Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Transaksi di Atas Kertas
Ruang rapat itu terasa makin menghimpit. AC sentral yang mengembuskan udara dingin seolah tak mampu mendinginkan suhu di antara Arvin dan Dania.
"Pak Hendra, tolong siapkan dokumen Perjanjian Pra-Nikah sekarang juga," perintah Arvin tanpa mengalihkan pandangannya dari Dania. Suaranya datar, namun penuh penekanan.
Pak Hendra mengangguk pelan, menyodorkan beberapa lembar kertas kosong dan pen khusus. "Silakan masukkan poin-poin khusus yang ingin Anda berdua sepakati."
Arvin mengambil pena, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menatap Dania dengan senyum remeh yang menghiasi bibirnya.
"Karena kamu sudah setuju untuk main dalam 'permainan' ini, kita harus buat aturan yang jelas," ujar Arvin dingin. "Aku tidak suka ada benalu yang mencoba mencampuri kehidupan pribadiku."
Dania membalas tatapan itu tanpa gentar, meski dadanya bergemuruh menahan kekesalan. "Silakan sebutkan aturan Anda, Tuan Arvin. Saya juga tidak berniat menjadi bagian dari hidup Anda lebih lama dari yang diperlukan."
Arvin menyesap napas pendek, lalu mulai menyebutkan poin pertamanya.
"Poin pertama: Pernikahan ini rahasia. Tidak boleh ada media, tidak ada resepsi, dan tidak ada anggota keluarga besar yang tahu selain pihak yang berkepentingan di perusahaan. Di mata publik, kita tidak punya hubungan apa pun."
"Setuju," sahut Dania cepat. "Saya juga tidak mau nama saya terseret dalam drama keluarga kaya Anda."
Arvin mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan jawaban cepat Dania, namun ia segera melanjutkan.
"Poin kedua: Pisah kamar dan tidak ada kontak fisik. Kita tinggal di penthouse milikku demi formalitas jika ada pemeriksaan dari pihak kurator warisan, tapi kita hidup masing-masing. Kamu dilarang menyentuh barang-barangku atau memasuki area pribadiku."
"Tambahkan satu hal di poin itu," potong Dania tegas. "Poin itu berlaku dua arah. Anda juga dilarang campur tangan dalam urusan pribadi saya, pekerjaan saya, atau melanggar privasi saya."
Jemari Arvin yang memegang pena sempat terhenti sejenak. Mata tajamnya meneliti wajah Dania. Wanita di depannya ini sama sekali tidak menunjukkan sikap cemas atau memohon seperti wanita-wanita lain yang pernah mencoba mendekatinya.
"Poin ketiga," lanjut Arvin seraya menuliskan poin tambahan Dania. "Tenggat waktu satu tahun. Setelah satu tahun dan pengalihan saham dari kakek resmi selesai secara hukum, kita bercerai secara diam-diam. Kamu akan menerima kompensasi sesuai yang tertera di perwalian kakek, dan setelah itu kita jadi orang asing lagi."
"Sempurna," kata Dania lancar. "Satu tahun sudah lebih dari cukup."
Dania lalu memajukan tubuhnya, menatap lurus ke arah Arvin. "Sekarang giliran saya yang mengajukan syarat."
Arvin terkekeh sinis. "Kamu pikir kamu punya posisi untuk menawar?"
"Saya punya," balas Dania tanpa ragu. "Wasiat itu membutuhkan persetujuan kedua pihak. Tanpa tanda tangan saya di dokumen pernikahan nanti, saham kakek Anda akan jatuh ke tangan Dion—sepupu yang sangat Anda benci itu. Jadi, dengarkan syarat saya."
Rahang Arvin mengeras. Ia benci diintimidasi, terlebih oleh wanita yang baru ia temui sejam yang lalu. Tapi ia tahu kata-kata Dania benar.
"Katakan," desis Arvin.
"Pertama, pembayaran biaya rumah sakit dan operasi adik saya harus dilunasi hari ini juga, sebelum berkas pernikahan didaftarkan," tegas Dania. "Kedua, Anda dan keluarga Anda dilarang merendahkan atau mengusik keluarga saya dalam bentuk apa pun."
Pak Hendra mencatat semua poin itu dengan cermat, lalu mencetaknya ke dalam lembaran kertas perjanjian resmi.
Beberapa menit kemudian, dua eksemplar dokumen Perjanjian Pra-Nikah sudah terhampar di meja.
Arvin mengambil pena bertinta hitam, menandatanganinya tanpa ragu dengan goresan tegas. Ia lalu menggeser dokumen itu ke hadapan Dania. "Tanda tangan di sini. Mulai hari ini, kamu terikat kontrak denganku."
Dania menatap lembaran kertas di depannya. Ini adalah garis batas hidupnya. Satu tanda tangan ini akan mengubah statusnya menjadi istri seorang CEO dingin yang membencinya, namun ini juga satu-satunya cara agar adiknya bisa tetap bernapas.
Dengan tangan yang stabil, Dania membubuhkan tanda tangannya di samping nama Arvin.
Sret. Sret.
"Selesai," gumam Dania seraya meletakkan pena.
Arvin berdiri, membenahi kancing jasnya, lalu menatap Dania dari atas ke bawah. "Besok jam delapan pagi, mobilku akan menjemputmu untuk pendaftaran nikah di catatan sipil. Jangan terlambat satu detik pun."
