NovelToon NovelToon
Menikahi Perempuan Gila?

Menikahi Perempuan Gila?

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kyky Pamella

"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MPG_18

Naren segera turun lebih dulu dan membukakan pintu untukku begitu mobil kami berhenti di basement. Udara dingin bercampur lembab dan aroma beton menyergap begitu kakiku menapak lantai parkir.

Tangannya langsung menyambut jemariku, mantap namun hati-hati, seolah takut aku terjatuh.

“Ayok,” ucapnya singkat sambil memapahku keluar dari mobil. Nada suaranya datar, tapi genggamannya berbicara lain—erat dan penuh perhitungan.

Ia menuntunku menuju pintu lobby. Lampu-lampu putih di langit-langit memantul di lantai marmer, membuat langkah kakiku terasa semakin kikuk.

“Mau ngapain?” tanyaku, menahan napas karena nyeri yang menjalar.

“Kok ngapain? Ya pulang lah,” jawabnya ringan, sembari sedikit menarik lenganku agar aku segera berjalan.

Aku menghela napas berat. “Bukannya kamu udah ditungguin sama kesayangan kamu di cafe?” tanyaku ketus, sengaja menekankan kata terakhir.

“Aku bantuin kamu jalan sampai penthouse dulu,” katanya cepat, seolah enggan memperpanjang topik.

“Gak perlu. Aku bisa jalan sendiri,” sahutku, lalu memaksakan diri melangkah.

Baru beberapa langkah, Narendra sudah menyamai langkahku.

“Kamu yakin mau jalan sendiri?” bisiknya menggoda. “Tuh lihat, semua orang merhatiin cara jalan kamu.”

Ia menaik-turunkan alisnya, membuatku refleks menoleh ke sekitar. Beberapa petugas keamanan, petugas kebersihan, dan dua orang penghuni lain memang tampak melirik tanpa sungkan.

Nyali ku langsung menciut.

*Alah lemah banget sih, Rayna. Baru juga mau sok keras, udah mau kalah lagi sama maunya Naren,* umpat batinku.

“Yuk,” ajaknya lagi, kali ini lebih lembut.

Akhirnya aku pasrah. Ada rasa hangat yang tak ku undang menyelinap di sudut hatiku saat Naren memapahku dengan penuh kehati-hatian. Setiap kali berpapasan dengan orang yang bertanya-tanya, selalu dia yang menjawab, dengan nada santai namun protektif.

“Kenapa mbaknya?” tanya salah satu security yang kebetulan berpapasan dengan ku dan Naren

“ini pak, kakinya lagi sakit,” jawabnya ringan, seolah itu hal paling wajar di dunia.

Aku mati-matian menahan tawa saat seorang ibu-ibu tetangga apart yang super kepo mendekat. Kami sudah berdiri di depan lift, menunggu pintu terbuka, ketika ia langsung menyapa dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

“Eh, Dek Narendra!”

“Eh, si Ibu,” jawab Naren malas, tapi tetap memaksakan senyum sopan.

“Dasar pengantin baru, emang suka gak ada remnya,” kata si ibu sambil menepuk pundak Naren cukup keras.

Naren meringis. “Maksudnya gimana ya, Bu?”

“Ah, jalan istrinya sampai begitu. Pasti kamu kelewat semangat,” katanya tanpa beban.

Wajah Naren langsung memerah. “I-ini karena kakinya lagi sakit, Bu,” jawabnya, suaranya terdengar lebih kaku. namun aura pengen makan orangnya begitu terasa. aku hanya diam, membiarkan dia menyapu bersih hasil perbuatannya sendiri. meskipun sejujurnya aku juga ikut risih

“Hilih,” si ibu mencebik. “Ibu dulu juga pernah jadi pengantin baru, gak ujuk-ujuk jadi janda begini. Dulu suami ibu kalau udah kebablasan, susah banget diajak berhenti. sampek jalan ibu juga persis kayak mbak nya ini, " cicit si ibu tak tau malu

Aku menunduk, bahuku bergetar menahan tawa.

“Yang sabar ya, Mbak,” lanjut si ibu padaku. “Namanya juga laki-laki, kadang suka gak tahu batas.”

“I-iya, Bu,” jawabku singkat. kemudian melirik ke arah Naren yang wajahnya sudah terlipat sempurna, seolah tak terima jika kaumya di dakwa tak tau batas. aku kembali menahan tawa.

*Ding!*

Pintu lift akhirnya terbuka. Naren buru-buru menggiringku masuk.

“Kita ke atas dulu ya, Bu. Permisi,” katanya cepat.

Pintu lift menutup sebelum si ibu sempat melanjutkan ceritanya.

Begitu lift bergerak naik, Naren langsung mendengus kesal. “dasar ibu-ibu plenger.” umpat Naren

Aku akhirnya tak bisa menahan tawa. Suaraku pecah memenuhi ruang sempit lift.

“Seneng banget ya ketawanya,” cibir Naren.

“ya Sorry,” balasku, masih terkikik.

Kami tiba di lantai paling atas. Lorong panjang dengan karpet tebal menyambut kami, sunyi dan dingin. Setiap sepuluh langkah, aku harus berhenti sejenak karena rasa perih yang menusuk.

