Andika seorang bayi berumur satu bulan yang ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya. Besar bersama ayahnya yang benama Adam membuatnya berubah menjadi nakal dan banyak tingkah.
Banyak wanita yang dijodohkan dengan ayahnya berakhir gagal karena ulahnya. Akankah Andika berhasil menemukan ibu sambung yang sesuai dengan pilihannya?
Simak kisah mereka di karya kedua aku ini!!!
sebelumnya, mampir juga dikarya pertamaku
ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Happy Reading...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oh...Lambe
Restoran hotel XX...
"Hai Dim?" Sapa Yuni seraya tersenyum seperti biasa.
Yuni tidak dendam pada mantan suaminya. Baginya masa lalu biarlah berlalu, karena perceraian keduanya juga tidak lepas dari andil Yuni selaku wanita karir saat itu. Yuni cukup menyadari kesalahannya sehingga tidak sepenuhnya menyalahkan Dimas selingkuh.
"Kenapa cepat banget sampenya? Kamu lagi di daerah sini?" Dimas merasa penasaran dengan kedatangan Yuni yang begitu cepat.
"Kebetulan tadi lewat sini. Ada apa kamu minta ketemu?"
"Mau ngajak makan siang aja, kenapa? Apa sekarang sudah ada yang ngajak makan siang?" Dimas terlihat penasaran dengan kehidupan sang mantan istri.
"Gak usah mancing-mancing, ini hati bukan kolam." Ketus Yuni lalu menjetikkan jarinya kepada seorang pegawai restoran.
"Mau pesan apa Buk Yuni?" Sang pegawai tampak biasa saja, berbeda dengan Dimas yang mengernyitkan keningnya.
"Sepertinya dia kenal kamu." Dimas tambah penasaran.
"Jangan kepo... jadi ada apa kamu ngajak aku makan? Tidak ada makan siang yang gratis kan?" Yuni membalas dengan memicingkan matanya ke arah Dimas.
"Aku kan sudah bilang, aku hanya ingin makan siang sama kamu."
"Ouh..."
"Gimana kabar Lala? Aku rindu padanya."
"Baik, jangankan rindu ingat aja tidak tuh sama kamu."
"Aku baru pulang dari Korea, hampir 3 bulan di sana, apa kamu gak lihat perbedaan kulitku sekarang?"
"Tidak, menurutku masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah." Yuni membalas ucapan Dimas denga ketus.
"Itu karena kamu mandangnya gak pake perasaan. Kalo dulu kamu lihat aku penuh cinta jadi tampa perawatan pun aku tetap pilihan kamu."
"Itu karena cuma kamu yang nyosor duluan."
Pembicaraan tidak berfaedah beriring makan siang bersama selama satu jam. Tidak ada hal yang serius ternyata. "Waktu makan siang hampir habis, makasih untuk makan siangnya."
"Tunggu!" Dimas mencekal tangan Yuni saat hendak bangkit dari duduknya.
Ternyata ungkapan dunia ini sempit seperti benar-benar terjadi. "Buk Yuni, apa kabar? Gak nyangka kita bertemu di sini ya?" Suara khas lambe gosip Bu Dewi datang menghampiri Yuni.
"Aduh Buk Yuni maaf karena udah ganggu makan siangnya. Oh iy, ini siapa? Ganteng banget sih Buk. Hallo, saya salah satu wali murid di SMP putranya Buk Yuni.
Dimas berjabat tangan sebentar dengan orang di depannya tapi pikirannya masih mencerna apa yang dikatakan ibu tersebut.
"Buk Yuni sendiri di sini? Pak Adamnya kemana?"
"Ouh, iya, Dimas ini teman sekampus saya dulu, dia juga teman Adam."
"Ouh, jadi temenan toh? Gak mungkin juga Buk Yuni selingkuh kan? Punya suami seganteng Pak Adam siapa yang gak akan terpikat.
"Kalo gitu saya permisi dulu Buk Yuni dan Mas Dimas ya. Semoga kita ketemu lagi."
Yuni menghela nafasnya. Sementara Dimas menatapnya seolah meminta penjelasan. "Sudah ya, aku harus masuk kerja!"
"Kamu berhutang penjelasan padaku."
Yuni terus berjalan tampa peduli dengan ucapan Dimas.
Di balik kepergian Yuni sang lambe gosip yang ternyata sedang menghadiri makan siang dengan beberapa teman-temanya yang juga wali murid dari SMP Dika tampak antusias dengan vidio yang direkam oleh Bu Dewi tampa sepengetahuan Yuni.
