Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Tujuan Agnes
"Oh, aku memang ingin membunuhmu." Agnes menjawab dengan santai. "Kau bupati. Simbol penindasan. Alat Belanda untuk memeras rakyat pribumi."
Mata amber itu berkilat.
"Tapi membunuhmu bukan tujuan utama. Membuat onar adalah tujuannya. Membuat ayahku melihat bahwa aku tidak bisa dijinakkan. Bahwa aku akan terus membuat masalah sampai dia benar-benar melepaskanku, dan tidak mencampuri hidupku."
Arjo menatap heran perempuan di hadapannya.
‘Aneh, berbahaya, gila.’
"Lalu sekarang," Arjo menyandarkan punggung ke kursi, tangan terlipat di dada, "apa yang kau harapkan, Nona? Dengan mengakui semua ini padaku?"
Agnes tersenyum lagi, senyum predator yang sama.
"Aku harap kau akan marah."
"Marah?" Arjo menaikkan alisnya.
"Murka. Memanggilku begal, pemberontak, kriminal. Menyeretku ke penjara bawah tanah. Tempat di mana tahanan berbahaya biasa disimpan. Karena kalau aku di penjara, " suaranya turun, "aku bisa membebaskan teman-temanku dari dalam. Aku tidak mau keluar kalau ayahku juga tidak membebaskan mereka semua."
‘Oh. Jadi tujuannya banyak. Dia juga ingin ditangkap. Bukan untuk dihukum. Tapi untuk masuk ke dalam dan membebaskan tahanan lain.’
Arjo tertawa.
Bukan tawa mengejek. Tapi tawa yang ... geli?
Agnes mengerutkan dahi, jelas tidak mengharapkan reaksi itu.
"Kenapa tertawa?"
"Karena," Arjo menggeleng pelan, "kau salah memilih lawan, Nona. Kau berpikir aku sebodoh itu, terseret begitu saja ke dalam permainanmu?"
Agnes tidak menjawab.
"Kau ingin menggunakanku sebagai alat, Nona." Arjo menyesap kopinya dengan santai. "Alat untuk membatalkan pertunanganmu. Alat untuk masuk ke penjara. Alat untuk membebaskan teman-temanmu."
Ia meletakkan cangkirnya.
"Maaf, tapi aku tidak mau menjadi alat gadis ingusan."
Mata Agnes melebar sesaat.
‘Kena, kau!’ batin Arjo dengan puas.
"Aku—" Agnes membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar selanjutnya.
"Aku tidak sepolos yang kau kira, Nona." Arjo melanjutkan, suaranya tenang. "Dan aku tidak sebodoh yang kau harapkan. Menangkapmu sekarang tidak akan menguntungkanku. Justru akan membuatku semakin jauh terseret."
"Semakin jauh terseret?" Alis cantik Agnes berkerut.
"Ayahmu adalah Residen. Pejabat tinggi Belanda. Kalau aku menangkap putrinya, akan ada penyelidikan serius. Akan ada pertanyaan. Mengapa putri Residen menyerang bupati? Apa hubungan mereka? Apa putri Residen punya masalah pribadi dengan bupati tampan ini?"
Ia menatap Agnes langsung.
"Aku yakin ayahmu tidak mau pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Dan aku juga tidak mau terlibat dalam drama keluarga kalian yang aneh. Aku sudah terlalu pusing dengan kadipatenku sendiri, tidak punya waktu mengurus anak gadis orang, biar ayahnya sendiri yang menjinakkannya. Kau mungkin cocok dengan perwira itu. Kau akan dirantai di ranjang, ditiduri sepuasnya, perut buncit, dan kau bisa apa? Apa yang dilakukan ayahmu sudah tepat."
Agnes terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, perempuan itu tampak ... kehilangan kata-kata.
Arjo menyesap kopinya lagi, menikmati momen ini.
Matanya, tanpa bisa ditahan, menyapu wajah Agnes.
Ke bibir merah muda yang sedikit terbuka.
Ke leher jenjang, turun ke bahu yang terbuka.
Ke lekuk dada yang naik turun mengikuti napas.
Setengah pikirannya, sudah berlari ke tempat yang tidak seharusnya.
‘Bagaimana rasanya kalau bibir itu—’
‘Jangan. Fokus.’
Arjo berdeham, memaksa pikirannya kembali.
"Nona van der Linden." Suaranya lebih tegas sekarang. "Aku akan memberi satu nasihat gratis, yang tidak akan kau dapatkan di tempat lain."
Agnes mengangkat wajah, mata menyipit curiga.
"Berbuat frontal seperti ini," Arjo melanjutkan, "akan berakhir seperti pemberontakan tahun lalu. Teman-temanmu yang kau coba lindungi? Kalau kau terus berbuat onar seperti ini, justru kau yang akan membawa petaka untuk mereka."
