Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Masih Perawan
Jamuan makan malam itu berakhir dengan cara yang teramat sopan. Sesuatu yang terjadi di luar rencana karena ibu Milka tiba-tiba menelepon.
Meski demikian, hanya satu orang yang benar-benar menikmati pertemuan ini.
"Setidaknya ... malam ini aku melihat sendiri bagaimana dia berusaha bertahan." gumam Theo pelan.
Pintu lift rumah sakit tertutup perlahan. Theo berdiri seorang diri di dalamnya. Senyum ramah yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang, berganti tatapan dingin yang nyaris tanpa emosi.
"Turun ke basemen."
Pintu lift terbuka. Bonar dan Naga sudah menunggu di area parkir privat.
"Mobil siap, Big Boss."
Theo hanya mengangguk. Mobil SUV mewah berwarna gelap itu melaju meninggalkan area rumah sakit. Di dalam kabin, suasana begitu sunyi.
Theo menyandarkan kepala pada sandaran kursi sambil memejamkan mata, mengingat kejadian barusan. Namun, bayangan wajah Milka yang berusaha menahan amarah di hadapan Vando terus berputar di benaknya.
'Kamu terlalu memaksakan diri.'
Ia mengenal Milka semenjak gadis itu masih duduk di bangku SMA. Bahkan saat masih SMA, gadis itu tak pernah gentar membantahnya yang kala itu menjadi Ketua OSIS yang juga Kapten Tim Taekwondo. Berkali-kali mereka beradu mulut, dan itu salah satu alasan yang membuat Theo terus memperhatikannya.
Di mana, semua civitas akademika di sekolah, selalu saja memuja dirinya. Apalagi, sebagai putra seorang Arnoldy Darmawan, yang dikenal hingga ke penjuru negeri.
Theo perlahan membuka mata. "Ke markas."
Bonar yang duduk di kursi depan langsung mengangguk. "Baik, Big Boss."
Beberapa saat kemudian, setelah sampai di tempat yang dimaksud, tanpa basa basi Theo langsung memberi titah pada hacker yang duduk di jajaran komputer di ruang bawah tanah ini.
"Status target."
Seorang pria berkacamata segera berdiri dari kursinya.
"Target Delvando Argianda sudah dalam pengawasan penuh."
"Beri Laporan terbaru!"
Monitor terbesar langsung menyala. Seorang wanita muda memutar rekaman. Layar menampilkan ruang kerja Vando siang ini, mungkin. Tak lama kemudian ... Irana masuk.
~Wanita itu langsung duduk di atas pangkuan Vando dan bersandar di dadanya.
Beberapa menit kemudian ... Mereka berciuman. Ruangan bawah tanah mendadak menjadi sunyi.
"Yah, sayang sekali. Padahal aku pengen ikut," rajuk Irana.
"Mau gimana lagi. Katanya Dokter Theodore memintaku membawa pasangan. Rencana aku akan membawamu. Namun, ternyata mereka sudah tau bahwa aku telah menikah."
Tangan Vando mengusap rambut Irana menariknya sampai ke belakang telinga.
"Tapi nggak, apa kok Bang. Kalau kita dapatkan mereka, kita bisa melanjutkan rencana berikutnya."~
Theo memandang rekaman itu cukup lama. Tatapannya semakin dingin.
"Masih ada?"
"Masih, Boss." Video berikutnya diputar.
Vando menggenggam tangan Irana.
~"Sayang sekali ya, tadi malam kita gagal tidur di rumahmu karena Milka tiba-tiba pulang cepat," ucap Irana.
"Ya, aku juga heran, entah kenapa akhir-akhir ini dia tampak lebih santai dibanding dulu. Bahkan, tadi malam kami menikmati sup buatanmu," ucap Vando.~
Rahang Theo mengeras.
Untuk pertama kalinya di malam itu, tatapannya kehilangan ketenangan yang selalu ia latih.
Ruas-ruas jarinya memutih karena mengepal terlalu kuat.
"Mereka benar-benar sampah," gumam Theo.
~"Tapi, nggak apa. Tadi malam itu berasa berada di trap show gitu, seru," ucap Irana tanpa rasa malu. "Lain kali kita coba lagi," tambahnya tersenyum puas.
"Jangan! Tadi malam saja dia udah curiga. Jangan main-main dengannya. Bahkan, dia sadar, masakan tadi malam itu buatanmu," ucap Vando
"Oh ya? Bagus lah. Semakin cepat dia tau malah semakin bagus. Biar dia sadar, dia itu telah menyia-nyiakanmu. Setelah kalian berpisah, kamu harus segera menikahiku." Irana mulai menuntut pria itu.
Vando tampak sedikit membeku. "Lagipula... aku belum pernah menyentuhnya sebagai istri yang sesungguhnya."
Irana menatap tajam.
"Kalau buru-buru bercerai sekarang, bukankah aku yang rugi?"~
Krek...
Gelas kaca di tangan Theo retak.
"Simpan rekaman itu! Aku muak mendengarnya!"
Tak seorang pun di ruangan itu berani bersuara. Bonar dan Naga saling berpandangan.
Sudah lama ... Mereka tidak pernah melihat Big Boss semarah ini.
Theo meletakkan gelas yang telah retak itu di atas meja.
"Kita tinggal menunggu bom waktu itu meledak. Semua harus tetap memantau mereka. Jika ada hal baru, segera laporkan!"
Semua anggota serentak berdiri tegak.
"Siap, Boss!"
Theo melangkah perlahan ke depan layar. Matanya tak lepas dari wajah Vando.
"Perbanyak bukti untuk menghancurkannya!"
Bonar dan Naga sikut-sikutan. "Wah, Boss harus bergerak cepat, nih. Ternyata, Bu Polisi kita masih perawan," bisik mereka di belakang Theo.
Theo mendengar bisikan itu. Tangannya mengepal. Lalu, ia mengangguk. Theo menutup mata sesaat.
'Aku tidak akan membiarkan Milka terus hidup bersama sampah seperti dia.'
.
.
.
Keesokan hari.
Vando menyetir mobil dengan wajah jauh lebih cerah dibanding tadi malam.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa setiap gerakannya telah diawasi.
"Aneh."
Irana menoleh. "Apanya?"
"Itu dokter."
"Theodore?"
"Iya." Vando mengetukkan jari di setir.
"Aku merasa pernah lihat dia."
Irana tertawa kecil. "Dokter terkenal kan memang sering masuk berita."
"Bukan karena itu." Vando menggeleng.
"Rasanya jauh sebelum itu."
Ia mencoba mengingat. Seorang siswa. Koridor sekolah. Tatapan tajam. Lalu ...
Seorang anak laki-laki yang pernah ia dorong agar menjauh dari Milka. Vando mengernyit.
Mata Vando sedikit membesar.
"Theo ..." Nama itu hampir keluar dari bibirnya. Namun sedetik kemudian ia menggeleng.
"Nggak mungkin."
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