“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
Karena belum terbiasa tidur berdesakan dalam satu ranjang dengan tiga orang, Arunika ternyata memiliki kebiasaan tidur yang super aktif dan bergerak ke sana ke mari.
Tepat pukul dua malam, suara debuman keras menggema di kamar utama. Arjuna jatuh terjungkal ke lantai dingin dengan posisi tidak epik.
Nakula langsung terbangun karena kaget. Beruntung, beberapa saat sebelum tidur, Arjuna sudah memindahkan posisi Nakula ke sisi paling kanan agar aman, sementara mereka berdua di tengah.
Nakula mengucek matanya. "Papa, kenapa bisa jatuh ke bawah?" tanyanya.
Arjuna segera berdiri tegak, merapikan piyamanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal ia sedang menahan rasa nyeri luar biasa di bagian pinggangnya.
"Lantai kamar ini licin sekali. Papa tadi mau berjalan ke kamar mandi malah kepeleset," jawab Arjuna beralasan sambil meringis dalam hati.
Padahal kenyataannya, pelaku utama yang menendangnya hingga terpental jatuh ke lantai adalah Arunika yang sedang merancau dalam tidur.
Setelah menenangkan Nakula dan menyuruh putranya tidur kembali, Arjuna menggeser tubuh Arunika secara perlahan ke tengah, lalu ia kembali naik berbaring di sisi pinggir kasur. Tak lama berselang, karena rupanya Arunika sedang mengalami mimpi buruk, wanita itu tiba-tiba bergerak meracau dan tanpa sadar langsung memeluk erat lengan kokoh Arjuna.
Arjuna kontan terbangun dari tidurnya. Ia membeku di tempat. Menatap wajah Arunika yang sedang tertidur sangat pulas di sampingnya dalam balutan pelukan hangat.
Pria itu ingin melepaskan diri, namun melihat wajah damai istrinya, ia merasa tidak tega. Akhirnya, sang jenderal militer yang terkenal kejam itu merelakan lengannya dijadikan bantal guling semalaman penuh.
"Huh! Sabar Juna!"
Keesokan paginya, matahari bersinar terang. Arunika membuka matanya perlahan. Begitu kesadarannya pulih, ia mendapati dirinya sedang mendekap erat lengan Arjuna.
"Aaaa!" teriaknya histeris.
Karena terkejut, Arunika langsung berguling cepat turun dari kasur. Sialnya, kakinya justru tersangkut pada selimut dan kaki suaminya sendiri.
Bruk!
"Aduh!" ringis Arunika kesakitan sambil mengusap siku dan pinggangnya yang membentur lantai.
Arjuna yang ikut terbangun hanya bisa mengelus dadanya sabar melihat istri cerobohnya itu tanpa berniat membantu karena takut Arunik malu.
Beberapa saat kemudian, setelah bersiap-siap, mereka berjalan keluar kamar menuju ruang makan.
"Mas Arjuna, kenapa cara jalanmu kelihatan kaku dan pincang begitu?" tanya Arunika heran melihat suaminya berjalan sambil memegangi pinggang.
"Tidak apa-apa," jawab Arjuna datar menahan sakit.
"Yakin tidak apa-apa, Mas?" selidik Arunika curiga.
"Iya. Aku baik-baik saja." Arjuna menatap tajam istrinya. "Kau sendiri, kenapa jalannya sambil membungkuk dan meringis?"
Arunika nyengir lebar. "Aku jatuh terpeleset dari ranjang tadi subuh, Mas. Habisnya mimpi buruk dikejar kecoa raksasa," jawabnya tanpa berdosa.
Arjuna mendengus pelan. "Yang menendangku jatuh sampai encok begini kan kau juga," batinnya kesal.
Begitu mereka menuruni anak tangga utama, Nakula berjalan di sebelah kanan sambil menggandeng erat tangan ayahnya. Sementara Arunika berjalan di belakang sambil terus mengusap-usap pinggangnya yang sakit akibat insiden jatuh tadi pagi, serta lehernya yang terasa pegal.
Tanpa mereka sadari, Ratna dan Wina sudah duduk manis di meja makan ruang keluarga, mengamati gerak-gerik mereka dengan saksama.
Wina langsung menyenggol lengan ibunya sambil tersenyum licik penuh kemenangan.
