Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. Merahasiakan Kehamilan
Jingyuan menarik napas panjang, dia terlihat berfikir sesaat dan tidak langsung menyampaikan kesimpulannya. Dengan hati-hati dan cermat dia untuk memeriksa kondisi Wang Laoyin lebih lanjut, lalu melakukan pemeriksaan dengan hati-hati.
Beberapa saat kemudian, biksuni tua itu duduk kembali.
Tatapannya berubah. Bukan tatapan seorang perempuan yang sekadar merawat orang sakit, melainkan tatapan seseorang yang baru saja menemukan rahasia besar yang tidak boleh jatuh ke tangan yang salah.
“Wang Laoyin,” katanya lembut, “aku perlu mengatakan sesuatu kepadamu...” lanjutnya lagi.
Jantung Wang Laoyin berdegup semakin cepat, dia terlihat tegang, matanya memandang biksuni tua itu nyaris tak berkedip.
“Apa yang terjadi padaku?” Dia bertanya, sambil menahan nafas menunggu jawaban, Jingyuan menggenggam tangannya.
“Gejala yang kau alami, keterlambatan siklus bulananmu, dan perubahan denyut nadimu menunjukkan kemungkinan bahwa kau sedang mengandung. Sepengalamanku itu yang bisa ku katakan padamu” Jingyuan menjelaskan sambil meperhatikan perubahan raut waja perempuan muda di depannya ini.
Ruangan itu mendadak terasa sunyi.
Bahkan suara angin yang menggoyangkan dedaunan pinus di luar jendela seolah lenyap dari pendengaran Wang Laoyin.
Ia menatap Jingyuan tanpa berkedip.
“Mengandung?”
Suaranya begitu pelan, nyaris tidak lebih dari embusan napas.
Jingyuan mengangguk.
“Dugaanku cukup kuat, tetapi aku tidak ingin menyebutnya sebagai kepastian tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Kita perlu memastikan kondisimu dan menjaga kesehatanmu. Untuk sementara, kau harus beristirahat dan menghindari pekerjaan berat.”
Wang Laoyin menunduk. Kedua tangannya bergerak perlahan menuju perutnya yang masih rata.
Di sana, di balik jubah abu-abu yang kasar, mungkin terdapat kehidupan kecil yang bahkan belum ia ketahui keberadaannya.
Seorang anak.
Anak yang mungkin telah tumbuh di dalam rahimnya ketika ia masih tinggal di Paviliun Fengyi. Anak yang mungkin telah ikut menanggung malam penuh darah, tuduhan keji, dan kehancuran hidup ibunya tanpa pernah mengetahui apa pun.
Air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Tidak mungkin…” bisiknya. “Aku bahkan tidak mengetahui bahwa…”
Kalimatnya terputus.
Kenangan malam itu kembali menghantam pikirannya. Ia teringat ketika terbangun dengan tubuh lemah, seprai berlumuran darah, dan Shen Rui terbaring tak bernyawa di sisinya. Ia teringat tatapan dingin para penjaga, surat palsu yang dituduhkan kepadanya, serta wajah Raja Han Quan yang menolak mempercayainya.
Mungkinkah pada malam ketika hidupnya direnggut oleh sebuah fitnah, kehidupan lain justru mulai tumbuh di dalam dirinya?
Wang Laoyin menutup wajah dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan istana, ia menangis bukan hanya karena dirinya sendiri.
Ia menangis karena anak yang belum lahir itu.
“Jika benar aku mengandung…” Ia mengangkat wajahnya dengan mata merah. “Anak ini akan lahir sebagai anak dari seorang perempuan yang dianggap hina. Seluruh istana akan menggunakannya untuk menghancurkan diriku. Mereka mungkin akan menuduhku membawa anak dari hubungan terlarang. Mereka akan merampasnya dariku sebelum ia sempat membuka mata.” Wang Laoyin menahan tangis, entah dia harus bahagia atau ketakutan dengan kehamilannya ini, bahkan dia tak tahu harus bagaimana menyebut berita ini, bahagia ataukah awal malapetaka yang lebih hebat lagi.
Jingyuan mendengarkan tanpa menyela.
Ia memahami bahwa ketakutan Wang Laoyin bukanlah ketakutan yang berlebihan. Kuil Qingyun berada di bawah kekuasaan Weiyang. Meskipun terpencil, tempat itu tidak sepenuhnya terputus dari dunia luar. Para pejabat dapat mengirim utusan, penjaga dapat melakukan pemeriksaan, dan siapa pun yang mengetahui bahwa mantan ratu sedang mengandung bisa menjadikan kabar tersebut senjata politik.
Jika berita itu sampai ke istana, keselamatan ibu dan anaknya mungkin berada dalam bahaya.
“Dengarkan aku,” ujar Jingyuan akhirnya. “Di tempat ini, kau tidak perlu menghadapi semuanya seorang diri.”
Wang Laoyin menatapnya.
“Apakah kau bersedia membantuku?” mata Wang Laoyin berbinar penuh permohonan.
