NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

PENGAKUAN YANG DATANG TERLALU DINI

Rumah sakit selalu punya cara sendiri untuk membuat waktu berjalan aneh.

Terlalu cepat bagi mereka yang ingin pergi, terlalu lambat bagi mereka yang menunggu.

Pagi itu, Aira duduk di kursi besi lorong lantai tiga. Tangannya menggenggam secangkir kopi yang sudah dingin sejak sepuluh menit lalu. Matanya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana.

Sejak malam sebelumnya, perasaannya tidak pernah benar-benar tenang. Ada sisa getar di tubuhnya, ingatan tentang gang sempit, tentang langkah kaki, tentang tatapan seorang asing yang terlalu tepat waktu.

Dan tentang Langit.

Langit yang mengajaknya bertemu.

Langit yang tidak datang.

Langit yang mengirim pesan seolah semuanya hanya kebetulan.

Pintu lift terbuka dengan bunyi pelan. Aira menoleh refleks.

Langit berdiri di sana.

Ia mengenakan kemeja abu-abu muda, lengan digulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan, seperti orang yang tidak benar-benar tidur. Wajahnya tampak cemas, atau setidaknya, itulah yang ingin ia perlihatkan.

“Aira,” panggilnya.

Nama itu meluncur begitu saja, akrab, seolah tidak ada jarak, seolah tidak ada sesuatu yang hampir terjadi semalam.

Aira berdiri. Ia tidak tersenyum, tapi juga tidak menunjukkan penolakan. Sikapnya datar, lebih hati-hati dari biasanya.

“Kamu ke sini,” katanya singkat.

Langit mengangguk cepat. “Aku baru bisa datang sekarang. Maaf soal semalam.”

Aira menatapnya lama.

Terlalu lama untuk sebuah maaf sederhana.

“Masuk,” katanya akhirnya. “Ibu lagi istirahat.”

Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong. Tidak ada sentuhan. Tidak ada percakapan ringan seperti dulu. Udara di antara mereka terasa lebih padat, seolah ada sesuatu yang tidak terucap menekan dari dua arah.

Di depan kamar perawatan, Aira berhenti.

“Aku mau jujur,” katanya tanpa menoleh. “Aku nggak bisa lama. Setelah ini aku mau keluar.”

Langit sedikit terkejut. “Keluar ke mana?”

“Menjenguk ayah.”

Langkah Langit terhenti.

“Ayah kamu?” ulangnya, lebih pelan.

Aira menoleh. Wajahnya tenang, tapi ada ketegangan di garis rahangnya. “Iya.”

Ia membuka pintu kamar, masuk sebentar untuk memastikan ibunya masih tertidur dengan tenang. Setelah itu, ia keluar lagi dan menutup pintu perlahan.

“Aku mau ke lapas hari ini,” lanjut Aira. “Aku belum bilang ke siapa-siapa. Bahkan ke ibu.”

Langit menatapnya, mencoba membaca sesuatu di wajah itu. “Kenapa sekarang?”

Aira mengangkat bahu. “Karena kalau aku tunda, aku mungkin nggak akan pernah berani.”

Kalimat itu membuat dada Langit menegang.

Ia tahu momen ini akan datang, tapi tidak secepat ini, langit ingin ayah nya Aira merasakan di tinggalkan oleh keluarganya sendiri, terutama ditinggal kan oleh Aira.

“Aira” Langit menarik napas. “Kamu yakin itu keputusan yang tepat?”

Aira tersenyum tipis, pahit. “Sejak kapan kamu peduli tentang itu langit, bukankah kau yang mengatakan jangan melihat masalalu?”

Kalimat itu menghantam tepat di tempat yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Mereka duduk di bangku lorong. Beberapa perawat berlalu-lalang, tapi dunia terasa menyempit hanya pada dua orang itu.

“Aku ikut,” kata Langit tiba-tiba.

Aira menoleh cepat. “Apa?”

