NovelToon NovelToon
Elora: My Little Princess

Elora: My Little Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Angst / Kutukan / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: bwutami | studibivalvia

AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 14: playing with heart [2]

SETELAH merenung dan berpikir sampai pagi, tibalah saat di mana aku menyimpulkan bahwa aku sendirilah yang harus menyelidiki identitas dan tujuan asli Elora. Di mana dan bagaimana dia hidup, dari mana dia berasal, mengapa dia terus mendekat tiap kali kudorong menjauh, dan mengapa dia harus datang kepadaku. Jika memang benar seseorang berada di balik semua skenario menjijikkan ini, harusnya kepala orang itu telah terpenggal tidak lama kemudian. 

Namun, yang aneh adalah dia bersikap seperti anak-anak pada umumnya dan terkadang ada saat-saat di mana dia berperilaku tidak seperti anak-anak pada umumnya. Contohnya adalah saat aku sudah berusaha membunuhnya tetapi dia tidak menangis atau menjerit memohon hidup. Elora hanya pasrah, seolah jika aku yang membunuhnya, maka itu tak masalah.

Sebelum terjerumus terlalu dalam, aku harus menghentikan semua ini. Pencarian jejak Elora harus membuahkan hasil bagaimana pun caranya agar aku dapat menempatkan semuanya kembali lagi ke mode normal, membunuh, bekerja, dan berperang. Maka dari itu, hari ini aku berniat mencari tahunya melalui sebuah tes.

“Papa!”

Aku melirik. Dia datang bersama dengan kaki-kaki kecil dan senyumannya yang merekah. Menghampiriku dengan ekspresi gembira seolah mendapat hadiah. Kejadian teatime kemarin seakan tidak pernah terjadi, air mata dan tangisan yang harusnya masih membekas seperti lenyap ditelan bumi. Padahal, manusia pada umumnya akan menghindari bertemu dengan orang yang membuat mereka sedih dan menangis. Namun, anak ini justru bertindak kebalikannya, selalu senang dan gembira saat aku memanggilnya.

“Hamon bilang Papa memanggil El.”

“Ya.” Aku menelitinya sebelum mengerutkan dahi. “Kau datang sendiri?”

Pintu ruang kerja kemudian terbuka setelah diketuk tiga kali, menampilkan Hamon yang bernapas tidak beraturan seperti habis mengejar sesutau. Lalu, ketika dia menegakkan tubuh yang sebelumnya bersikap tidak siap, mulut itu segera mengeluarkan omelan pada Elora.

“Putri, ke depannya tolong jangan pergi sendirian seperti tadi. Bahaya jika Anda bepergian sendirian sekalipun ini adalah istana. Orang yang berniat jahat ada di mana-mana.”

“El minta maaf.”

Aku yang tidak tahan melihat adegan mengharukan di depan mata akhirnya bangkit dan berjalan mendekati mereka berdua. Memandang Hamon yang menatapku dengan pandangan bingung, berkata dengan nada tegas. “Aku ingin kau melakukan sesuatu, Hamon.”

Kami akhirnya tiba di depan menara sihir yang berada di bagian barat istana kekaisaran. Letaknya paling ujung, memiliki ketinggian 500 meter dan dekat dengan hutan istana. Ini adalah wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk orang-orang karena tempatnya tersembunyi. Sangat cocok dengan karakter para penyihir yang memang lebih menyukai mengurung diri mereka menjauh dari keramaian.

Aku lantas berbalik melirik Hamon yang berdiri tepat di sebelah Elora. “Naiklah ke atas menara dan terjun dari atas sana.”

Namun, Hamon menatapku bingung. “Maaf, Yang Mulia?”

“Kau tidak salah dengar.”

Meski ruang kerja kaisar yang berada di lantai tiga istana utama sudah termasuk tinggi, menara sihir masih jauh lebih tinggi dari itu. Terjun dari ketinggian yang seperti ini akan memberikan waktu sekian detik lebih lama sebelum menyentuh tanah dan melihat wujud asli dari seseorang. Dengan alasan tersebut, aku memilih menara sihir setelah melalui pertimbangan matang. “Kenapa? Kau tidak ingin mematuhi perintahku?”

“Saya tak  bermaksud demikian.”

“Apa yang kau tunggu? Naiklah sekarang.” Kemudian aku melirik Elora yang juga sedang menatapku bergantian dengan Hamon. “Ajak anak ini juga bersamamu.”

“Maaf, jika saya lancang, tetapi kenapa Putri juga harus naik?” Hamon terlihat tidak dapat berpikir jernih. “Jangan bilang Anda ingin menyuruh Putri melompat?”

Namun, aku tidak menjawab pertanyaan Hamon yang tepat sasaran dan memilih berkata, “Kau adalah seekor burung.”

“Maaf?”

