Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 - Keluarga Ini Masih Miskin
Lamunan tentang masa lalu itu berakhir bukan dengan perlahan, melainkan dengan satu tarikan napas panjang. Seketika juga seluruh kenangan tentang asrama, tentang Vino, dan tentang air sungai yang dinginnya masih membekas di dadanya, lenyap dari benaknya seperti layar yang padam di tengah adegan. Ketika kesadarannya kembali, yang ada di hadapannya bukan atap asrama, melainkan kamar sempit milik masa kecilnya, dengan cat dinding yang sudah mengelupas di sudut-sudut dan bau lembap yang meresap sampai ke kasurnya.
Mangkuk bubur yang baru saja ia kosongkan masih tergeletak di meja. Ada satu kebiasaan yang mengakar sejak kecil pada diri Intan Larasati: begitu selesai makan, piring, sendok, dan mangkuk ditinggalkan begitu saja di atas meja, menunggu orang lain yang membereskannya. Ayah dan ibunya tidak pernah sekalipun mempermasalahkan hal itu; urusan membersihkan rumah seolah dianggap bukan urusan seorang anak. Baru setelah ia cukup dewasa dan sempat hidup mandiri, Intan benar-benar mengerti betapa tidak bergunanya dirinya selama ini di rumah.
Setelah mengosongkan mangkuk buburnya dengan tangan sendiri, bukan menunggu orang lain yang membereskan seperti biasa, ia tertawa pelan pada kebodohannya sendiri. Ia dan keluarganya mungkin miskin, tetapi kemiskinan bukan alasan untuk tidak cakap. Bertekad mengubah segalanya, ia mengangkat lengan bajunya, lalu bergerak.
Ia mencuci termos dan piring-piring kotor yang menumpuk di dapur, merapikan kamar, mengenali lagi setiap sudut rumah yang dahulu terasa asing baginya, menyapu dan mengepel lantai sampai bersih mengilap, mengelap tungku dapur luar-dalam, bahkan mencuci pakaian kemarin yang belum sempat dibereskan. Dari dapur sampai balkon, semua dibersihkan dengan tangan telanjang.
Dalam pekerjaan membereskan itu, Intan menemukan banyak hal yang selama ini luput dari matanya: tembok yang retak di bawah jendela kamar, kaleng bekas yang disulap menjadi celengan dengan beberapa lembar uang di dalamnya, tiang jemuran yang diikat tambalan demi tambalan. Setiap sudut rumah ini mengisahkan betapa keras ayah dan ibunya berhemat. Hatinya perih, tetapi nyala tekad di dadanya justru semakin besar — kali ini ia ingin membuat rumah ini lebih baik sebelum semuanya terlambat.
Setelah pekerjaan itu tuntas, Intan menengadahkan kepala melihat jam. Waktu menunjuk pukul sebelas lebih tiga puluh.
Ia hafal betul jadwal rumah tangga ini. Ayah biasanya pulang sekitar pukul dua belas dan langsung menyingsingkan lengan untuk memasak. Ibu menyusul sekitar pukul dua belas lebih empat puluh lima, lalu keluarga itu makan bersama. Adapun kakak laki-lakinya, Dimas, sejak naik ke kelas dua SMA ia menetap di asrama karena harus belajar hingga larut di sekolah; tugas sekolahnya sangat padat, dan kondisi asrama justru lebih baik daripada rumah, sehingga ayah dan ibu tidak tega menyuruhnya pulang pergi setiap hari. Meski tak hadir di meja makan, nama Dimas selalu disebut-sebut ayah dan ibunya dengan nada bangga, dan Intan menyimpan rindu yang cukup besar untuk kakaknya itu.
Menjelang kedatangan ayah yang tiba-tiba terasa lebih muda dari ingatannya, hati Intan berdebar tak keruan. Sudah lama ia tidak merasakan kebahagiaan sekecil ini. Ia kembali ke kamar dan membuka buku pelajaran, tetapi sesaat kemudian pikirannya melayang; matanya terus menoleh ke arah jam di dinding.
Tepat pukul sebelas lebih lima puluh lima, terdengar bunyi anak kunci membuka pintu. Intan segera meletakkan buku dan berlari keluar kamar. Begitu pintu terbuka, sang ayah mendapati putrinya berdiri di ambang pintu kamar dengan napas memburu dan mata berbinar.
Sambil melepas sepatu, Sutrisno menyapanya dengan senyum lembut, "Lapar, ya, Nak? Nanti Bapak masakkan. Tadi badammu sudah tidak panas lagi? Kalau masih demam, nanti Bapak temani ke klinik."
