Yt : Aam Aminah
IG : Aamaminah45
Aurin dan Nanda menjalin hubungan asmara sejak SMA sementara keluarga nanda tidak setuju karna aurin anak dari seorang pelacur karna dijual ayahnya.
ibunya bekerja di Bar sementara ayah nya pemabuk dan selalu menyakiti Aurin serta ibunya kehidupan yang menderita sering Aurin rasakan ditambah kisah cinta Asmaranya.
Suatu ketika ayahnya Aurin menjualnya saat itu Raka ketua Mafia sedang ada disitu saat itu Aurin meminta tolong ke Raka orang asing tapi karna keadaan mendesak aurin dengan sangat ceroboh nya meminta bantuan dengan orang asing tidak lain Raka.
Raka pun membantu aurin dengan syarat tanpa berfikir lagi aurin menyetujui persayaratanya.
Padahal Raka dan Nanda musuh sementara Nanda tidak tau Aurin dijual.
akan kah aurin bertahan dengan siksaannya atau malah bertahan dengan keganasan Raka yang setiap saat menyiksanya tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aam aminah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Sikap yang aneh.
Mentari yang cerah pagi itu membangunkan Aurin dia membuka matanya perlahan melihat sekeliling nya di samping nya Raka sedang tertidur pulas sambil meluk Aurin dengan hati hati Aurin melepaskan pelukan itu.
Saat sudah berhasil melepasnya Aurin masuk ke kamar mandi dia membersihkan dirinya selesai mandi Raka terbangun karna suara berisik dari kamar mandi membangunan nya.
Dia pun sedikit perlahan membuka matanya rasanya nyaman sekali di dekat wanita itu saat itu Aurin baru selesai mandi dia sudah terlihat segar dan pastinya wangi.
Raka memandangi dari ujung kaki sampai ujung rambut terlihat mempesona ingin sekali mengurung Aurin dan jangan keluar dari kamar ini sementara Aurin yang di tatap seperti itu sedikit aneh dan pastinya malu.
"Kau sudah mandi." ucap Raka dia menarik selimut mengepaskannya.
"Iyah Tuan." ucap Aurin sambil menunduk.
"Tuan." ucap Raka tak suka dengan panggilan Aurin barusan.
"Maaf Oppa." ucap Aurin dia hari ini tidak mau membuat Raka kesal karna dia ingin meminta izin melihat Rara.
"Oppa, boleh saya melihat keadaan Rara.??" tanya Aurin tapi wajah nya masih menunduk.
Raka memandangi Aurin sepertinya dia sangat perduli dengan pelayan nya itu dia pun berfikir sedikit sebelum memutuskan nya.
"Baik lah karna kamu sedikit cantik aku bolehkan." ucap Raka dengan senyum genit nya mata Aurin sedikit melotot dengan perkataan Raka barusan.
Dia bilang aku sedikit cantik lalu yang cantik versi kamu itu seperti apa Mamih Lola.!!! Aurin.
"Makasih Oppa, saya permisi dulu." ucap Aurin keluar dari kamar itu dengan sedikit kesal.
Sementara Raka memandang rambut Aurin dari belakang dengan tersenyum selucu itu mukanya ketika bahagia setelah kepergian Aurin Raka masuk ke kamar mandi dia ingin merendam dengan air hangat sepertinya enak.
Aurin melangkah menuju kamar Rara saat mau sampai dia melihat Max yang mondar mandir di depan pintu Rara sambil berfikir entah berfikir tentang apa Aurin melangkah mendekati Max saat melihat bubur ayam di tangan Max Aurin mengerti dengan yang dipikirkan Max.
"Sekretaris Max, itu buat Rara." ucap Aurin seketika Max kaget dengan ucapan Aurin dia pun begitu terkejut lalu mengangguk tanda perkataan Aurin itu benar.
"Biar aku saja." ucap Aurin lalu mengambil bubur nya dengan cepat sementara Max menyerahkannya Aurin melangkah masuk ke kamar Rara dia melihat Rara masih terbaring lemah.
"Rara." ucap Aurin dia duduk disamping Rara.
Rara ingin bangun tapi di hentikan Aurin dia pun hanya tersenyum ke Aurin wajahnya sangat pucat serta lukanya sedikit kering sepertinya tidak terlalu parah hanya saja belum terbiasa di cambuk.
"Aku membawakan bubur ayam. aku suapin yah." ucap Aurin Rara pun mengangguk tersenyum dia begitu sangat bahagia bisa di perlakukan istimewa dengan majikannya.
Raka sudah selesai mandi dia pun keluar dari kamarnya harum parfum Raka bertebaran kesana kemari saat akan menuju kamar Rara dia melihat Max yang berdiri tak jauh dari kamar nya Rara dengan cepat Raka menghampiri Max dia melihat gerak gerik Max mencurigakan.
"Kau sedang menatap siapa." ucap Raka melihat Max tak suka dia benci kalo Aurin dekat dengan Max.
"Tidak Tuan." ucap Max dia sedikit membetulkan baju nya.
