Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
[Garis batas antara yang nyata dan yang gaib kini semakin kabur.]
Mahesa telah melakukan langkah yang sangat berisiko: memadatkan energinya secara paksa ke dalam wujud manusia bernama Mahesa Arya demi bisa menyentuh targetnya secara fisik di dunia manusia.
Mahesa berdiri di depan kelas dengan gaya yang sangat tenang, meletakkan tas kulit mahalnya di atas meja dosen yang baru saja diperbaiki Arjuna. Ia menatap lurus ke arah Ira, memberikan tekanan mental yang membuat gadis itu sulit bernapas.
"Hari ini kita akan membahas tentang 'Obsesi dan Keabadian' dalam seni kuno," ucap Mahesa dengan nada yang menghipnotis seisi kelas. "Bagaimana seorang penguasa bisa melakukan apa saja, termasuk menghancurkan dunia, hanya untuk mendapatkan satu jiwa yang ia inginkan."
Ira menunduk dalam, tangannya meremas gelang benang hitam pemberian Arjuna hingga buku jarinya memutih. Ia merasa seperti mangsa yang sedang diperhatikan oleh serigala di depan kelas.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka dengan dentuman yang cukup keras, namun anehnya tidak ada satu pun mahasiswa yang menoleh kecuali Jelita, Ira, dan Dinda.
Seorang pemuda masuk dengan langkah yang sangat angkuh. Ia mengenakan jaket kulit hitam di atas kaos polos, celana jeans gelap, dan sepatu boots yang menghentak lantai dengan irama yang penuh kuasa. Wajahnya yang luar biasa tampan terlihat sangat dingin.
"Maaf saya terlambat, Pak Dosen," ucap pemuda itu. Suaranya rendah namun mengandung getaran yang membuat lampu kelas berkedip sesaat.
Seluruh mahasiswa tampak seperti terhipnotis, mereka melihat pemuda itu seolah-olah dia memang mahasiswa di sana, namun bagi Jelita, ia melihat Arjuna dalam wujud manusianya yang paling sempurna dan memikat.
Arjuna berjalan melewati barisan kursi, tatapan matanya terkunci pada Mahesa di depan kelas. Ketegangan antara keduanya membuat udara di dalam ruangan terasa seperti dialiri listrik tegangan tinggi.
Arjuna duduk di kursi kosong tepat di belakang Ira, memberikan rasa aman instan bagi gadis itu. Ia menyandarkan punggungnya dengan santai sambil menatap Mahesa.
"Silakan lanjutkan, Pak Mahesa," ucap Arjuna dengan nada sarkasme yang kental. "Saya sangat tertarik mendengar bagaimana seorang... 'pemberontak' menjelaskan tentang obsesi. Bukankah biasanya pemberontak berakhir dengan kehancuran?"
Mahesa mengepalkan tangannya di bawah meja, matanya berkilat merah sesaat sebelum kembali normal. "Tergantung siapa yang ia lawan, Mahasiswa Baru. Kadang, sang penguasa terlalu sombong hingga ia tidak sadar bahwa orang-orang terdekatnya adalah kelemahannya."
Mahesa kemudian beralih menatap Ira. "Irawati, coba kamu maju ke depan. Saya ingin kamu menganalisis gambar di layar ini."
Ira membeku. Ia tahu jika ia maju, ia akan masuk ke dalam jangkauan fisik Mahesa.
Sebelum Ira sempat menjawab, Arjuna berdiri. "Biar saya saja yang maju, Pak. Irawati sedang kurang enak badan."
"Saya memanggil Irawati, bukan kamu!" gertak Mahesa, aura hitam mulai merembes dari balik jas abu-abunya.
"Dan saya yang akan mewakilinya," balas Arjuna, melangkah maju hingga ia berdiri hanya berjarak satu meter dari Mahesa.
Di mata mahasiswa lain, ini hanyalah debat antara dosen baru dan mahasiswa yang vokal. Namun bagi Jelita, ia melihat dua entitas besar sedang saling menekan energi. Bayangan Arjuna di lantai tampak berubah menjadi sosok raja dengan keris terhunus, sementara bayangan Mahesa berubah menjadi monster hitam yang mengerikan.
[ilustrasi penglihatan Jelita]
Kini di dalam kelas, bukan pelajaran yang Jelita lihat, melainkan Arjuna sedang beradu ilmu tanpa bisa dilihat oleh mata manusia biasa. Melalui cincin kecubungnya, Jelita melihat pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan.
