NovelToon NovelToon
Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.

Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.

Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.

Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zivana 34

Zivana berdiri dengan tenang. Ia berjalan menuju depan layar proyektor, menyambungkan flashdisknya, lalu mematikan lampu depan. Sikap tubuhnya yang tegar dan artikulasinya yang jelas langsung menyedot perhatian seluruh ruangan.

"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian," buka Zivana dengan suara jernih dan penuh percaya diri.

"Saya akan membedah mengapa kampanye produk kita di Yogyakarta mengalami penurunan interaksi hingga 40% dalam dua bulan terakhir."

Zivana menayangkan grafik dan data yang telah disusunnya semalaman.

"Masyarakat Yogyakarta memiliki nilai kultural yang sangat kuat, mereka menyukai narasi yang hangat, personal, dan merakyat (humble). Strategi tim Pak Roni menggunakan pendekatan high end luxury yang terlampau jarak dan kaku. Akibatnya, calon konsumen merasa produk ini asing dan tidak terjangkau."

Zivana berpindah slide, menampilkan konsep rancangannya sendiri. "Solusinya, kita harus mengubah pendekatan narasi dari 'Eksklusivitas' menjadi 'Kenyamanan Rumah'. Kita menggandeng komunitas lokal, membuat konten cerita (storytelling) berbasis kearifan lokal, dan menggunakan media promosi interaktif di titik-titik kumpul mahasiswa dan keluarga."

Penjelasan Zivana mengalir begitu lancar, logis, terstruktur, dan sangat memikat. Ia menjawab setiap pertanyaan detail dari para kepala divisi dengan ketajaman berpikir seorang sarjana manajemen kawakan. Tidak ada satu pun celah yang bisa dipatahkan oleh Pak Roni ataupun timnya yang lain. Mereka hanya bisa diam dan mendengarkan penjelasan dai Zivana.

Di ujung meja, Melvin duduk bersandar. Jemarinya menopang dagu, matanya tak lepas menatap Zivana. Ada kilat kepuasan dan kebanggaan yang terpatri jelas di wajah sang CEO perfeksionis itu.

Saat Zivana mengakhiri presentasinya dengan senyuman anggun, "Sekian analisis dari saya, terima kasih," keheningan sejenak melingkupi ruangan.

PROK! PROK! PROK!

Melvin bertepuk tangan pelan, yang langsung disusul oleh tepuk tangan meriah dari seluruh peserta rapat lainnya. Pak Roni hanya bisa menunduk malu, tak sanggup membantah kejeniusan wanita yang dulunya ia anggap sebelah mata.

"Analisis yang sangat brilian, Zivana," puji Melvin tegas saat tepuk tangan mereda. Pria itu berdiri, menatap seluruh jajaran manajernya.

"Mulai hari ini, kampanye pemasaran Yogyakarta dipegang penuh oleh Zivana sebagai Koordinator Pemasaran Daerah. Pak Roni dan tim wajib melapor dan berkoordinasi langsung di bawah arahan Zivana."

"Baik, Pak Melvin!" jawab para staf serempak.

Rapat selesai. Para peserta rapat berhamburan keluar. Zivana sedang merapikan laptopnya saat Melvin berjalan mendekatinya.

"Presentasi yang luar biasa," kata Melvin pelan, kini hanya ada mereka berdua di ruang rapat yang luas itu.

Zivana mendongak, menatap Melvin dengan binar bahagia yang tak bisa disembunyikan.

"Terima kasih banyak atas kesempatannya, Pak Melvin. Tanpa kepercayaan dari Bapak, saya tidak akan ada di titik ini."

Melvin mengamati wajah Zivana sejenak. "Kamu memang punya bakat, Zivana. Kamu pantas mendapatkan posisi ini, bukan karena belas kasihan saya, tapi karena kapasitas otakmu." Pria dingin itu berdehem pelan, memalingkan wajahnya sejenak.

"Nanti malam... ada makan malam perayaan kecil bersama tim lainnya. Saya minta kamu hadir."

Zivana tersenyum tulus, merasa dihargai secara utuh sebagai seorang profesional. "Dengan senang hati, Pak Melvin."

Langkah kaki Zivana saat keluar dari ruangan terasa begitu ringan. Di kota ini, di bawah naungan PT Mahardika Group, Zivana resmi lahir kembali, bukan lagi sebagai wanita yang tertindas dan terbuang, melainkan sebagai seorang wanita karir yang bersinar terang dengan kehormatan tinggi.

Sementara itu, ratusan kilometer dari gemerlap karir baru Zivana di Yogyakarta, suasana di rumah mewah Aidil justru menjelma menjadi neraka yang kian pekat dan tak manusiawi.

