NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:327.8k
Nilai: 5
Nama Author: RR Maesa

Karena ingin melihat putri kembarnya (Agatha & Amanda) segera menikah, Edward menjodohkan mereka dengan pria-pria pengusaha muda tampan yang kaya, putra dari relasi-relasinya.

Agatha di jodohkan dengan Jonathan.
Amanda dijodohkan dengan Vincent.

Pertentanganpun terjadi. Agatha dan Amanda juga Jonathan dan Vincent menolak dijodohkan.

Apa yang terjadi jika Agatha bertemu dengan Vincent (jodoh buat Amanda) dan Amanda bertemu dengan Jonathan (jodoh buat Agatha).

Apakah mereka akan jatuh cinta dengan pria yang dijodohkan untuk saudara kembarnya?

*****

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH-28 Vincent ke perkebunan

Vincent beberapakali menelpon Agatha tapi tidak tersambung terus, dia gelisah. Dia akan mengajak melihat baju pengantin mereka, barangkali ada yang Agatha tidak suka, karena kemarin baju pengantinnya buat Amanda bukan buat Agatha. Karena tidak bisa dihubungi terus, akhirnya Vincent  datang ke rumah Edward.

Saat sampai dirumah Edward, dilihatnya Amanda sedang ada diteras, sedang mengotak atik hapenya.

Amanda menoleh pada mobil masuk rumahnya. Dia diam saja, dia sudah tahu siapa yang datang. Vincent. Yang pasti Vincent tidak untuk menemuinya tapi menemui Agatha.

Vincent turun dari mobilnya menghampiri Amanda.

“Aku ingin bertemu Agatha,” ucap Vincent.

“Dia tidak ada,” jawab Amanda, acuh saja.

“Kemana?” tanya Vincent.

“Pulang ke perkebunan,” jawab Amanda tanpa menoleh.

“Ke perkebuanan? Dengan Mr. Edward?” tanya Vincent, terkejut.

“Sayang, ada tamu siapa?” terdengar Elsa berteriak dari dalam rumah.

“Vincent, Mommy,” jawab Amanda.

Elsa segera keluar dan dilihatnya Vincent sedang berdiri dekat Amanda.

“Kau mencari Agatha?” tanya Elsa.

“Iya Mrs. Aku sudah menelponnya berkali kali tapi tidak tersambung, dia tidak bisa dihubungi,” jawab Vincent.

“Agatha pulang ke perkebunan,” kata Elsa.

“Ke perkebunan?” Vincent  mengulang perkataan Elsa tidak mengerti kenapa saat sedang sibuk menyiapkan pernikahan mereka, Agatha justru pergi.

“Ayo masuklah,” ajak Elsa sambil masuk ke dalam rumah diikuti Vincent.

“Duduklah,” kata Elsa sambil diapun duduk di sofa, Vincent mengikutinya.

“Kalau boleh tahu kenapa Agatha pulang ke perkebunan? Aku akan mengajaknya melihat baju pengantin kita, barangkali dia tidak suka dengan rencana awal yang di usung karena sebelumnya aku akan menikah dengan Amanda,” kata Vincent.

“Katanya dia sedang ingin sendiri dulu, dia ke London kalau mendekati hari H, semua dia serahkan pada keluargamu,” papar Elsa.

Mendengarnya ada rasa kecewa dihati Vincent, kenapa Agatha harus lari darinya? Dia merasa khawatir kalau Agatha tidak akan datang ke pesta pernikahan mereka.

“Mrs, aku minta alamat perkebunan, aku akan menyusulnya,” kata Vincent.

“Kau akan ke perkebunan?” tanya Elsa, terkejut.

“Benar Mrs, aku akan menemuinya,” jawab Vincent.

“Baiklah,” jawab Elsa. Diapun memberikan alamat perkebunan.

Amanda masuk ke dalam ruangan, matanya bertemu dengan mata Vincent, tapi tidak berkata apa-apa, dia langsung masuk ke ruangan lain.

