Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Ketika waktu makan malam tiba, pengasuh Arka sudah menyiapkan bubur ayam dan beberapa potong buah. Namun, seperti yang dikhawatirkan Samudera, Arka kembali menolak saat melihat mangkuk di meja. Anak kecil itu menggeleng kuat-kuat dan memeluk beruangnya.
Samudera menghela napas. “Arka, tadi kamu belum makan banyak. Coba beberapa sendok saja.”
Arka memalingkan wajah.
Jingga tidak langsung mengambil sendok. Ia justru duduk di samping anak itu dan melihat isi mangkuknya. “Arka tidak suka buburnya?”
Anak itu diam.
“Mau mencoba buah dulu?”
Arka menatap potongan buah di piring.
Jingga mengambil satu potong kecil dan meletakkannya di piring Arka, bukan langsung menyuapkannya.
“Ini untuk Arka. Kalau mau, boleh dimakan.”
Arka memandang potongan buah itu beberapa saat sebelum mengambilnya sendiri.
Samudera tertegun.
Jingga tidak memaksa, tidak membujuk secara berlebihan, dan tidak menunjukkan kekecewaan ketika Arka hanya memakan sedikit. Ia sekadar menemani anak itu sampai akhirnya Arka bersedia mencicipi buburnya.
“Pintar sekali,” puji Jingga lembut.
Arka tersenyum bangga, lalu mengambil sendoknya sendiri.
Samudera duduk di seberang mereka, memperhatikan putranya yang akhirnya mau makan dengan lebih tenang.
“Sepertinya saya benar-benar membutuhkan bantuanmu,” ujar Samudera sambil tersenyum.
Jingga tertawa kecil. “Arka hanya perlu diberi kesempatan memilih. Dokter terlalu khawatir sampai lupa menanyakan apa yang dia inginkan.”
Samudera mengangkat alis. “Wah, sekarang kamu berani mengkritik saya?”
“Memangnya salah?”
“Tidak. Saya hanya baru tahu ternyata kamu cukup berani ketika sudah berada di rumah saya.”
Jingga tersenyum geli. “Kalau begitu, saya akan menyiapkan daftar konsultasi untuk pertemuan berikutnya.”
“Baik. Saya akan menyiapkan honor untuk konsultannya.”
Mereka tertawa bersama.
Di sela percakapan itu, Arka tiba-tiba mengulurkan sendok kecilnya ke arah Jingga.
“Tante Suster.”
Jingga menoleh dengan terkejut. “Untukku?”
Arka mengangguk, menawarkan sedikit bubur yang ada di sendoknya.
Jingga menerima perhatian kecil itu dengan senyum hangat. “Terima kasih, Arka. Kamu baik sekali.”
Samudera terdiam melihat pemandangan tersebut. Ia tahu Jingga pernah kehilangan seorang anak. Ia juga tahu bahwa kenangan itu masih menyisakan luka yang tidak mudah sembuh. Karena itu, ia tidak ingin menganggap kedekatan Jingga dengan Arka sebagai sesuatu yang bisa langsung diberi arti besar.
Namun, melihat Jingga duduk di samping putranya, tertawa bersamanya, dan menerima perhatian kecilnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, membuat dada Samudera terasa sesak oleh perasaan yang sulit dijelaskan.
Jingga tidak berusaha menggantikan siapa pun. Ia hanya hadir dengan ketulusan yang membuat Arka merasa nyaman. Dan bagi Samudera, itu sudah sangat berarti.
Setelah makan malam, Arka mulai mengantuk. Ia masih memegang beruang cokelatnya ketika Samudera menggendongnya menuju kamar.
Jingga ikut mengantar sampai depan pintu, lalu berhenti ketika Samudera menoleh.
“Terima kasih sudah membantu malam ini,” katanya pelan. “Kamu pasti lelah setelah bekerja seharian.”
“Tidak apa-apa. Saya senang bisa bermain dengan Arka.”
Samudera menatap putranya yang mulai menyandarkan kepala di bahunya. “Sepertinya dia juga senang kamu datang.”
Jingga tersenyum, tetapi ketika melihat wajah kecil Arka yang perlahan terpejam, ada rasa haru yang menyelinap ke dalam dadanya. Ia teringat putranya sendiri. Kenangan tentang tawa kecil, jemari mungil, dan hari-hari yang tidak akan pernah kembali muncul begitu saja. Untuk sesaat, senyum Jingga memudar.
Samudera menyadarinya. Namun, ia tidak bertanya apakah Jingga baik-baik saja. Ia tidak menyuruh perempuan itu melupakan masa lalu atau berusaha menghiburnya dengan kata-kata yang belum tentu dibutuhkan.
Pria itu hanya berkata lembut, “Kalau kamu ingin duduk sebentar sebelum pulang, silakan. Tidak perlu terburu-buru.”
Jingga menatapnya dengan mata sedikit berkaca-kaca. “Terima kasih, Mas Samudera.”