Selesai berkata begitu, ia meletakkan tasnya ke lantai, berjalan mendekati Intan, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi putrinya. Setelah merasakan suhu yang normal, Sutrisno mengembuskan napas lega. "Syukurlah, demamnya sudah turun. Ayo, Bapak masak sekarang."
Ia berbalik menuju ruang makan. Kulkas tua berdiri di samping pintu dapur, tingginya hanya sebatas dada Sutrisno; bagian atasnya untuk membekukan es, bagian bawah untuk menyimpan lauk, dan siapa pun yang mencarinya harus membungkukkan badan.
Sementara ayahnya membongkar bahan makanan, Intan menyusup ke dapur lalu memasukkan beras yang sudah direndamnya sejak pagi ke dalam penanak nasi listrik. Setelah tombol ditekan, ia melangkah keluar dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
Begitu Sutrisno mengangkat belanjaan dan masuk ke dapur, ia sempat tertegun melihat dapur yang bersih berubah wujud. Matanya tertumbuk pada penanak nasi yang lampu indikatornya sudah menyala. Ia membuka tutupnya setengah tidak percaya, lalu mendongak dan berseru, "Nak, nasi ini kamu yang menanaknya?"
Intan berlari kecil mendekat, wajahnya polos meminta pujian. Ia mengangguk gemas.
"Apa tungku dan perabotan dapur ini juga kamu yang membereskan?" tanya ayahnya lagi.
Intan mengangguk sekali lagi.
"Bagus!" Putri Bapak sudah besar dan bisa bekerja! Sutrisno mengacungkan ibu jari, lalu memungut seikat seledri dan mulai memetik daunnya dengan cepat — gerak seorang jaguh dapur. Intan menatap tangannya yang cekatan itu, lalu bertanya pelan-pelan, "Bapak, ajarilah Intan memasak. Nanti Intan yang masak untuk Bapak."
"Tidak bisa begitu!" jawab Sutrisno cepat tanpa berpikir. "Ujian masuk SMA masih tiga bulan lagi. Kau harus fokus belajar. Urusan lain biar Bapak dan Ibu yang menanggung. Lagipula," suaranya melunak, "kalau badanmu sudah sehat, kerjakanlah tugas sekolahmu, ya. Lusa Ibu libur; katanya mau mengajakmu pulang ke kampung untuk sembahyang leluhur sekalian meminta restu agar nilai ujianmu bagus. Perjalanan itu makan waktu sehari; begitu kembali, kau langsung sibuk bersiap ke sekolah lagi. Jadi kerjakan tugasmu besok, waktu yang tersisa tinggal sedikit."
"Baik, Pak." Intan menjawab patuh, lalu tanpa banyak bicara kembali ke kamarnya dan segera membuka tumpukan lembar latihan.
Menjelang ujian masuk SMA, guru-guru begitu rajin membagikan latihan soal kepada anak kelas tiga SMP. Dalam seminggu saja, Matematika sudah membagikan dua lembar; ditambah tugas Fisika, Kimia, dan mata pelajaran lain, totalnya menjadi delapan lembar. Intan membereskan perhitungan: tiga lembar di bidang bahasa dan sosial yang penuh esai sudah selesai ia kerjakan, lima lembar sisanya bidang perhitungan dan ilmu pasti. Ia mengembuskan napas lega. Ia senang memelajari sesuatu, tetapi membenci menulis panjang; mengerjakan lembar berisi esai baginya seperti disiksa. Karena itu, setiap kali diberi tugas, ia selalu mendahulukan pekerjaan tulisan agar bebannya berkurang.
Terlebih lagi, materi sekolah menengah pertama sebenarnya tidak banyak. Kendati bertahun-tahun berlalu, metode penyelesaiannya masih sama saja, dan bagi Intan yang berpengalaman, lembar soal Matematika dapat dituntaskan hampir dalam satu jam pelajaran.
Ayahnya yang sedang memasak di dapur muncul sebentar, melihat Intan yang begitu tekun duduk di depan tumpukan tugas. Senyum kebapakan langsung menghiasi wajahnya, lalu ia kembali mengaduk masakan dengan perasaan gembira.
Begitu satu lembar Matematika selesai, pintu kembali terbuka. Ibu pulang. Intan langsung meninggalkan pulpennya dan berlari menyambut, berteriak riang, "Ibu pulang!"
Ratmi tersentak kaget melihat kegirangan putrinya. "Aduh, pelan-pelan, Nak. Ibu baru lepas kerja, badan Ibu kotor. Mengapa? Kau demam lagi?"
"Aku tidak demam, Bu. Aku hanya kangen sama Ibu. Tadi sambil mengerjakan tugas, tiba-tiba terpikir, eh, kalau Ibu pulang lagi dan penat, biar nanti aku yang siapkan segala-galanya," jawab Intan.
