Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar
**
"Ayo Reyhan, lama banget!"
Reyhan yang mau menyuapkan nasi mendelik sebal. "sebentar sabar pemirsa, saya perlu isi bensin biar bisa gerak. Heran, mau jadi kacung orang aja semangat banget."
Reyhan kembali menyuapkan nasi. Enak sekali makan hari ini. Dia sepertinya sudah menambahkan nasi tiga kali ke piringnya. Gadis itu mungkin sedang kerasukan karena tiba-tiba memasak nasi liwet. Sudah lama sekali lidahnya tidak merasakan masakan ala perkemahan seperti ini lagi. Nasi liwet, ikan asin, sambal terasi, tumis oncom, itu favoritnya Reyhan sekali.
Bukkkk
"Aw!" teriak Reyhan spontan, untung nasi sudah masuk semua ke mulutnya jadi tidak ada yang keluar. "Hobi kali Kau ini pukul-pukul, Awak emang tak ada akhlak."
"Rey, aku udah hitung loh, itu colek nasi udah yang ke berapa. Makanannya dilanjut aja nanti, aku udah bikin bekal buat kamu versi banyak. Anggap aja ini sebagai perayaan hari pertama kerja." Tiba-tiba Ayana mendelik. "Makanya, ayo cepetan Rey! Hari pertama aku harus nunjukin jiwa teladan dalam bekerja."
"Cafe buka jam 9, kamu harus datang jam 8." Reyhan melihat jam di pergelangan tangannya, langsung menggeleng takjub. "Dan ini masih jam 7 pagi. Apa gak terlalu teladan itu?"
Ayana dengan cepat menggeleng. "Enggak! Kan, aku bilang ini hari pertama, besok gak gini lah. Makanya cepetan berangkat, Rey!"
"Ya Tuhan! Rasanya mau aku telen. Iya-iya," jawab Reyhan akhirnya pasrah karena badannya sudah ditarik-tarik. "Aku cuci tangan dulu bentar."
Ayana menatap penuh senyum kemenangan, saat melihat Reyhan yang sudah berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia lalu kembali memasukan nasi ke dalam magic-com, lauk pauknya disimpan dalam wadah yang tertutup. Setelah itu menyimpan piring kotor ke dalam sebuah wadah besar, biar nanti setelah pulang kerja dia bisa langsung mencuci. Saat melihat spray yang sedikit kusut, Ayana kembali merapikannya. Dia selalu tersenyum senang, saat melihat semuanya sudah rapi. Sekarang, Ayana sudah bisa tenang meninggalkan kosan.
Hari ini dia terlampau senang dan semangat karena hari ini pertama bekerjanya. Setelah semalam ketiduran dalam pelukan Reyhan karena ketakutan dan tadi pagi terbangun sudah tidur berjauhan dengan lelaki itu. Lebih tepatnya tidur Reyhan memang seperti kincir angin, tidak bisa berdiam di satu tempat dan gerakan. Ayana bisa bernafas lega karena itu, dia tidak perlu merasa canggung walau cowok itu masih berada di alam mimpi.
Dia terbangun jam 4 pagi dan langsung memasak nasi liwet untuk merayakan hari pertama bekerja. Setelah sembahyang subuh baru dia memasak lauknya. Rencana, dia memang berniat membangunkan Reyhan setengah 6, waktu mepet shalat subuh. Selain jorok, Reyhan memang susah dibangunkan. Dia juga bukan orang yang rajin shalat saat pertama kali mereka hidup bersama, tapi Ayana selalu dididik oleh paman untuk selalu melaksanakan kewajiban itu, jadi dia selalu bawel menyuruh Reyhan untuk shalat. Lelaki itu bukan tipe yang tidak menurut, dia selalu shalat walau harus dibaweli terus. Untungnya, Ayana sekarang selalu melihat Reyhan shalat saat di dalam kosan, tapi tidak tahu kalau saat di luar. Setidaknya, ibadah kewajiban sudah dilaksanakan. Sudah miskin di dunia masa lelaki itu mau miskin di akhirat juga.
