NovelToon NovelToon
Jodohku Ternyata Lurah

Jodohku Ternyata Lurah

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Wanita Karir / Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.

Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.

Ternyata jodoh dia adalah Lurah.

Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?

Nyok kita pantengin aja ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Main Ke Rumah Hagia

Mobil yang ditumpangi Hagia dan Azalea akhirnya berhenti dengan selamat di sebuah pekarangan yang cukup luas. Azalea memandang ke luar jendela dengan saksama.

Rumah di depannya ini meskipun hanya satu lantai, terlihat sangat bagus dan kekinian. Desain minimalis dengan sentuhan batu alam dan kaca-kaca besar memberikan kesan mewah yang tidak berlebihan. Azalea dan Hagia turun dari mobil.

Sebelum benar-benar sampai di depan pintu utama, Azalea menyempatkan diri melirik ke sekeliling. Ia bergumam dalam hati bahwa ternyata keluarga Hagia sangat low profile. Hal itu terbukti dari bagaimana Hagia bersikap sejak tadi. Urusan parkir mobil saja ia lakukan sendiri tanpa bantuan sopir atau tukang kebun. Bahkan sesampainya di rumah, Hagia kedapatan sibuk membereskan selang air yang belum digulung rapi entah habis digunakan untuk mencuci apa pagi tadi. Sampai-sampai belanjaan yang tadi mereka beli pun tak ada yang membawakan Hagia menjinjing semuanya sendirian.

Suasana asri begitu kental terasa. Lingkungan di sekitar rumah itu belum terlalu padat oleh bangunan tetangga. Meskipun jarak antar rumah terkesan jarang-jarang, namun orang-orangnya sangat ramah ketika bertegur sapa. Seperti sekarang misalnya, ada seorang tetangga yang kebetulan lewat dan menyapa mereka dengan ramah.

"Mas Hagia, Mbak Azalea." sapa tetangga itu sambil tersenyum dan menganggukan kepala.

Hagia dan Azalea pun serentak membalas sapaan itu dengan ramah sebelum akhirnya mereka tiba di teras depan. Hagia mengetuk pintu sambil mengucap salam. Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya menyambut mereka sembari menjawab salam dengan suara lembut.

Tanpa pikir panjang, Azalea langsung mengulurkan tangan untuk meraih punggung tangan wanita itu guna dicium. Gestur badannya membungkuk, sangat sopan sekali sebagaimana didikan yang ia terima dari orangtuanya. Tapi wanita yang dicium punggung tangannya itu justru tidak mau kalah membungkuk juga, menyebabkan Azalea refleks semakin merendahkan lagi bungkukannya agar tetap terlihat hormat. Jika tidak dihentikan, keduanya disinyalir bisa rebahan di lantai lantaran berlomba-lomba paling rendah membungkuk.

Hagia speechless melihat adegan itu. Ia melirik ke arah Mbok Tumirah yang wajahnya tampak menahan rasa tidak enak hati yang luar biasa. Hagia segera beralih melihat ke arah Azalea dan membantunya berdiri tegak agar tidak perlu membungkuk-bungkuk lagi.

Hagia jadi ikut-ikutan memasang muka kagok. Ia lantas memperkenalkan Mbok Tumirah ke Azalea dengan penjelasan yang sedikit terbata-bata, menjelaskan kalau Mbok Tumirah itu adalah sosok yang selama ini membantu-bantu segala keperluan di rumah ini. Mendengar penjelasan singkat itu, Azalea langsung tersadar dan paham kalau Mbok Tumirah adalah seorang ART, bukan ibunda Hagia yang ia sangka sejak awal.

Azalea malu bukan main. Wajahnya memerah hingga ke telinga. Ia sampai harus membuang muka dan meringis geli meratapi kesalahpahamannya sendiri. Sementara itu, Hagia langsung berusaha mengambil alih kecanggungan dengan mempersilakan Azalea masuk ke dalam rumah.

"Ayo Masuk, Lea."

"Iya Kak."

Di dalam suasana mendadak sunyi. Hagia bingung setengah mati mau melakukan kegiatan apa dengan Azalea agar suasana tidak terasa garing. Ini kali pertama Hagia membawa wanita ke rumah dimana sebelumnya tidak pernah sama sekali.

Sementara itu, Azalea sendiri tengah sibuk berkelana melihat-lihat apa saja yang terpampang di ruangan itu. Ia melihat deretan foto keluarga, mengamati desain interior, hingga memperhatikan beberapa alat musik yang tergeletak di sana.

Hagia akhirnya memutuskan untuk menyibukkan diri. Ia mengambil alih pekerjaan Mbok Tumirah di dapur untuk menyiapkan jamuan bagi Azalea. Setelah selesai dengan kegiatan eksplorasinya, Azalea lantas duduk di samping Hagia yang kini sudah kembali ke ruang tengah.

Mencoba memecah kesunyian yang masih terasa canggung, Azalea tiba-tiba teringat satu hal yang sudah lama membuatnya penasaran. Ia menoleh ke arah Hagia yang duduk di sampingnya.