Apa susahnya ingin seperti anak lain yang dimanjakan ibunya?
Sutrisno muncul dari dapur sambil membawa piring-piring lauk, lalu bercanda ringan, "Demamnya sudah sembuh, tapi ada yang aneh. Pagi tadi ia sudah membersihkan tungku sendiri, bahkan memasak nasi. Kalau kalian masih sanggup makan hasil masakannya, kau boleh membantuku. Jarang-jarang putri kita begini, jangan kau padamkan semangatnya, lebih enak memujinya terus, he-he."
Ratmi menatap putrinya dengan tatapan tidak percaya, lalu berseru, "Kepalamu jangan sampai kepanasan! Masak juga?"
"Iya, Bu… Hanya coba-coba, maklum baru belajar. Kalau nanti rasanya kurang pas, jangan dimarahi ya, aku masih sering menduga-duga bumbunya," jawab Intan sambil menunduk kecil.
Sungguh sulit menjadi anak yang berbakti dan pengertian.
Melihat wajah putrinya yang merengut, Sutrisno menghentikan godaannya dan berseru pelan, "Sudah, cuci tangan, kita makan!"
Ratmi masuk ke kamar mandi membasuh badan seperlunya. Keluarga itu duduk mengelilingi meja makan. Begitu menyuap nasi hangat, Ratmi mengangguk penuh semangat, "Enak! Nasi ini pulen sekali! Tidak kusangka anakku begini berbakat memasak!"
"Aku juga rasa enak. Lebih lembut dan pulen daripada buatanku," sahut Sutrisno memberi penilaian yang jujur.
Intan hanya bisa mendelik, nyaris melotot sampai ke langit-langit. "Itu karena Intan merendam berasnya sejak pagi!"
Mendengar tuduhan itu, Sutrisno alih-alih marah justru tertawa canggung dan terus menyuap dengan lahap.
Setelah makan selesai, Ratmi menoleh pada Intan. "Tugas sekolahmu hari ini selesai, Nak? Lusa jadi berangkat ke kampung?"
Kendati menganggap sembahyang leluhur sangat penting, bagi Ratmi pelajaran Intan jauh lebih utama. Apabila tugasnya belum tuntas, ia tidak akan mengizinkan putrinya pulang ke kampung lusa; paling buruk, mereka bisa menyusul di lain hari sebelum ujian masuk SMA. "Sudah, Bu. Tadi Intan baru menyelesaikan satu lembar Matematika; tinggal empat lembar lagi. Kasih Intan empat sampai lima jam, pasti selesai sebelum petang."
Mendengar jaminan itu, Ratmi langsung merasa lega. Ia mengelus pelan poni putrinya dengan puas, lalu pergi mencuci piring. Intan sebenarnya ingin ikut membantu, tetapi ia tahu kedua orang tuanya lebih senang melihatnya duduk di depan meja belajar daripada mengelap sendok di dapur. Karena itu, ia kembali ke kamar dengan patuh.
Sore itu, ayah dan ibunya berangkat bekerja. Sendirian di rumah, Intan menuntaskan sisa lembar tugas dalam satu tarikan, lalu mengulang kembali pengetahuan penting setiap mata pelajaran. Sekitar pukul enam, kedua orang tuanya pulang; lembar-lembar tugas di meja sudah ia bereskan, dan kini ia duduk di ruang tamu memegang buku Bahasa Inggris, menghafal kosakata dan kalimat.
Melihat pemandangan itu, ayah dan ibunya diliputi rasa haru. Biasanya sepulang kerja pasangan itu mengobrol panjang lebar sebentar, tetapi hari ini mereka diam-diam saling mengisyaratkan dan tidak banyak bicara — satu bergegas ke dapur memasak, yang lain menuju balkon untuk mencuci pakaian.
Intan duduk lama memandangi punggung ayahnya yang sibuk mengaduk tumisan di dapur dan bayang ibunya yang bolak-balik menjemur pakaian di balkon. Rumah selebar genggaman, harta yang nyaris tanpa sisa — tetapi justru di sini, di tengah segala keterbatasan itu, ia menemukan kehangatan yang selama ini paling ia rindukan. Maunya ia menangis, tetapi tekadnya lebih kuat. Ia tidak akan membiarkan kemiskinan ini terus menggerogoti keluarga yang sangat ia cintai. Dalam hati kecilnya, sebuah janji menguat: belajar, bekerja, dan bertumbuh, sampai suatu hari rumah ini tidak lagi harus mengulur nafas di antara kekurangan.