(Btw, ini sifat doiku. Jorok, susah dibangunin butuh effort kira2 setengah jam buat bangunin dia. Kalau shalat juga, mesti dibaweli baru dilaksanakan. Sekarang udah mulai shalat tanpa disuruh walau waktunya mepet. Maaf, baca curhatan gak jelas ini 😂)
Ayana sudah menelpon paman dan bibinya tentang kabar ini. Tentu saja mereka senang. Tapi setiap menelpon mereka pasti selalu diselipi nasihat harus berbakti kepada suami, menurut jika itu perintah yang benar. Selalu menjalankan kewajiban dengan melayani suami baik di dapur dan di kasur, selama suami juga bertanggung jawab atas perannya. Untuk masalah dapur, Ayana sudah melaksanakannya tapi untuk urusan kasur tidak deh, akan canggung juga.
Satu hal lagi, mereka menyuruh Ayana untuk menunda punya anak karena mereka masih muda. Ayana sangat malu setiap membahas itu, dia menjawab iya-iya saja. Bagaimana mau punya anak, dia saja sampai saat ini masih perawan. Kayaknya terlalu jauh melakukan hal itu dengan Reyhan, hubungan mereka belum jelas mau dibawa kemana. Dia rasanya masih terlalu kecil juga untuk melakukan hal itu.
"Duduk yang bener, nanti jatuh di jalan raya."
Ayana yang sudah duduk rapi di atas motor, langsung mencubit pinggang Reyhan. Tidak bisa yah, sehari saja lelaki itu mengatakan hal yang baik saja.
"Ngomong sembarangan. Ucapan itu doa!"
"Bercanda," balas Reyhan masih meringis merasakan pinggangnya yang tadi dicubit. "Malaikat bercanda, jangan dicatat, yah!"
"Tidak ada akhlak memang ini lelaki."
Reyhan terkekeh. "Bercanda, tegang kali Kau ini."
"Eh, Neng Ayana mau kemana?" tanya salah satu ibu yang berbadan tambun yang sedang memilih sayuran di amang sayuran keliling.
Ayana meringis, lupa jika ini hari selasa dimana jadwal amang sayur untuk nongkrong di depan kosannya. Selama ini, Ayana kadang lebih sering berbelanja ke pasar yang memakan waktu setengah jam dibanding belanja di amang sayur keliling. Bukannya apa-apa, Ayana hanya tidak tahan dengan pertanyaan julid mereka. Bukan merasa sakit hati, tapi dia selalu tidak tahan ingin membalas omongan mereka sama kasarnya dan menjambak rambut ibu-ibu itu.
"Iya, saya udah mulai kerja," jawab Ayana berusaha masih ramah. Dia kemudian berbisik. "Rey, cepetan! Jangan biarin mereka banyak tanya lagi."
Reyhan yang sudah memakai helm terkekeh. "Siap! Gak tahan, yah?"
Reyhan sudah menyalakan motornya. Untungnya, kali ini motor itu tidak banyak drama seperti biasanya. Kalau dia berdrama lagi saat ini, Ayana benar-benar akan menjualnya.
"Kerja di--"
Bersamaan dengan pertanyaan seorang ibu, motor Reyhan sudah melaju melewati ibu-ibu itu.
"Permisi Ibu-Ibu," ujar Ayana, sementara Reyhan hanya mengangguk kecil dan tersenyum dibalik helm.
"Selamat!" seru Ayana sangat lega.
Reyhan tertawa. "Selamat dari kejulidan ibu-ibu itu, yah?"
Ayana balas tertawa. "Iya. Kamu juga tahu kan, gimana seremnya mereka."
Kemudian, mereka larut dalam tawa saat sama-sama kembali mengingat kejulidan ibu-ibu di sana. Apa memang semua wanita yang sudah menjadi ibu-ibu akan seperti itu, yah?
*
"Kerjaan kamu gak ada yang benar! Saya sudah gak habis pikir! Baru sehari bekerja, sudah memecahkan dua gelas dan berkali-kali salah mengantarkan pesanan ke meja pelanggan!"