Setiap kata yang dilontarkan Mahesa berubah menjadi kabut hitam pekat yang mencoba melilit leher Arjuna, namun sebelum kabut itu menyentuh kulitnya, cahaya keemasan dari aura Arjuna menghancurkannya menjadi abu gaib.
Arjuna membalas dengan tatapan matanya; bayangan di lantai kelas merambat seperti akar pohon tua yang kuat, mengunci kaki Mahesa agar tidak bisa melangkah mendekati meja mahasiswi. Ruangan itu mulai bergetar pelan, suara berdenging memenuhi telinga Jelita, Ira, dan Dinda, sementara mahasiswa lain hanya duduk mematung seolah waktu telah berhenti bagi mereka.
"Kau pikir wujud manusia ini akan membatasiku, Mahesa?" bisik Arjuna dengan frekuensi yang hanya bisa didengar oleh penghuni alam gaib.
Mahesa menyeringai, meskipun dahinya mulai berkeringat menahan tekanan energi Arjuna. "Wujud ini mungkin membatasimu, Raja... tapi bagiku, ini adalah jembatan untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
Dinda menyikut Jelita dengan gemetar. "Jel... aku nggak kuat. Dadaku sesak banget. Mereka berdua kayak mau meledakkan ruangan ini!"
Arjuna berdiri tegak, memancarkan wibawa yang luar biasa hingga ia berhasil menghalau ilmu Mahesa. Tekanan energi Arjuna begitu kuat, membuat Mahesa sejenak terkunci di tempatnya, tidak bisa berontak meskipun wajah manusianya mencoba tetap tenang di depan kelas.
Namun, Mahesa tiba-tiba menyeringai licik. Matanya melirik ke arah pintu kelas, tempat Rita baru saja masuk bersama komplotannya. "Aku memiliki tenaga di sini, Raja... Rupanya ada manusia yang memendam kebencian mendalam pada Ratu barumu," desis Mahesa, suaranya terdengar seperti desiran pasir yang panas di telinga Arjuna.
Dinda, yang meski gemetar tapi tetap saja tidak bisa menahan mulutnya, berbisik kencang pada Jelita. "Oh tidak, Jel! Apakah si hantu dari neraka itu mencium hawa dari Rita? Secara dia kan orangnya julid dan sirik banget sama orang lain. Jangan-jangan hawa negatif Rita itu makanan empuk buat dia!"
Jelita tidak mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari Arjuna. Cincin di jarinya berdenyut panas, memperlihatkan aura hitam Mahesa yang mulai merayap di lantai, mencoba menyedot energi kemarahan dan rasa iri yang terpancar dari sosok Rita di sudut kelas.
"Aku tidak tahu, Dinda... Mungkin ya, mungkin tidak," balas Jelita singkat. Ia bisa merasakan bahwa Mahesa sedang mencari "celah" manusia untuk mematahkan dominasi Arjuna.
Sementara itu, Ira hanya bisa memperhatikan dengan rasa takut yang semakin mencuat. Tubuhnya kaku, matanya menatap bayangan monster di balik wujud tampan Mahesa. Pikirannya dipenuhi satu ketakutan besar: Bagaimana kalau hantu berwujud monster itu benar-benar menyeretnya pergi saat perhatian Arjuna teralih?
Pertarungan energi itu mencapai titik jenuh hingga tidak bisa dihalau lagi. Mahesa, yang menyadari kekuatan murninya terdesak oleh fajar kekuasaan Arjuna, memilih cara yang paling licik. Ia memanfaatkan kebencian Rita sebagai pintu masuk.
Dalam sekejap, asap hitam pekat melesat dari balik jas Mahesa dan menyambar tubuh Rita. Rita tersentak, matanya membelalak hingga menyisakan bagian putihnya saja, sebelum perlahan berubah menjadi hitam pekat seluruhnya.
DEG!
Seketika, suara bising dari luar kelas menghilang. Burung-burung yang terbang di luar jendela terpaku di udara, dan mahasiswa lain di dalam kelas terdiam mematung bak patung lilin dengan ekspresi yang membeku. Waktu telah dihentikan oleh kehendak dua entitas besar ini.
Kini, yang tersisa di dalam ruang hampa waktu itu hanyalah Jelita, Ira, dan Dinda, menghadapi sosok Rita yang sudah berada di bawah kendali penuh Mahesa.
Plus Ira & si berisik Dinda. Kombinasi maaaauuut... 🤣🤣🤣
Tiba2 ke inget lagu ini... Kesian jg si Arjuna. Tapi ya itulah hdp. 2 alam tidak mungkin bersatu...
Semangat ya Thor. Tuyulku ngikut nih. 🤣