{Area khusus dewasa}
"Saya mohon tolong lepaskan saya, saya mohon." Permintaan wanita itu dengan suara lirih memohon pada pria itu.
"Tidak bisa,hanya kamu yang bisa melakukannya, sampai kapanpun kamu tak akan bisa pergi."ucap pria itu dengan nada serius.
"Tapi kenapa harus saya, masih banyak wanita lain yang mau dengan Anda."
Wanita itu semakin ketakutan, setelah Apa yang dilakukan oleh pria itu.Berharap mampu bisa menghindarinya, tapi tetap saja tak bisa dia hindari ketika ambisi dari pria itu begitu besar terhadap dirinya.
Apakah nantinya dirinya akan menerima kehadiran pria itu atau dirinya lebih memilih untuk pergi dari kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita heboh di kampus ~
Malia lebih memilih untuk membaca buku daripada harus memikirkan hal yang membuat pikirannya pusing.
Sedangkan di posisi Dio saat ini berada diruang kerja yang baru saja menyelesaikan tugasnya.Saat Dio berjalan melewati depan kamar Malia,tidak sengaja Dio melihat dari sela pintu masih menyala lampu kamar milik Malia.
"Apa dia masih belum tidur." Batin Dio yang berjalan mendekati pintu kamar Malia.Sayangnya pintu kamar Malia terkunci dari dalam.
"Ternyata dia mulai was-was denganku."Dio langsung masuk kearah kamarnya dan langsung masuk ke kamar Malia dengan pintu yang terhubung dengan kamar Malia.
Setelah Dio masuk,Ia melihat posisi Malia tertidur dengan posisi tangan memegang buku ditangan kanannya.
"Ternyata dia sudah tidur."Dio melihat Malia tertidur begitu nyenyak dengan buku yang masih ada di tangannya.
Perlahan-lahan Dio mengangkat tubuh Malia meletakkan ke posisi yang semestinya,bagian kepala dia letakkan di bantal dengan pelan-pelan.
"Sepertinya dia kelelahan." Dio hanya terdiam memandangi wajah Malia yang tampak damai.
Seketika sikap Dio berubah menjadi lebih hangat pada Malia ,yang dulunya sikapnya lebih dingin sekarang mulai berbeda lebih menunjukkan perhatian lebih pada wanita itu.
"Aku akan berjuang mendapatkan hatimu,hanya kamu harapan terakhirku."Bisik lirih Dio yang merapikan rambut milik Malia yang berantakan dengan tangannya menyentuh kepala dan pipinya.
Dio mengambil selimut dan menutupi tubuh Malia dengan selimut,Tidak lupa juga dia mengecup dahi Malia.
"Selamat malam sayang." Ucap Dio yang tersenyum kearah Malia yang terlelap tidur,Dio pun keluar dari kamar Malia.
Pagi hari
Terlihat Malia baru saja bangun dari tidurnya,Ia langsung melirik kearah jam dinding.
"Aku harus segera bangun."Malia langsung bangkit sembari melihat buku miliknya sudah ada dimeja.
"Lho kok buku itu sudah ada di meja, bukannya semalam aku baca buku itu." Malia baru menyadari hal itu.
Seketika Malia melirik ke arah pintu di dekat lemari kamarnya."Apa mungkin semalam pria itu masuk ke kamarku." Batin Malia yang baru menyadari hal itu,Malia segera masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai semuanya,Malia bergegas keluar dari kamarnya.Saat Malia ke dapur tidak sengaja dirinya melihat kehadiran Dio yang sudah ada diruang meja makan.
"Sayang." Malia hanya terdiam melihat posisi Dio sudah ada ditempat itu.
Tiba-tiba saja tangan Dio menarik tangan Malia."Ayo kita sarapan," Ajak Dio yang akhirnya mereka duduk bersama dengan posisi Malia berada disamping Dio.
Akhirnya mereka sarapan pagi bersama,Malia hanya terdiam tak begitu menghiraukan kehadiran pria itu.
"Ingat satu jam lagi kita berangkat ke kampus." Dio mencoba mengingatkan Malia.
"Iya." Jawab singkat Malia yang menunjukkan ekspresi kesalnya pada pria itu.Bagaimana tidak kesal,jika ujung-ujungnya dia selalu memaksa dirinya terus.Entah apa yang akan terjadi jika semuanya tahu apa hubungan dia dengan dosennya sendiri.
Dio melirik ke samping melihat betapa Malia kesal dengan dirinya,dia sengaja melakukan itu agar dirinya tak lagi diganggu oleh pria lain.