“Aku temani kamu,” ulangnya. “Kamu nggak harus sendirian.”

Aira menggeleng pelan. “Nggak.”

Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu tegas.

Langit terdiam. “Kenapa?”

Aira menatap lantai. “Aku belum siap membawa siapa pun ke sana. Aku bahkan belum siap membawa diriku sendiri... Lagian bang Raka sudah janji untuk mengantarkan ku ke lapas”

Langit menelan ludah. Ada sesuatu dalam nada Aira yang membuatnya sadar, ia tidak sedang ditolak sebagai orang lain. Ia ditolak sebagai bagian dari dunia yang terlalu rapuh untuk dibagi.

Dan itu membuatnya… tidak sabar.

“Aira,” katanya pelan, lalu berhenti sejenak, seolah menimbang apakah kata-kata berikutnya terlalu dini.

Atau justru sudah terlambat.

“Aku sebenarnya datang hari ini bukan cuma buat minta maaf.”

Aira mengangkat wajahnya. “Terus?”

Langit menatapnya. Tatapan yang ia latih berhari-hari, berminggu-minggu. Tatapan yang ia susun agar terlihat jujur, tulus, tanpa cela.

“Aku nggak mau terus pura-pura biasa,” katanya. “Aku capek nahan ini sendirian.”

Aira terdiam.

“Aku tahu kamu lagi di titik terberat hidupmu,” lanjut Langit cepat, seolah takut kehilangan momentum. “Dan aku tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat. Tapi justru karena itu”

Ia berhenti. Menarik napas.

“Aira, aku cinta sama kamu.”

Kata itu jatuh di antara mereka.

Tidak meledak.

Tidak mengguncang.

Justru sunyi.

Aira mematung.

“Apa?” suaranya nyaris tidak terdengar.

Langit mencondongkan tubuh sedikit,

suaranya lebih lembut. “Aku sadar sejak lama. Cara kamu bertahan, cara kamu peduli sama orang lain meski kamu sendiri hancur. Aku jatuh cinta tanpa sadar.”

Ia menggenggam tangannya sendiri, menahan agar tidak menyentuh Aira.

“Aku tahu kamu juga punya perasaan,” lanjutnya, yakin. “Aku lihat caramu menatapku. Aku dengar caramu diam waktu kita bersama.”

Aira menelan ludah. Dadanya terasa sesak.

Ia tidak menyangkal.

Karena sebagian dari itu benar.

“Tapi kenapa sekarang?” tanya Aira akhirnya. “Kenapa di sini?”

Langit tersenyum kecil. “Karena aku nggak mau kamu ngerasa sendirian lagi.”

Dan di balik kalimat itu, ada niat lain yang tidak ia ucapkan.

Bahwa cinta adalah alat paling halus.

Bahwa saat seseorang percaya, mereka membuka celah paling dalam.

Aira berdiri.

Ia berjalan beberapa langkah menjauh, lalu berbalik.

“Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “aku lagi belajar membedakan mana yang tulus, mana yang cuma datang karena kesempatan.”

Langit menegang, tapi tetap tenang. “Aku tulus.”

Aira menatapnya lama. Terlalu lama.

“Aku nggak bilang kamu bohong,” katanya. “Aku cuma bilang… aku butuh waktu.”

Langit mengangguk, seolah memahami. “Aku tunggu.”

“Aku mau ke lapas hari ini,” ulang Aira. “Dan aku nggak mau pikirin hal lain dulu.”

“Aku ngerti,” kata Langit cepat. “Aku juga nggak bisa ikut kan”

Aira mengerutkan kening. “Kenapa, bukan nya tadi mau ikut?”

Langit berdiri, merapikan bajunya. “Ada urusan mendadak. Penting.”

“Penting dari aku?” tanya Aira, tanpa nada menuntut, hanya ingin tahu.

Langit menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Untuk hari ini… iya.”

Jawaban itu menggantung, ambigu, dan Aira tidak punya energi untuk menggalinya lebih dalam.

