NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Ketika waktu makan malam tiba, pengasuh Arka sudah menyiapkan bubur ayam dan beberapa potong buah. Namun, seperti yang dikhawatirkan Samudera, Arka kembali menolak saat melihat mangkuk di meja. Anak kecil itu menggeleng kuat-kuat dan memeluk beruangnya.

Samudera menghela napas. “Arka, tadi kamu belum makan banyak. Coba beberapa sendok saja.”

Arka memalingkan wajah.

Jingga tidak langsung mengambil sendok. Ia justru duduk di samping anak itu dan melihat isi mangkuknya. “Arka tidak suka buburnya?”

Anak itu diam.

“Mau mencoba buah dulu?”

Arka menatap potongan buah di piring.

Jingga mengambil satu potong kecil dan meletakkannya di piring Arka, bukan langsung menyuapkannya.

“Ini untuk Arka. Kalau mau, boleh dimakan.”

Arka memandang potongan buah itu beberapa saat sebelum mengambilnya sendiri.

Samudera tertegun.

Jingga tidak memaksa, tidak membujuk secara berlebihan, dan tidak menunjukkan kekecewaan ketika Arka hanya memakan sedikit. Ia sekadar menemani anak itu sampai akhirnya Arka bersedia mencicipi buburnya.

“Pintar sekali,” puji Jingga lembut.

Arka tersenyum bangga, lalu mengambil sendoknya sendiri.

Samudera duduk di seberang mereka, memperhatikan putranya yang akhirnya mau makan dengan lebih tenang.

“Sepertinya saya benar-benar membutuhkan bantuanmu,” ujar Samudera sambil tersenyum.

Jingga tertawa kecil. “Arka hanya perlu diberi kesempatan memilih. Dokter terlalu khawatir sampai lupa menanyakan apa yang dia inginkan.”

Samudera mengangkat alis. “Wah, sekarang kamu berani mengkritik saya?”

“Memangnya salah?”

“Tidak. Saya hanya baru tahu ternyata kamu cukup berani ketika sudah berada di rumah saya.”

Jingga tersenyum geli. “Kalau begitu, saya akan menyiapkan daftar konsultasi untuk pertemuan berikutnya.”

“Baik. Saya akan menyiapkan honor untuk konsultannya.”

Mereka tertawa bersama.

Di sela percakapan itu, Arka tiba-tiba mengulurkan sendok kecilnya ke arah Jingga.

“Tante Suster.”

Jingga menoleh dengan terkejut. “Untukku?”

Arka mengangguk, menawarkan sedikit bubur yang ada di sendoknya.

Jingga menerima perhatian kecil itu dengan senyum hangat. “Terima kasih, Arka. Kamu baik sekali.”

Samudera terdiam melihat pemandangan tersebut. Ia tahu Jingga pernah kehilangan seorang anak. Ia juga tahu bahwa kenangan itu masih menyisakan luka yang tidak mudah sembuh. Karena itu, ia tidak ingin menganggap kedekatan Jingga dengan Arka sebagai sesuatu yang bisa langsung diberi arti besar.

Namun, melihat Jingga duduk di samping putranya, tertawa bersamanya, dan menerima perhatian kecilnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, membuat dada Samudera terasa sesak oleh perasaan yang sulit dijelaskan.

Jingga tidak berusaha menggantikan siapa pun. Ia hanya hadir dengan ketulusan yang membuat Arka merasa nyaman. Dan bagi Samudera, itu sudah sangat berarti.

Setelah makan malam, Arka mulai mengantuk. Ia masih memegang beruang cokelatnya ketika Samudera menggendongnya menuju kamar.

Jingga ikut mengantar sampai depan pintu, lalu berhenti ketika Samudera menoleh.

“Terima kasih sudah membantu malam ini,” katanya pelan. “Kamu pasti lelah setelah bekerja seharian.”

“Tidak apa-apa. Saya senang bisa bermain dengan Arka.”

Samudera menatap putranya yang mulai menyandarkan kepala di bahunya. “Sepertinya dia juga senang kamu datang.”

Jingga tersenyum, tetapi ketika melihat wajah kecil Arka yang perlahan terpejam, ada rasa haru yang menyelinap ke dalam dadanya. Ia teringat putranya sendiri. Kenangan tentang tawa kecil, jemari mungil, dan hari-hari yang tidak akan pernah kembali muncul begitu saja. Untuk sesaat, senyum Jingga memudar.

Samudera menyadarinya. Namun, ia tidak bertanya apakah Jingga baik-baik saja. Ia tidak menyuruh perempuan itu melupakan masa lalu atau berusaha menghiburnya dengan kata-kata yang belum tentu dibutuhkan.

Pria itu hanya berkata lembut, “Kalau kamu ingin duduk sebentar sebelum pulang, silakan. Tidak perlu terburu-buru.”