"Aduh, mateng banget ya Buk?" Ungkap seorang temannya lambe gosip.
"Saya yang berada di situ juga panas dingin buk ibuk. Tadi Buk Yuni bilang kalo itu temannya Buk Yuni sama Pak Adam. Apa dulu mereka satu sekolah ya?" Bu Dewi terlihat memikirkan beberapa kemungkinan.
Pembicaraan seputar Yuni dan Adam serta Dimas masih saja mendominasi pembicaraan ibu-ibu kurang kerjaan tersebut. Sementara sang objek malah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Malam hari di kontrakan Yuni...
"Ra, tadi Papa ngajak Mama makan siang."
"Tumben?"
"Katanya baru pulang dari Korea, udah 3 bulan disana." Yuni masih menatap tayangan televisi.
"Ouh..."
Yuni memang sudah menyangk jika Rara memang tidak terpengaruh oleh berita dari ibunya. "Mama gimana sama Om Adam?"
Yuni yang lagi makan sampai tersedak dengan pertanyaan putrinya. Dengan cepat Yuni menyambar gelas di atas meja. "Baru gitu aja udah salting, kayak anak baru puber aja." Ketus Rara.
"Enak aja kamu nyamain Mama dengan cabe-cabean sekarang. Jaman Mama kecil gak ada tuh anak-anak SMP yang hamil duluan. Mama itu lahir di jaman terhormat, bukan jaman sekarang yang minim akhlak.
Rara menggelengkan kepalanya, percuma saja melawan sang ibu macan. "Mama jadi ke sekolah Kak Dika?" Rara tampak serius dengan pertanyaannya. Sedari tadi dia penasaran dengan pemanggilan mamanya ke sekolah Dika.
"Jadi lah, gak mungkin Mama gak datang bisa dijemput paksa sama polisi."
"Kok ada polisi? Kak Dika buat salah besar lagi y?"
"Ih...kamu kepo ya????" Yuni menggoda putrinya, namun sayang wajah putrinya masih terlihat datar dan seakan tidak peduli dengan jawaban mamanya.
"Bukan Dika yang buat masalah, tapi Mama." Rara menatap mamanya seakan tidak percay dengab apa yang sudah dikatakan.
Akhirnya Yuni menceritakan sumuanya pada sang putri. Rara menggelengkan kepalanya. Tingkah mamanya memang di luar dugaan.
"Om Adam gimana?"
"Ya gak gimana-gimana? Mau dia adu argumen lagi sama Mama, awas aja kalo dia berani."
"Tau ah, terserah mama aja. Asal jangan bawa-bawa Rara!"
"Gak lah, ini terakhir kali Mama buat aneh-aneh. Mama gak mau lagi berurusan dengan Dika, cepek."
"Hmmm." Rara kembali ke mode awal lalu masuk ke kamarnya.
"Eh, mau kemana?"
"Tidur Ma, besok lanjut lagi." Masih dengan mode datar.
"Cium dulu." Yuni mengarahkan pipinya yang disambut malas oleh sang putri.
Muahhh...
"Biar mimpi indah sayang." Ledek Yuni.
"Waktu hamil dia, aku pernah ngatain siapa ya?" Yuni bertanya pada diri sendiri. Rara memang kurang suka membahas masalah orang lain. Hanya karena mamanya terlibat makanya dia bertanya tentang pertemuan di sekolah tadi. Selebihnya dia tidak peduli yang penting mamanya senang dan dia juga tidak terusik.
Yang namanya orang tua yang sudah tau hak dan kewajiban, benar atau salah. Jadi Rara juga meyakini jika mamanya juga bertindak sesuai dengan pertimbangan yang matang walaupun terlihat berlebihan. Tapi setiap orang punya memiliki tingkat kreativitas yang berbeda sama halnya dengan selera.
Drrrrtttttt...
Getaran ponselnya membuat Yuni sedikit terkejut.
"Sabtu ini aku jemput, kita piknik. Bawa Rara!" Isi pesan Adam untuk Yuni.
"Lihat nanti." Balas Yuni.
"Apa kamu harus aku goda dulu baru mau? Aku tidak keberatan untuk melakukannya." Adam membalas pesan Yuni dengan tersenyum membayangkan wajah Yuni saat membaca balasan pesan darinya.
Benar saja, Yuni tidak lagi membalas pesan Adam, bahkan ponselnya juga dimatikan. "Dasar kamu Dam, sudah berani kamu main-main denganku rupanya. baiklah kita akan lihat siapa yang menang kali ini!"
***
Like...
Komen...
Vote...
salam kenal dari pengisi suara novel ini 😊😊