Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Wunggg.
Kipas CPU komputernya menyala dengan suara yang sedikit lebih bising karena bekerja keras.
Layar monitor dua puluh empat inci itu menampilkan puluhan jendela terminal yang terus bergerak.
Tommy duduk di kursinya dengan wajah sangat serius, matanya memindai deretan kode hijau di layar hitam.
"Ada yang mencoba memancingku keluar," batin Tommy menganalisis situasi.
Sebagai peretas dengan julukan Blank, ia biasanya selalu mengecek jaringan anonimnya setiap malam.
Dan malam ini, ia menemukan sebuah anomali besar di salah satu server singgahannya di Singapura.
Seseorang telah menanamkan sebuah skrip pelacak aktif di dalam bekas jejak data PT Bangun Persada yang ia retas tempo hari.
Tak! Tak! Tak!
Jari-jari Tommy menari di atas papan tik dengan kecepatan kilat.
Ia membuka jaringan pemantau baliknya dan melacak asal dari skrip pelacak tersebut.
"Alamat IP ini berasal dari markas besar kepolisian siber di ibu kota," gumam Tommy dengan dahi berkerut.
"Mereka pasti disewa khusus oleh sisa-sisa petinggi perusahaan Haris Wijaya untuk mencariku."
Tommy tidak merasa panik sedikit pun, otaknya yang memiliki IQ seratus tujuh belas justru merasa tertantang.
Ia bisa melihat pola serangan kepolisian siber itu dengan sangat jelas.
Mereka menggunakan metode pengepungan IP statis untuk mempersempit lokasi proksi yang digunakan Tommy.
"Mereka sudah berhasil menembus lapis pertama pertahananku dan sekarang sedang menuju peladen di kota ini," analisis Tommy tenang.
Jika ia membiarkan pelacakan ini berlanjut selama sepuluh menit lagi, polisi akan mengetahui bahwa Blank bersembunyi di kota kecil ini.
Ting!
Layar biru sistem tiba-tiba muncul di depan wajahnya, menerangi kamarnya yang gelap.
[MISI MENDADAK TERSEDIA.]
[Misi: Gagalkan pelacakan dari pihak berwenang dan ciptakan jejak palsu yang mengarah ke luar negeri tanpa merusak perangkat Anda.]
[Hadiah: +2 Poin IQ dan +30 Poin Sistem.]
[Hukuman jika gagal: Penurunan IQ sebesar -15 poin dan risiko penangkapan dunia nyata.]
Tommy tersenyum menyeringai melihat misi dengan taruhan yang cukup besar itu.
"Sistem, aku butuh keahlian keamanan jaringan tingkat lanjut," perintah Tommy di dalam kepalanya.
Ting!
Layar Toko Sistem langsung terbuka menampilkan berbagai opsi keahlian kriptografi.
"Beli Keahlian Manipulasi Alamat Jaringan Aktif seharga seratus poin sistem," batin Tommy memilih barang yang ia butuhkan.
[Pembelian berhasil. Poin Sistem dikurangi -100 PS.]
[Skill Keahlian Manipulasi Alamat Jaringan Aktif telah ditambahkan.]
Seketika itu juga, pemahaman tentang rute jaringan global, protokol internet tersembunyi, dan teknik penyesatan paket data membanjiri otaknya.
Semua metode rumit yang butuh puluhan tahun untuk dipelajari oleh ahli siber, kini dikuasainya dalam hitungan detik.
Tak! Tak! Srak!
Tangan Tommy bergerak semakin cepat, menciptakan sebuah benteng virtual baru di dalam komputernya.
"Kalian ingin bermain petak umpet denganku?" bisik Tommy dengan mata yang menatap tajam ke layar.
"Mari kita bermain di wilayahku."
Alih-alih memutus koneksi dan kabur, Tommy justru membiarkan polisi siber itu masuk lebih dalam ke peladen palsunya.
Ia merancang sebuah labirin data tak berujung yang dipenuhi dengan jebakan algoritma.
Di markas besar kepolisian siber yang berjarak ratusan kilometer dari sana, kepanikan mulai terjadi.
"Komandan! Kita hampir mendapatkan lokasinya, dia ada di pulau Jawa!" lapor seorang petugas siber dengan semangat.
"Bagus, kunci alamat IP-nya sekarang sebelum dia menyadari pelacakan kita!" perintah pria berseragam di belakangnya.
Namun sedetik kemudian, layar monitor petugas itu tiba-tiba berkedip merah.
"Tunggu, ada yang salah," ucap petugas itu dengan suara bergetar.
"Alamat IP-nya tiba-tiba terpecah menjadi ribuan alamat berbeda!"
Puluhan layar di ruangan markas kepolisian itu mulai menampilkan lokasi acak dari seluruh dunia.
Sebagian menunjuk ke Rusia, sebagian ke Eropa Timur, dan sebagian lagi menunjuk ke server antartika.
"Dia tahu kita melacaknya, dan dia justru membalikkan pelacakan kita!" teriak petugas senior di ruangan itu panik.
"Matikan koneksi server utama sekarang sebelum dia mencuri data dari markas kita!"
Kekacauan itu berlangsung singkat, namun cukup untuk membuat seluruh divisi siber kepolisian merasa dipermalukan.
Mereka baru saja berhadapan langsung dengan monster digital yang sangat mengerikan.
Di dalam kamarnya, Tommy bersandar di kursinya sambil meminum segelas air putih dengan santai.
Ia melihat koneksi dari kepolisian siber telah terputus sepenuhnya secara paksa dari pihak mereka.
"Pengecut," gumam Tommy sambil tertawa pelan.
Ia berhasil mengarahkan jejak akhirnya ke sebuah server kosong di wilayah pegunungan Ural, Rusia.
Polisi siber pasti akan mengira bahwa Blank adalah sindikat peretas internasional dari Eropa Timur, bukan anak SMA berusia tujuh belas tahun di Indonesia.
Ting!
Suara notifikasi kemenangan berbunyi nyaring di kepalanya.
[MISI MENDADAK SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil mempermalukan pelacak dan mengarahkan kecurigaan ke benua lain dengan sangat sempurna.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +2 poin.]
[Poin Sistem bertambah +30 PS.]
[IQ Saat Ini: 119 Kategori: Cerdas]
[Poin Sistem Saat Ini: 50 PS]
Tommy menutup layar sistem itu dan meregangkan otot-otot lengannya yang sedikit kaku.
Peningkatan IQ menjadi seratus sembilan belas membuatnya merasa otaknya nyaris tidak memiliki batas lelah sama sekali.
Ia bisa begadang semalaman penuh menganalisis data jaringan dan tetap merasa segar di pagi hari.
"Dunia maya sudah aman untuk saat ini," batin Tommy sambil mematikan layar komputernya.
Sekarang ia bisa kembali fokus pada dunia nyatanya.
Olimpiade akademik tingkat kota akan menjadi panggung pertamanya untuk menunjukkan sebagian kecil dari kemampuannya.
Ia tidak sabar melihat wajah Nadin saat gadis itu menyadari bahwa tebakan bodohnya adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan sekolah mereka.
Tommy berjalan menuju kasurnya dan merebahkan diri dalam kegelapan kamar.
"Seratus sembilan belas poin," gumam Tommy menatap langit-langit.
"Sebentar lagi aku akan menyentuh angka seratus dua puluh, batas di mana kejeniusan sesungguhnya dimulai."
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