Tanpa menunggu jawaban Dania, Arvin berbalik dan melangkah lebar keluar dari ruangan rapat. Langkah kakinya yang tegas bergema di koridor.
Setelah pintu tertutup rapat, Dania akhirnya bisa bernapas lega. Bahunya merosot. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit ruangan dengan mata yang terasa panas.
Rehan... Mbak sudah lakukan semuanya demi kamu, batin Dania sambil memejamkan mata erat-erat.
Ia tahu, kehidupan di penthouse Arvin Dirgantara mulai besok tidak akan pernah mudah. Pria itu menganggapnya serigala berbulu domba, dan Dania harus siap menghadapi setiap bahaya yang mengintainya di rumah mewah itu.
Dania membubuhkan tanda tangannya di samping nama Arvin.
Sret. Sret.
"Selesai," gumam Dania seraya meletakkan pen bertinta hitam itu kembali ke atas meja.
Arvin berdiri seraya merapikan kancing jasnya. Ia memandang Dania dari atas ke bawah dengan tatapan dingin yang tak tersentuh. "Besok jam delapan pagi, mobilku akan menjemputmu untuk pendaftaran nikah di catatan sipil. Jangan terlambat satu detik pun."
Tanpa menunggu balasan dari Dania, Arvin berbalik dan melangkah lebar keluar dari ruangan rapat. Langkah kakinya bergema tegas di sepanjang koridor sebelum perlahan memudar.
Setelah pintu jati itu tertutup rapat, Dania akhirnya bisa bernapas. Bahunya merosot. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memejamkan mata rapat-rapat seraya menahan getaran di dadanya.
Pak Hendra yang masih berada di ruangan itu menatap Dania dengan raut simpati. Ia merapikan berkas-berkas perjanjian pra-nikah tersebut ke dalam map tebal.
"Mbak Dania," panggil Pak Hendra dengan suara pelan dan lembut. "Anda baik-baik saja?"
Dania membuka matanya, lalu mengangguk tipis seraya mengulas senyum paksa. "Saya tidak apa-apa, Pak. Terima kasih."
"Tuan Arvin memang pria yang sangat keras dan penuh prasangka, terutama setelah wafatnya Tuan Wijaya," lanjut Pak Hendra seraya menyerahkan amplop berisi bukti transfer dana darurat rumah sakit. "Tapi saya percaya pada penilaian almarhum. Beliau tidak pernah sembarangan memilih orang."
Dania menerima amplop tersebut. Jemarinya gemetar saat melihat stempel pelunasan awal dari dana perwalian kakek Arvin. Satu beban besar yang menghimpit dadanya selama berbulan-bulan mendadak terangkat, meski ia tahu beban baru yang jauh lebih berat kini menunggunya.
Dania berdiri, pamit pada Pak Hendra, dan melangkah keluar dari kantor notaris.
Saat tiba di area parkir bawah tanah gedung, suasana sangat sepi dan remang. Dania berjalan menuju area trotoar luar untuk mencari transportasi umum. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah mobil sedan mewah hitam melaju perlahan dan berhenti tepat di sampingnya.
Kaca mobil bagian belakang menurun secara otomatis.
Di dalam sana, Arvin duduk menyilangkan kaki seraya menatap layar tablet kerjanya. Pria itu bahkan tidak repot-repot menoleh penuh ke arah Dania saat berbicara.
"Masuk," kata Arvin singkat dan dingin.
Dania mengernyit. "Tidak perlu, Tuan Arvin. Saya bisa naik bus atau taksi sendiri."
"Aku tidak minta pendapatmu," potong Arvin seraya menoleh, menatap Dania dengan mata tajamnya yang menusuk. "Pengawal Dion atau wartawan infotainment bisa saja berkeliaran di sekitar gedung ini. Kalau ada yang melihat calon istriku keluyuran naik bus umum sehari sebelum pernikahan resmi diumumkan, itu akan merusak citra perusahaan."
Dania mengepalkan tangannya di samping tubuh. Pria ini benar-benar tidak pernah kehabisan alasan untuk bersikap menyebalkan.
"Saya tahu cara menjaga diri dan rahasia ini," balas Dania tegas. "Tuan Arvin tidak perlu cemas soal reputasi mahal Anda."
Arvin memiringkan kepalanya sedikit. Aura intimidasi kembali terpancar kuat dari dalam mobil. "Dania Kirana, mulai detik ini, setiap gerak-gerik mu adalah bagian dari investasi jutaan dolar milikku. Masuk ke mobil sekarang, atau perjanjian pra-nikah yang baru kamu tanda tangani tadi batal detik ini juga."
Dania membeku di tempatnya. Matanya membakar tatapan dingin Arvin. Ia tahu pria ini sedang memeras posisinya, memanfaatkan fakta bahwa Dania sangat membutuhkan bantuan dana tersebut demi adiknya.
Dengan rahang yang mengetat menahan emosi, Dania mencengkeram tali tas selempangnya, lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Ia duduk di sudut sejauh mungkin dari Arvin dan menghempaskan pintu dengan keras.
BAM!
Sedan mewah itu melaju membelah jalanan kota yang padat. Di dalam kabin yang hening dan dingin itu, Dania menatap ke luar jendela dengan napas menahan amarah, sementara Arvin kembali fokus pada tabletnya dengan senyum tipis kemenangan yang terukir samar di bibirnya.