Ayana tertunduk mendengar omelan manager wanita yang bernama Bu Miranda. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisnya. Dia tidak mau terlihat lemah.
"Ya sudah, kerja lagi sana! Saya tidak mau mendengar kesalahan kamu lagi hari ini! Kalau masih membuat kesalahan, sebaiknya tidak usah datang lagi besok! Cafe ini tidak membutuhkan karyawan tidak becus seperti kamu!"
Setelah mengatakan itu, Bu Miranda sudah berlalu keluar. Seketika, Ayana langsung terduduk lemas menyandar ke lemari piring di dapur.
Banyak karyawan lain yang tadi melihat Ayana sedang dimarahi. Ada beberapa orang yang datang untuk menyemangati gadis itu, serta menyuruhnya menenangkan diri sebentar sebelum mulai bekerja lagi. Selebihnya, yang lain terlihat abai, bahkan ada yang menertawakan dan mengejeknya.
Ayana tidak mau menangis di sini, tapi dia tidak bisa menahan laju air matanya. Dia tidak tahu rasanya akan sesakit ini saat dimarahi atasan di depan orang banyak. Dia juga pikir bisa dengan mudah akrab dengan karyawan di sini, tapi nyatanya jika dunia kerja beda dengan saat bersekolah dimana dia bisa dengan mudah mendapat teman. Banyak orang yang saling bersaing untuk menjadi yang terbaik di depan atasan. Semua itu hanya untuk karena kebutuhan hidup.
Mental dia langsung drop setelah dimarahi. Padahal, tadi pagi dia sangat bersemangat. Ayana sudah berusaha bekerja dengan sebaik mungkin, tapi dia masih baru dan belum terbiasa. Beberapa kali memang kerap salah mengantarkan pesanan ke meja pelanggan, tapi dia kembali buru-buru dengan pesanan yang benar. Lalu soal gelas yang pecah, dia benar-benar tidak melakukan itu. Walaupun sudah berkali-kali bilang pada Bu Miranda, tapi dia tidak percaya dan malah memarahinya. Katanya ada saksi yang bilang itu.
"Cafe bukan menggaji kamu untuk menangis seperti itu!" tegur Lala, senior yang hari ini menjadi pembimbingnya menggantikan Bagas yang tiba-tiba ganti shift. "Kalau masih cengeng jangan kerja, balik aja sana ke ketek mama!"
"Iya Mbak, maaf ...." Ayana buru-buru berdiri, menghapus kasar air matanya. Mengepalkan tangan berusaha untuk menahan emosinya. "Saya akan kembali bekerja."
"Cepetan sana! Gak usah kecentilan sok cantik!" Kemudian, dia sudah berlalu pergi.
Ayana menahan diri untuk tidak menampar mulut sialan seniornya itu.
"Sabar Ayana." Ayana mengusap dadanya berulang. "Kenapa mas Bagas harus ganti shift, sih? Kenapa juga harus diganti sama nenek sihir itu? Kalau aku cantik terus dia jelek, emang salah aku? Orang di sini kerja, siapa yang kecentilan."
Saat pagi tadi dia sangat bersemangat untuk pergi bekerja, sama juga saat ini dia sangat bersemangat untuk segera pulang bekerja.
Ayana tadi memang tidak melakukan kesalahan lagi, tapi Lala seolah sengaja memberikan pekerjaan yang banyak. Tidak sedikitpun membiarkan dia untuk beristirahat, padahal dia melihat karyawan lain yang sesekali masih bisa bersantai. Sedang dirinya hanya sekedar untuk bersandar sebentar saja, langsung dimarahi.
Padahal Ayana tidak merasa melakukan kesalahan, tapi kenapa Lala terlihat sangat membencinya.
Ayana menarik napas, rasanya dia ingin menyerah saja dan berhenti bekerja. Dia tidak menyangka, dunia kerja akan sekejam ini. Bukan hanya menyerang secara fisik, tapi mental juga.
"Reyhan, mana sih?"