“Hari ini, kau adalah seekor burung. Jadi, terbang dan melayanglah di udara seperti burung.” Kemudian aku kembali mempertegasnya. “Persis seperti hewan berbulu itu.”

“Jadi, Hamon bukan manusia?” Suara pelan dari bawah kakiku dan Hamon menginterupsi tanpa diduga. Dia memandangku dengan raut wajah yang sama bingung dan kagetnya dengan Hamon sedangkan sorot matanya tegas meminta penjelasan. Aku pun tidak punya pilihan selain membenarkan pendapat otak mungil di depanku ini.

“Ya, kau pun juga bukan manusia.”

Netra biru cerahnya membulat. “El bukan manusia?” tanyanya sembari menunjuk diri sendiri. Aku memangguk sedangkan dia menunduk, memainkan jari-jarinya sebelum kembali menatapku. “Kalau El bukan manusia, lalu El adalah apa?”

“Kau adalah seekor burung sama seperti Hamon.”

Elora memperhatikanku sebentar sebelum beralih menatap Hamon yang terdiam dengan wajah yang sangat bingung dengan arah pembicaraanku. Antara tidak tega melihat Elora kebingungan, dia tersenyum meski terpaksa.

“Hamon adalah bulung?”

“Benar, Putri. Saya adalah seekor burung,” jawabnya dengan nada lemah setelah terdiam beberapa detik.

Sebelum Elora mengajukan pertanyaan lagi dan pembahasan menjadi semakin lebar, aku segera memotong pembicaraan mereka. “Kau sudah mendengar pengakuan Hamon. Jadi, sekarang naiklah ke menara lalu terjun setelah Hamon. Aku akan menunggumu di bawah.”

Pada ketinggian 500 meter dari bumi, aku masih dapat melihat Hamon berbicara sebentar dengan Elora. Setelahnya, dia bertumpu di satu lutut dan melakukan perjanjian ala prajurit lalu disusul dengan anggukan dari Elora. Aku mengerti bahwa anak itu pasti sedang cemas berdiri tempat tinggi dan Hamon mencoba menenangkannya. Namun, pandangan pria itu yang menatapku tepat dari atas sana tepat sebelum melompat membuatku menaikkan alis. Hamon sudah sepenuhnya berada di pihak anak itu.

[Mana] Hamon sertamerta membentuk kepakan sayap berwarna hijau mint dan mendarat dengan sempurna di tanah. Meski tanpa mengatakan maksudku yang sebenarnya, aku cukup puas karena dia dapat mengerti bahwa aku menginginkan dia membentuk sihirnya menjadi sayap.

“PAPA!”

Teriakan Elora membuatku berpaling sebelum dia akhirnya membuang dirinya ke bawah. Aku melipat kedua tangan sembari menunggu kekuatannya keluar. Namun, Hamon yang berada tidak jauh dariku terus membuat keributan. “Yang Mulia, sekarang kita harus menangkap Putri.”

Namun, aku tak peduli dan terus memperhatikan proses jatuh anak itu. Terdapat sekian nol koma detik sebelum tubuhnya benar-benar menyentuh tanah dan inilah saat penentuan jika seandainya dia memiliki kekuatan yang disembunyikan.

“TUAN PUTRI!”

Hanya tinggal kurang lebih satu senti lagi sebelum tubuh Elora menghantam bumi dan Hamon yang sejak tadi tidak sabaran menangkap anak itu dengan sihir. Seperti dugaan, Hamon akan melakukan apapun untuk Elora. Namun, aku tidak menyangka dia akan bertindak tanpa izin seperti ini.

“Sekarang kita ke danau.”

Tempat itu berkilauan dalam cahaya matahari. Di sekelilingnya ditumbuhi pepohonan berdaun merah membara, berwarna jingga, kuning, dan beberapa lainnya yang masih hijau. Air yang jernih memantulkan bayangan dedaunan musim gugur dengan sempurna. Aroma yang khas tercium di sekitar danau sebelum angin menjatuhkan daun berjari lima secara acak dan menambah keindahannya. Namun, di balik pemandangan yang memanjakan mata tersebut, terdapat gurita besar yang menjaga tempat itu.

Hamon menurunkan Elora dengan lembut dan menatapku khawatir sekaligus penuh kewaspadaan dengan apa yang akan kuperintahkan selanjutnya. 

“Yang Mulia tidak akan menyuruh Putri masuk ke dalam air, kan?”

Aku tidak memedulikan perkataannya dan malah menatap Elora yang juga sedang menatapku ragu-ragu. Tangan kecil itu lalu menarik celana Hamon dan bergeser ke belakang kakinya, seolah ingin lari bersembunyi saat itu juga.

“Iya.” Mereka sertamerta bernapas lega begitu aku menjawab. Namun, kalimatku sebenarnya belumlah selesai. “Dia hanya akan bernapas di dalam air.”

“Yang Mulia!”

