Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.
Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!
Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.
Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. MARATON JODOH
Hari ini terasa sangat sepi, seolah-olah seluruh penduduk Desa Ci Sepi sedang menelan nama desa mereka mentah-mentah. Tidak ada pasien yang berkunjung, bahkan lalat pun enggan mampir ke area garasi. Rahsya hanya bisa terduduk lesu, menopang dagu di atas meja periksanya yang dingin.
Bukannya segera menutup klinik darurat itu, pikirannya justru tersangkut pada pengakuan Amel tadi siang. Hatinya terasa perih, persis seperti luka terbuka yang sengaja disiram cairan alkohol.
'Kenapa dia sudah menikah? Kenapa dia harus muncul di saat yang salah? Dan kalau memang dia sudah bersuami, kenapa malam itu dia berani datang ke kamar laki-laki lain?'
Rentetan pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya, menciptakan rasa pening hebat yang seolah tidak ada obatnya.
Ting!
Ponsel di atas meja bergetar, memecah keheningan yang suram. Rahsya melirik malas ke arah layar. Sebuah pesan dari ibunya, Miranti, masuk ke bilah notifikasi. Isinya singkat namun tajam: jika Rahsya sudah menyerah atau belum menemukan calon istri di desa, lebih baik ia segera pulang ke Jakarta.
Di bawah pesan itu, sebuah daftar panjang muncul—deretan nama wanita yang panjangnya bisa bersaing dengan catatan belanjaan emak-emak saat awal bulan.
Miranti menitahkan Rahsya untuk menghafal biodata dan foto-foto mereka agar tidak canggung saat sesi "kencan buta" maraton yang sudah disiapkan oleh sang papa nantinya.
Rahsya menghela napas lelah. Rasanya ingin sekali ia membanting ponsel mahal itu ke lantai, namun logika hematnya masih menang. Sebagai gantinya, ia menyambar pulpen di atas meja dan membanting benda kecil itu sekuat tenaga ke lantai kayu.
"Arrghhh!"
Rahsya berteriak frustrasi, suaranya menggema di garasi yang kosong melompong.
Dengan sisa semangat yang nyaris nol, Rahsya terpaksa membuka kembali pesan dari ibunya.
Jemarinya menggeser layar ponsel dengan malas, menyisir satu per satu biodata "kandidat" calon istri yang dikirimkan Miranti. Tatapannya kosong, tak ada satu pun profil yang sanggup menggetarkan hatinya. Padahal, deretan wanita itu adalah definisi kesempurnaan bagi pria normal: cantik, modis, berpendidikan tinggi, hingga berprofesi mentereng mulai dari dokter, CEO, hingga artis. Namun di mata Rahsya, kecantikan mereka terasa hambar.
Pikirannya justru kembali tertambat pada Kinan. Gadis desa itu punya daya pikat yang tidak masuk akal di benaknya, meski kenyataan pahit bahwa Kinan sudah bersuami terus menghantuinya bagai kutukan.
"Kok belum tutup sih, Kak?"
Suara cempreng itu membuyarkan lamunan Rahsya. Amel melangkah masuk tanpa permisi—seperti biasa—lalu dengan santainya duduk di tepi ranjang periksa pasien sambil mengayun-ayunkan kakinya ke udara.
"Bentar lagi," sahut Rahsya pendek. Ia hanya melirik sekilas, lalu kembali menenggelamkan wajahnya ke layar ponsel.
Amel yang merasa diabaikan mulai didera rasa penasaran. Ia turun dari ranjang periksa, mendekat ke meja kerja Rahsya dan berusaha mengintip dari balik bahu pria itu.
"Lagi lihatin apa sih? Fokus amat kayak lagi menangani operasi bedah jantung," sindirnya.
Dengan gerakan cepat, Rahsya mematikan layar ponselnya dan membaliknya di atas meja. "Nggak usah kepo," ketusnya.
Amel mencebikkan bibir, merasa kesal. "Ck, pelit amat sih jadi orang! Daripada cuma diam saja di sini nungguin pasien yang enggak kunjung datang, mending kita ke pasar malam yuk, Kak?" ajak Amel dengan mata berbinar antusias.
"Pergi saja sendiri. Enggak usah ajak-ajak saya," tolak Rahsya tanpa ragu.
Amel mencondongkan tubuhnya, memastikan pendengarannya tidak salah. "Yakin nih enggak mau ikut? Ramai lho di sana."
"Yakin sejuta persen. Sana pergi, hus... hus!"
Rahsya mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu.
Amel menghentakkan kakinya ke lantai, lalu berbalik keluar dengan bahu yang merosot karena kecewa.
****
Pukul delapan malam, Amel benar-benar pergi ke pasar malam. Ia menyewa jasa tukang ojek yang biasa mangkal tak jauh dari vila keluarga Rahsya. Rahsya hanya melirik dari balik jendela kaca saat lampu motor ojek itu bergerak menjauh meninggalkan halaman. Ia kemudian memilih duduk di ruang tengah, menyalakan televisi untuk menonton pertandingan sepak bola tanpa memedulikan kepergian gadis itu.
"Den Rahsya, ini singkongnya sudah matang," ucap Pak Mamat yang tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan membawa sepiring singkong rebus yang masih mengepul panas. Aroma gurih singkong pemberian Pak Udin itu seketika memenuhi ruangan.
"Iya, makasih banyak ya, Pak."
Saat Pak Mamat hendak kembali ke dapur, Rahsya menghentikannya dengan gerakan tangan. "Sini, Pak. Duduk di sini saja, temani saya menonton bola biar enggak sepi-sepi amat."
Pak Mamat mengangguk patuh, lalu duduk di sofa yang berada tepat di seberang Rahsya.
