Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Deru halus dari mesin V8 twin-turbo terdengar sangat merdu di telinga Bima.
Dia memutar kemudi berlapis kulit premium itu dengan sangat santai menggunakan satu tangan.
Lalu lintas pusat kota siang ini cukup padat seperti biasanya.
Namun anehnya, mobil-mobil lain tampak memberikan jarak aman yang cukup lebar dari kendaraan Bima.
Tidak ada yang mau mengambil risiko menyenggol sebuah Lamborghini Urus hitam pekat di jalan raya.
Bima tersenyum tipis melihat reaksi para pengemudi lain dari kaca spionnya.
Dia merasa insting mengemudinya menjadi sangat tajam sejak memegang kemudi mobil ini.
Setiap sudut kendaraan, jarak pengereman, hingga celah sempit di jalanan bisa dia perhitungkan dengan akurat.
Sistem tampaknya tidak hanya memberikannya mobil, tetapi juga menanamkan keahlian mengemudi tingkat profesional ke dalam otaknya.
Bima mengetuk layar ponsel murahnya yang terpasang di tengah dashboard mewah tersebut.
Aplikasi taksi online yang baru saja dia unduh kini sudah aktif.
Ting.
[Sistem Pekerjaan Impian memantau kemajuan Anda]
[Tugas Pekerjaan: Selesaikan pesanan pertama Anda untuk memulai akumulasi persentase]
[Host diharapkan untuk tetap profesional selama menjalankan tugas]
Sebuah layar biru transparan melintas sekilas di sudut pandangannya lalu menghilang.
Bima menganggukkan kepalanya pelan merespons notifikasi tersebut.
"Baiklah, mari kita lihat siapa penumpang beruntung yang akan merasakan layanan taksi online miliaran rupiah ini," gumam Bima santai.
Tidak sampai lima menit, layar ponselnya berkedip terang menampilkan pesanan masuk.
Tit tit tit.
Bima segera menekan tombol terima tanpa melihat detail lokasinya terlebih dahulu.
Dia meminggirkan mobilnya sejenak ke lajur kiri untuk memeriksa detail penjemputan.
Nama pemesan yang tertera di layar aplikasinya membuat alis Bima sedikit terangkat.
Pemesan atas nama Nadhira.
Lokasi penjemputan berada di area parkir bawah tanah Gedung Menara Dirgantara.
Itu adalah nama gedung perkantoran tempat Bima bekerja dan dipecat pagi ini.
Dan nama Nadhira mengingatkannya pada satu-satunya wanita di perusahaan itu yang memiliki aura dingin tak tersentuh.
Nadhira adalah direktur utama perusahaan yang kecantikannya selalu menjadi perbincangan para karyawan laki-laki.
"Dunia ini memang sempit," ucap Bima sambil terkekeh pelan.
Dia memutar balik arah mobilnya menuju gedung perkantoran tersebut.
Bima sama sekali tidak merasa gugup harus kembali ke tempat dia diusir beberapa jam yang lalu.
Lima belas menit kemudian, SUV hitam membelah pintu masuk parkir bawah tanah Menara Dirgantara.
Penjaga gerbang parkir bahkan langsung membukakan palang otomatis tanpa meminta karcis saat melihat banteng emas di moncong mobil itu.
Bima melajukan mobilnya menyusuri deretan pilar beton yang remang-remang.
Matanya menyapu area parkir VIP yang khusus disediakan untuk jajaran direksi perusahaan.
Dari kejauhan, Bima melihat sosok seorang wanita berdiri bersedekap di samping sebuah sedan mewah buatan Jerman.
Wanita itu mengenakan kemeja sutra putih yang dipadukan dengan rok pensil hitam elegan.
Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menutupi sebagian wajahnya yang terlihat sedang menahan kesal.
Itu memang Nadhira, mantan bos besarnya.
Kap mesin sedan Jerman di sebelahnya tampak sedikit terbuka dan mengeluarkan kepulan asap putih tipis.
Bima melambatkan laju Lamborghini-nya dan berhenti tepat di depan wanita tersebut.
Nadhira mundur selangkah saat melihat SUV raksasa itu berhenti di dekatnya.
Wajahnya menunjukkan sedikit kekaguman melihat mobil super mewah itu, tetapi dia kembali memasang ekspresi dinginnya.
Dia mengira mobil itu milik salah satu klien besar perusahaan yang sedang mencari tempat parkir.
Srrrtt.
Kaca jendela pengemudi turun secara perlahan.
Nadhira menoleh dan tatapannya langsung bertabrakan dengan sepasang mata yang sangat santai.
"Pesanan taksi online atas nama Ibu Nadhira?" sapa Bima dengan nada datar.
Nadhira mematung di tempatnya berdiri.
Mata indahnya sedikit melebar melihat wajah pengemudi mobil tersebut.
Dia mengenali wajah Bima karena pria ini adalah salah satu staf sales yang cukup sering dia lihat di lobi kantor.
"Kamu... Bima, kan?" tanya Nadhira dengan nada tidak yakin.
"Benar, Bu."
Bima menyandarkan sikunya di bingkai jendela mobil dengan sangat nyaman.
"Tapi sekarang saya adalah pengemudi taksi online yang menerima pesanan Ibu."
Nadhira menatap Bima dari atas ke bawah, lalu beralih menatap interior mobil tersebut.
Pikirannya mendadak kosong selama beberapa detik.
Seorang staf yang baru saja dilaporkan dipecat pagi ini oleh manajernya, kini datang menjemputnya menggunakan Lamborghini Urus.
"Kamu mencuri mobil klien perusahaan?" tuduh Nadhira secara refleks.
Itu adalah satu-satunya kesimpulan logis yang bisa dipikirkan oleh otak rasionalnya saat ini.
Bima tertawa lepas mendengar tuduhan spontan tersebut.
"Kalau saya mencuri mobil ini, saya sudah kabur ke luar kota sejak tadi, Bu Nadhira."
"Bukannya malah repot-repot menjemput Ibu di basemen kantor yang pengap ini."
Nadhira menggigit bibir bawahnya karena merasa ucapannya memang kurang masuk akal.
"Lalu dari mana kamu mendapatkan mobil ini?" selidik Nadhira masih dengan nada otoriter khas seorang bos.
"Itu bukan bagian dari layanan taksi online saya untuk menjawab pertanyaan pribadi penumpang."
Bima menunjuk ke arah kursi penumpang di sebelah kirinya dengan dagunya.
"Jadi, Ibu mau naik atau pesanan ini saya batalkan saja?"
"Mesin mobil Ibu sepertinya tidak akan hidup lagi hari ini."
Nadhira melirik ke arah mobil dinasnya yang masih mengepulkan asap.
Dia ada jadwal pertemuan penting dengan investor dalam waktu tiga puluh menit lagi.
Tidak ada waktu untuk menunggu sopir pengganti dari kantor pusat.
Dengan langkah ragu, Nadhira berjalan mengitari bagian depan Urus dan membuka pintu penumpang.
Cklik.
Aroma kemewahan langsung menyambut Nadhira saat dia duduk di atas jok kulit berwarna hitam tersebut.
Dia bisa merasakan kualitas material mobil ini jauh di atas sedan dinas yang biasa dia gunakan.