Empat kehidupan, satu takdir terlarang. Di balik aura Antartika sang putri tersembunyi, ada pengawal Yakuza yang rela menantang maut demi melindunginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KimiHaruka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadirnya.....
Malam merayap makin larut di kediaman utama klan Uchiha. Suasana rumah tradisional berarsitektur Jepang kuno itu terasa begitu hening dan tenang. Cahaya temaram dari lampion kayu menyinari lorong-lorong berlantai kayu jati, sementara gemericik air dari kolam koi di taman dalam memberi irama lembut di tengah pekatnya malam.
Di sudut engawa—teras kayu yang menghadap langsung ke taman batu Zen—Yoona duduk bersantai menikmati teh hangat. Pakaian kuliahnya sudah berganti dengan kimono sutra longgar berwarna hitam elegan. Di sampingnya, Kakashi berdiri tegap bergeming dalam bayangan, berjaga seperti biasa namun pandangan matanya tak pernah lepas dari helai demi helai rambut Yoona yang tertiup angin malam.
Suara raungan mesin Ferrari merah yang sangat familier memecah keheningan malam saat mobil itu memasuki gerbang utama dan parkir di garasi bawah tanah. Tak lama kemudian, derak langkah kaki yang asal-asalan terdengar menggema di sepanjang koridor luar.
Sasuke berjalan masuk dengan wajah lelah tapi tetap membawa cengiran khasnya. Jas kuliahnya sudah melayang entah ke mana, dua kancing teratas kemejanya terbuka, dan dasinya sudah melekat longgar di leher.
"Duh, capek banget asli," gumam Sasuke sambil melepas sepatu di area genkan dan melangkah mendekati teras. Dia mendudukkan dirinya sembarangan di lantai kayu, tak jauh dari posisi Yoona. "Tiga cewek dari fakultas hukum nempel terus dari siang, pusing kepala gua."
Yoona bahkan tidak menoleh. Dia menyeruput tehnya santai dengan aura Antartika yang membeku. "Kalau mual sama cewek-cewekmu, mending muntah di luar. Jangan bikin kotor rumah."
Sasuke merotasikan matanya, lalu melirik Kakashi yang berdiri membisu di kegelapan. "Oi, Kakashi. Lu dari tadi di sini terus? Kagak bosan apa nemenin es batu satu ini? Sekali-kali ikut gua nongkrong napa."
Kakashi cuma menyunggingkan senyum tipis di balik masker dan kerah jasnya, suaranya terdengar datar dan tenang. "Tugas saya memastikan Nona Yoona aman, Tuan Muda Sasuke. Lagipula, nongkrong di kelab bukan selera saya."
"Kalian berdua emang sama aja, kaku banget," cibir Sasuke sambil menyandarkan punggungnya di pilar kayu. Tiba-tiba cengiran konyolnya kembali muncul saat dia mengingat sesuatu dari kampus. "Eh, Nana. Gua denger dari anak-anak, tadi sore lu disamperin sama gengnya Sakura di parkiran ya?"
Mendengar nama itu, Yoona tetap tenang tanpa riak emosi sedikit pun. "Serangga terbang di sekitar parkiran, aku tidak peduli."
"Hahaha, Sakura tuh beneran gila sih," Sasuke tertawa lepas sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Dia nge-WA gua berapi-api tadi, pamer katanya udah 'ngasih pelajaran' ke cewek sok cantik di parkiran. Dia kagak tahu aja cewek yang mau dia tendang dari kampus itu sebenernya yang punya seluruh tanah tempat dia pijak."
"Dia membual soal keluarga donatur terbesar," potong Yoona dingin, melirik Sasuke lewat sudut matanya. "Hentikan fans-fans gilamu itu sebelum mereka membuatku makin risih, Sasuke. Atau aku sendiri yang akan menyuruh Kakashi membereskan mereka."
Sasuke tertawa lagi, lalu mengangkat kedua tangannya pura-pura menyerah. "Iya, iya. Besok gua kasih tahu si Sakura biar kagak usah kegenitan lagi. Tapi lu tenang aja, dia mah cuma remahan rengginang. Lagian mana berani dia nyentuh lu kalau ada Pak Pengawal Setia di samping lu."
Sasuke berdiri, menepuk-nepuk celananya lalu meregangkan badan yang pegal. "Gua mau mandi dulu. Parfum cewek-cewek tadi beneran bikin pusing."
Begitu langkah kaki Sasuke benar-benar menghilang di balik pintu kamarnya di koridor barat, suasana kembali hening.
Kakashi melangkah pelan keluar dari bayangan, berlutut di sebelah Yoona. Tangan besarnya yang hangat terulur, mengusap pelan jemari Yoona yang agak dingin terpapar angin malam.
"Mau saya urus diam-diam cewek bernama Sakura itu, Nuna?" bisik Kakashi dengan nada suara yang berbalik sangat lembut, sarat akan proteksi yang dalam.
Yoona menoleh, menatap mata Kakashi yang selalu berhasil mencairkan dinding esnya. Dia meletakkan cangkir tehnya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu tegap Kakashi.
"Tidak usah," jawab Yoona pelan. "Melihat Lisa nahan tawa sampai mulas tadi sore sudah cukup jadi hiburan. Biarkan saja mereka bertingkah... sampai saatnya tiba."
Kakashi terkekeh halus, membiarkan Yoona bersandar padanya di bawah naungan langit malam klan Uchiha yang gelap.
...----------------...
FYI : Cerita ini mengandung sedikit unsur kekerasan, adegan dewasa dan Age Gap (Cinta beda usia), bagi yang tidak suka boleh skip aja.
Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan tokoh atau organisasi manapun. Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar, saran, atau kritik yang sopan dan membangun. Arigatou Gozaimasu.