Satu jam berlalu, pertandingan bola di televisi sudah hampir mencapai peluit panjang. Pak Mamat berulang kali mengecek jam di layar ponselnya. Pukul 21:15 malam.
"Neng Amel kok belum pulang ya, Den?" tanya Pak Mamat dengan raut wajah cemas. Ia mulai gelisah, posisi duduknya tidak lagi tenang.
"Mungkin sebentar lagi. Dia sudah besar, Pak, bukan anak kecil lagi. Enggak mungkin dia nyasar di pasar malam," sahut Rahsya santai, meski matanya tetap terpaku pada layar televisi.
"Tapi perasaan saya enggak enak, Den. Bagaimana kalau Neng Amel kenapa-kenapa di jalan?"
"Nggak usah berpikir negatif begitu, Pak. Berdoa saja," balas Rahsya, mencoba menenangkan kegelisahan pria tua itu.
Pak Mamat akhirnya berdiri dari sofa. "Kalau boleh, saya mau izin menjemput Neng Amel sekarang, Den. Pak Cahya sudah berpesan khusus ke saya untuk menjaga keselamatan Neng Amel selama berada di sini."
Rahsya terdiam sejenak. Ia melirik ke arah luar jendela yang kini sepenuhnya tertutup kegelapan pekat. Bayangan hantu penunggu telaga semalam tiba-tiba melintas kembali di pikirannya. Jika Pak Mamat pergi menjemput, itu berarti ia akan ditinggal sendirian di vila luas ini.
"Biar saya saja yang jemput, Pak. Bapak di sini saja, jagain vila," ucap Rahsya cepat, nyaris memotong kalimat Pak Mamat.
Tanpa menunggu balasan lagi, ia segera menyambar kunci motor dan jaket kulit hitamnya yang tersampir di sandaran kursi kayu. Sejujurnya, Rahsya lebih memilih menembus pekatnya angin malam di luar daripada harus terjebak sendirian di ruang tengah vila, yang mendadak terasa mencekam dengan bayangan-bayangan aneh di sudut matanya.
Brummm!
Raungan mesin motor sport milik Rahsya membelah kesunyian Desa Ci Sepi. Ia memacu kendaraannya menyusuri jalanan aspal yang berkelok, melewati deretan pohon jati yang tampak seperti raksasa hitam di bawah sorot lampu motor. Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Rahsya untuk mencapai lapangan luas di pinggir desa yang kini disulap menjadi pusat keramaian pasar malam.
Cittt!
Ban motornya berdecit halus saat Rahsya memarkirkan tunggangannya di area parkir khusus yang dijaga oleh pemuda setempat. Ia melepas helm fullface-nya, menampakkan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu merapatkan ritsleting jaket kulitnya. Udara di lapangan terbuka ini terasa beberapa derajat lebih dingin, menusuk hingga ke tulang.
Suasana pasar malam begitu riuh, sangat kontras dengan kesunyian vila yang baru saja ia tinggalkan. Lampu warna-warni dari wahana kincir ria dan komidi putar tampak berpendar terang, memantul di manik mata Rahsya.
Ribuan orang berlalu-lalang; anak-anak kecil yang membawa balon, hingga remaja yang sibuk berswafoto. Pedagang kaki lima dengan gerobak jagung bakar dan gulali berjajar rapi, aromanya bercampur dengan bau asap mesin wahana.
Suara musik dangdut dari pengeras suara stan permainan beradu dengan teriakan melengking para pengunjung yang sedang menguji nyali di wahana ombak banyu. Rahsya berdiri diam sejenak di tepi lapangan, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya yang tajam menyisir kerumunan, mencari sosok gadis dengan hoodie hitam dan rambut dicepol yang mungkin saja sedang asyik bermain TikTok di tengah keriuhan ini.
"Di mana bocah itu..." gumam Rahsya pelan sembari merogoh ponsel di sakunya, berharap sinyal di tempat ini cukup kuat untuk sekadar mengirim pesan singkat.
"Di mana kamu? Saya datang mau jemput kamu. Saya tunggu di parkiran. Sekarang!"
Rahsya mengetik pesan singkat itu dengan jempol yang bergerak cepat penuh penekanan. Ia mengembuskan napas kasar, lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku celana jins.
Rahsya menyandarkan punggungnya pada jok motor sport-nya, bersedekap dada sambil memperhatikan hiruk-pikuk pintu masuk pasar malam. Ia merasa terlalu malas—dan gengsi—jika harus repot-repot menyelinap di antara kerumunan manusia hanya untuk mencari bocah TikTok itu.
"Lebih baik saya tunggu di sini saja," gumamnya ketus.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Pesan itu tak kunjung berbalas. Rahsya kembali merogoh ponselnya, menyalakan layar yang cahayanya kontras dengan kegelapan area parkiran.
"Dia ke mana sih?" gerutu Rahsya.
Alisnya bertaut rapat melihat status pesannya yang bahkan belum dibaca sama sekali. "Masa gue harus mencari dia ke dalam?"
Kesabarannya menipis. Rahsya akhirnya memutuskan untuk menelepon langsung. Suara nada sambung terdengar di telinganya, namun hingga dering terakhir, Amel tak kunjung mengangkat panggilan tersebut.
Rahsya mendengus, jemarinya kembali menekan tombol panggil dengan gerakan emosional. Kali ini, pada dering ketiga, panggilan itu akhirnya tersambung.
"Di mana kamu?! Kenapa susah banget dihubungi?" semprot Rahsya tanpa basa-basi.
Suaranya meninggi, bersaing dengan suara bising wahana di kejauhan. "Kamu sengaja bikin saya lumutan nungguin kamu di sini?!"