Aku mengangkat tangan ke atas–memberi kode agar Hamon tak berbicara lagi. “Tetapi, sebelum itu kau harus melata.” Dia mengerjapkan mata, dengan gerakan pelan keluar dari tempat persembunyiannya dan berdiri tepat di samping Hamon tanpa melepas pegangan tangan. Meski ragu, Elora memberanikan diri bertanya,

“Melata itu sepelti bagaimana?”

“Berjalan menggunakan perut. Persis seperti ulat yang biasa kau lihat di rumah kaca. Sudah paham?”

Dia mengangguk lalu perlahan melepas pegangannya dari celana Hamon. Membaringkan tubuhnya ke tanah, tengkurap lalu melihatku sebentar sebelum menggerakkan badan secara bergelombang dari atas ke bawah. Aku memperhatikannya sembari bersedekap. Semenit berlalu tetapi dia seperti tidak bergerak dari tempatnya sesenti pun. Padahal, rencanaku adalah membuat dia melata paling tidak sejauh seratus meter.

“Gunakan kekuatanmu untuk mendorong maju ke depan. Kalau begini caranya, kau tidak akan sampai di ujung danau ini. Bahkan sesenti pun tidak.”

Dia mendengus dan berupaya kembali, mendorong tubuhnya menggunakan ujung kaki sembari menumpu kekuatan di kedua telapak tangan, tetapi tiga puluh menit berlalu dan dia hanya mampu bergerak sangat sedikit sekali dari target yang kuharapkan. Dress, wajah, tangan, bahkan rambutnya yang kotor terkena debu dan tanah akhirnya membuat anak itu menyerah.

“El tidak tahu.”

Aku mendecak, membuang napas panjang secara kasar sebelum membalas, “Kenapa kau tdak tahu? Aku kan sudah menjelaskan caranya.”

Air mata menggunung di bawah matanya. Elora berupaya menahan tangis dengan cara menggigit bibir bagian bawah, tetapi akhirnya menyerah dan memilih bangun dari posisinya yang tengkurap sembari mengusap air mata yang berhasil lolos menggunakan lengan. Dia menatapku dengan putus asa.

“El tidak tahu kalena El adalah seekol bulung ….”

Aku menaikkan alis. “Siapa yang mengatakannya?”

“Papa.”

Aku menepuk jidat. Astaga, aku telah melakukan kesalahan di depan anak itu.[]

1
Sinchan Gabut
Baik-baiklah sama Putri Puding Coklat, Yang Mulia. Dia itu kunci dr segala kunci. Paham? 😏🍮
studibivalvia: betul lagi lah akak ini 🤣 emang paling joss komenmu kak wkwk
total 1 replies
Pengabdi Uji
Tau gk yg mulia ibu asli el itu saya lho🤭
Pengabdi Uji
Keknya elora itu bsa ngontrol bapaknya ya? Punya kekuatan sejenis apatuh
studibivalvia: nyembuhin lebih tepatnya kak 🤣 kekuatannya ntar dijelaskan di bab yg berikutnya tapi kayaknya masih agak lama ketahuan nya
total 1 replies
Alessandro
"hamon tidak mati kan?"
ya ampun.... elora
Alessandro
saripati darah dong, thor...
detil sekali penjelasannya
Laila Sarifah
Agak anomali Kaisar satu ini, masa anaknya disuruh lompat dari ketinggian😭
Alessandro: 🤣🤣🤣 aku jg gemes dr kmrn...
tp ya gmn lg terserah sang pemilik cerita 🤣
total 1 replies
Laila Sarifah
Mudahan dgn adanya Elora di samping Kaisar, hati Kaisar menjadi lebih lembut
Aruna02
😭😭sadis
Aruna02
iiiikh gumush bnget elola 🤣🤣
Sinchan Gabut
Lah... kmrin pingsan, skrg malah cengengesan liat bapaknya habis bantai penduduk desa. jd bokem kamu El? 🤔😆🤣
Sinchan Gabut
gemes bgt sama Elora... 😘
Pengabdi Uji
El apa dy calon calon bocil baddas nanti diajarin sma bapaknya?
Pengabdi Uji
Kan kata gua jg apa, ni bocil pasti dibawa org lucu bgini🤣🤣
Alessandro
agak lain bapak ini....
Alessandro
hati yang mulia keras juga ya.....
butuh siraman cinta agar lebih melunak
Laila Sarifah
Yang Mulia nggak mau kah cari siapa Ibu aslinya Elora😫
studibivalvia: nggak dong kak 😔
total 4 replies
Laila Sarifah
Ya jgn lah di bunuh anakmu sendiri Yang Mulia, nanti anda menyesal
Aruna02
😩😩😩nungguin bapak nya
Aruna02
babi nggak tuh 😭😭😭
Aruna02
jadi, elora beban ya yang mulia🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!