Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 26
Di dalam apartemen mewah yang kini terasa sempit dan mengimpit, bau alkohol murah beradu dengan aroma parfum menyengat. Suara denting botol kaca yang bergeser kasar memecah keheningan malam yang larut.
Adam terduduk di sofa ruang tengah, penampilannya lusuh dengan kemeja kerja bekas kemarin yang kusut dan kancing atasnya terbuka. Sudah tiga minggu ia menumpang di unit milik Arum sejak diusir dari rumah orang tuanya dan diturunkan jabatannya menjadi staf biasa. Gajinya kini dipotong habis untuk membayar kerugian perusahaan, membuatnya tak punya pilihan selain menggantungkan hidup pada wanita yang dulu ia puji-puji.
Pukul tiga pagi. Pintu utama apartemen terbuka dengan bunyi klik yang kasar.
Arum melangkah masuk dengan oleng. Gaun malam hitamnya yang ketat tampak kusut, tatanan rambutnya berantakan, dan aroma wiski murah menguar tajam dari tubuhnya. Ia melempar tas mewahnya ke sembarang tempat sebelum melepas sepatu stilettonya sambil mendesis pelan.
Adam bangkit dari sofa, matanya memerah menahan amarah yang membakar dada. Melihat keadaan wanita yang dia puja dan cintai selama bertahun-tahun. Bahkan demi wanita di depannya ini, dia rela mengabaikan Senja, istri yang selalu menunggunya di rumah dan tak pernah bersikap macam-macam. Apa dia sekarang menyesal saat tahu bagaimana sifat asli dari Arum yang sebenarnya.
"Dari mana saja kamu, Arum?!" bentak Adam, suarasa parau melengking di ruang tengah yang sepi.
"Ini jam tiga pagi! Kamu berjanji cuma keluar sebentar untuk bertemu klien Papi! Kenapa kamu malah pulang dalam keadaan seperti ini? Kamu semakin hari malah semkain parah. Kenapa kamu malah sering mabuk-mabuk seperti ini? kemana Arum yang aku kenal dulu?"
Arum menyipitkan mata, menatap Adam dengan pandangan kabur dan penuh cemoohan. Ia terkekeh hambar, menyandarkan tubuhnya pada meja konsol agar tidak jatuh.
"Berisik baget sih kamu! Bisa diam tidak, Mas? Kepalaku pusing!" racau Arum hambar.
"Kamu tidak berhak mengatur jam pulangkuh! Ini apartemenku, bukan rumah orang tuamu! Setidaknya kamu di sini masih bisa tidur dan makan dengan enak dan tidak menjadi gembel di jalanan setelah di usir dan kehilangan segalanya."
"Aku calon suamimu, Arum!" Adam maju beberapa langkah, mencengkeram kedua bahu Arum dan memaksa wanita itu menatapnya. Namun, begitu pandangan Adam jatuh pada leher dan dada atas Arum yang terekspos gaun rendahnya, napas pria itu tercekat seketika.
Di sana, di balik kulit mulus Arum, bercak-bercak merah kebiruan, tanda percintaan yang sangat baru terpampang nyata di bawah lampu ruang tengah. Darah Adam mendidih. Wajahnya yang pucat berubah menjadi merah padam. Dia tak mengira kalau di luar sana Arum tega mengkhianati dirinya. Padahal Adam sudah begitu percaya dan sangat mencintai Arum.
"Apa ini?!" jerit Adam histeris, menunjuk bercak-bercak merah itu dengan jari gemetar.
"Apa-apaan ini, Arum?! Tanda apa ini di lehermu, hah?! Apa yang kamu lakukan di luar sana? Apa kamu bercinta dengan pria lain?"
Arum menepis tangan Adam secara kasar, tertawa sinis seraya merapikan gaunnya tanpa rasa malu sedikit pun.
"Apa? Kamu buta? Ya tanda percintaanlah! Muka kamu kok panik begitu? Aku di sana bersenang-senang dengan pacarku! Karena aku pusing kalau harus melihhat pria tak berguna seperti kamu!"
Plak!
Adam mencengkeram lengan Arum hingga wanita itu meringis.
"Kamu tidur dengan pria lain?! Di saat aku hancur seperti ini, kamu malah keluyuran dan menyerahkan tu-buhmu pada pria lain?! Kenapa kamu tak memikirkan perasaan aku di sini, Arum? Kamu seharusnya ada saat aku dalam keadaan appaun. Karena semua ini terjadi juga karena adanya campur tangan keegoisan kamu!"
"Lepas, Adam! Sakit!" bentak Arum melengking, mendorong dada Adam dengan sisa tenaganya hingga pria itu terhuyung mundur.
"Kamu pikir aku sudi melayani pria bangkrut dan tidak berguna seperti kamu, hah?!"
"Arum!"
"Dengar ya, Adam!" Arum memajukan wajahnya, matanya menyalang penuh kebencian dan penghinaan.
"Papi butuh dana segar untuk menutupi audit Megah Citra Mandiri! Dan kamu... kamu cuma beban di apartemen ini! Kamu cuma staf biasa yang bahkan tidak mampu bayar sewa kamar mandi!"
Air mata frustrasi menetes di pipi Adam. Pria yang dulu begitu congkak itu kini berdiri telanjang di hadapan kenyataan pahit.
"Aku mengorbankan rumah tanggaku demi kamu, Arum! Aku dibuang orang tuaku, dipukul Papaku, dan kehilangan Senja hanya karena aku memilih kamu!"
"Siapa yang suruh kamu memilih aku?!" potong Arum tajam, kata-katanya menusuk tepat di jantung Adam.
"Kamu yang bodoh! Kamu yang gatal mau tidur denganku di belakang Senja! Sekarang setelah kamu tidak punya uang dan kuasa, kamu mau menuntut setia padaku? Cermin mana cermin?!"
Adam membeku. Suara tawanya yang pahit dan pecah mengudara. "Kamu... kamu benar-benar wanita iblis, Arum."
"Aku realistis!" teriak Arum seraya melangkah menuju kamar tidurnya.
"Besok pagi aku mau apartemen ini sudah bersih dari barang-barangmu. Aku tidak mau calon investor Papi melihat ada bangkai miskin seperti kamu di sini!"
Brak!
Pintu kamar terbanting keras dan dikunci dari dalam. Adam berdiri mematung di kegelapan ruang tengah, menatap pintu kayu itu dengan dada yang hancur berkeping-keping. Bayangan Senja, wanita tulus yang dulu selalu menyambutnya dengan teh hangat dan kesetiaan tanpa syarat hadir menghantuinya bagai mimpi buruk yang tak akan pernah usai.
"Senja... Maafkan aku Senja. Apa tak ada kesempatan untuk kita memperbaiki semuanya? Aku menyesal setelah mengetahui kebiasaan dan sifat asli Arum yang nyatanya sanagt berbeda seperti yang aku duga selama ini..."
Adam jatuh terduduk di depan pintu kamar Arum. Dia menangis sejadinya menyesali semua perbuatannya. Menyadari kesalahan terbesarnya saat menyia-nyiakan berlian yang selama ini menemani dan mengurusnya dengan baik semi seonggok bangkai yang terlihat sangat indah di matanya. Namun penyesalannya terlambat, semua sudah terjadi dan saat ini dia sedang menuai karma dari perbuatannya kepada Senja.