yang sudah di siapkan oleh Randa.
"Bagaimana jika Mr. Dave marah pada Tuan karena hal ini?" gumam Randa terus memikirkan keadaan Gara nantinya.
Namun apa pun yang akan ia katakan, tentu Gara tidak akan mau mengubah keputusan itu. Dengan wajah pasrah Randa ikut ke Indonesia bersama Gara.
Perjalanan yang begitu jauh membuat Gara sepanjang jalan terus gelisah. Ia mengepal ujung sudut jas miliknya. Gara selalu memiliki kebiasaan panik seperti itu.
Randa terus menatap dengan dalam. "Tuan, anda mencintainya?" tanya Randa yang tak sanggup menahan diri.
"Jaga ucapan mu, Randa!" hardik Gara.
"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya ingin mengingatkan anda dengan Mr. Dave yang tidak akan menyetujui perasaan anda pada Nyonya Kharisa."
Gara seketika tersadar dengan ucapnyanya pada Mr. Dave jika ia akan menikahi Kharisa sementara dan akan segera meninggalkannya setelah mendapat jalan keluar.
Gara terdiam, terlihat bola matanya yang berputar tak menentu menandakan jika ia sedang panik.
Tapi kepanikannya kali ini jauh lebih besar mengarah pada Kharisa.
***
Di rumah sakit, Kharisa baru sadar dari pingsannya.
"Di mana aku?" tanya Kharisa penasaran.
"Nyonya, m-maksudku Nona istirahatlah dulu. Anda tadi pingsan di pinggir jalan." ucap pria yang memakai pakaian kaos dengan wajah sangarnya.
Kharisa begitu terkejut melihat kehadiran pria yang sama sekali tidak ia kenal. "Anda siapa?" tanya Kharisa dengan takutnya.
"Tenanglah, saya hanya orang yang kebetulan lewat di sekitar anda saat pingsan tadi. Dan kata Dokter anda kelelahan jadi harus istirahat dulu." terangnya.
Kharisa menghela nafasnya pelan lalu ia mengangguk setuju. Benar, ia memang harus beristirahat dulu karena perasaan Kharisa masih sangat lemah.
Sedangkan pria itu enggan menjelaskan apa yang terjadi pada Kharisa karena ia sudah mendapat perintah dari Gara agar tidak mengatakan apa pun sampai ia tiba di rumah sakit.
khard pgen sutik mati ..
kalo bisa di ubah aja alurnya...
😁😁😁😁
pas detik2 kard mau menodai kharisa bara datang dan belum sempat melakukan tindakannya....
kasian kharisa, 🥺
sy suka bngat ceritanya..😍😍
adakah season ke2 nye😊
ga nyangka uda end
hhhe
tn tedy tepat waktu bgt sii dtg nya