Siang itu, hujan gerimis mengguyur ibu kota. Suara ketukan heels Stela menggema kasar di atas lantai marmer ruang tengah. Wanita itu mengenakan gaun rumah berbahan sutra merah, wajahnya ditekuk masam dengan riasan tipis. Perutnya yang mulai sedikit membuncit membuatnya makin mudah tersulut emosi.

"Bibi! Mana jus alpukatku?!" teriak Stela melengking, melipat tangannya di dada.

Mbak Sumi, asisten rumah tangga yang sudah tua, buru-buru keluar dari dapur dengan nampan gemetar.

"Ini, Nyonya... maaf agak lama, tadi saya baru selesai menyapu kamar atas."

"Lama sekali! Kamu dibayar di rumah ini buat kerja cepat, bukan buat lelet!" bentak Stela seraya menyambar gelas tersebut kasar.

Di saat bersamaan, pintu kamar bawah terbuka pelan. Khaisar melangkah keluar dengan wajah pucat dan mata sembab. Di belakangnya, Amora kecil berjalan merapat, memegangi pinggiran kaos abangnya dengan jemari gemetar. Kedua anak itu belum menyentuh makanan sejak pagi.

"Mbak... Amora lapar..." panggil Amora polos dengan suara cicitan yang begitu pelan dan takut pada ART di sana.

"Di meja makan nggak ada makanan. Bibi boleh minta nasi?"

Stela yang baru saja menyesap jusnya langsung menoleh. Tatapan matanya mendadak menyipit penuh rasa jijik dan kemurkaan saat melihat kedua anak kandung yang dulu pernah ia tinggalkan itu.

"Apa kamu bilang?!" bentak Stela seraya membuang mukanya.

"Kalian ini anak-anak tidak tahu berterima kasih ya! Masih mending aku mau kembali dan menampung kalian di rumah ini!"

Khaisar langsung memasang badan, menarik Amora ke belakang punggungnya. Mata bocah delapan tahun itu menyala penuh amarah meski tubuhnya lemas karena lapar.

"Mana nasi buat Amora?! Dari pagi Papa pergi kerja, kamu cuma tidur dan marah-marah! Dulu kamu buang kami, sekarang kamu kembali cuma buat nyiksa kami!"

PRAK!

Stela membanting gelas jus alpukatnya ke atas meja hingga airnya terciprat ke mana-mana. Wajah cantiknya berubah menakutkan, dipenuhi angkara murka yang tak terkendali.

"Kurang ajar kamu ya, Khaisar!" jerit Stela memekik, melangkah lebar menghampiri kedua anak kandungnya itu.

"Aku ini yang melahirkan kalian! Kamu pikir kamu siapa di rumah ini, hah?! Kamu itu cuma beban! Gara-gara kalian berdua, Aidil sering mengabaikan aku! Otak kalian itu sudah benar-benar diracuni sama Zivana!"

"Jangan sebut nama Bunda Ziva!" teriak Khaisar membela.

"Bunda Ziva yang ngurus kami saat kamu kabur! Bunda Ziva ibu kami yang sebenarnya, bukan kamu! Kamu iblis!"

"Bicara apa kamu?!"

Stela tanpa belas kasihan mencengkeram lengan atas Khaisar dengan sangat kuat hingga bocah itu meringis kesakitan. Amora yang melihat abangnya disakiti langsung menangis histeris.

"Sakit! Lepasin Abang! Amora takut..." Histeris Amora memukul-mukul kaki Stela dengan tangan kecilnya.

"Jangan sakiti Abang!"

"Diam kamu, anak cengeng!" bentak Stela.

Tanpa rasa iba sedikit pun pada anak kandungnya sendiri dan bayi dalam kandungannya, Stela menyeret tubuh Khaisar dan menarik Amora secara paksa menuju lorong gelap di bawah tangga, sebuah gudang penyimpanan barang-barang bekas yang kotor, berdebu, dan pengap.

"Jangan! Jangan kurung kami! Amora takut gelap!" jerit Khaisar membabi buta, berusaha melepaskan cengkeraman Stela yang makin mencengkeram erat.

"Nyonya! Jangan, Nyonya! Kasihan Mas Khaisar sama Mbak Amora, mereka anak kandung Nyonya sendiri!" Mbak Sumi berlari menangis, mencoba memohon seraya berlutut menahan kaki Stela.

"Tolong, Nyonya... Mereka belum makan dari pagi!"

"Diam kamu, Bibi tua! Jangan ikut campur urusanku mendidik anak-anakku! Atau kamu mau saya pecat dan saya laporkan polisi?!" ancam Stela penuh kelicikan.

Mbak Sumi tertegun ketakutan, tak berdaya melihat kebiadaban majikan barunya pada darah dagingnya sendiri.

Stela mendorong tubuh Khaisar dan Amora dengan kasar ke dalam gudang yang gelap gulita itu.

Brak!