Jingga menatapnya dengan mata sedikit berkaca-kaca. “Terima kasih, Mas Samudera.”

Samudera terdiam sesaat. Panggilan itu terdengar berbeda ketika keluar dari bibir Jingga. Ada kehangatan yang sulit disembunyikan dalam tatapannya.

“Sama-sama, Jingga.”

Jingga baru menyadari panggilannya sendiri setelah mengucapkannya. Ia menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba muncul.

Samudera tersenyum melihat reaksinya. “Kenapa? Kamu terlihat gugup.”

“Tidak. Saya hanya merasa agak aneh.”

“Aneh bagaimana?”

Jingga mengangkat wajahnya. “Biasanya saya memanggil kamu Dokter. Rasanya berbeda ketika berada di luar rumah sakit.”

Samudera mengangguk, seolah memahami perasaannya.

“Kalau begitu, bagaimana kalau mulai sekarang, saat kita tidak sedang bekerja, kamu memanggil saya Mas Samudera saja? Saya rasa kita tidak harus terus-menerus bersikap seperti dokter dan perawat ketika sedang berada di luar rumah sakit.”

“Tapi, apa kamu tidak keberatan?”

“Kenapa harus keberatan? Saya justru akan senang mendengarnya.”

Pipi Jingga mulai menghangat. Ia tidak menyangka permintaan sederhana itu bisa membuatnya begitu salah tingkah.

“Baiklah, Mas Samudera.”

Samudera tersenyum lebih lebar. “Nah, begitu lebih baik.”

Jingga segera mengalihkan pandangan, tetapi senyum kecil tetap bertahan di bibirnya.

Setelah Arka tertidur, Samudera kembali ke ruang keluarga. Jingga duduk di sofa sambil memegang secangkir teh hangat yang baru saja disiapkan pengasuh Arka.

“Apa Mas menyesal mengajak saya datang?” tanya Jingga tiba-tiba.

Samudera tampak terkejut. “Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Entahlah. Mungkin karena saya terlalu banyak ikut campur dalam urusan Arka.”

Samudera menggeleng pelan. “Justru saya berterima kasih. Kamu tidak memaksanya melakukan apa pun, tetapi kamu juga tidak membiarkannya terus menghindar. Saya sendiri terkadang terlalu khawatir sampai lupa bahwa Arka sedang belajar mengenal dunianya.”

Samudera duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Untuk beberapa saat, mereka menikmati keheningan tanpa merasa perlu mengisinya dengan percakapan.

Kemudian, Samudera berbicara dengan suara lebih pelan. “Sejak istri saya meninggal, tidak banyak orang yang saya ajak masuk ke rumah ini.”

Jingga mengangkat wajahnya.

“Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kamu harus menganggap kunjungan ini sebagai sesuatu yang istimewa,” lanjut pria itu. “Saya hanya ingin kamu tahu bahwa saya merasa nyaman ketika kamu berada di sini.”

Jingga menggenggam cangkirnya sedikit lebih erat. “Mas Samudera, saya masih belajar menata hidup saya. Ada banyak hal yang belum selesai di dalam hati saya, dan saya tidak ingin memberikan harapan yang belum tentu bisa saya penuhi.”

Samudera mengangguk tanpa mengalihkan pandangan. “Saya tidak meminta kamu menjanjikan apa pun.”

“Tapi saya tidak ingin membuat kamu kecewa.”

“Kalau suatu hari nanti saya merasa kecewa, itu menjadi tanggung jawab saya untuk menghadapinya.” Samudera berhenti sejenak. “Kamu tidak perlu merasa bersalah hanya karena belum siap membuka hati.”

Selama ini, Jingga terbiasa merasa harus menjaga perasaan orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri terluka. Mendengar Samudera memberinya ruang untuk menentukan langkah terasa begitu berbeda.

“Lalu bagaimana kalau saya membutuhkan waktu lama?” tanyanya.

Samudera tersenyum tipis. “Saya cukup memahami bahwa beberapa hal memang membutuhkan waktu untuk pulih.”

“Itu bukan jawaban yang adil. Kamu selalu bisa menjawab dengan tenang seperti itu.” Jingga tertawa kecil, menghapus sisa air mata di sudut matanya.

“Kalau begitu, saya akan menjawab sebagai Samudera, bukan sebagai seorang dokter.” Ia menatap Jingga dengan sungguh-sungguh. “Saya senang mengenal kamu. Saya ingin mengenal kamu lebih jauh. Dan kalau kamu bersedia, saya ingin kita memberi kesempatan pada hubungan ini untuk tumbuh, tanpa terburu-buru menentukan akhirnya.”

Jantung Jingga berdegup lebih cepat. Tidak ada pengakuan cinta yang berlebihan, tidak ada tuntutan untuk segera membalas perasaan. Hanya kejujuran yang disampaikan dengan tenang dari pria itu.