Elsa menatap Vincent.

“Nak, aku minta maaf atas sikapnya Agatha, sepertinya pernikahanmu tidak akan mudah,” ucap Elsa.

Vincent tidak menjawab.

“Agatha sedang sedih sekarang, dia sedang tidak bisa diajak bicara,” kata Elsa.

“Aku mengerti, semua ini tidak akan mudah. Agatha sudah mencap diriku buruk dari awal, dia  berkali-kali menolakku, tapi aku yakin lambat laun dia akan menyukaiku,”kata Vincent.

“Aku titip putriku, jagalah dia, bahagiakan dia,” pinta Elsa.

“Mrs. Jangan khawatir, aku berjanji akan selalu menjaganya,” jawab Vincent.

Elsa merasa lega mendengarnya, semoga Vincent bisa mewujudkan janjinya itu.

“Semoga pernikahan kalian berjalan dengan baik,” kata Elsa. Vincent mengangguk.

*****************

Hari sudah mulai gelap saat taxi itu berhenti di sebuah rumah bangunan jaman Belanda yang cukup besar, yang ada diantara hamparan pohon daun teh  yang hijau.

Vincent keluar dari taxi itu, setelah itu koper dikeluarkan dari bagasi. Dia melihat ke sekeliling, yang pertama dilihatnya adalah bunga-bunga anggrek yang ada di sepanjang jalan menuju rumah itu.

Diapun melangkah menuju teras rumah sambil membawa kopernya. Dari teras dia bisa melihat hamparann hijau daun teh, karena rumah itu berada di tanah yang lebih tinggi. Besok pagi sepertinya akan terlihat lebih hijau.

Vincent tersenyum senang melihat suasana diperkebunan ini, pantas saja Agatha ingin pulang menenangkan diri, pemandangan disini sangat indah dan udaranya begitu segar.

Vincent mengetuk pintu beberapa kali.

“Siapa?” terdengar suara perempuan dari dalam, senyum Vincent langsung mengembang, dia hafal suara itu, itu adalah suara si cantik nya, Agatha.

Agatha membuka pintu rumahnya. Dia terkejut saat melihat sosok yang ada dihadapannya.

“Kau? Mau apa kau kemari?” tanya Agatha, sambil menatap Vincent.

“Tentu saja aku menemuimu, aku diutus Mommymu untuk menjagamu,” jawab Vincent.

“Tidak mungkin, kau pasti yang memaksa pada Mommy minta alamat ini,” tebak Agatha.

Vincent tersenyum.

“Kau benar, aku tidak bisa menghubungimu, aku jadi khawatir, aku merindukanmu. Sekarang aku lebih tenang ternyata kau baik-baik saja dan tetap cantik seperti biasanya,” ucap Vincent.

“Jangan banyak basa basi, kau mau apa kesini?” tanya Agatha, bosan dengan rayuannya Vincent.

“Kau tidak mempersilahkan aku duduk? Kau kan bisa memberiku minum teh. Aku ingin mencoba teh disini, pasti sangat enak,” jawab Vincent.

“Baiklah, kau duduklah, akan dibuatkan teh tapi setelah itu kau pergi dari sini,” kata Agatha.

“Apa? Aku baru datang kau sudah mengusirku?” tanya Vincent,pura-pura kecewa, dia sudah memperkirakan pasti kehadiarannya tidak diinginkan oleh Agatha.

“Aku sedang tidak ingin diganggu,” jawab Agatha dengan serius. Vincentpun diam. Dia bisa melihat raut sedih dimatanya Agatha. Dia merasa bersalah membuat gadis itu bersedih, tidak ada senyum lagi di bibirnya.

Agatha masuk ke dalam rumah diikuti Vincent yang segera duduk di sofa tamu, sedangkan Agatha menuju ruangan lain.