"Kak, aku mau tanya sesuatu boleh nggak? Dari kemarin aku penasaran."

"Tanya apa, Lea?"

"Kenapa nama lengkap Kakak unik banget? Lurah Hagia Adipati Waluyo. Kenapa ada kata 'Lurah' di depan nama Kakak? Emang Kak Hagia keturunan bangsawan atau gimana?"

Hagia tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.

"Bukan keturunan bangsawan, Lea. Jadi begini, dulu Bapak itu kepengen banget jadi Lurah. Obsesi beliau tinggi banget buat mengabdi ke desa, tapi sayang... cita-cita itu nggak pernah kesampaian."

"Oh ya? Sayang banget. Gagal di pemilihan?"

Hagia menggeleng cepat sambil tersenyum simpul. "Bukan. Bukan gagal pemilihan, tapi karena emang Bapak nggak pernah sekalipun ikut pemilihan."

"Hah? Terus kenapa nggak ikut daftar calon kepala desa?"

"Karena nggak direstuin sama Ibu. Ibu itu kurang sreg kalau Bapak terjun ke dunia politik atau jadi perangkat desa sejenisnya. Mau itu Lurah, Bupati, Gubernur, atau jabatan publik lainnya, Ibu tegas bilang nggak mau. Ibu cuma mau Bapak fokus jadi pengusaha saja, nggak usah masuk ke pemerintahan."

Azalea mengangguk-angguk, mulai memahami arah pemikiran ibunda Hagia. Dalam pikirannya, ia berspekulasi bahwa mungkin saja ibunda Hagia tidak ingin kehidupan pribadi dan harta keluarga mereka menjadi sorotan publik. Ia paham betapa melelahkannya jika setiap gerak-gerik dipantau banyak orang, tidak bisa bebas berekspresi, bahkan sekadar membeli barang mewah pun pasti akan dihitung sebagai kekayaan yang harus dilaporkan.

Apalagi jika sedang apes dan terseret kasus korupsi, harta yang sebenarnya hasil jerih payah usaha sendiri sebelum menjabat pun bisa-bisa ikut tersita karena dianggap berkaitan.

"Aku paham sih perasaan Ibu kamu. Kadang ketenangan itu lebih mahal harganya daripada jabatan."

Hagia mengangguk setuju. Kemudian cowok itu terdiam. Tatapannya yang semula mengarah ke depan, kini terpaku sepenuhnya pada Azalea. Suasana di ruang tengah itu mendadak berubah intens.

Azalea menyadari perubahan atmosfer itu. Ia melihat pandangan mata Hagia kini tertuju pada bibirnya. Badan Hagia mulai condong maju, maju, dan terus maju ke arahnya. Jarak di antara mereka semakin terkikis hingga tidak menyisakan banyak ruang untuk bernapas.

Jantung Azalea berdetak begitu cepat. Ini kenapa? Apa ini tiba waktunya peristiwa saling mengungkapkan perasaan? Batin Azalea.

Perasaannya sudah tak karuan. Ia bisa merasakan deru napas Hagia yang mulai menerpa permukaan wajahnya. Segalanya terasa semakin terprovokasi saat tangan Hagia mulai terulur ke arah belakang kepalanya, mungkin saja ia berniat meraih tengkuknya.

Azalea, lo cuma punya dua detik buat milih. Dorong atau terima! Bisik Azalea dalam hati kepada dirinya sendiri.

Dan ternyata Azalea memilih untuk memejamkan mata.

.

.

Bersambung.

Zenun: Dimana Mbok Tumirah?

1
Felycia R. Fernandez
Hagia kah??
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
vote meluncur
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
😍😍😍😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
otornya absurd, tokohnya jadi absurd juga 🤦‍♀️🤦‍♀️
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
kamu salah paham. tapi aku suka. biarkan kesalah paham ini, semakin panjang /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
iya, punya ayahmu. tapi kamu pewarisnya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
heleehhhh, modus mu /Facepalm//Facepalm//Curse/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dan ternyata itu ialah nomor sang penipu /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
sebegitu khawatirnya hagia sama lea. apalagi itu, jika bukan cinta
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ooo, lebih privasi gitu maksudnya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia memang menyukai mu hagia. seharusnya bukan akting yg ditunjukkan tapi kebenaran
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
fokus leaaa, fokus /Chuckle//Chuckle//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
aku suka sama pikiranmu
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
nah kan, akhirnya kamu sadar lea
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia bukan khawatir kamu patah hati Lea. yang dia khawatirkan kamu berhasil berada di hati Hagia. walaupun itu, memang benar adanya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Sebutkan nama lengkapnya Yahh /Facepalm//Grin/
〈⎳ FT. Zira
eaaa katahuannn
〈⎳ FT. Zira
aduh alasannya/Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
lahhh... kelihatan banget jadinya
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
zenuuuuuunnnnnnn nackal sekali kamuuuhhhhhhh. ihhh geeemmmeeessshhhh
Zenun: iiih ada akak😄🥳👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!