NovelToon NovelToon
Gadis Desa Kesayangan Mafia

Gadis Desa Kesayangan Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:440.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

​“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.

​“Kau menyukainya?”

​“Memangnya itu apa?”

​“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”

Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.

****

Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.

Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.

Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.

Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Keputusan Alexander untuk mempercepat pernikahan tidak lantas membuat Alessandro membiarkan Lucia keluyuran di luar.

Mengingat ancaman Marco dan Isabella yang makin nekat, Alessandro dengan tegas melarang Lucia bersekolah di luar mansion.

Sebagai gantinya, pria itu membawa guru privat langsung ke rumahnya.

Kali ini, bukan pria muda yang bisa memicu cemburunya, melainkan seorang wanita.

"Paman, kok gurunya perempuan cantik begini?" bisik Lucia polos seraya memiringkan kepalanya saat melihat sesosok gadis modis yang baru saja melangkah masuk ke ruang tamu.

Gadis itu tersenyum manis. Nama lengkapnya Arabella, biasa dipanggil Ara yang tak lain adalah sepupu kandung Alessandro dari garis ayahnya.

“Ara,” panggil Alessandro dengan suara beratnya seraya melangkah menghampiri sang sepupu.

“Kak Alessandro," Ara tersenyum hangat, lalu hendak memeluk pria tegap yang terikat hubungan darah dengannya itu. Tapi Alessandro menghindar.

“Astaga, maafkan aku, Kak. Aku lupa alergimu yang sama seperti papa,” ucap Ara.

“Tak masalah.”

“Jadi ini gadis desa yang membuat gempar seluruh klan Frederick sampai Kakak rela mengurung diri di rumah dari jam lima pagi?” tanya Ara sedikit menggoda.

Alessandro berdehem pelan, mengalihkan pandangannya demi menutupi rasa canggung.

“Jangan banyak bicara, Ara. Aku memanggilmu kemari bukan untuk bergosip.”

Ara terkekeh pelan. Ia tahu betul sifat keras kepala kakak sepupunya itu. ”Iya, iya, Tuan Besar. Bibi memberitahuku kalau calon istrimu ini seumuran denganku. Tenang saja, Kak. Aku akan mengajarinya dengan sabar.”

“Bagus,” sahut Alessandro tegas, namun tatapannya melunak saat menoleh pada Lucia. ”Dia sangat berharga bagiku, Ara. Ajari dia hal-hal dasar dulu. Dan ingat, kalau dia merasa lelah atau bosan, jangan dipaksa.”

“Aduh, protektif sekali calon pengantin ini,” goda Ara seraya menggelengkan kepala. “Serahkan padaku. Sekarang Kakak pergi ke kantor sana, jangan mengganggu kelas kami.”

Alessandro mengecup singkat dahi Lucia sebelum berbalik pergi.

“Aku akan kembali sebelum makan siang. Bertingkahlah yang baik, Lucia.”

“Siap, Paman Tampan!” jawab Lucia antusias.

Setelah suara deru mesin mobil Alessandro menghilang dari pelataran, suasana ruang belajar mendadak menjadi sangat santai.

Ara menatap Lucia dengan binar mata ramah dan akrab, lalu duduk di sampingnya.

“Hai, Lucia. Aku Ara, sepupunya Kak Alessandro,” sapa Ara lembut. “Kita seumuran, jadi panggil nama saja, ya? Jangan panggil ibu guru.”

“Iya, Ara,” sahut Lucia ceria. “Tapi, aku sebenarnya takut. Dulu di desa, aku sempat sekolah sebentar saja waktu kecil. Tapi karena tidak punya uang buat beli buku dan pensil, Bibi Sofia menarikku keluar untuk bantu menumbuk padi dan cari kayu bakar. Aku... aku tidak bisa membaca dan menulis dengan baik.”

Ara menatap Lucia dengan rasa iba yang tulus, lalu memegang lembut tangan mungil gadis itu.

“Tidak apa-apa, Lucia. Itu bukan salahmu. Mulai hari ini, kita belajar pelan-pelan dari awal, ya?”

“Benarkah?” mata Lucia berkaca-kaca.

“Tentu saja!” Ara membuka buku catatan tebal bermotif lucu dan menyodorkan pensil berukir cantik ke tangan Lucia. “Hal pertama yang harus kau bisa adalah menulis namamu sendiri dan nama calon suamimu.”