Vincent melihat ke sekeliling rumah, jadi ini rumah tempat Agatha dibesarkan? Bisa dilihat dari bangunannya kalau ini adalah bangunan yang sangat lama sekali, hanya pemiliknya merawatnya dengan rapih, karena dinding-dindingnya masih bercat bagus juga pintu-pintu dan jendela yang besar, semua terbuat dari kayu yang berkualitas tinggi.  Perabotan yang ada dirumah ini pun kebanyakan barang antik yang bernilai tinggi. Pahatan dan ukiran kayu-kayu dari perabotan itu sangat indah, pasti sangat mahal kalau di tukar dengan nilai uang jaman sekarang.

Tidak berapa lama seorang wanita yang berumur mungkin sekitar usia 40 tahunan menghampirinya menyuguhkan minuman teh untuknya. Diikuti oleh Agatha.

Gadis itu duduk di sofa yang agak jauh dari Vincent.

“Terimakasih Bi Ijah,” ucap Agatha pada Bibik itu yang tersenyum dan mengangguk.

“Minumlah tehnya, setelah itu kau boleh pulang,” kata Agatha lagi.

Vincent menatap gadis itu. Berhari-hari tidak melihat wajah gadis itu membuatnya semakin rindu saja.

“Aku sudah membawa koperku, masa aku pulang lagi?” tanya Vincent.

“Kau kan bisa mencari hotel,” jawab Agatha.

“Kau tidak mengijinkan aku menginap semalam saja? Masa aku harus mencari-cari hotel lagi? Ini sudah gelap, aku lelah,” kata Vincent.

“Kau banyak alasan saja. Minumlah tehnya nanti keburu dingin, disini cuacanya sangat dingin,” ucap Agatha.

Vincent mengambil cangkir itu dan meminumnya perlahan.

“Sangat enak dan harumnya memiliki ciri khas, apa ini hasil dari kebun teh ini?” tanya Vincent.

“Iya, itu teh produk dari pabrik kami,” jawab Agatha.

“Jadi perkebunan ini milikmu?” tanya Vincent lagi sambil menikmati teh nya.

“Bukan milikku, tapi milik keluarga Mommyku, ini peninggalan kakekku, Mommy yang mengelola setelah kakekku meninggal, dibantu pamanku juga, sekarang dibantu oleh sepupu-sepupuku,” jawab Agatha.

“Tadinya aku fikir kau tinggal di ibukota,” ucap Vincent.

“Itu rumah Mommy dan Daddy, Daddy punya perusahaan disana, cabang yang ada di London,” jawab Agatha.

“Aku baru beberapa tahun tinggal di ibukota. Bagaimana nanti kalau kita sudah menikah kita tinggal saja diibukota, di rumah Daddyku, aku juga tinggal sendiri disana, tidak usah kembali lagi ke London,” kata Vincent.

Agatha tidak menjawab. Tinggal dengan pria ini, untuk menikah saja dia malas.

“Kau belum mengatakan untuk apa kau datang kemari?” tanya Agatha.

“Aku ingin mengajakmu melihat baju pengantin kita,” jawab Vincent sambil menyimpan cangkir teh nya.

“Kau kan masih punya ukuran Amanda kan, sama ukurannya,” jawab Agatha.

“Tapi aku ingin kau melihat apakah kau suka atau tidak dengan bajunya,” kata Vincent, menatap Agatha. Sebenarnya hatinya sedih Agatha tidak bersemangat menyiapkan pernikahan mereka.

“Terserah keluargamu saja, aku tidak punya keinginan apa-apa,” jawab Agatha.

Vincent terdiam, sepertinya Agatha memang benar-benar belum bisa menerima pernikahan ini, tapi mau bagaimana lagi? Agatha yang dari awal menyukai Jonathan terus tiba-tiba berubah mencintainya, itu tidak mungikin.

“Kau masih membenciku?” tanya Vincent, membuat Agatha diam.

“Kau juga menyalahkanku atas kejadian ini?” tanya Vincent lagi.