Ayana sedang duduk di bangku depan cafe menunggu kedatangan Reyhan yang 15 menit lalu katanya akan sampai, tapi belum juga datang. Mana ditelepon tidak diangkat terus, mungkin memang sedang di jalan juga. Ayana menjadi curiga tadi berbohong, padahal masih di tempat kerjanya.
"Mau eskrim?"
Sekotak eskrim kecil tiba-tiba ada di depan wajahnya. Ayana mendongak untuk melihat sipembawa eskrim ini.
"Mas Bagas," ujar Ayana lega, dia pikir orang asing tadi. Eh, Bagas orang asing juga sih, tapi Ayana sudah tahu dia karyawan di sini juga. Ada apa-apa, tinggal teriak.
"Mau eskrim?" tawar Bagas yang masih setia menyodorkan eskrim ke Ayana.
"Buat saya?" tanya Ayana yang langsung diangguki Bagas. Dia tersenyum, kemudian mengambil eskrim itu. "Makasih, Mas."
Rasanya dingin saat Ayana menyuapkan eskrimnya. Cocok sekali disituasi panas seperti ini, gratis lagi.
Bagas mengangguk kecil, masih setia dengan senyuman manisnya. "Sebagai permintaan maaf juga."
Bagas ikut mendudukkan diri di samping Ayana, mulai memakan eskrim miliknya yang sama dengan punya Ayana.
"Maaf buat apa?" Ayana bertanya tak paham.
Bagas menoleh, sesaat Ayana terpesona kemudian dia menggeleng. "Karena ganti shift jadi siang dan gak jadi bimbing kamu."
Ayana langsung mengangguk paham. "Oh iya, tidak apa-apa."
"Sebenarnya, tadi aku mau masuk pagi tapi tiba-tiba ada kelas kuliah dadakan. Sekali lagi, maaf yah."
"Mas, masih kuliah?" tanya Ayana tiba-tiba antusias. Salah satu mimpinya memang ingin berkuliah, makanya dia sangat excited saat bertemu orang yang sedang berkuliah.
"Iya, emang aku udah kelihatan tua, yah?" tanya Bagas yang langsung digelengi Ayana. "Aku masih berusia 21 tahun loh, Na."
"Na?" Ini pertama kalinya Ayana mendengar orang memanggilnya dengan nama belakangnya.
"Lucu yah, aku suka manggil kamu gitu. Hitung-hitung panggilan special dari aku buat kamu," jawab Bagas yang entah kenapa membuat Ayana lega karena ternyata Bagas mau akrab dengannya.
Setelah tadi terus bertemu orang jahat tadi, dia akhirnya senang bisa bertemu orang yang memperlakukan dia dengan baik.
"Aku baru pertama kali denger aja. Oh iya, jadi Mas kuliah sambil bekerja?" Ayana kembali bertanya dengan antusias.
Bagas mengangguk. "Iya, aku ambil kelas karyawan. Oh iya, gimana kerja hari ini? Udah betah? Lala gimana, baik?"
Senyum Ayana perlahan luntur, saat mendengar pertanyaan Bagas yang membahas masalah pekerjaan. Ingin sekali dia mengatakan, kalau pekerjaannya melelahkan dan makan hati sampai dia berpikir ingin berhenti saja. Lala juga sangat menyebalkan terus menyiksanya seperti nenek sihir kurang belaian.
Tapi mereka masih orang asing, Ayana juga sadar dia tidak boleh terlihat lemah. Orang-orang harus tahu bahwa dia kuat supaya tidak diremehkan. Itu pesan mendiang papanya dulu.
"Kenapa, pekerjaannya gak berjalan lancar, yah?" tanya Bagas khawatir, saat melihat wajah Ayana murung.
Ayana buru-buru menggeleng, berusaha tersenyum. "Pekerjaan dan orang-orangnya semuanya berjalan baik, kok. Aku hanya lelah aja. Maklum, terlalu lama rebahan terus tiba-tiba bekerja, tubuhnya belum siap saja."
"Yakin?"
Ayana mengangguk. "Iya, yakin kok."