“Selama kau tidak meminta sesuatu yang bertentangan dengan keselamatan orang lain, aku akan melakukan apa yang mampu kulakukan.” Jawab Jingyuan lembut.
“Jika kabar ini diketahui istana, mereka tidak akan membiarkanku membesarkan anak ini dengan tenang.” Wang Laoyin meraih tangan Jingyuan seolah dia minta di sembunyikan di balik baju perempuan itu.
Jingyuan terdiam sejenak, lalu berkata, “Kalau begitu, untuk sementara, rahasia ini akan tetap berada di antara kita.”
Mata Wang Laoyin melebar.
“Shitai…”
“Aku tidak akan mengumumkannya kepada para biksuni lain. Tidak seorang pun perlu mengetahui dugaan ini sebelum kita benar-benar yakin dan sebelum keselamatanmu dapat dipertimbangkan dengan baik.” Biksuni tua itu merapikan selimut Wang Laoyin, kemudian menatapnya dengan sorot mata tegas.
“Tetapi ada satu hal yang harus kau pahami. Menyembunyikan kehamilan bukan berarti mengabaikan kesehatanmu. Kau harus makan dengan baik, beristirahat, dan memberitahuku jika mengalami nyeri, perdarahan, atau kelemahan yang semakin parah. Aku tidak akan membiarkanmu mempertaruhkan nyawamu hanya karena takut pada istana.” Perempuan tua itu berucap begitu menenangkan.
Wang Laoyin menggigit bibirnya. Air matanya kembali mengalir, kali ini tanpa suara.
Selama berminggu-minggu, semua orang yang ditemuinya seolah ingin mengambil sesuatu darinya. Para pejabat merampas kehormatannya. Para penjaga merampas kebebasannya. Raja Han Quan merampas kepercayaannya. Bahkan tempat yang dahulu ia sebut rumah telah menutup pintu baginya.
Namun, seorang perempuan tua yang hampir tidak mengenalnya justru menawarkan sesuatu yang tidak pernah ia duga akan diterimanya.
Perlindungan.
Wang Laoyin meraih tangan Jingyuan dengan kedua tangannya sekarang, menggenggamnya dengan erat.
“Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu.” Bisiknya dengan suara bergetar, air matanya meleleh tak bisa dia tahan lagi.
“Jangan pikirkan balas budi sekarang.” Jingyuan tersenyum samar. “Pikirkan bagaimana kau akan bertahan hidup. Jika memang ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam dirimu, maka mulai hari ini kau harus menjaga dirimu bukan hanya untuk dirimu sendiri.”
Wang Laoyin menunduk dan membiarkan telapak tangannya tetap berada di atas perutnya.
Untuk sesaat, ia membayangkan wajah seorang bayi. Ia membayangkan jari-jari mungil yang menggenggam tangannya, tangisan pertama yang memenuhi kamar sederhana di kuil, serta sepasang mata yang mungkin mewarisi keteguhan dirinya.
Bayangan itu begitu lembut hingga terasa menyakitkan.
“Apa pun yang terjadi,” bisiknya, “aku tidak akan membiarkan anak ini menanggung dosa yang tidak pernah dilakukan ibunya.”
Di luar jendela, angin menggoyangkan lonceng-lonceng kecil yang tergantung di bawah atap kayu. Bunyi gemerincingnya terdengar lirih, seperti bisikan yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang sedang menyimpan rahasia.
Jingyuan berdiri dan berjalan menuju lemari kecil di sudut kamar. Ia mengambil beberapa helai pakaian bersih, lalu meletakkannya di samping ranjang.
“Mulai sekarang, kau akan beristirahat lebih banyak. Aku akan mengatur agar makananmu disiapkan secara terpisah. Jika ada yang bertanya mengapa kau tidak mengikuti kegiatan pagi, katakan saja bahwa tubuhmu belum pulih setelah perjalanan.”
“Bagaimana jika mereka mencurigai sesuatu?”
“Kecurigaan orang lain tidak selalu menjadi kebenaran.” Jingyuan menoleh. “Kau sendiri telah merasakan betapa berbahayanya ketika orang-orang menganggap dugaan sebagai bukti.”
Ucapan itu membuat Wang Laoyin terdiam.
Ia teringat surat palsu yang ditulis dengan tangan yang menyerupai tulisannya. Ia teringat kesaksian yang sengaja diputarbalikkan, serta keputusan yang dijatuhkan sebelum kebenaran benar-benar ditemukan.
Kini ia memahami bahwa rahasia yang tersimpan di dalam tubuhnya pun harus dijaga dengan ketelitian yang sama.
Bukan karena ia malu mengandung seorang anak tetapi karena ia tahu betapa kejamnya dunia terhadap perempuan yang tidak memiliki kekuasaan untuk melindungi dirinya sendiri.
(Bersambung yah....ayo support author biar semangat menulis lanjutannya, lap yuuu)
itu pun jika kau pnya hati....🙄🙄
serasa aku yang jdi wang laoyin...😁