"Saya peringatkan kamu Max, jangan berbicara sama Aurin serta menyentuh tubuh nya apalagi menatap wajah nya." ucap Raka matanya menatap raja Max dengan cepat Max mengeleng.
"Tidak Tuan, saya tidak akan berbicara dengan Non Aurin bahkan mendekati nya saya tidak akan." ucap Max.
Tuan mengerti lah saya tidak menyukai Nona Aurin tapi yang lain. Max.
Raka tidak meladeni ucapan Max dia langsung masuk le kamar Rara saat melihat pemandangan Aurin menyuapi Rara mata Raka melotot menatap tajam Rara dia pun langsung menarik tangan Aurin karna kedatangan Raka tiba tiba membuat Rara takut bahkan dia tidak menelan makanan nya.
"Kau, kurang sopan pada majikan mu." ucap Raka menatap Rara dengan sorot mata tajam.
Max yang mendengar pertengkaran itu langsung berlari masuk ke kamar Rara dia hanya berdiri mematung tak berani membela Rara di depan Raka.
"Maaf Tuan." ucap Rar dia sampai turun dari kasur nya Aurin yang melihat Rara berdiri menatap Raka tak mengerti jalan pikiran nya.
"Oppa dia sedang sakit jadi saya berniat membantu nya." ucap Aurin memegang tangan Raka.
"Kenapa harus menyuapi nya bukan kah tangan nya masih di tempat nya." ucap Raka mata nya masih menatap tajam Rara yang di tatap hanya menunduk.
"Kalo kau mau di suapin Oleh dia, tangan mu akan ku potong." ucap Raka seperti tak main main dengan ucapan nya.
"Maaf Tuan." ucap Rara dia benar benar takut.
"Ikut." ucap Raka tanpa persetujuan dari Aurin Raka menarik tangan Aurin dengan kasar.
Saat sudah keluar dari ruangan itu Raka membawa Aurin ke ruang makan dia langsung menyuruh Aurin duduk Raka menyuruh pelayan nya menyiapkan makan dengan cepat makanan enak tersaji di depan meja itu.
"Suapi aku." tatap Raka tajam Aurin mengambil nasi dan lauk dia taroh di piring itu dengan sedikit gementar.
"Cepat aku lapar." ucap Raka lagi mulai kesal dengan sikap Aurin yang lambat.
Aurin lalu menyuapi Raka dia heran dengan sikap Raka tapi tidak berani bertanya dia hanya menurut saja mengikuti mau nya karna sekarang dia tau pria di depan nya bisa saja membunuh nya bahkan lebih dari itu.
Saat melihat buah buahan Aurin begitu ingin sekali makan buah jambu air Raka menatap Aurin yang tak menyuapinya malah melamun.
"Hey." ucap Raka membuyarkan pikiran Aurin.
"Maaf Tuan." tapi mata Aurin tak berpaling dari buah buahan Raka melihat arah mata Aurin.
"Ambil aja kalo kau mau." ucap Raka seakan mengerti arti arah mata Aurin.
"Tidak Tuan." ucap Aurin dia lalu menyendokan nasi menyuapi Raka kembali.
Sementara Max masih berdiri mematung di kamar Rara memperhatikan Rara sementara Rara dia begitu takut dengan Max tak seperti biasanya dia menatap ku lama.
"Tuan, ada yang perlu saya bantu." ucap Rara saat melihat Max tak pergi dari kamarnya.
Bukanya mengusir tapi Rara merasa agak takut dengan Max dia tau Max adalah orang yang sangat kejam bahkan melebihi Raka karna Rara sering melihat Max membunuh Orang tanpa kasihan sedikit pun.
"Kau, sudah sehat." ucap Max berusaha memecahkan keheningan.
"Yah Tuan." ucap Rara dia masih canggung berada di samping Max.
"Jaga diri kamu baik baik. Aku pergi dulu." ucap Max melangkah pergi sementara Rara memandang kepergian Max dengan seribu tanda tanya.
Kenapa dia aneh sih. aku kah hampir tidak bisa bernafas karna suasana di selimut hawa Horor. Rara.
Sementara Max menuju Raka saat akan ke ruangan kerja Dia melihat Raka dan Aurin sedang bersuap suapan bahkan Raka membiarkan tangan nya menyuapi Nona Aurin.
Sepertinya Tuan Raka, sudah di mabok cinta. Max.
Semua pelayan di situ menonton drama di meja makan lelaki yang sempurna juga perempuan yang mempesona begitu serasi bahkan cocok untuk di jadikan model meja makan.
"Aku udah kenyang." ucap Aurin dia mengelengkan kepala dari tadi Raka terus menyuapinya.
Raka melihat piring sepertinya habis masuk ke perut Istrinya dia pun meletak kan sendok kembali lalu menuangkan air putih dan memberikan nya le Aurin.
"Makasih." ucap Aurin dia langsung meminum sampai tandas tak tersisa sedikit pun.
Selesai makan Raka pergi keruangan kerja nya sementara Aurin dia tiduran di kamar dia merasa sangat mengantuk sekali sampai akhirnya terlelap dalam mimpi indah di siang hari.