Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
Setelah sesi pengobatan paksa yang diwarnai dengan adegan jewer-menjewer telinga, suasana di dalam ruangan itu masih diselimuti ketegangan.
“Sekarang, kalian berdua tidur," ucap Zoey dengan tegas. Ia berdiri berkacak pinggang di tengah ruangan, menatap Victor dan Victoria bergantian.
Victor mendengus kasar, memutar bola matanya malas.
“Tidur? Jam segini? Ini baru jam sebelas malam! Aku mau main game dulu, teman-teman sudah menunggunya dari tadi.”
“Ya, benar! Aku juga ingin melakukan live streaming dan menyapa followers ku di—”
“Tidak boleh!” potong Zoey cepat, nadanya tak menerima bantahan. “Tidur sekarang, atau ponsel dan komputer kalian aku sita sampai minggu depan.”
Victoria seketika melotot, tak terima dengan sikap otoriter wanita muda di hadapannya itu.
“Hei, kau siapa berani mengatur-atur kami, hah? Kau itu cuma orang asing di rumah ini. Kau saja sana yang keluar dari kamar kami!”
Bukannya tersinggung, Zoey malah tersenyum miring. Ia melangkah selangkah lebih maju, membuat aura intimidasinya menguar.
“Kalian lupa ya aku ini ibu sambung kalian? Atau kalian masih belum puas dan mau telinganya dijewer lagi? Oh, atau kau, Victoria, mau tanganmu dipelintir ke belakang lagi sampai kau menangis minta ampun?” ancam Zoey seraya mengangkat alisnya.
Mendengar ancaman itu, si kembar pemberontak seketika kicep. Mereka berdua saling menatap ngeri, lalu menelan ludah dengan susah payah.
Bayangan rasa ngilu di telinga dan sendi lengan mereka masih terasa sangat nyata.
Kruyuk...
Di tengah keheningan yang tegang itu, tiba-tiba terdengar bunyi perut yang cukup nyaring.
Sumbernya dari perut Victor, yang kemudian langsung disahut oleh bunyi dari perut Victoria.
“Oh, ternyata ada yang lapar malam-malam begini,” ejek Zoey sembari tersenyum penuh kemenangan.
Wajah kedua remaja itu memerah karena gengsi.
“Kami tidak lapar!” seru Victor dan Victoria serempak, memalingkan wajah mereka ke arah yang berlawanan.
“Terserah kalian saja. Tapi ingat, kalau aku kembali ke sini dan kalian belum tidur, tamatlah riwayat gawai kalian,” ucap Zoey santai.
Zoey melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu. Ia menuju dapur di lantai bawah. Sebenarnya, Zoey berniat membuatkan makanan untuk kedua anak tsambungnya yang keras kepala itu.
Zoey tahu mereka kelaparan setelah energi mereka terkuras karena balapan dan marah-marah.
Setidaknya, lewat perut mereka, Zoey akan mulai meluluhkan hati si kembar sekaligus membuktikan pada Damian, suaminya yang menyebalkan nan dingin itu, bahwa ia bisa mengurus keluarga ini.
Di dalam kamar, Victoria langsung mencondongkan tubuhnya ke arah kembarannya begitu memastikan langkah Zoey menjauh.
“Vic, kira-kira apa yang akan Zoey lakukan di luar sana?” tanya Victoria dengan berbisik.
Victor menguap pelan sambil memegangi perutnya yang kembali berbunyi.
“Paling dia kembali ke kamarnya dan tidur. Mana mungkin wanita seperti dia mau repot-repot membuatkan makan malam untuk kita di jam segini.”
“Kau benar.” Victoria tersenyum sinis sembari melipat tangan di dada. “Aku juga tidak yakin wanita muda dan nampak manja seperti dia bisa memasak. Paling-paling dia hanya bisa memesan delivery atau menghamburkan uang papa untuk memesan makan di restoran mahal.”
Victor melirik lengan saudarinya yang tadi sempat dipelintir oleh Zoey.
“Ngomong-ngomong, tanganmu baik-baik saja, kan?”
Victoria meringis pelan sambil memijat bahunya.
“Ya, begitulah. Tenaganya benar-benar luar biasa seperti kuli panggul. Untung saja tulangku tidak patah tadi,” rutuk Victoria kesal.
*****
Sementara itu, di dapur Zoey sedang sibuk memotong bawang putih dan sosis.
“Belum tidur?”
Sebuah suara bariton yang berat dan dingin tiba-tiba terdengar dari arah pintu dapur.
Damian berdiri di sana, menatap Zoey dengan raut wajah datar yang khas.
“Menurutmu?” balas Zoey ketus, sama sekali tak repot-repot menoleh dari wajannya.
Damian mengerutkan kening, kesal karena pertanyaannya dijawab dengan sangat singkat dan tidak sopan. Ia melangkah masuk, menyandarkan tubuh nya di meja.
“Apa yang sedang kau lakukan tengah malam begini di dapurku?” tanyanya lagi, menuntut jawaban yang lebih jelas.
“Apakah suamiku yang terhormat ini sudah mulai rabun? Tidak bisakah kau lihat aku sedang membuat nasi goreng?" balas Zoey sembari menuangkan nasi ke dalam wajan yang sudah panas.
Damian terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan.
“Nasi goreng? Aku tidak yakin dengan rasanya. Kau terlihat seperti wanita yang lebih pandai membakar dapur daripada memasak.”
“Kalau begitu tidak perlu kau rasakan,” sahut Zoey tak acuh, terus mengaduk nasinya dengan lincah. “Lagipula, ini bukan untukmu!”
Damian terdiam. Hidungnya tanpa sadar mengendus aroma bawang, mentega dan kecap. Baunya menguar begitu kuat, memenuhi seluruh penjuru dapur dan dengan sukses membuat cacing-cacing di perut Damian berdemo menuntut jatah.
Pria yang tadi meremehkan itu kini diam-diam menelan ludahnya.
“Memang wanginya sangat menggoda, tapi apakah rasanya akan seenak wanginya?” pikir Damian penuh gengsi.
“Selesai.”
Zoey mematikan kompor, lalu membagi nasi goreng itu ke atas dua piring kosong dengan porsi yang sama.
Zoey menatanya sedemikian rupa, sengaja mengabaikan tatapan mata suaminya yang terus tertuju pada wajan.
Melihat Zoey bersiap pergi membawa nampan, ego Damian sedikit goyah oleh rasa laparnya. “Tunggu. Mana bagianku?” tanyanya.
Zoey berhenti melangkah, menoleh ke arah Damian dengan senyum penuh kemenangan.
“Buat saja sendiri! Bukankah kau meragukan rasanya, Tuan Damian yang terhormat?”
Tanpa mempedulikan wajah suaminya yang sedikit menggelap, Zoey melangkah begitu saja melewati Damian, membawa nampan berisi makan malam itu menuju kamar kedua anak sambungnya.
Damian mendengus kesal. Ia memegangi perutnya yang terasa perih. Matanya kemudian melirik ke arah kompor. Di teflon ternyata besar itu masih ada sedikit sisa nasi goreng buatan Zoey yang sengaja ditinggalkan.
“Sial! Kenapa aku tiba-tiba jadi lapar begini,” gerutu Damian pelan.