Ara mulai menuliskan huruf-huruf abjad di atas kertas putih bersih.

“Lihat ini, ini huruf A, ini L, E, S, S, A, N, D, R, O. Coba kau ikuti garisnya.”

Lucia memegang pensil dengan sangat kaku, mirip seperti orang memegang alu penumbuk padi. Ia dengan tekun menggoreskan garis demi garis, meski bentuk hurufnya masih meleot dan besar-besar tak beraturan.

“Jadi namaku A-L-E-S-A-N-D-R-O, ya?” celetuk Lucia polos saat selesai meniru tulisan Ara.

Ara tertawa renyah. “Bukan, Lucia! Itu nama calon suamimu! Namamu itu L-U-C-I-A!”

“Oh! Salah ya?" Lucia menepuk jidatnya sendiri, lalu menyeringai lebar. “Habisnya nama Paman Tampan panjang sekali seperti ular di sawah! Kenapa hurufnya banyak sekali?”

“Nama orang kota memang begitu. Ayo coba lagi. Tulis namamu di sebelah nama Kak Alessandro.” Ara tersenyum seraya membetulkan cara Lucia memegang pensil.

Lucia kembali menggoreskan pensilnya dengan serius, lidahnya sampai sedikit terjulur karena saking konsentrasinya.

Setelah beberapa menit berjuang keras, sebuah tulisan cakar ayam yang lucu akhirnya tercipta di atas kertas, LUCIA & ALESANDRO.

“Ara, lihat!” seru Lucia bangga memamerkan kertasnya. “Aku sudah bisa menulis! Tapi, kok tulisan nama paman tampan kelihatan galak ya? Huruf A nya tajam seperti tombak!”

“Karena orangnya memang galak, Lucia!Tapi tulisanmu ini bagus sekali untuk pemula!” gelak Ara tak sanggup menahan tawa.

Lucia mengusap tulisan itu dengan jari-jemarinya, tersenyum lebar dengan mata hendak menangis.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, gadis desa yang biasa memegang sabit dan alu itu merasa begitu bahagia karena bisa mengukir namanya sendiri di atas kertas.

“Kau baik-baik saja Lucia?” tanya Ara khawatir melihat raut wajah gadis itu.

“Menurutmu, apakah aku masih punya orang tua seperti paman tampan? Aku ingin sekali memperlihatkan tulisanku pada mereka,” ucap Lucia.

“Orang tua?” gumam Ara.

Lucia mengangguk. “Aku pernah bertanya pada bibi Sofia. Tapi pertanyaanku malah membuatnya sedih. Apakah aku tidak diinginkan oleh mereka,” lirih Lucia dengan wajah menunduk.

1
Lia Srimulyani
apakah ada kisah nya Ara dan Marco?
Azalea
bagus Marco ak setuju akan ucapanmu
Azalea
Allesandro knapa jadi begitu ya luciakan cuma mau ktemu keluarganya yg hilang dlu tpi seakan akan salah besar bwt Lucia ak kecewa padamu Ale 😔
Azalea
Ale cemburu🤣🤣
Azalea
ternyata Marco dan Lucia adik kakak
Azalea
Alhamdulillah Marco peduli pada Lucia tlong Lucia marco
Azalea
Lucia pasti gak paham hadiah apa yg d'berikan naga besar ale🤣
Yasinta Niken
wkwkwk wkwkwk wkwkwk
Azalea
Duh penganten baru udah d'tinggal pergi sebulan lg
Azalea
wah gak bakalan rame klau d'skip thor
Anjani Manurung
ini polos ,bego atau bodoh ya.malah ky trbelakang mental.desa mana yg pelosok banget coba.kl bgini gmn mau JD pasangan mafia.
Azalea
Ada apa dgn Marco jadi penasaran lanjut thor
Nurul Hidayah
seru👍
Azalea
Coba it Isabel d'dor aj biar mampus
Azalea
rasain kamu Isabella
Azalea
Jangan salah paham paman ganteng sukanya Lucia karna paman baik hati
Azalea
it Isabella knapa gak sekalian d'bunuh aja
Azalea
penawarnya harus bersentuhan bbir ya
Azalea
Good job lucia👍
Azalea
Lucia knapa gak bisa nyimpen rahasia sie knapa harus bercerita pada otang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!