NovelToon NovelToon
Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ulva k

Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.

Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.

"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."


Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.

Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.

Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?

Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 22

Aku ambil keputusan besar.

Hari ke-7 setelah Bapak bilang kasih izin seminggu lagi, tepat jam 6 pagi, Aku dan bapak langsung ke terminal. Tapi ke Jakarta. Jauh. Paling jauh dari kampungku.

Keputusan itu aku ambil malam hari ke-6. Habis sholat Isya di kamar ibu, pakai mukena putih ibu.Aku sholat 5 waktu sudah 6 hari, tidak bolong. Gamis putih ku sudah benar-benar putih. Tidak ada bayangan merah lumpur kuburan ibu lagi. Sudah aku cuci 5 kali pakai air sumur. Sudah aku setrika pakai setrika arang peninggalan ibu.

Aku bukan santriwati lagi. Di papan pengumuman pondok Al-Hidayah, namaku masih dicoret: Laila - DIKELUARKAN karena fitnah dan mencemarkan nama pondok.

Aku tidak akan jadi ustadzah yang ngajar ngaji di surau kayu. Aku cuma gadis desa yang mau mengabdi di rantauan. Kerja apa aja. Jadi pembantu, jadi pelayan toko, jadi tukang cuci. Yang penting jauh dari kampung ini. Yang penting bisa melupakan hal-hal yang telah merusak segalanya dengan ikhlas. Katanya ikhlas.

Rasanya berat sekali. Pagi jam 6 di terminal Sebulu, Bapak antar aku pakai motor . Bapak pakai baju koko .

Aku pakai gamis putih yang sudah benar-benar putih itu, Di dalam tas ransel hitam, ada mukena putih ibu , ada Al-Quran kecil yang ibu belikan dulu, ada koper kecil.

Tidak ada flashdisk merah di tas ku. Flashdisk merah asli yang dingin itu aku tinggal di rumah. Di dalam kotak kayu tempat jarum pentul ibu, di atas meja kayu, dekat foto kecil ibu yang sobek pinggirnya. Bapak yang simpan.

Bapak tidak nangis pas di terminal. Bapak cuma pegang tangan ku yang kapalan.

"Laila, kamu yakin mau ke Jakarta? Jauh. Tidak ada Mami Asih di sana. Tidak ada kos pink pudar lagi," Bapak tanya.

Aku angguk. Air mata ku jatuh pertama kali hari itu. Deraian air mata pertama sejak ibu meninggal yang benar-benar deras.

"Pak, Laila bukan santriwati lagi. Laila cuma gadis desa yang ingin kerja saja. Lupakan semuanya. Ikhlas, Pak."

Bapak angguk. Bapak kasih amplop coklat. Isinya uang.isinya 3 juta uang tabungan yang awalnya untuk uang bulanan Laila dipondok

Tapi sekarang uang itu bukan lagi uang bulanan.

"Buat tiket bus sama makan beberapa hari di Jakarta. Selebihnya Bapak tidak punya lagi."

Aku peluk Bapak. Pertama kalinya peluk Bapak setelah 10 hari ibu meninggal. Baju koko Bapak bau asap tungku.

Bus Jakarta berangkat jam 6.30. Aku naik. Duduk di kursi paling belakang. Bapak masih berdiri di terminal. Kecil. Sendirian. Tanpa ibu lagi di rumah papan. Tanpa aku lagi nanti.

Rasanya berat sekali pergi jauh dari seorang bapak yang melindungi ku dari segi apapun. Dari fitnah pondok, dari omongan orang kampung.

Namun apalah daya. Aku harus pergi.

Sebelum berangkat ke terminal bersama Bapaknya tadi pagi jam 5.30, aku sudah kirim surat. Bukan lewat HP, tapi surat tulis tangan, pakai kertas buku tulis anak SD, pakai pulpen hitam. Aku tulis jam 3 subuh, di kamar ibu, habis tahajud pakai mukena ibu.

Surat itu aku titip ke Ketua RT jam 5 pagi, sebelum ke terminal. Aku bilang, "Pak RT, tolong kasih surat ini ke pondok Al-Hidayah, ke Ustadz Mahmud sama Kyai Rahman. Jangan dibuka di jalan."

Isi suratnya pendek.

Assalamualaikum Ustadz Mahmud dan Kyai Rahman,_

Saya Laila, santriwati yang kalian usir malam hujan. Saya tidak balas dendam dengan video-video di flashdisk merah itu.saya akan pergi jauh dari kampung ini ,saya bukan lagi santriwati lagi.

Tapi kalau kalian berani macam-macam lagi kepada para santri, masih usir santriwati lain dengan alasan tak pantas, masih bilang gila, masih berbuat tak senonoh,maka hari itu juga adalah awal dari kehancuran kalian.

Saya akan pulang dari Jakarta. Bukan pakai gamis putih berlumpur lagi. Tapi pakai bukti asli.

Laila.

Itu ancaman ku. Bukan balas dendam. Aku tulis ancaman, bukan sebar bukti. Biar mereka cemas. Biar mereka tidak bisa tidur nyenyak kayak aku.

Bus jalan jam 6.30. Bapak hilang dari kaca belakang. Jalan becek Sebulu hilang. Pohon jambu air hilang. Rumah papan hilang. Surau kayu tempat tahlilan ibu hilang. Tinggal debu jalan.

Kini Laila pergi dengan deraian air mata pertama, harus pergi mencari mimpi-mimpi baru di kota Jakarta, dengan meninggalkan seorang bapak sendirian di kampung tanpa ibu lagi. Harus mengikhlaskan kejadian yang membuatnya benci terhadap orang-orang suci.

Aku lihat keluar jendela bus. Sawit-sawit lewat cepat. Aku pegang tas ransel ku. Di dalam ada mukena putih ibu yang sobek ujungnya. Tidak ada flashdisk merah.

Tapi di dalam benak hati seorang Laila, jauh di dalam, bukan di saku daster bunga-bunga lagi, bukan di kotak kayu jarum pentul ibu lagi, ada satu kalimat yang masih bergetar, masih panas, tidak dingin kayak flashdisk merah yang aku tinggal:

Bukan lain daripada akan pulang balas dendam kepada Kyai Rahman.

Aku mau ikhlas. Aku sudah tulis di surat aku tidak balas dendam. Aku mau jadi gadis desa yang mengabdi di rantau untuk bekerja saja.

Tapi di dalam hati ku yang paling dalam, yang tahu cuma aku dan Tuhan yang baru aku ingat lagi,aku masih simpan satu nama dari 4 nama yang pernah aku tulis pakai lipstik merah di dinding kos pink pudar.

Nama itu Kyai Rahman. Yang punya peci putih paling bersih. Yang punya pondok paling besar.

Bus Jakarta jalan terus. Jam 7 pagi. Pintu rumah di kampung sudah ditutup Bapak mungkin. Dibuka lebar, biar aku pulang kapan saja. Kalau aku mau pulang.

Dan gamis putih ku yang sudah benar-benar putih itu, duduk di kursi bus yang kotor, kena debu jalanan Jakarta.

Dan apakah lembaran baru sejak aku dijakarta nanti akan sesuai dengan harapan ku atau malah sebaliknya!..

1
Garrel
semngat laila💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!