"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Apa?
"Ada masalah apa antara kamu dengan Pak Kio?" tanya seorang karyawan yang tak lain adalah Pak Aldo pada Ayah Riko.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Ayah Riko dengan pandangan bingungnya.
"Kemarin orang suruhan Pak Kio datang ke perusahaan bertemu dengan Bos. Katanya sih dia tanya-tanya tentang kamu, Pak Riko." ucap Pak Aldo menjelaskan.
Deg...
"Ini maksudnya Pak Kio Pramudya atau..."
"Ya benar. Pak Kio Pramudya yang punya kebun sayuran dan buah terluas di beberapa daerah. Dia kan salah satu supplier di semua restorant milik atasan kita," sela Pak Aldo menjelaskan.
Jantung Ayah Riko berdetak sangat kencang mendengar penjelasan dari Pak Aldo. Kemarin Pak Aldo tidak sengaja mendengar obrolan orang suruhan Papa Kio dengan sekretaris atasannya. Namun untuk lebih detailnya, Pak Aldo tidak tahu. Pasalnya orang suruhan Papa Kio itu langsung masuk ruangan atasannya. Jadi lebih baik Pak Aldo langsung bertanya saja pada Ayah Riko.
Sedangkan Ayah Riko saat ini masih shock. Besannya seorang pemilik kebun sayuran dan buah terluas di beberapa daerah? Bahkan kabarnya di kota ini ada kebunnya yang paling luas dibandingkan daerah lain. Namun jika memang kebun Papa Kio ini menjadi supplier utama restorant milik atasannya, itu tidak berpengaruh apa-apa padanya. Hanya saja tadi Pak Aldo mengatakan tentang namanya yang disebut oleh orang suruhan Papa Kio.
"Kamu kenal dengan dia?" tanyanya lagi.
"Enggak. Ngapain aku kenal pemasok atau rekan bisnis dari Pak Zavi? Kan nggak ada hubungannya dengan perusahaan ini. Aku hanya bekerja di sini, bukan pada cabang restorant atau bisnisnya yang lain." ucap Ayah Riko sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa itu orang suruhannya sebut namamu ya? Apa dia lagi cari orang buat mengurus atau membantunya dalam distribusi sayuran dan buah?" ucap Pak Aldo membuat Ayah Riko terdiam.
"Mungkin saja aku akan diberi atau ditawari pekerjaan tambahan. Aku kan orang yang berkompeten dan punya skill mumpuni," ucap Ayah Riko dengan percaya dirinya.
Wah...
"Kalau beneran, makan-makan lah kita." seloroh Pak Aldo sambil terkekeh pelan.
"Aman aja," jawab Ayah Riko sambil terkekeh pelan.
Padahal dalam hati Ayah Riko, dia sudah ketar-ketir sendiri. Dia pikir Papa Kio adalah orang miskin karena hanya memberikan seserahan berupa sayuran dan buah. Namun ternyata faktanya itu berbanding terbalik. Papa Kio ternyata seorang pebisnis dan petani sukses. Hanya saja bukan di bidang property seperti perusahaan tempat kerjanya. Jika Salsa dan Mama Maya tahu mengenai ini, sudah dapat dipastikan mereka tidak akan percaya.
"Tidak mungkin aku akan diajak bekerja atau mengurus restorant yang berhubungan dengan Pak Kio. Jika pun iya, pasti ada rencana untuk keluargaku," gumam Ayah Riko sambil menghela nafasnya kasar.
"Semoga karirku tidak terancam dengan kedatangan orang suruhan Pak Kio," lanjutnya.
***
Reyhan duduk di samping ranjang milik Aluna. Sedangkan Elova duduk di bagian ujung ranjang tepat pada kaki Aluna. Reyhan tak mau berangkat sekolah sampai Aluna diperbolehkan pulang ke rumah. Selain itu, ada alasan lain yang membuat Reyhan enggan bersekolah. Bian sampai kesal sendiri pada Reyhan karena tak berhasil membujuknya. Sedangkan Aluna dan Mama Mila tak masalah jika Reyhan tidak berangkat sekolah.
"Cuma sampai Ibu pulang ke rumah, Pa. Tenang aja, Reyhan itu kan pintar. Bisa lah mengejar ketertinggalan materi," ucap Reyhan memberikan alasan.
"Dengan kehadiran Reyhan dan Lova, ruangan ini jadi ramai. Bisa mengalihkan rasa sakit di punggung. Biar lah sehari dua hari mereka menemani aku, Mas. Nanti aku akan dampingi Reyhan belajar biar nggak ketinggalan pelajaran," bela Aluna sambil mengelus lengan Reyhan.