Bagas kemudian tersenyum lega, spontan tangannya mengusap kepala Ayana. Tiba-tiba tersadar, kemudian langsung menjauhkan tangannya. Sesaat, terjadi keheningan diantara mereka. Ayana sendiri masih syok atas kejadian barusan.
"Kalau ada apa-apa, bilang aja ke aku. Mulai besok, aku yang akan bimbing kamu sampai terbiasa dengan pekerjaannya nanti."
Ayana bersyukur bisa bertemu orang sebaik Bagas di tempat kerjanya. Rasanya, seperti dia menemukan sosok kakak dalam diri Bagas.
"Iya, Mas. Makasih."
Bagas masih setia tersenyum, sangat menambah kadar ketampanan lelaki itu.
"Ay, cepetan naik! Aku gak tahan mau boker!"
Kedua orang itu sama-sama menoleh ke sumber suara.
"Lama banget," protes Ayana, lelaki durjana itu datang seperti jelangkung bikin kaget.
"Tadi macet, Ay. Cepetan naik, aku udah gak tahan mau keluar udah diujung tanduk!" teriak Reyhan tidak tahu malu.
"Iya-iya bentar." Ayana balik menghadap Bagas. "Mas, aku pamit duluan."
Bagas mengangguk. "Hati-hati, sampai bertemu besok. Ngomong-ngomong, dia siapa?"
Ayana bingung, melihat Reyhan yang jutek karena menahan sesuatu mungkin. "Dia pacar aku."
Reyhan melotot, sedang Ayana tertawa canggung. Bagas hanya tersenyum, kemudian mengangguk kecil. lagipula, malu juga jika mengatakan Reyhan itu suaminya. Dia masih kecil, apa kata para karyawan nanti.
"Ay, cepetan udah mau keluar! Cepet naik!"
"Bawel banget sih," omel Ayana langsung naik motor, Reyhan dengan tergesa memakaikannya helm dengan menoleh ke belakang. "Aku pamit, Mas."
Bagas masih tersenyum manis. "Iya hati-hati, sampai ketemu besok, Na."
"Sampai ketemu besok juga, Mas."
Setelah Ayana mengatakan itu, Reyhan langsung menjalankan motornya sambil mengebut. Untung saja, Ayana buru-buru memeluk cowok itu. "Hati-hati!"
"Cie, udah panggil Mas, panggilan sayang, yah?"
"Apaan? Itu panggilan semua orang yang kerja di sana. Aku juga panggil yang perempuan mbak, kok. Gak tahu kenapa panggilannya pada gitu."
Mereka ini berbicara sambil berteriak-teriak, soalnya tidak terdengar jika berbicara pelan.
"Kirain, ehem ... siapa yang yang jadi pacar kamu?" goda Reyhan Langsung membuat Ayana malu, spontan dia memukul punggung Reyhan.
"Aw sakit! Kalau malu gitu yah, suka pukul-pukul?" Reyhan masih terus menggoda, itu kan sudah jadi hobinya. "Emang mau banget jadi pacar aku?"
"Ih ... sialan! Dangdut banget kamu. Gak mungkin juga, aku ngakuin kamu suami, aku masih bocah. Nanti aku makin dibully karena kecil-kecil udah nikah."
"Emang kamu dibully, siapa? Gimana?" Tiba-tiba, Reyhan menjadi khawatir.
"Gak tahu ah, males cerita. Kalau diinget kesel, nanti aja kalau udah mood baru cerita."
"Ok pacar."
"Apaan?" Ayana sewot kesal karena terus digoda Reyhan.
"Gak papa, Pacar." Reyhan terkikik senang.
"Ih ... Reyhan sialan, nyebelin! Katanya mau boker, masih sempat-sempatnya goda orang!" Ayana mencubit pinggang Reyhan.
"Aw ... sakit! Duh, iya lagi mau boker. Sempet lupa karena udah punya pacar."
"Sialan! Dodol kamu!"
Reyhan terus tertawa kesenangan, sementara Ayana berwajah masam. Serandom itu memang pertengkaran mereka.
##