“Oke,” katanya akhirnya.

Beberapa menit kemudian, Raka muncul di ujung lorong. Wajahnya serius seperti biasa, tapi ada kekhawatiran yang tidak ia sembunyikan saat melihat Aira.

“Siap?” tanya Raka.

Aira mengangguk.

Ia menoleh ke Langit. “Aku pergi.”

Langit mengangguk. “Hati-hati.”

Aira melangkah pergi bersama Raka.

Langit berdiri di sana, menatap punggungnya menjauh.

Di balik ketenangannya, ada sesuatu yang bergetar.

Bukan ragu.

Melainkan antisipasi.

Di dalam mobil, Raka menyetir tanpa banyak bicara. Jalanan pagi itu padat, tapi sunyi di dalam kabin.

“Kamu yakin?” tanya Raka akhirnya.

Aira menatap keluar jendela. “Aku harus.”

Raka mengangguk. “Kalau kamu belum siap, jangan di paksakan”

Aira tersenyum kecil. “Aku nggak punya pilihan lain.”

Lapas berdiri dingin di hadapan mereka. Tembok tinggi. Gerbang besi. Dunia yang memisahkan orang-orang dari kehidupan lama mereka

.

Aira menarik napas panjang sebelum turun.

“Aku di sini,” kata Raka pelan. “Sepanjang kamu mau.”

Di ruang kunjungan, Aira duduk dengan tangan gemetar. Jantungnya berdetak terlalu keras di telinga.

Pintu terbuka.

Ayahnya masuk.

Pria itu tampak lebih kurus. Rambutnya mulai memutih di pelipis. Tapi tatapannya, tatapan itu masih sama. Tegas. Dalam. Menahan terlalu banyak hal.

“Aira,” katanya.

Suara itu hampir membuat Aira runtuh.

“Ayah,” balasnya lirih.

Mereka duduk berhadapan, dipisahkan meja dan jarak yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Kamu baik-baik saja?” tanya ayahnya.

Aira mengangguk, meski matanya basah. “Ibu sakit.”

Ayahnya memejamkan mata sesaat. Rahangnya mengeras. “Ayah tahu.”

“Ayah tahu segalanya,” kata Aira, suaranya pecah. “Tapi aku nggak tahu harus percaya yang mana lagi.”

Ayahnya menatapnya lama. “Ada hal-hal yang ayah lakukan karena ayah pikir itu melindungi.”

“Melindungi siapa?” tanya Aira. “Aku? Atau nama Ayah?”

Pertanyaan itu menggantung.

“Ayah minta maaf,” kata pria itu akhirnya. “Bukan karena ayah lemah. Tapi karena ayah gagal menjelaskan.”

Air mata Aira jatuh. “Aku capek, Yah.”

Ayahnya mengangguk. “Ayah tahu.”

Di luar ruangan, Raka menunggu.

Dan di sisi lain kota, Langit duduk di dalam mobilnya, menatap layar ponsel.

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:

Langkah pertama berhasil. Dia percaya.

Langit mengetik balasan singkat:

Lanjutkan.

Tapi jangan sentuh dia.

Ia menutup ponsel. Menarik napas panjang.

Cinta, dendam, dan waktu, semuanya kini bergerak di jalur yang sama.

Dan Aira, tanpa tahu sepenuhnya,

telah berdiri tepat di tengahnya.

Ruang kunjungan itu terasa semakin sempit.

Bukan karena temboknya, tapi karena kata-kata yang tertahan terlalu lama akhirnya menuntut keluar.

Ayah Aira menatap putrinya lama, seolah ingin memastikan bahwa perempuan di depannya ini benar-benar Aira, anak yang ia besarkan dengan aturan, jarak, dan tuntutan yang tak pernah lunak.

“Aira,” katanya pelan, lebih pelan dari sebelumnya,

“ada satu hal yang Ayah perlu jelaskan. Dan Ayah nggak pernah benar-benar punya kesempatan untuk itu.”

