NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Chat dari Rizki

Jam sembilan malam, Nadia baru selesai cuci piring di mess putri.

HP nya bergetar. Notifikasi WA masuk, nama yang sudah lama tidak muncul.

Rizki.

Nadia kaget, tangannya berhenti lap piring. Sudah dua minggu sejak putus di mess tamu ber-AC itu, Rizki tidak pernah chat lagi.

Ia buka chat nya.

Rizki kirim dua foto. Foto pertama adalah foto di gudang arsip, Nadia dan Arif terjebak, lampu mati. Foto kedua adalah foto tadi pagi, Nadia pegang baju Arif di jalan setapak gelap.

Di bawah foto, ada tulisan:

"Dia ini lagi, Nadia? Kamu lembur sampai jam 8 malam sama dia terus? Pantas kamu putusin aku kemarin."

Nadia baca chat itu, dadanya sesak. Jadi Karin memang kirim foto kedua itu ke Rizki juga.

Ia tarik napas, coba jawab pelan.

"Bukan seperti yang kamu pikir, Ki. Kami memang lembur, disuruh Pak Hendra, laporan harus kirim ke pusat. Jalan belakang itu licin, habis hujan, jadi aku pegang baju biar gak jatuh. Itu aja."

Tidak sampai semenit, Rizki balas.

"Alasan terus, Nadia. Foto pertama kamu bilang kejebak pintu macet di gudang arsip. Foto kedua kejebak hujan, pegang baju. Besok foto apa lagi? Aku guru sejarah, Nadia, aku ngerti pola. Kalau dua kali kejadian sama, itu bukan kebetulan lagi."

Nadia gigit bibir, air matanya mau keluar, tapi ia tahan. Ia ingat pesan Arif: kalau difoto lagi, jelasin aja yang sebenarnya.

"Ki, aku gak bohong. Kamu bisa tanya Pak Hendra, manager pabrik. Dia yang suruh kami lembur. Atau tanya satpam. Kami kerja di bagian timbangan lapangan sekarang, memang harus pulang lewat situ kalau hujan. Aku gak ada hubungan apa-apa sama Arif, kami cuma rekan kerja."

Rizki kirim voice note, suaranya agak keras.

"Nadia, kamu itu dulu waktu sama aku, jam 7 malam aja sudah aku suruh pulang ke kos, takut gelap. Sekarang kamu jam 8 malam masih di pabrik sama laki-laki lain, jalan gelap-gelapan, pegangan baju. Kamu berubah, Nadia. Pabrik itu sudah ubah kamu."

Nadia dengerin voice note itu, nangis pelan, tapi tetap ketik balasan.

"Aku gak berubah, Ki. Aku masih Nadia yang dulu. Cuma tempat kerja aku sekarang memang di lapangan, bukan di kantor AC lagi. Kalau kamu gak percaya, datang aja ke sini, lihat sendiri. Jangan cuma lihat foto dari Karin."

Setelah nama Karin disebut, Rizki lama tidak balas. Centang dua biru, tapi tidak ada ketikan.

Lima menit kemudian, Rizki balas pendek.

"Karin cuma kasih info, dia peduli sama kamu. Dia bilang kamu di pabrik dikucilkan gara-gara laki-laki itu. Aku sebagai mantan, wajar khawatir."

Nadia ketawa pahit, baca kata "peduli".

"Peduli? Karin yang sebar foto pertama ke grup WA pabrik, Ki. Gara-gara dia, aku dikucilkan seminggu. Dia juga yang kirim foto kedua ini ke kamu kan? Itu bukan peduli, itu mau ngancurin aku."

Rizki balas lagi, kali ini agak ragu.

"Masa sih? Karin bilangnya dia dapat dari grup WA pabrik, bukan dia yang sebar."