Setelah melewati belokan berbentuk huruf L, kami sama-sama terbelalak.

Ajeng berdiri tepat di depan pintu penthouse, jarinya sibuk mengutak-atik layar fingerprint.

“Ajeng,” panggil Naren.

Ia menoleh cepat. “Kamu ngapain di sini?” tanya Naren sambil melepaskan gandengan tangannya dariku dan melangkah mendekat.

“Kenapa sidik jariku gak kebaca? Passcode-nya juga invalid,” Ajeng balik bertanya, nadanya tinggi.

“Jawab, Ren!” bentaknya.

“Yang, tolong pelanin suaranya,” Naren mencoba meraih tangannya, tapi Ajeng langsung mengibaskannya.

“Kenapa bisa begitu?” Ajeng menatap tajam.

“I-iya… passcode-nya emang udah diganti,” jawab Naren gugup.

*Dasar bacin. Babu cinta,* umpatku dalam hati.

“Oke. Terus kenapa aku gak dikasih tahu?” Ajeng menyilangkan tangan di dada.

Ide usil langsung menyala di kepalaku. Kalau dia semarah ini hanya karena tak tahu passcode, apa jadinya kalau aku yang justru memilikinya?

*Hitung-hitung balas dendam.*

Dengan langkah tertatih, aku menghampiri mereka. “Mas, ajak masuk aja. Takut ada yang lihat terus ngelapor ke Papah.”

Sambil bicara, aku menempelkan ibu jari ku ke fingerprint. *Klik.* Pintu terbuka otomatis.

Aku melirik Ajeng. Ia terdiam, wajahnya kosong.

Naren cepat-cepat menarik Ajeng masuk dan mendudukkannya di sofa.

“Mau dibuatkan minum?” tanyaku basa-basi.

“Gak usah, Rayn,” jawab Naren cepat.

“Oke,” sahutku singkat, lalu melenggang ke kamarku.

Suara mereka masih terdengar jelas.

“Kamu bilang kalian gak tidur sekamar?” suara Ajeng menggema.

“Emang gak,” jawab Naren. “Tapi bajunya ditaruh di kamar aku.”

“Dan alasannya juga lagi-lagi karena demi aku?” sindir Ajeng tajam.

Aku meremas bantal sampai isinya bergeser. Naren benar-benar seperti dua orang yang berbeda. beberapa menit yang lalu, dia berlaga seperti layaknya seorang suami untuk ku, dan beberapa menit kemudian dia berperan seperti pasangan seseorang dan membuat ku merasa seperti benalu dalam hubungannya

Ajeng terdengar semakin emosi. “Kamu sengaja nyingkirin aku dari hidup kamu?”

“Enggak. Ini gak seperti yang kamu pikir. Rayna minta ganti passcode sebagai syarat.”

“Dan kamu nurut?”

“Aku lakuin ini demi kita.”

Aku tersenyum tipis. menikmati perdebatan itu dari kamar

Aku keluar kamar sambil membawa gamis dan jilbab, sengaja lewat depan mereka.

“Mas, kalau masih sibuk, minta Ardi beliin salep aja,” ucapku santai.

“Salep apa?” tanya Ajeng curiga.

“Kakinya lagi sakit,” jawab Naren cepat.

Ajeng menatapku dari ujung kepala sampai kaki. “Aku bukan wanita bodoh, Ren.”

“Udah, kita belanja aja yuk, ” bujuk Naren mengalihkan perhatian Ajeng “Aku beliin semua yang kamu mau.”

“Aku butuh jawaban, bukan belanja.”

Naren terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku beliin kamu penthouse. Sama besar kayak yang ini. Atas nama kamu.”

Langkahku terhenti.

Gila benar-benar gila. beli penthous udah kayak mau beli permen. enteng banget.

Wajah Ajeng langsung berubah. “Beneran?”

“Iya.”

“Tapi atas nama aku. Aku gak mau direbut lagi.”

Naren mengangguk.

Ajeng langsung memeluknya, seolah semua pertengkaran tadi tak pernah ada.

Aku melangkah masuk ke kamar, menutup pintu perlahan. kali ini, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

1
Wina Yuliani
eng ing eng di gantung nih kita, kayak jemuran yg gk kering kering
plisss dong kk author tambah 1 lagi
Nurhartiningsih
woilahhh ..knp rayna??
lovina
kirain cwenya hebat taunya luluh jg bego...pasaran ceritanya..kirain beda..bkn hasil dari otak author haisl baca2 novel lain🤣, dan ini semua para author lakukan..
PanggilsajaKanjengRatu: coba baca punya aku kak, Siapa tau gak pasaran🤭 judulnya “Cinta Yang Tergadai ” ada juga soal cinta virtual yang berhasil ke pelaminan “Akara Rindu dalam Penantian”
total 1 replies
Nurhartiningsih
baru awal baca udah nyesek
Wina Yuliani
seru.... ceritanya ringan tp bikin gereget, penasaran, ada sedih tp ada manis manisnya juga, gaskeun lah pokonya mah 👍👍👍👍
Wina Yuliani
rayna yg di kasih kartu aku yg ikut kelepek2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!