Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAKUAN YANG TERLAMBAT
"Dua tahun, Sin. Aku sudah tahu sejak dua tahun lalu."
Kalimat itu keluar dari mulut Damar seperti batu yang akhirnya dilepas dari dada. Ia tidak berani menatap Sinta. Matanya terpaku pada ubin paviliun yang retak, jemarinya saling meremas sampai buku-bukunya memutih.
Sinta tidak bergerak. Tidak menjerit, tidak menangis, tidak melempar bantal ke wajah lelaki itu. Ia hanya duduk di sana, punggung bersandar pada dinding lembap, memandangi suaminya seperti memandangi orang asing yang kebetulan tinggal serumah.
"Ulangi," katanya datar.
"Aku sudah tahu. Dua tahun lalu." Suara Damar pecah. "Ibu yang menunjukkan hasilnya padaku. Malam itu, di kamarnya, dia menyodorkan amplop itu dan bilang, 'Lihat ini, Nak. Kamu yang bermasalah, bukan istrimu.'"
"Lalu?"
"Lalu aku..." Damar menelan ludah. "Aku nggak percaya. Aku periksa ulang di klinik lain secara diam-diam. Hasilnya sama."
Hening menggantung di ruangan sempit itu, tebal seperti kabut. Di luar, jangkrik masih bernyanyi, tidak peduli pada rumah tangga yang sedang runtuh di baliknya.
"Dua tahun," ulang Sinta pelan. Ia tersenyum, senyum paling dingin yang pernah muncul di wajahnya. "Dua tahun kamu melihatku minum jamu pahit. Dua tahun kamu melihatku dibawa ke dukun. Dua tahun kamu duduk di meja makan sementara ibumu menyebutku mandul di depan seluruh keluarga. Dan kamu diam."
"Aku malu, Sin."
"Malu?"
"Aku laki-laki. Aku..." Damar mengusap wajahnya kasar. "Ibu bilang kalau aku buka kebenaran ini, aku akan jadi bahan tertawaan seluruh keluarga besar. Tidak ada yang akan menghormati aku lagi. Dia bilang, 'Biar saja Sinta yang disalahkan. Perempuan itu kuat, dia akan tahan. Tapi harga dirimu tidak boleh jatuh.'"
Sinta menutup mata sesaat. Ia teringat malam-malam ketika ia menangis di kamar mandi sambil menekan mulutnya dengan handuk supaya tidak terdengar. Malam-malam ketika ia bertanya pada Tuhan apa dosanya sampai dihukum seperti itu. Dan di balik pintu kamar mandi itu, suaminya, orang yang tahu jawabannya, tidur nyenyak di ranjang mereka.
"Harga dirimu," Sinta mengulang, nyaris berbisik. "Harga dirimu lebih mahal dari tujuh tahun hidupku, Mas?"
"Bukan begitu..."
"Lalu bagaimana?!"
Suaranya meninggi untuk pertama kalinya malam itu, dan Damar tersentak seperti ditampar. Sinta bangkit berdiri, tubuhnya gemetar hebat, tangannya mengepal di sisi paha.
"Aku menjual cincin kawin ibuku waktu tokomu hampir bangkrut! Aku bangun jam empat pagi mengurus ibumu waktu dia sakit! Aku tahan semua hinaan di rumah ini karena kupikir kita satu tim! Dan selama itu kamu menggenggam kebenaran yang bisa membebaskanku, tapi kamu simpan di laci seperti sampah!"
"Sin, pelankan suaramu, nanti Ibu dengar..."
"Biar dengar!" Sinta tertawa getir, air mata akhirnya jatuh. "Biar seluruh rumah dengar! Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti!"
Damar berdiri, mencoba meraih bahunya, tapi Sinta menepis tangan itu dengan kasar.
"Jangan sentuh aku."
"Sin, aku mohon." Damar jatuh berlutut di depannya. Lelaki yang selama tujuh tahun selalu berdiri tegak di rumah ini, kini bersujud di lantai paviliun. "Aku tahu aku brengsek. Aku tahu aku pengecut. Tapi aku datang malam ini karena aku nggak sanggup lagi menyimpannya. Aku mau kamu tahu kebenarannya dari mulutku."
"Terlambat."
"Aku tahu."
"Dua tahun terlambat, Mas. Dan sekarang kamu datang mengaku, tepat dua minggu sebelum menikah dengan perempuan lain." Sinta menatapnya dari atas, tatapan yang tak lagi mengandung cinta, hanya kelelahan dan sesuatu yang mulai mengeras. "Kamu pikir pengakuan ini membuatku memaafkanmu? Atau kamu cuma ingin merasa lebih ringan sebelum melangkah ke pelaminan?"
Damar tidak menjawab. Bahunya terguncang pelan. Dan di titik itu Sinta sadar, lelaki ini sedang menangis bukan untuk dirinya, tetapi untuk kenyamanan hatinya sendiri.
Ia menarik napas panjang. Ia memaksa dirinya berpikir jernih. Kepalanya, di tengah badai itu, mulai bekerja dingin.
"Mas, kalau kamu tahu kamu tidak bisa punya anak," katanya perlahan, "kenapa kamu setuju menikah lagi?"
Damar mengangkat wajah. Matanya bengkak.
"Karena Ibu bilang... Melia akan memberiku anak."
Sinta membeku.
"Dia bilang jangan khawatir, semua sudah diatur. Melia perempuan baik-baik, keluarganya terhormat, dan dia akan memberiku keturunan." Damar menggeleng bingung, seperti orang yang menceritakan mimpi yang tak ia mengerti. "Aku tanya, bagaimana caranya? Aku kan nggak bisa. Ibu cuma menyuruhku diam, bilang urusan itu biar dia yang atur."
