Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Tanah yang sudah basah
Pagi itu jam lima lewat dua belas menit. Matahari belum naik sempurna, tapi warnanya sudah merah. Bukan merah cantik seperti foto di Instagram Labuan Bajo. Ini merah kotor, seperti debu bata yang beterbangan dan menyelimuti seluruh kota Langgur sejak seminggu terakhir. Warga resah, anak sekolah diliburkan, langit terlihat sakit.
Ara mengintip dari jendela kayu kamarnya yang sudah reot. Tenggorokannya kering dan perih karena demam yang belum turun sejak tiga hari lalu. Dia belum minum air putih cukup, badannya lemas, kepalanya pening. Di luar, tanah depan rumahnya basah kuyup, padahal ember di dapur masih kosong dan selang masih tergulung rapi di pojok sumur. Aneh.
Siapa yang menyiram tanah itu pagi-pagi buta begini, gumamnya pelan. Dia memaksakan diri membuka pintu. Udara dingin bercampur asap tipis langsung masuk ke paru-parunya dan membuatnya batuk keras berkali-kali. Dengan kaki gemetar dia melangkah ke halaman depan yang becek.
Jejak kaki tercetak jelas di tanah basah. Bukan jejak ibunya yang kecil. Ini jejak sepatu laki-laki ukuran besar nomor empat puluh tiga, dengan pola garis di bawah solnya yang masih baru. Jejak itu memanjang dari depan pintu rumahnya sampai ke ujung gang yang tertutup kabut merah tebal. Jantung Ara berdegup kencang.
Tiga malam berturut-turut dia memimpikan hal yang sama. Seorang laki-laki berdiri di depan rumahnya, menyiram tanah dengan ember besi yang berat. Gerakannya pelan, sabar, hati-hati. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup kabut, tapi jaket hitam lusuh yang dipakai sangat familiar. Jaket yang sama yang dipakai Revan pada hari terakhirnya sebelum hilang di laut.
Revan. Nama itu masih membuat dada Ara sesak. Lima tahun lalu Revan pamit melaut mencari ikan di perairan Kei yang ganas. Dia berjanji akan kembali dalam dua hari dengan hasil banyak untuk melamar Ara di depan ibunya. Tapi dua hari menjadi seminggu, seminggu menjadi sebulan, dan sebulan menjadi lima tahun tanpa kabar. Perahunya ditemukan hancur berkeping-keping di karang Tanjung, tapi jasadnya tidak pernah ditemukan sampai sekarang. Orang kampung bilang dia sudah tenggelam dan dimakan ikan.
Ara menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu. Tidak mungkin Revan kembali. Revan sudah tidak ada.
Tapi kemudian dia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Di ujung gang, di balik kabut merah yang tebal, ada siluet seseorang berdiri diam mematung. Tingginya sama seperti Revan. Posturnya sama. Bahkan cara berdirinya yang sedikit miring ke kiri karena cedera kaki waktu kecil dulu, sama persis tidak berubah sedikit pun. Siluet itu memakai jaket hitam yang robek di lengan kiri.
Revan, panggil Ara, suaranya pecah karena demam dan rindu yang menumpuk lima tahun.
Siluet itu tidak menjawab. Dia hanya perlahan mengangkat tangan kanannya yang pucat, melambaikan tangan ke arah Ara dengan gerakan lambat. Lambaian pelan, seperti mengucapkan selamat tinggal, atau mungkin selamat datang kembali setelah lama pergi. Ara ingin berlari ke arahnya. Kakinya sudah bergerak satu langkah ke depan dengan sisa tenaga yang ada.
Tiba-tiba kabut tebal menyapu gang itu dengan cepat seperti ombak besar. Dalam sekejap mata, siluet itu hilang ditelan kabut merah. Yang tersisa hanya bau tanah basah dan jejak kaki yang perlahan mengering dimakan matahari.
Dari belakang, suara Mama Ino mengagetkannya. Ara! Ya ampun kamu demam kok di luar! Masuk sana, nanti kamu pingsan dan masuk angin! Masuk!
Ara tidak melawan ketika ditarik masuk ke dalam rumah. Tubuhnya lemas tak berdaya. Tapi matanya masih menatap kosong ke ujung gang yang kosong itu. Di dalam rumah Mama Ino menyodorkan segelas air hangat. Minum dulu, jangan lupa minum air putih, bagaimana mau sembuh kalau tidak minum.
Ara meminumnya dengan tangan gemetar. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun yang menyakitkan dan penuh penantian, Ara merasa Revan benar-benar pulang untuknya, bukan hanya mimpi.