Aira mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi tatapannya tajam.

“Jelaskan, Yah.”

Ayahnya menarik napas panjang. Bahunya turun sedikit, seolah beban yang selama ini ia pikul mulai retak.

“Proyek Sungai Selatan itu… datang di waktu yang salah,” katanya.

“Tekanan datang dari mana-mana. Investor, pemerintah daerah, tenggat waktu. Semua mendesak.”

Ia berhenti sejenak, menelan ludah.

“Ayah menandatangani dokumen itu dengan keyakinan bahwa semua prosedur sudah dijalankan. Termasuk kompensasi warga.”

Aira mengepalkan tangannya. “Tapi uang itu nggak sampai ke mereka.”

“Ayah tidak tahu,” kata ayahnya tegas, suaranya sedikit bergetar.

“Dan itu kesalahan terbesar Ayah. Bukan karena Ayah mengambil uang itu, Ayah tidak pernah, tapi karena Ayah percaya pada sistem yang ternyata busuk.”

Aira menatapnya tanpa berkedip.

“Ayah baru tahu kompensasi itu tidak dibagikan setelah artikel Ayah terbit,” lanjutnya.

“Artikel itu memang membuka kebenaran, tapi juga membuka kekacauan.”

Dadanya naik turun.

“Waktu Ayah sadar… Ayah mencoba memperbaiki. Ayah mengirim dana pribadi. Ayah minta audit internal. Ayah mendatangi perwakilan warga.”

“Ada yang bilang mereka nggak pernah terima apa pun,” suara Aira bergetar.

Ayahnya mengangguk pelan. “Iya. Karena sebagian sudah terlambat. Ada alur yang rusak. Ada tangan-tangan yang lebih cepat menutup jejak daripada niat baik.”

Matanya berkaca-kaca, sesuatu yang jarang sekali Aira lihat.

“Dan di situ Ayah mulai takut.”

“Takut apa?” tanya Aira lirih.

“Takut kamu yang jadi korban,” jawab ayahnya tanpa ragu.

“Takut nama kita menyeret hidupmu. Takut kalau kelemahan Ayah dibayar oleh masa depanmu.”

Aira terdiam.

“Makanya Ayah keras,” lanjutnya.

“Makanya Ayah menuntut kamu sempurna.

Bukan karena Ayah nggak sayang. Tapi karena Ayah tahu dunia tidak pernah memberi ampun pada anak dari orang yang jatuh.”

Air mata Aira akhirnya jatuh.

“tapi Aira bingung harus percaya cerita ayah atau saksi dan korban itu.”

“Ayah tahu, kamu enggak segampang itu percaya” jawabnya cepat.

“Dan Ayah minta maaf untuk itu, ayah sudah menjelaskan ini, di malam itu, tapi mungkin kamu belum bisa percaya ke ayah, ayah enggak mau menjelaskan masalah ini berkali-kali, seakan ayah benar-benar salah”

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Tapi satu hal yang Ayah ingin kamu percaya: Ayah tidak mencuri. Ayah tidak menipu dengan sadar. Dan Ayah tidak akan membiarkan kebenaran ini berhenti di sini.”

Aira mengusap pipinya. “Terus apa yang Ayah lakukan sekarang?”

Ayahnya menatapnya lurus.

“Ayah akan cari bukti.”

“Dari mana?” tanya Aira.

“Dari dalam,” jawabnya.

Ia menggenggam tangannya Aira

“Ayah berjanji. Bukan sebagai terdakwa. Tapi sebagai ayahmu.”

Janji itu tidak membuat semuanya sembuh.

Tapi untuk pertama kalinya, Aira merasa, ayahnya tidak berdiri berseberangan dengannya.

Waktu kunjungan hampir habis.

Petugas memberi isyarat.

Aira berdiri, ragu sejenak, lalu melangkah mendekat.