Jingga menatap Samudera, kemudian mengangguk kecil. “Saya juga senang mengenal kamu, Mas Samudera.”

“Kalau begitu, untuk sekarang, itu sudah cukup bagi saya.” Senyum Samudera muncul perlahan.

1
Heni Setiyaningsih
preet telat 😂
𝓡𝓡: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Sri Widiyarti
ampun deh keluarga benalu ga tau diri jangan sampe jingga terjebak Thor...
Sarmini Isang
hadeeeh,banyak bngt sampah dan benalu ya di kehidupan jingga,mereka pikir sdh pintar dan nenganggap jingga dan samudera bodoh,sampah rangga dan dira saja tinggal metik karma mereka yg sedang berjalan,tunggu giliran kamu kevin laki2 pecundang yg mau numpang hidup enak,orang tuanya jg sama benalunya
Sarmini Isang
good Leo buktikan km mampu dan lebih baik dr rangga,rangga hanya modal dukungan dr papanya tp kemampuan minus,cuma mampu mengumbar nafsu dan arogan,sekarang tinggal menikmati hasilnya rangga,dl km selalu menyakiti jingga dan mengabaikan anakmu demi anak orang lain,nikmati hidup seperti di neraka dengan dira yg tidak becus ngurus anak,semoga keguguran dan rahimnya diangkat,walaupun anaknya lahir akan cacat dan dira tidak bisa punya anak lg,sedangkan jingga sedang menyambut kebahagiaan dimasa depan bersama samudra
Mundri Astuti
Dira anak have juga ternyata...tapi kelakuannya minus yak
Mundri Astuti
tanggung jawab lah kau Rangga, kamu yg memulai
Sarmini Isang
setelah skandal rangga dan dira pasangan sampah menjijikan itu diketahui oleh keluarga besar cendana,rangga bakal hancur karirnya didepak dr perusahaan dan digantikan Leo,hudup miskin dan br sadar dia sangat mencintai jingga,apa jin dasim dira masih mau sama rangga,setelah diusur keluarganya
Sarmini Isang
mampus km rangga,balan hancur hidupmu,karirmu dan masa depanmu hancurrrr
Mundri Astuti
biar rasa ...cihhh sok lemah si Dira itu...di depan jingga keluar aslinya
Mundri Astuti
diiihhhh dari awal kamu nikahin jingga aja niatnya dah jelek Rangga ...skrg kamu dah dpt apa yg kamu inginkan malah masih ngerecokkin jingga
Mundri Astuti
ga sabar ...segala kebusukkan Rangga dan Dira terbongkar didepan keluarga besarnya Rangga termasuk papanya rangga
Nani Haryatiyati
bolehkah aku bahagia di atas masalah mu Rangga?🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Nani Haryatiyati
ada kemauan,and i like it☺️
Rohmi Yatun
Ohh berarti yg benar Samudera ya Thor.. okeeyyy..
lanjut Thor👍
𝓡𝓡: Iyesss kak😘
total 1 replies
Rohmi Yatun
Ohh ternyata dewangga dan samudra itu orang yg sama.. kemarin sempat agak bingung sih....
Nani Haryatiyati: iya kak, sama. smpat heran dan spekulasi sendiri,mngkin namanya Samudra Dewangga. Krn formalitas d panggilnya dokter dewangga...gituuu
total 4 replies
Agunk Setyawan
ayo gebukin kak biar otaknya sadar😆😆
𝓡𝓡: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Mundri Astuti
Leo kamu ke nya jangan terlalu berharap deh sama jingga, kamu masih ada embel" sama masa lalu kelamnya jingga, mending jingga sama dewangga yg sama" pernah nikah
𝓡𝓡: Nah iya, semoga jg gk terobsesi s Leo ini takutnya jd jahat 😳
total 1 replies
Mundri Astuti
dasar biang kerok tu org berdua...pake nyalahin org lain ...sok paling tersakiti...enek banget dah
Venty Imama
aduh songong itu si rangga ngapain baru sekarang setelah bercerai, setelah rumah tangganya hancur baru kepoin mantan kemana sebelumnya ketika istrinya kesusahan,kemana ketika istri dan anaknya yang sekarat membutuhkannya...manjain wanita dan anak orang lain meski itu keponakannya setelah ditinggal baru tahu rasa sukurin
𝓡𝓡: laki laxknat baru cemburu lah gmn Jingga yagg serasa mau ikut mati pas anaknya meninggal tp dia gak peduli 😬
total 1 replies
Mundri Astuti
biarin aja foto itu sampai pada Rangga, biar ga sombong tu org...jingga berhak bahagia dng org baru, yg lebih baik dari mantan, lebih menghargainya ...

thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!