Samudera terdiam sesaat. Panggilan itu terdengar berbeda ketika keluar dari bibir Jingga. Ada kehangatan yang sulit disembunyikan dalam tatapannya.
“Sama-sama, Jingga.”
Jingga baru menyadari panggilannya sendiri setelah mengucapkannya. Ia menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba muncul.
Samudera tersenyum melihat reaksinya. “Kenapa? Kamu terlihat gugup.”
“Tidak. Saya hanya merasa agak aneh.”
“Aneh bagaimana?”
Jingga mengangkat wajahnya. “Biasanya saya memanggil kamu Dokter. Rasanya berbeda ketika berada di luar rumah sakit.”
Samudera mengangguk, seolah memahami perasaannya.
“Kalau begitu, bagaimana kalau mulai sekarang, saat kita tidak sedang bekerja, kamu memanggil saya Mas Samudera saja? Saya rasa kita tidak harus terus-menerus bersikap seperti dokter dan perawat ketika sedang berada di luar rumah sakit.”
“Tapi, apa kamu tidak keberatan?”
“Kenapa harus keberatan? Saya justru akan senang mendengarnya.”
Pipi Jingga mulai menghangat. Ia tidak menyangka permintaan sederhana itu bisa membuatnya begitu salah tingkah.
“Baiklah, Mas Samudera.”
Samudera tersenyum lebih lebar. “Nah, begitu lebih baik.”
Jingga segera mengalihkan pandangan, tetapi senyum kecil tetap bertahan di bibirnya.
Setelah Arka tertidur, Samudera kembali ke ruang keluarga. Jingga duduk di sofa sambil memegang secangkir teh hangat yang baru saja disiapkan pengasuh Arka.
“Apa Mas menyesal mengajak saya datang?” tanya Jingga tiba-tiba.
Samudera tampak terkejut. “Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Entahlah. Mungkin karena saya terlalu banyak ikut campur dalam urusan Arka.”
Samudera menggeleng pelan. “Justru saya berterima kasih. Kamu tidak memaksanya melakukan apa pun, tetapi kamu juga tidak membiarkannya terus menghindar. Saya sendiri terkadang terlalu khawatir sampai lupa bahwa Arka sedang belajar mengenal dunianya.”
Samudera duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Untuk beberapa saat, mereka menikmati keheningan tanpa merasa perlu mengisinya dengan percakapan.
Kemudian, Samudera berbicara dengan suara lebih pelan. “Sejak istri saya meninggal, tidak banyak orang yang saya ajak masuk ke rumah ini.”
Jingga mengangkat wajahnya.
“Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kamu harus menganggap kunjungan ini sebagai sesuatu yang istimewa,” lanjut pria itu. “Saya hanya ingin kamu tahu bahwa saya merasa nyaman ketika kamu berada di sini.”
Jingga menggenggam cangkirnya sedikit lebih erat. “Mas Samudera, saya masih belajar menata hidup saya. Ada banyak hal yang belum selesai di dalam hati saya, dan saya tidak ingin memberikan harapan yang belum tentu bisa saya penuhi.”
Samudera mengangguk tanpa mengalihkan pandangan. “Saya tidak meminta kamu menjanjikan apa pun.”
“Tapi saya tidak ingin membuat kamu kecewa.”
“Kalau suatu hari nanti saya merasa kecewa, itu menjadi tanggung jawab saya untuk menghadapinya.” Samudera berhenti sejenak. “Kamu tidak perlu merasa bersalah hanya karena belum siap membuka hati.”
Selama ini, Jingga terbiasa merasa harus menjaga perasaan orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri terluka. Mendengar Samudera memberinya ruang untuk menentukan langkah terasa begitu berbeda.
“Lalu bagaimana kalau saya membutuhkan waktu lama?” tanyanya.
Samudera tersenyum tipis. “Saya cukup memahami bahwa beberapa hal memang membutuhkan waktu untuk pulih.”
“Itu bukan jawaban yang adil. Kamu selalu bisa menjawab dengan tenang seperti itu.” Jingga tertawa kecil, menghapus sisa air mata di sudut matanya.
“Kalau begitu, saya akan menjawab sebagai Samudera, bukan sebagai seorang dokter.” Ia menatap Jingga dengan sungguh-sungguh. “Saya senang mengenal kamu. Saya ingin mengenal kamu lebih jauh. Dan kalau kamu bersedia, saya ingin kita memberi kesempatan pada hubungan ini untuk tumbuh, tanpa terburu-buru menentukan akhirnya.”
Jantung Jingga berdegup lebih cepat. Tidak ada pengakuan cinta yang berlebihan, tidak ada tuntutan untuk segera membalas perasaan. Hanya kejujuran yang disampaikan dengan tenang dari pria itu.
Jingga menatap Samudera, kemudian mengangguk kecil. “Saya juga senang mengenal kamu, Mas Samudera.”
“Kalau begitu, untuk sekarang, itu sudah cukup bagi saya.” Senyum Samudera muncul perlahan.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu