NovelToon NovelToon
Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Barat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilang Seperti Debu di Angin

Sesaat setelah tetes terakhir ramuan itu tertelan sepenuhnya oleh Ratu Layla, sebuah fenomena aneh terjadi. Tubuh Penyihir Serbuk mulai terlihat transparan, seolah-olah ia terbuat dari ribuan butiran serbuk halus yang tertiup angin. Penyihir Petir terkejut dan mencoba meraih tangan saudaranya, namun tangannya hanya menembus bayangan yang perlahan memudar itu. "Aku harus kembali ke tempatku, saudaraku. Tugasku di dunia manusia sudah cukup," bisik Penyihir Serbuk. Suaranya terdengar seperti desiran daun di tengah hutan, semakin menjauh dan semakin halus.

Dalam sekejap mata, Penyihir Serbuk menghilang sepenuhnya dari kamar Ratu. Tidak ada jejak kaki, tidak ada aroma sisa, hanya botol kristal kosong yang tergeletak di atas meja sebagai bukti bahwa ia pernah ada di sana. Panglima Delta ternganga, ia belum pernah melihat sihir menghilang yang sebersih itu. Ia segera memerintahkan prajurit untuk mencari di seluruh istana, namun Penyihir Petir menghentikannya. "Jangan cari dia. Dia telah kembali ke rumahnya di jantung pohon. Dia datang hanya untuk menyelamatkan kita, bukan untuk tinggal di istana yang penuh dengan besi ini."

Ratu Layla bangkit dari tempat tidurnya dengan gerakan yang tiba-tiba. Meskipun tubuhnya sudah terlihat lebih sehat, jiwanya yang keras tidak berubah dalam sekejap. Ia melihat sekelilingnya dengan tatapan tajam yang membuat para pelayan ketakutan. "Di mana penyihir lancang itu? Mengapa aku merasa tubuhku sangat aneh?" teriaknya dengan suara yang masih agak serak. Ia meraba wajahnya dan merasakan kelembutan kulitnya yang kembali, namun pikirannya yang penuh curiga justru mengira bahwa ia telah diberikan racun yang akan mengendalikannya.

Ia mulai marah-marah saat mendengar penjelasan dari Panglima Delta tentang ramuan yang diminumnya. "Kalian membiarkan orang asing memasukkan cairan ke dalam tubuhku? Bagaimana jika itu adalah sihir untuk melemahkanku?" Layla membanting cangkir perak yang ada di samping tempat tidurnya hingga hancur. Ia merasa ramuan itu tidak bekerja karena ia tidak merasakan kekuatan sihirnya langsung meledak-ledak seperti biasanya. Ia justru merasa terlalu "tenang", sesuatu yang ia anggap sebagai kelemahan. Kemarahan Ratu meledak di seluruh kamar, membuat Penyihir Petir dan Panglima Delta hanya bisa tertunduk diam menerima caci maki sang penguasa yang tidak tahu terima kasih tersebut.

Ratu Layla bahkan mengancam akan menghukum siapa pun yang membawa penyihir itu ke istananya jika dalam beberapa jam ke depan ia tidak merasa kekuatannya kembali sepenuhnya. Suasana di istana kembali tegang; kemeriahan yang tadi sempat dirasakan oleh para prajurit kini berganti menjadi ketakutan akan amukan sang Ratu. Layla terus berjalan mondar-mandir di kamarnya, menolak untuk makan atau minum, terus bersikeras bahwa ramuan dari "penyihir serbuk" itu adalah sebuah kegagalan dan penghinaan terhadap martabat Kerajaan Atlas.

Namun, saat malam semakin larut dan rembulan mencapai puncaknya di atas langit Atlas, perubahan yang sesungguhnya terjadi. Secara mendadak, rasa nyeri dan kaku yang selama berbulan-bulan menyiksa tulang-tulang Ratu Layla hilang sepenuhnya. Ia merasakan gelombang energi yang sangat segar dan murni mengalir dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya. Kekuatan sihirnya tidak hanya kembali, tapi terasa lebih tajam dan lebih terkendali dari sebelumnya. Rasa marah yang tadi meluap-luap tiba-tiba digantikan oleh perasaan semangat yang meluap. Ia merasa seolah-olah baru saja dilahirkan kembali ke dunia ini.

Ratu Layla tertawa keras, sebuah tawa yang mengguncang dinding-dinding istana. "Aku sehat! Aku merasa lebih kuat dari sebelumnya!" serunya. Tanpa mempedulikan kemarahannya tadi, ia segera memerintahkan Panglima Delta untuk mengadakan pesta paling meriah dalam sejarah Kerajaan Atlas malam itu juga. Seluruh cadangan daging dan anggur terbaik harus dikeluarkan. Ia memerintahkan agar seluruh prajurit Minotaur, Centaur, dan penunggang Griffon berpesta pora di aula utama.

1
Anang Anang
seru
Dini
sungguh mengerikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!