"Grup WA pabrik itu awalnya dari Pak Bambang yang lihat kami kejebak di gudang, tapi yang pertama kali kirim ke kamu itu Karin, Ki. Kamu cek tanggalnya, foto itu dikirim Karin ke kamu jam 9 malam, padahal di grup WA pabrik baru rame jam 6 pagi besoknya. Berarti Karin duluan yang punya foto itu."

Nadia kirim bukti screenshot tanggal kiriman Karin yang dulu Rizki pernah forward ke dia waktu putus.

Rizki tidak balas lagi. Lama.

Di mess putra, Arif baru selesai sholat Isya, lihat HP, ada chat dari Nadia: "Arif, Rizki chat lagi, dia dapat foto kedua dari Karin."

Arif langsung telepon Nadia, tidak chat.

"Halo, Nadia, kamu gak apa-apa?" tanya Arif, suara khawatir.

Nadia jawab sambil nangis kecil.

"Gak apa-apa, cuma capek jelasin terus ke Rizki. Dia dapat foto kita yang pegang baju tadi dari Karin lagi."

"Ya ampun, Karin lagi? Orang itu gak capek apa?" kata Arif, agak kesal.

"Iya, dia kirim ke Rizki, bilang aku berubah gara-gara pabrik," jawab Nadia.

Arif diam sebentar, mikir.

"Nadia, kamu mau aku temuin Rizki gak? Aku jelasin langsung, kalau kami cuma rekan kerja. Aku gak enak kamu terus disalahin gara-gara foto sama aku," kata Arif.

Nadia langsung geleng, walau di telepon tidak kelihatan.

"Gak usah, Arif. Ini urusan aku sama Rizki, sudah selesai. Kami sudah putus. Aku cuma gak mau dia terus difitnah sama Karin, mikir aku yang aneh-aneh. Biarin aja, nanti juga dia ngerti sendiri."

"Ya udah, kalau kamu butuh apa-apa, bilang aja ya. Aku di sini," kata Arif.

"Terima kasih ya," jawab Nadia.

Telepon tutup.

Jam sepuluh malam, Rizki chat lagi, tapi kali ini nadanya beda, lebih pelan.

"Nadia, maaf ya, tadi aku keras. Aku habis lihat foto itu, emosi. Aku coba tanya Karin lagi, dia agak gugup jawabnya. Mungkin kamu benar. Kamu baik-baik di sana ya. Jaga diri."

Nadia baca chat itu, senyum tipis, lega sedikit.

"Iya, Ki. Makasih. Kamu juga baik-baik di Padang Panjang ya, ngajarnya semangat."

"Ya. Kalau ada apa-apa di pabrik, cerita aja, gak apa-apa. Aku masih anggap kamu teman," balas Rizki.

Nadia tidak balas lagi, hanya love chat nya, lalu matikan HP.

Ia buka buku catatannya, tulis: "Hari ini Rizki chat lagi, dapat foto kedua dari Karin. Capek jelasin, tapi sudah tidak nangis keras kayak dulu. Ada Arif yang telepon, bilang mau bela."

Di mess putra, Arif tulis di notes HP: "Nadia dapat chat dari Rizki lagi, gara-gara foto pegang baju. Karin lagi-lagi kirim foto. Aku tawarkan temuin Rizki, tapi Nadia gak mau. Dia sudah lebih kuat sekarang."

Foto kedua yang dikirim satpam dengan niat lapor, sampai ke tangan Karin, lalu Karin kirim lagi ke Rizki dengan bumbu cerita, bikin salah paham lagi.

Tapi kali ini, Nadia tidak langsung putus asa, tidak langsung nangis semalaman, karena ia sudah punya satu orang di lapangan yang percaya sama dia, yang tadi siang kasih teh kotak dan gorengan bukan karena kasihan, tapi karena sudah ngerti yang sebenarnya.

Dan besok, Karin akan datang langsung ke ruang timbangan lapangan, bawa kue, pura-pura minta maaf.

Bersambung

---

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!