"Ma, lihat cara jalan mereka berdua!" bisik Wina girang. "Semalam pasti mereka bertengkar hebat di dalam kamar."
Ratna menyeringai puas melihat Arunika yang tampak lesu dan kesakitan.
"Ya, Mama sangat yakin Arjuna pasti sudah menghukum perempuan gendut itu semalaman suntuk. Lihat saja wajahnya pucat dan jalannya kesakitan begitu!" sahut Ratna sinis.
"Bagus! Biar kapok. Memangnya jadi istri Arjuna semudah itu?" ucap Wina.
Mereka berdua tertawa kecil, sama sekali tidak tahu bahwa kenyataan yang terjadi justru berkebalikan. Bukan Arunika yang dihukum. Melainkan Arjuna yang semalaman menjadi korban tendangan, pelukan, dan ulah tidur liar istrinya.
Bahkan hingga kini, pinggang sang jenderal masih terasa nyeri, sementara penyebabnya berjalan di belakang sambil terus mengeluh karena jatuh dari ranjang sendiri.
Begitu semua duduk di ruang makan, Ratna kembali memasang senyum sinisnya.
"Arunika."
"Iya, Ibu Mertua?" jawab Arunika santai.
"Karena kau masih orang baru di rumah ini, sebaiknya kau makan di dapur saja bersama para pelayan. Meja makan ini bukan tempatmu."
Damar ikut menimpali sambil tertawa. "Nanti makanannya habis semua."
Para pelayan saling berpandangan cemas. Mereka tahu ucapan itu sudah kelewat keterlaluan.
Arjuna yang duduk di ujung meja perlahan menoleh ke arah istrinya. Tatapan mereka bertemu sesaat. Dalam hati Arjuna bergumam, sepertinya mereka harus berakting lagi.
Namun di luar dugaan, Arunika sama sekali tidak terlihat tersinggung. Ia malah tersenyum lebar.
"Oh, begitu?"
"Iya," jawab Ratna angkuh.
Arunika mengangguk pelan.
"Ide yang bagus."
Ratna dan Wina saling melempar pandang penuh kemenangan.
Arunika bertepuk tangan memanggil para pelayan. "Bi Inah."
"I-iya, Nyonya."
"Tolong siapkan meja makan di dapur."
Ratna mengangguk puas. "Nah, begitu dong."
Arunika melanjutkan kalimatnya dengan tenang. "Untuk ibu mertuaku tersayang, kakak ipar dan Damar."
"Hah?!" seru mereka bertiga bersamaan.
Arunika tersenyum manis. "Supaya lebih nyaman."
Wajah Wina langsung merah padam. Ia tak terima sengan keputusan Arunika. "Apa maksudmu menyuruh kami makan di dapur?!"
"Maksudku sangat jelas, Kakak Ipar! Bukankah ibu mertua tadi bilang makan di dapur itu lebih baik?" sahut Arunika santai.
"Itu buatmu!"
"Kenapa? Aturannya hanya berlaku untukku?" balas Arunika tanpa kehilangan senyum.
Ratna langsung menggebrak meja. "Kurang ajar! Arjuna, lihat istrimu!"
Semua mata langsung beralih kepada Arjuna. Ratna yakin putranya akan membela dirinya seperti dulu.
Arjuna meletakkan cangkir kopinya dengan tenang. Tatapannya beralih kepada Arunika yang masih berdiri santai. Lalu ia mengangkat bahu seolah tak peduli.
"Dia istriku. Turuti saja kemauannya."
Ratna, Wina, bahkan Damar melongo tak percaya.
"Arjuna, kau serius?" tanya Wina dengan suara bergetar.
"Selama permintaannya masih masuk akal, kenapa tidak?" jawab Arjuna sembari menyeruput kopinya tanpa ekspresi.
dasar parasit gk tau diri...dh d tampung mlh ngelunjak ..merasa jd nyonya besar...tunggu aja hukuman utk kalian parasit..
ya elahhhhhhh..... bner" benalau tak tau diri.... 😄😄😄
Sejak awal penasaran, kemana bapaknya Damar
kl Wina kakak kandung atau kakak tiri Arjuna ya 😇😇😇...lanjut Thorr😘😘😘
Bantai aja Nika, mumpung Arjuna lagi tugas, jadi ga perlu akting2an kalian