Agatha tidak menjawab, tapi Vincent bisa membaca dari raut mukanya, kalau Agatha masih belum bisa menerima kenyataan ini, kenyataan kalau dia tidak jadi menikah dengan Jonathan dan akan menikah dengannya.

“Kau kan tidak memperbolehkanku  tinggal disini, bagaimana kalau aku mengajakmu ke ibukota berkunjung ke rumahku. Kau bisa melihat nanti kira-kira kau suka tidak tinggal disana?” usul Vincent.

“Aku sedang tidak ingin kemana-mana,” jawab Agatha.

“Ayolah, aku memaksa, aku ingin istriku bahagia, kalau kau tidak suka dengan rumahku, aku bisa membelikanmu rumah baru, bagaimana? Aku juga rindu dengan Mbok Nur," ucap Vincent.

“Mbok Nur? Siapa?” tanya Agatha langsung saja berfikir negative, apa itu wanita-wanitanya Vincent?

Vincent tersenyum melihat reaksinya Agatha, pasti Agatha mengira Mbok Nur itu pacarnya.

“Ada Dian juga Anggi dan banyak yang lainnya,” ucap Vincent, malah menggoda Agatha.

Siapa lagi mereka? Batin Agatha. Dia mengeluh dalam hati, nasibnya sangat buruk mempunyai suami seorang playboy, pacarnya dimana-mana.

“Aku tidak mau ikut,” ucap Agatha.

“Kalau begitu kau mengijinkan aku tinggal disni,” kata Vincent.

“Tidak, kau tidak boleh tinggal disini!” larang Agatha.

“Kau benar-benar tega padaku. Aku ini calon suamimu, seharusnya kau senang selalu bersamaku,” keluh Vincent.

“Aku sudah bilang dari dulu, aku tidak menyukaimu, kau tidak mengerti mengerti juga,” Agatha juga mengeluh.

“Tapi kau kan sudah menyutujui untuk menikah denganku,” kata Vincent.

“Aku mau menikah denganmu, karena aku kasihan pada orangtuaku juga orangtuamu kalau sampai pernikahan ini batal, mereka akan malu, aku tidak mau membuat mereka malu, dan Amanda juga pasti tidak mau menikah dengan Jonathan kalau aku membatalkan pernikahan,” jelas Agatha.

“Justru karena itu sayang, kau harus memulai membuka hatimu untukku,” ucap Vincent.

“Tidak usah, sayang, sayang, aku tidak mau dipanggil sayang,” protes Agatha.

Vincent menatap Agatha, ternyata sulit sekali menaklukan hati gadis ini. Jiwa playboynya benar-benar harus dikeluarkaan untuk menaklukkannya.

“Aku akan menjadi suamimu seharusnya kau menurut padaku. Ayo mana kamarnya? Aku mau istrirahat,capek!” kata Vincent tiba-tiba.

“Apa kau nanya kamar-kamar segala! Kau tidak boleh tidur dikamarku!” teriak Agatha.

“Ya sudah aku tidur disini saja!” ucap Vincent, dia langsung merebahkan tubuhnya di sofa.

Agatha mendecih sebal, pria itu benar-benar tidak mau pergi dari rumahnya.

“Vincent, kau tidak boleh tidur disini, kau cari hotel saja!” teriak Agatha lagi.

Vincent bukannya bangun, dia malah memiringan tubuhnya menghadap sandaran sofa dan mencoba tidur.

“Vincant!” teriak Agatha.

Pria itu tidak mendengarkan.

“Vincent!” teriak Agatha lagi. Pria itu sama sekali tidak bergerak. Agatha mendekatinya dan melihatnya, ternyata benar, pria itu sudah tidur terlelap, mungkin dia capek.

Mau tidak mau dia harus mengijinkan Vincent menginap malam ini. Dilihatnya keluar hari sudah semakin gelap. Agatha menghela nafas panjang, diapun beranjak akan menutup pintu, dilihatnya koper Vincent masih di teras, dia berfikir sebentar, akhirnya diambilnya koper itu dan dibawa masuk, barulah dia menutup pintu.