Agnes membuka mulut untuk membantah—
"Ayahmu sudah tahu markas mereka, kan?" Arjo memotong dengan tenang. "Kalau kau terus memprovokasinya, berapa lama sampai dia kehilangan kesabaran dan mengirim pasukan untuk menggerebek tempat itu?"
Agnes menutup mulut.
Rahangnya mengeras.
Tapi dia tidak membantah.
"Kadang," Arjo memasang wajah semakin serius, "cara terbaik untuk melindungi orang yang kita sayangi adalah tidak bertindak. Menahan diri. Menunggu waktu yang tepat."
Mata amber itu menatapnya dengan dahi berkerut.
‘Kebingungan? Frustrasi Atau mungkin ... pengakuan bahwa aku benar?’
"Kau," Agnes berbicara pelan, "bupati paling aneh yang pernah kutemui."
Arjo tersenyum tipis.
"Terima kasih. Kuanggap itu pujian."
Agnes mendengkus, tapi tidak ada kemarahan dalam suara itu.
Agnes mengangkat cangkir tehnya, menyesap perlahan.
"Terima kasih untuk nasihat gratisnya, Tuan Adipati."
Arjo mengangkat alis. "Kau menerimanya?"
"Tidak." Agnes meletakkan cangkirnya dengan bunyi pelan. "Nasihatmu tidak berarti apa-apa bagiku."
"Oh?" Mata Arjo melebar.
"Berbuat onar atau tidak," Agnes mendengkus lagi, "teman-temanku tetap akan dieksekusi. Ayahku sudah tahu markas mereka. Tinggal menunggu waktu sampai dia mengirim pasukan."
Arjo tidak menjawab.
"Jadi apa bedanya?" Agnes melanjutkan, suaranya lebih keras sekarang. "Diam dan menunggu mereka mati? Atau mencoba sesuatu … apapun … meskipun akhirnya kami semua mati juga?"
Ia menyandarkan punggung ke kursi, tangan terlipat di dada.
"Setidaknya kalau aku mencoba, aku tidak akan menyesal. Setidaknya aku sudah melakukan sesuatu."
Arjo memandang perempuan di hadapannya.
‘Keras kepala. Sangat keras kepala.’
‘Tapi juga... berani. Lebih berani dari kebanyakan pria yang pernah kutemui.’
"Nona—"
"Dan lagipula," Agnes memotong, mata menyipit, "aku masih tidak yakin kau benar-benar orang yang sama dengan yang di kereta waktu itu. Jelas dari tadi kau mencoba mengalihkan topik."
Arjo terdiam.
‘Dia masih curiga.’
Agnes condong ke depan sedikit, jari mengetuk meja dengan irama pelan.
"Soedarsono yang sekarang," ia mengamati wajah Arjo dengan teliti, "tidak sama dengan yang di kereta. Suara berbeda. Cara bicara berbeda. Bahkan ... aura berbeda."
‘Perempuan ini terlalu tajam.’
"Yang di kereta waktu itu," Agnes melanjutkan, senyum sinis di bibir, "mungkin orang lain. Seseorang yang mirip. Untuk melindungi bupati asli dari serangan?"
Jantung Arjo berdegup lebih kencang.
Tapi wajahnya tetap datar.
"Atau mungkin," Agnes memiringkan kepala, "agar bupati asli bisa bersenang-senang dengan perempuan sementara yang palsu bekerja mati-matian di luar sana?"
‘Cerdas,’ pikir Arjo. ‘Dia hampir menebak dengan tepat.’
"Nona van der Linden." Suara Arjo tetap tenang. "Aku yang ada di kereta waktu itu. Itu sebabnya aku bisa mengenali matamu. Dan itu sebabnya aku dengan halus memberi tahu ayahmu tadi bahwa pemimpin penyerangan adalah perempuan."
Agnes mendengkus.
"Tidak meyakinkan. Siapapun bisa menceritakan detail itu setelah mendengar dari orang lain."
"Aku yang bertarung denganmu."
"Buktikan."
Arjo menatapnya.
Agnes menatap balik—mata kucing yang tidak gentar.
“Baiklah, Nona. Kau yang meminta.”
Arjo menghela napas, lalu berdeham pelan.
Dan ketika dia berbicara lagi, suaranya berubah.
Lebih ringan. Lebih muda. Tidak lagi berat dan penuh wibawa seperti tadi.
"Seperti ini, Nona?"
Agnes tersentak.
ora salah masmu ngangkat kowe💪💪💪
jodoh takkan kemana... sama" berjuang😍
yaaaa dan skrg gmn ya arjo bisa mengatasi itu