"Ampun! Jangan dikunci! Amora takut... Bunda Ziva... Bunda tolong Amora..." tangis Amora pecah, menjerit histeris dari dalam kegelapan sambil memukul-mukul pintu kayu tebal itu.

"Dengar ya, anak-anak tidak tahu diri!" jerit Stela dari luar, memutar kunci gembok dengan senyum kejam yang puas.

"Kalian menginap di sini sampai malam! Biar kalian tahu rasa akibat berani membangkang pada ibu kandung kalian sendiri! Sampai Aidil pulang pun, jangan ada yang berani buka pintu ini!"

"Buka! Buka pintunya, perempuan iblis!" gedor Khaisar dari dalam dengan sisa tenaganya, merangkul adiknya yang gemetar hebat dan menangis sesenggukan di sudut gudang yang kotor.

Di dalam kegelapan yang menghimpit, Khaisar memeluk erat tubuh adiknya. Air mata kemarahan dan kerinduan tumpah melintasi pipinya yang kotor oleh debu.

"Abang... Amora mau Bunda Ziva... Amora mau pulang sama Bunda..." isak Amora dengan napas tersendat-sendat di dalam pelukan abangnya.

Khaisar meremas baju adiknya, memejamkan mata erat-erat dengan dendam yang makin membatu di dalam dadanya.

"Sabar ya, Dek... Abang di sini. Abang janji, suatu hari nanti kita akan keluar dari rumah neraka ini dan cari Bunda Ziva..."

Sementara di luar, Stela melangkah santai kembali ke sofa, mengibaskan tangannya seraya tersenyum puas. Ia merasa menang karena telah membungkam anak-anaknya yang membangkang, tanpa peduli bahwa benih kehancuran dan pembalasan dendam sedang tumbuh makin tajam di dalam gudang gelap tersebut.

1
nely_48
semoga allah kasih azab buat stela jatuh tisoledat trs keguguran n lumpuh,,, mitamit jabang kebo ih pd stela
sutiasih kasih
aidil... km mndinh pke rok deh...
jdi laki kok banci amat😅😅😅
nely_48
bersinarlah zivana,,, awali hidup dgn status br mu,jgn lupa bahagia lah trs
Lee Mba Young
Berarti ortu aidil gk punya kuasa, buktinya gk bisa memiskin kn aidil kan. stela yg berkuasa.
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
Lee Mba Young
khaisar sdh besar kn, hrse kabur lah bawa adikmu ke rumah nenek.
Oma Gavin
memang rumah orang kaya ngga ada cctv nya ? tinggal cek cctv aja keburu mati mereka berdua, stela itu sakit jiwa psikopat gendeng
Oma Gavin: ketutup selangkangannya stela 🙈
total 2 replies
Elina thea
ada yah ibu kayak Stela,gak punya hati...
sunaryati jarum
Bicaramu kasar amat ,sama pegawai yang lebih tua,Tuan Melvin.Isi perkataan anda tidak salah ,cuma penyampaian yang kurang menghormati orang yang lebih tua walaupun bawahan.Tapi ternyata pak Roni juga gitu meremehkan orang dari status pekerjaan.Semoga analisis yang dipaparkan nanti benar-benar benar membuat perubahan terhadap peningkatan konsumen
Talnis Marsy
waduh ..masak sarjana mau jadi OB???
sunaryati jarum
Semoga jalanmu meniti karir terbuka dan sukses Ziva
sunaryati jarum
Selamat sudah bebas Ziva,semoga mendapatkan jodoh yang baik dan setia.Aidil segera menerima akibat dari perselingkuhannya dengan Stela.
nely_48
dr OG ganti tempat lgsg jd aspri cio 😝😝
nely_48
status baru,, nyi randa zivana nih
Oma Gavin
Alhamdulillah siva kamu bisa diangkat jadi assistent melvin biar mantan makin meradang
Muft Smoker
akhirny ziva bebas dr laki2 Medusa bin plin plan macam aidil ,,
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
Oma Gavin
akhirnya resmi bercerai aku masih nunggu aidil terima karna buah perbuatan lucknut nya selingkuh di kamar nya dgn stela, pasti stela sudah jadi nyonya aidil seutuhnya dan jadi ratu tinggal prentah pembantu maupun aidil
Muft Smoker
Ma, tos lami teu lieur ningali kalakuan aranjeunna... Iraha aranjeunna hirup susah pisan nepi ka aranjeunna terang rarasaan stela nona oray... Kuring masih ngarasa kawas kuring nu unggul, Ma...
Rieya Yanie
aidil kok ceo lemah trs bodoh
Juvie Ja: angkara nafsu dan cinta buta
total 1 replies
nely_48
kk outhor tlg lah jgn sampai aidil menikahi s pewangi ruangan stela ya ,, kasian anak² kena mental
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
nely_48
sungguh parah kau aidil,, anak² jd korban
kasian khaisar n Amora jd broken home
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!