NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pagi harinya, sinar matahari mulai menyeruak masuk melalui celah-celah gorden kamar Jelita. Dinda adalah yang pertama terbangun. Ia meregangkan tubuhnya, namun gerakannya terhenti seketika saat matanya menangkap sebuah pemandangan yang menurutnya lebih luar biasa daripada pengumuman kelulusan.

​Ira masih tertidur lelap dengan ekspresi yang sangat tenang, namun tangannya tampak menggenggam erat ujung jubah atau kain zirah berwarna perak kebiruan milik Gama. Sementara Gama sendiri masih berdiri mematung di sisi tempat tidur, tegak seperti tugu, membiarkan jubahnya menjadi "bantal pengaman" bagi Ira.

​Dinda langsung terduduk tegak, matanya membelalak, dan tangannya menutup mulut agar tidak berteriak seketika.

​"ASTAGA NAGA!!" jerit Dinda—akhirnya gagal menahan volume suaranya.

​Ira tersentak bangun, begitu juga Jelita. Ira yang masih setengah sadar merasa tangannya memegang sesuatu yang dingin dan keras. Begitu ia sadar itu adalah bagian dari zirah Gama, ia langsung melepaskannya seolah-olah baru saja menyentuh setrika panas.

​"MAS GAMA?!" Ira berteriak, wajahnya langsung merah padam sampai ke telinga.

​"Wuaahhh! Ira! Kamu beneran ya, mulut bilang benci tapi tangan mencari?!" goda Dinda sambil loncat-loncat di atas kasur. "Lihat Jel! Lihat! Sahabat kita yang paling logis ini ternyata diam-diam memenjarakan ksatria bayangan sepanjang malam!"

​Gama hanya menatap mereka datar, lalu menarik jubahnya dengan gerakan perlahan. "Energi Mahesa mencoba masuk lewat mimpimu, Irawati. Aku hanya memastikan kau tidak diculik dalam tidurmu. Jangan berpikiran yang tidak-tidak, manusia berisik," ucap Gama dingin ke arah Dinda, lalu ia menghilang dalam kepulan asap biru yang tipis.

​"Tuh kan! Dia malu-malu kucing, Ra! Aduh, romantis banget sih, dijagain pas mimpi buruk!" Dinda terus menggoda sambil mencolek-colek bahu Ira.

​"Dinda! Berhenti atau aku tendang kamu dari balkon sekarang juga!" ancam Ira sambil menutupi wajahnya dengan bantal, benar-benar malu luar biasa.

​Jelita hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka, namun tawanya terhenti saat ia merasakan pelukan posesif dari belakang. Arjuna muncul, membisikkan sesuatu di telinganya.

​"Kau lihat kan, Jelita? Bahkan ksatriaku pun mulai lunak karena temanmu. Tapi jangan harap aku akan selunak itu jika ada yang berani mendekatimu hari ini."

"Aku kira mas gama menyukaiku selama ini ternyata dia lebih memilih Ira yang pendiam," Keluh Dinda.

"Dinda, mulutmu benar-benar ya!" seru Ira dari balik bantalnya, suaranya teredam namun jelas terdengar sangat emosional. "Dia itu cuma menjalankan perintah Arjuna, bukan memilihku karena... karena suka!"

​Dinda mencibir, ia melipat tangannya di dada dengan gaya sok tahu. "Halah! Mas Gama itu ksatria, Ra. Kalau cuma menjalankan perintah, dia bisa saja berdiri di pojok ruangan atau di balkon. Tapi semalam? Dia berdiri tepat di sebelahmu, membiarkan jubah mahalnya kamu remas-remas sampai pagi. Kalau itu bukan 'perhatian khusus', aku ganti nama jadi Dindi!"

​Jelita mencoba menengahi sambil menahan tawa, meski ia juga merasa ada yang aneh dengan sikap Gama. "Sudahlah Dinda, jangan buat Ira makin stres. Kita harus fokus, hari ini suasana sepertinya makin berat."

Tiba-tiba, kepulan asap biru tipis kembali muncul di sudut kamar. Gama menampakkan wujudnya kembali, namun kali ini ia tidak menatap Ira, melainkan menatap Dinda dengan tatapan yang sangat tajam hingga membuat Dinda sedikit menciut.