“Ayah,” katanya pelan. “Aira memang belum percaya pada ayah, tapi satu hal, yang ayah harus tau, kalau Aira tetap anak ayah, apapun yang terjadi tidak akan mengubah hubungan kita.”

Ayahnya mengangguk dan tersenyum. “Ayah nggak minta kamu percaya sekarang.”

“Tapi Aira mau, ayah jujur ke Aira, dan tidak berbohong tentang masalah ini” lanjut Aira.

“Dan Aira akan tunggu bukti itu.”

Ayahnya tersenyum kecil.

“Itu sudah lebih dari cukup, salam untuk ibu, dan katakan, jangan terlalu memikirkan ayah” kata ayah Aira

Aira hanya mengangguk

Saat Aira keluar, lututnya terasa lemas. Raka langsung berdiri.

“Gimana?” tanya Raka.

Aira menghela napas panjang. “Berat.”

Raka tidak bertanya lagi. Ia hanya menepuk bahu Aira pelan, lalu mengantar kembali ke mobil.

Perjalanan kembali ke rumah sakit diisi keheningan yang berbeda.

Bukan kosong, tapi penuh.

Sesampainya di depan rumah sakit, Raka memarkir mobil. Ia menoleh ke Aira.

“Aku nggak bisa lama,” katanya. “Ada urusan keluarga.”

Aira mengangguk. “Makasih, Bang.”

Raka keluar bersama Aira, lalu masuk sebentar ke kamar ibunya Aira. Ia berdiri di dekat ranjang, suaranya lembut.

“Tante istirahat ya. Aira aku tinggal sebentar.”

Ibunya membuka mata sedikit, tersenyum lemah.

“Makasih, Nak.”

Raka keluar. Di lorong, ia menoleh ke Aira.

“Kalau ada apa-apa, telepon.”

Aira mengangguk. “Hati-hati.”

Setelah Raka pergi, Aira kembali duduk di sisi ranjang ibunya, menggenggam tangan yang terasa hangat tapi rapuh. Napas ibunya teratur, meski wajahnya masih pucat.

“Ayah kamu orang keras,” gumam ibunya pelan, tanpa membuka mata.

“Tapi dia selalu takut kehilangan kamu.”

Aira menelan ludah.

“Aira tahu sekarang, Bu.”

Di tempat lain, beberapa lantai di atas, Kartik Arkana berdiri di depan layar besar yang menampilkan rekaman CCTV rumah sakit, tanpa suara, tanpa gangguan.

Wajah Aira terlihat jelas. Masuk. Keluar. Duduk. Menunduk.

Seorang staf berdiri di belakangnya, menjaga jarak.

“Dia ke lapas hari ini,” lapor staf itu.

Kartik mengangguk. “Aku tahu.”

“Langit juga terdeteksi berada di rumah sakit pagi tadi.”

Tatapan Kartik mengeras sedikit.

“Apakah perlu kita beri pelajaran?”

Kartik menatap layar, tepat pada momen Aira menggenggam tangan ibunya.

“Belum,” katanya dingin.

“Selama Aira masih utuh, kita hanya memantau.”

Ia mematikan layar.

“Arahkan pengawasan ke Langit,” lanjutnya.

“Bukan untuk menyerang. Untuk membaca.”

Staf itu mengangguk.

Kartik memasukkan tangannya ke saku jas.

Di kepalanya, satu kesimpulan sudah jelas:

permainan ini tidak lagi soal masa lalu.

Ini soal siapa yang lebih dulu kehilangan kendali.

Dan di lantai bawah, Aira menatap wajah ibunya yang terlelap, tidak tahu bahwa setiap langkahnya kini tercatat, dijaga, dan diamati, oleh orang-orang dengan niat yang sangat berbeda.

Beberapa ingin melindunginya.

Beberapa ingin memanfaatkannya.

Dan satu orang…

ingin menjatuhkannya perlahan, lewat sesuatu yang bernama cinta.

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!