Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka jadikanlah mereka sebagai musuh mu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REKREASI
Malam Minggu
Kalender merah benar-benar menjadi waktu yang paling ditunggu.
Bisa bermain sepuasnya tanpa harus memusingkan hari esok.
Tidak wajib bangun pagi dan tidak ada pekerjaan rumah.
Tidak ada larangan untuk tidur larut malam.
Justru sebaliknya, menjadi quality time untuk bersenang-senang.
Sama halnya yang terjadi pada keluarga Karyo.
Bahkan mereka lebih ekstrim lagi.
Mereka bisa lebih bebas dan lebih ekspresif.
Sewaktu muda-mudi pada pulang. Mereka baru berangkat.
Karyo sering mengajak anak-anak pergi ke tempat yang tinggi, gelap dan sunyi.
Seperti yang terjadi malam ini.
Karyo duduk menggantung kaki sambil diayun-ayun, di atap yang paling tinggi.
Gedung itu sejatinya sudah selesai dibangun.
Tapi entah kenapa belum juga mulai beroperasi. Padahal sudah berbulan-bulan berlalu.
"Mainnya jangan jauh-jauh!",
Teriak Karyo kepada anak-anak nya yang sedang terbang.
Guram adalah seorang suwanggi muda.
Syal, Hit dan Mesumi adalah anak-anak manusia kuyang.
Karyo memasang tajam mata, hidung dan kupingnya demi menjaga keselamatan mereka.
Dan tiga tubuh di sampingnya yang sedang ditinggal pergi oleh kepala-kepala.
"Ayah... ",
"Ayah... ",
"Tolong kami... ",
Syal, Hit dan Mesumi kembali kepada Karyo.
Mereka bergegas menyatu dengan badannya sendiri-sendiri.
"Jangan sampai tertukar",
"Ada apa?",
"Kenapa kalian seperti itu?",
"Siapa yang mengejar kalian?",
Sebagai bapak Karyo begitu protektif.
"Ada kuntilanak biru yang mendekat",
"Auranya sangat jahat",
"Dimana Guram?",
"Kenapa dia tidak kembali?",
"Guram memasang badan untuk kami",
"Aku akan menjemput Guram",
"Kalian bersembunyi lah sampai aku dan Guram kembali",
Jurus bangau terbang
Karyo menyusul Guram.
"Pergi jahanam!",
Karyo membentak kuntilanak biru hingga kabur terbirit-birit.
"Apakah kamu baik-baik saja Guram?",
"Aku tidak apa-apa ayah",
"Kuntilanak biru itu hanya mau berkenalan",
"Kamu harus hati-hati",
"Jangan sampai kamu jatuh cinta kepada kuntilanak biru",
"Kenapa?",
"Kuntilanak biru itu sangat cantik",
"Waduh... ",
"Apalagi yang cantik-cantik",
"Asal kamu tahu wahai Guram",
"Mereka itu sundal",
"Simpanannya para petinggi Kerajaan gaib",
"Bahaya kalau kamu sampai berurusan dengan mereka",
"Sebentar lagi subuh, ayo kita pulang",
"Baiklah",
Di waktu yang lain
Mereka tidak sebegitu kampungannya.
Karyo dan anak-anak juga suka jalan-jalan di pusat keramaian.
Ketika hingar bingar dan banyak pertunjukkan yang menghibur.
Di pusat perbelanjaan pada malam Minggu itu, giliran Mesumi yang menentukan apa yang akan sekeluarga makan.
Alhasil mereka bersantap malam di sebuah kedai bernuansa pantai yang menyajikan hanya satu jenis menu.
Aneka sate laut.
Memang terdengar sedikit tidak biasa. Daging hewan laut dimasak seperti sate, dibakar pakai nyala arang sampai matang, lalu dibumbui dengan tebal.
Karyo dan Guram seleranya sama. Mereka memesan sate gurita.
Syal memilih teripang pasir.
Mesumi lebih suka teripang susu.
Hit berbeda sendiri. Ia lebih menikmati yang berkuah. Sup sirip ikan hiu.
Walaupun menu olahannya berbeda-beda. Tapi minuman yang mereka pesan adalah sama.
Es rumput laut dengan toping telur ikan kakap yang lembut dan sari ubur-ubur.
Terjadi sesuatu yang aneh waktu keluarga Karyo hendak pulang.
Ketika sampai di tempat parkir, mereka baru sadar ada sosok yang mengintil.
Guram, Syal, Hit dan Mesumi saling pandang.
"Siapa anak ini?",
Seorang anak kecil dengan wajah memelas seperti mau ikut bersama mereka.
"Siapa namamu nak?",
"Dengan siapa kamu kemari?",
"Dimana orang tua mu",
Karyo langsung paham bahwa anak kecil itu sedang kehilangan arah jalan atau kesasar.
"Aku tadi datang bersama ayah dan bunda",
Syukurlah anak kecil itu tidak takut bicara.
"Dimana mereka?",
"Mereka masih ada di dalam, aku tinggal",
"Kenapa kamu tinggal nak?",
"Mereka lama sekali pilih-pilih perhiasan",
"Aku jadi bosan",
"Kenapa kamu bosan?",
"Musiknya bukan seleraku",
"Memangnya apa selera musikmu?",
"Aku suka rock and roll",
"Siapa artis favorit mu?",
"The Raziazzzt... ",
Tidak lama ada pasangan muda yang datang menyusul.
"Danial... ",
"Danial... ",
Dari kejauhan suara kasih sayang itu memanggil.
Nama bocah itu Danial.
"Maaf jika anak kami merepotkan",
"Tidak apa-apa",
"Dia menyenangkan",
"Anak ibu dan bapak begitu pintar",