​"Aku tidak memilih siapa pun, Manusia Berisik," ucap Gama dengan nada yang lebih dingin dari biasanya. "Tugas adalah tugas. Dan kau..." Gama menjeda kalimatnya, lalu melemparkan sebuah benda kecil ke arah Dinda.

​Hup! Dinda menangkapnya dengan sigap. Itu adalah sebuah koin perak kuno dengan ukiran lambang ksatria.

​"Simpan itu. Jika kau terus mengeluh dan merasa tidak dijaga, koin itu akan memanggil prajurit bayangan tingkat rendah untuk mengawalmu ke kamar mandi sekalipun. Jadi, berhentilah bicara soal siapa yang kupilih," ketus Gama, lalu ia benar-benar menghilang, meninggalkan aroma maskulin yang dingin.

​Dinda terpaku menatap koin di tangannya. Matanya perlahan berbinar lagi. "Wah... Jel! Ra! Lihat! Mas Gama kasih aku 'kado' juga! Dia nggak mau aku merasa tersisih! Ternyata hatinya selembut sutra di balik zirah besinya itu!"

​Ira hanya bisa menggelengkan kepala. "Kamu dikasih koin biar diam, Din. Bukan karena dia naksir kamu,"

Setelah berdebatan dengan segala kerandoman Dinda kini mereka telah bersiap dan kini mereka bertiga akhirnya turun ke bawah untuk sarapan. Ayah Burhan dan Ibu Diana sudah menunggu di meja makan dengan senyum cerah, tidak menyadari bahwa di sekitar mereka sedang terjadi "perang dingin" antar dimensi.

​"Ayo sarapan, anak-anak. Habis ini Ayah mau ke kantor, kalian mau Ayah antar ke kampus?" tanya Burhan sambil melipat koran paginya.

​"Eh, nggak usah Yah, kami... kami ada janji mau bareng naik ojek online saja," kilah Jelita cepat. Ia khawatir jika mereka diantar Ayah Burhan, Mahesa akan menyerang di jalan dan membahayakan Ayahnya.

​Namun, saat Burhan hendak meminum kopinya, gelas itu tiba-tiba bergetar dan pecah di atas meja. PRANG!

​"Ya ampun! Kok bisa pecah sendiri?" seru Diana panik sambil buru-buru mengambil lap.

​Jelita dan kedua sahabatnya membeku. Lewat cincinnya, Jelita melihat ada simbol mawar hitam kecil yang terukir di sisa pecahan gelas itu—simbol Mahesa. Mahesa tidak menyerang mereka secara langsung pagi ini, dia mulai meneror orang-orang di sekitar mereka sebagai peringatan.

​Arjuna yang berdiri tak kasat mata di samping Jelita menggeram rendah, suaranya membuat suhu ruangan mendadak drop hingga Burhan bergidik kedinginan. "Dia mulai bermain kotor, Jelita... Dia mengincar orang tuamu untuk memancingku melepaskan perlindungan pada sahabatmu."

Melihat kegelisahan di wajah Jelita dan pecahan gelas yang membawa pesan kematian dari Mahesa, Arjuna tidak tinggal diam. Ia tidak akan membiarkan Ratunya dan orang-orang di sekitarnya dalam bahaya lebih lama lagi.

​"Ayah, Ibu, sepertinya kami tidak jadi naik ojek online," ucap Jelita tiba-tiba, setelah mendengar instruksi Arjuna di dalam kepalanya.

​"Lho, kenapa Jel? Terus kalian berangkat naik apa?" tanya Burhan sambil membersihkan sisa kopi.

​Tepat saat itu, suara klakson yang berat dan elegan terdengar dari depan pagar rumah. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam dengan kaca yang sangat gelap terparkir dengan anggun di sana. Mobil itu tampak sangat mahal, bahkan logo di depannya berkilauan perak murni.

​"Itu... jemputan kami, Yah. Teman kampus Jelita ada yang searah," bohong Jelita, meski ia tahu itu adalah wujud penyamaran dari Kereta Kencana Astina Maya.

​Diana dan Burhan melongo melihat mobil semewah itu terparkir di depan rumah mereka. "Wah, teman kamu kaya sekali ya, Jel," gumam Diana kagum.

1
Ani Suryani
merah merah karena hantu
Mingyu gf😘
Arjuna jahat
Mingyu gf😘
sadar jelita sadar
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!