Akhirnya mereka berangkat juga di kampus berdua,nampak ekspresi Malia terlihat begitu kesal bahkan dia terpaksa harus menuruti perintah pria itu yang tak lain dosennya sendiri.
Tangan Dio terus menggenggam tangan Malia yang sebenarnya membuat dirinya risih dengan apa yang pria itu lakukan.
"Jangan pernah kamu dekati pria lain." Dio secara langsung memperingati Malia untuk menjaga jarak dengan laki-laki.
"Memangnya salah jika saya berteman dengan seorang laki-laki?" Pertanyaan itu langsung dibalas dengan tatapan tajam.
"Tidak boleh." Mulailah Dio menunjukkan sifat posesifnya kepada Malia,bahkan Dio benar-benar marah jika Malia berdekatan dengan pria lain.
"Kenapa Bapak seenaknya mengatur saya?" Tanya Malia mengeluarkan semua unek-uneknya yang merasa seperti tersiksa dengan aturan yang dibuat oleh pria itu.
"Kamu adalah calon istri saya,jadi jangan pernah membantah." Ucap Dio yang benar-benar posesif kepada Malia.
Sampai juga mereka di kampus, suasana di area kampus sudah ramai dipenuhi beberapa mahasiswa yang mulai sibuk dengan kelas mereka masing-masing.
Malia mulai kebingungan dia harus turun di mana, sedangkan situasi di area parkir ramai dengan beberapa anak mahasiswa yang baru saja tiba di kampus.
"Bagaimana nanti orang-orang mengetahuiku, aku satu mobil dengan pria ini."batin Malia yang mulai kebingungan harus berbuat apa.
"Ayo kita keluar."Malia langsung membalas dengan menggelengkan kepala.
"Aku tidak mau, bagaimana nanti orang-orang mencurigaiku."Dio hanya menatap Malia dengan tatapan kebingungan.
"Memang apa ada yang salah?"tanya Dio yang tak mengerti dengan cara pikir Malia.
"Bapak ini bagaimana, jika nantinya orang-orang mengetahui kita berangkat berdua bagaimana nanti tanggapan mereka pada kita."Malia benar-benar frustasi dengan apa yang dia hadapi sekarang ini.
"Jika mereka tahu itu jauh lebih baik." Seketika Malia kaget tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.
"Benar-benar gila." Batin Malia yang tak habis pikir dengan cara pikir pria itu.
"Jika semua orang tahu,maka laki-laki tak akan berani mendekatimu."Ternyata itulah di balik alasannya dia seperti itu.
Malia benar-benar kesal dengan apa yang pria itu lakukan,hingga Malia harus mengawasi situasi diluar sepi barulah dia bisa keluar dari mobil itu.
Malia akhirnya keluar dari mobil itu setelah situasi mulai sepi,dan Malia pergi tanpa berpamitan yang semakin membuat Dio mengerti jika Malia sedang kesal dengan dirinya.
Dio malah menganggap santai,karena begitulah sifat dari Malia.
Posisi Malia sudah ada didalam kelas, seperti biasanya dia mempersiapkan beberapa buku miliknya.
"Malia."
"Nita." Malia langsung di peluk Nita.
"Kamu kemana saja, sudah beberapa hari ini kamu tidak pernah masuk ke kampus?" Pertanyaan itu langsung membuat Malia kebingungan,dia harus beralasan apa pada temannya.
"Aku pulang kampung,Nit.Maaf aku lupa kabari kamu." Jawab Malia yang ternyata hanya beralasan saja agar dirinya tak dicurigai.
"Kamu itu pelupa terus,sampai kamu ketinggalan berita heboh." Seketika Malia penasaran apa yang dimaksudkan berita heboh itu.
"Berita heboh apa?" Tanya Malia yang sempat penasaran berita heboh apa.
Akhirnya Nita menceritakan berita heboh itu,dan reaksi Malia tak begitu kaget karena dia tahu sejak awal kejadian itu.
"Lalu sekarang?"
"Dipenjara dia sekarang,salah dia sendiri melakukan tindakan kriminal itu.Untungnya kamu tidak bersama pria itu." Malia hanya menganggukkan kepala.
"Jika aku tidak menolaknya mungkin tak akan terjadi seperti ini."Batin Malia yang merasa bersalah pada diri sendiri.
Mereka berdua fokus dengan tugas mereka masing-masing yang dimana Dosen mereka sudah memulai pelajaran di pagi ini.