*Anak ini harus lahir sebagai cucu keluarga Wiryawan.*
Bisikan Melia di taman malam itu menyambar ingatan Sinta seperti petir. Potongan-potongan yang selama ini berserakan tiba-tiba menyatu, membentuk gambar yang begitu busuk hingga perutnya mual.
Bu Retno tahu anaknya tidak bisa punya keturunan. Bu Retno memilih Melia. Melia sedang berbicara dengan seorang lelaki di telepon tentang *anak ini*. Dan pernikahan dua minggu lagi bukan untuk memberi Damar keturunan, melainkan untuk menutupi sesuatu yang sudah terlanjur ada.
Sinta menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia hampir tertawa, hampir menangis, hampir muntah.
"Sin? Kenapa wajahmu begitu?"
"Tidak apa-apa." Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Aku cuma... tidak percaya ibumu bisa sejauh itu."
"Maksudmu apa?"
Sinta menatapnya lama. Ada sesuatu yang menahannya. Jika ia membongkar semuanya sekarang, Damar akan lari ke ibunya, dan ibunya akan membungkam segalanya. Ia tidak punya bukti selain foto di ponsel dan potongan percakapan yang bisa dibantah Melia dengan satu air mata. Ia harus menunggu. Ia harus pintar.
"Maksudku," katanya hati-hati, "ibumu tidak pernah memikirkan perasaanmu. Dia hanya memikirkan nama keluarga."
Damar mengangguk lemah, seperti anak yang akhirnya menemukan seseorang yang sepaham. "Itu yang kupikirkan juga. Sin, aku mau membatalkan pernikahan itu."
Sinta menegang. "Apa?"
"Aku nggak mau menikah dengan Melia. Aku nggak mau kehilanganmu." Ia meraih tangan Sinta, menggenggamnya erat. "Kita pergi saja, Sin. Berdua. Tinggalkan rumah ini, tinggalkan semuanya. Aku akan cari kerja di kota lain. Kita mulai dari awal."
Dulu, satu setengah tahun yang lalu, kalimat itu akan membuat Sinta menangis bahagia. Sekarang, kalimat yang sama terasa seperti tawaran dari orang yang menawarkan payung setelah hujan berhenti.
Perlahan, ia menarik tangannya dari genggaman Damar.
"Mas, kamu tahu apa yang akan dilakukan ibumu kalau kamu pergi?"
"Dia akan marah."
"Dia akan mencabut semuanya. Toko, rumah, warisan. Dan kamu, Damar, apakah kamu sanggup hidup tanpa itu semua?" Sinta menatapnya tajam. "Bukan kamu yang pergi dari ibumu. Kamu yang akan ditinggalkan oleh uangnya. Dan aku tidak yakin lelaki yang menyembunyikan kebenaran selama dua tahun demi harga diri akan sanggup kehilangan hartanya demi aku."
Damar menganga. Kata-kata itu menusuk telak, dan ia tidak punya jawaban.
"Aku..." ia berbisik. "Aku akan berusaha."
"Berusaha itu gampang diucapkan." Sinta berbalik, berjalan ke jendela, dan menatap tembok kelabu di luar. "Aku tidak butuh janji malam ini, Mas. Aku butuh waktu. Dan kamu, kalau kamu benar-benar menyesal, buktikan dengan tindakan. Bukan dengan air mata."
"Tindakan apa?"
Sinta menoleh sedikit. Di wajahnya yang setengah diterangi cahaya temaram, ada ketenangan yang membuat bulu kuduk Damar berdiri.
"Pertama, jangan ceritakan percakapan ini pada siapa pun. Termasuk ibumu. Termasuk Melia."
"Kenapa Melia?"
"Karena aku bilang begitu."
Damar menatapnya lama, lalu mengangguk pelan, patuh, seperti anak kecil. Ia bangkit dengan susah payah, merapikan kemejanya yang kusut, lalu berjalan ke pintu. Tangannya sudah memegang gagang ketika Sinta bersuara lagi.
"Mas."
"Ya?"
"Amplop itu. Di mana sekarang?"
Damar terdiam sepersekian detik, dan raut wajahnya berubah. Bukan bingung, tapi gelisah. "Sudah tidak ada di laci. Ibu mengambilnya kemarin, setelah kamu menyebutnya di depan semua orang."
"Dia bakar?"
"Aku nggak tahu. Dia cuma bilang..." Damar menelan ludah. "...dia sudah memindahkannya ke tempat yang aman. Tempat yang tidak akan pernah kamu temukan."
Sinta mengangguk pelan, menyembunyikan seringai tipis. Amplop itu mungkin hilang, tapi foto di ponselnya masih utuh. Dan mulai malam ini, ia bukan lagi korban yang buta. Ia pemegang kartu yang tak diketahui lawannya.
"Pergilah, Mas. Sebelum ada yang curiga."
Damar mengangguk dan membuka pintu. Tapi ia terhenti seketika, tubuhnya kaku.
Di depan paviliun, di bawah cahaya lampu teras yang temaram, Bu Retno berdiri dengan daster panjang dan rambut terurai. Wajahnya tanpa ekspresi, matanya menatap lurus ke dalam, ke arah Sinta.
"Damar," panggilnya pelan, dingin, nyaris berbisik. "Ibu cari kamu dari tadi. Kamu bicara apa saja dengan istri lamamu itu?"