"Satu hari tuh sama aja kaya set..."
"Lebay Papa ini. Olang tinggal sehali lagi Ibu pulang kok. Mending Papa belikan kami salapan dalipada ngomong telus di sini," sela Elova mengusir Bian yang terus mengoceh.
"Biasanya kamu itu nggak banyak omong, Bian. Kok sekarang jadi kaya burung habis dikasih makan pepaya," ucap Mama Mila menyindir anaknya.
"Bian tuh ingin berduaan sama Aluna, makanya suruh Reyhan sekolah. Terus nanti Lova..."
Papa...
Hahaha...
Papa Kio menyindir Bian yang ingin menghabiskan waktu bersama Aluna. Namun Bian langsung memelototinya dan memberikan peringatan membuat Papa Kio tertawa. Gengsinya Bian itu sudah setinggi langit. Sedangkan Aluna hanya tersenyum tipis mendengar perdebatan itu. Ruangan yang ramai membuat Aluna merasa lebih hidup. Walaupun dia sama sekali tak bisa melihat wajah atau bagaimana ekspresi semua orang di sana.
"Oh... Jadi Papa tuh mau Lopa dititip ke Oma dan Opa bial bisa pacalan sama Ibu? Ndak akan Lopa bialkan. Mending Papa pacalan saja sana sama cangkul sepelti biasanya di kebun," ucap Elova dengan lirikan tajamnya. Bahkan ucapan Elova sudah seperti sebuah sindiran telak jika selama ini Bian memang jarang meluangkan waktu untuk kedua anaknya.
"Rasakan kamu, Bian. Makanya jangan sering-sering ke kebun. Kalau pun ke sana, ajak anak-anak. Pacaran aja sana sama tomat dan kol itu," bisik Papa Kio membuat Bian mendengus sebal.
"Ini kan karena ada orang kebun yang jadi penyusup, jadi Bian sering sibuk di sana." Bian menjadi tak percaya pada orang sehingga lebih memilih mengerjakan dan mengawasi langsung kebunnya. Pasalnya ada beberapa penyusup dari kompetitor yang merusak kebunnya, beberapa tahun lalu.
"Alasan..." Padahal memang benar jika kejadian itu membuat Bian menjadi overthinking.
"Aluna, apa benar kamu bisa melukis?" tanya Papa Kio mengalihkan pembicaraan tentang kebun dan beralih pada kegiatan menantunya.
"Iya, Pa." jawab Aluna sambil tersenyum.
"Mau nggak kalau lukisanmu itu nanti dipamerkan di galery lukis yang ada di dekat mall itu?" tanya Papa Kio dengan senyum penuh arti.
Mama Mila dan Bian langsung melihat ke arah Papa Kio yang tersenyum. Senyuman yang mengandung arti lain dan dua orang itu langsung menyadarinya. Ini bukan sekedar hanya ingin lukisan Aluna dipajang atau dipamerkan saja. Namun Papa Kio mempunyai misi tersembunyi di balik kata pameran. Aluna yang mendengar itu seketika terdiam. Dia tidak yakin jika lukisannya nanti bisa dipajang atau mungkin dibeli.
"Lumayan lho kalau ada yang beli lukisanmu. Buat jajan cilok kalau Bian nggak kasih uang belanja," lanjutnya membuat Bian mendelik sinis. Jika untuk membeli cilok, Bian pun masih mampu.
"Lukisanku tidak sebagus itu, Pa. Apalagi mat..."
"Nak Aluna jangan merendah begitu. Kan selama ini Bibi yang tahu wujud lukisan Nak Aluna,"
"Lihat ini lukisan-lukisan Nak Aluna, Pak." Bibi Tari langsung menyela ucapan Aluna dengan memberikan foto lukisan di galery ponselnya. Setiap kali selesai melukis dan Bibi Tari akan menjualnya, selalu wanita paruh baya itu memotretnya terlebih dahulu.
Astaga...
Indah sekali...
Ini mah Papa bisa buatkan galery sendiri. Orang lukisannya punya khas begini,
Jangan, Pa.
Eh...
br tau sekaya apa aluna.mungkin bisa lebih kaya dari bian..
bagus bagus, biar mereka malu tuh🤣
apalagi captionnya menyebutkan makanan basi, pasti mereka bakalan dihujat itu🤣🤣