“Bi! Bi Ijah!” panggil Agatha.

Bibik yang tadi segera menghampiri,” ya Non,” jawabnya.

“Tolong bawa koper ini ke kamar tamu, sekalin bersihkan dulu kamarnya,” kata Agatha.

Bi Ijah menoleh pada Vincent yang tidur di sofa.

“Siapa pria tampan ini Non?” tanya Bi Ijah.

“Pria tampan, orang lain banyak yang lebih tampan dari dia!” sanggah Agatha.

Si Bibik malah tertawa.

“Dia calon suamiku, aku akan menikah dengannya,” jawab Agatha.

“Oh ini calon suami Non! Sangat tampan, pasti nanti kalau punya anak cantik cantik dan tampan,” seru Bi Ijah,bersemangat.

“Bibi ini, tidak ada anak-anak segala!” sanggah Agatha kesal, dikira si Bibik dia menyukai calon suaminya ini. Jangankan punya anak, menikah saja dia terpaksa.

Si BIbi malah tertawa lalu akan beranjak tapi dipanggil Agatha.

“Bi!” panggilnya

“Iya Non!”  jawab Bi ijah.

“Tolong selimuti dia dengan selimut yang ada di kamar tamu. Dia akan kedinginan nanti malam,” kata Agatha. Meskpin dia tidak menyukai Vincent, dia tidak tega kalau pria itu kedinginan dan jatuh sakit, nanti malah lebih lama tinggal di perkebunan.

Bi Ijah mengangguk, melirik Vincent sebentar lalu membawa koper itu menuju kamar tamu, sedangkan Agatha masuk ke kamarnya.

*************

1
Pasikah CwElosbes
cerita yg bagus ga terllu berbelit Belit
Yasinta Nuriyati
1 vote & ☕
Semangat terus berkarya Kakak author 🔥😘
Yasinta Nuriyati
Kakak author sambil nunggu karya terbarunya..baca2 cerita yang ini sangat bagus juga.. Terima kasih Kakak author karyanya sangat menghibur 🤗😘
Intan Khairani AM
😍
Intan Khairani AM
😍😍😗😗
benar....lebih baik dicintai dari pada mencintai....kita sekalu merasa dijadikan ratu....karena dalam dunia nyata...aq sudah merradasakan sendiri....
ayudisa
bagusss🥰🥰🥰
AsriMaria
Alur ceritanya bagus, konflik dan penyelesaiannya bagus tidak terlalu panjang tapi mampu menggambar kan cerita dengan baikr dan happy ending. Tata bahasanya juga baik.
AsriMaria
astaga.....msh ada stok spti vincent gak thor...dilemparlah ksni 😂😂😂...ayo Agatha...km sdh liat ksesriusan vincent
AsriMaria
astaga.....msh ada stok spti vincent gak thor...dilemparlah ksni 😂😂😂...ayo Agatha...km sdh liat ksesriusan vincent
AsriMaria
senyum2 sndiri baca ceritamu thor...gokil...😂😂😂😂
Soraya
slmt y Vincent 👍
Soraya
keren 👍
Soraya
permisi numpang duduk dl ya bru singgah👍
Ratna Sari Dewi
🤣🤣🤣
Meimawati
Q puas baca karyamu thoor.,.
tatik mufidah
pdhl bagus loo ini novelnya, yg like kok cmn dikit ya, blm tau mampir sini kayak e
tatik mufidah
wuahaha, kerjakeras vincent
Patrish
lebih indah dicintai..
daripada mencintai..
karena cinta akan tumbuh seiring waktu..
karena kasih yang diberikan setiap hari akan mengikis kebekuan hati..
❤❤❤❤❤❤
Patrish
aduh Vincent.... 🙈🙈😩😩😩😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!