Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 **Nilai Ila besarrr**
Ila menatap dengan raut sangat puas pada selembar kertas ulangan yang kini berada di genggaman tangan mungilnya. Di pojok kanan atas kertas itu, tertera angka 99 dengan tinta merah yang mencolok. Bagi kebanyakan orang yang menganggap matematika adalah musuh bebuyutan, nilai itu sudah masuk dalam kategori "jenius luar biasa".
"Luna look! Nilai Ila besarrrr!" seru Ila penuh semangat sambil menyodorkan kertas itu tepat di depan wajah Luna.
Luna hanya melirik kertas itu dengan tatapan malas dan sisa-sisa trauma mengerjakan soal aljabar. "Kenapa sih lo pakai minta ulangan dadakan segala?" sungut Luna yang masih kesal.
Bukan hanya Luna, hampir seluruh penghuni kelas X IPA 2 menatap Ila dengan tatapan "ingin marah tapi dia bocil". Bagaimana tidak? Materi baru saja dibuka, penjelasan belum tuntas, tapi Ila dengan polosnya malah menantang maut dengan meminta ulangan harian. Alhasil, mereka semua mengerjakan soal dengan otak yang masih "kosong" dan tanpa persiapan sama sekali.
Sang Guru Matematika mulai membereskan buku-bukunya di meja depan dengan senyum yang sangat lebar. "Baiklah, pelajaran hari ini sudah selesai. Bapak sangat terkesan. Sering-seringlah meminta ulangan seperti tadi ya, Bapak dengan senang hati akan memberikannya," ucapnya dengan nada riang.
"Baik Pak Guru! Ila akan minta ulangan lagi nanti!" sahut Ila dengan wajah polos tanpa dosa.
"BOCILLLLL!!!" teriak teman-teman sekelas Ila serempak. Suara mereka menggema di seluruh ruangan, penuh dengan rasa frustrasi sekaligus gemas yang memuncak.
"Apa?" tanya Ila sambil mengerjapkan mata indahnya, seolah benar-benar tidak paham kenapa satu kelas mendadak meneriakinya.
Guru matematika tersebut tertawa renyah melihat pemandangan unik itu. Seumur hidupnya mengajar, baru kali ini ia menemukan murid yang justru sangat haus akan ujian seperti Ila.
"Kalian harus contoh semangat Ila. Sudahlah, sekarang kalian boleh istirahat. Bapak keluar dulu... Permisi," pamit guru tersebut yang keluar kelas sambil sesekali masih tertawa kecil.
Di depan pintu kelas, Alzian, Elzion, dan teman-teman geng nya sudah berdiri menunggu. Mereka menatap bingung saat melihat guru matematika yang biasanya terkenal killer itu keluar sambil tertawa-tawa sendiri.
"Ehh, Alzian dan Elzion! Mau jemput Ila ya? Saya benar-benar bangga dengan adik kalian itu. Dia luar biasa," sapa guru tersebut dengan senyum sumringah yang jarang terlihat.
Dua bersaudara itu beserta Lanka, Dian, Juna, dan Liam hanya bisa terdiam bingung. Mereka saling lirik, lalu memberikan senyum sopan sebagai balasan. Guru itu pun berlalu pergi dengan suasana hati yang tampak sangat bahagia.
"Luar biasa apanya? Perasaan gue gak enak," bisik Elzion sambil menatap pintu kelas yang masih terasa panas akibat emosi para murid di dalam.
Itu guru kenapa? Adek lo lakuin apa sampai dia senyum-senyum nggak jelas gitu?" tanya Juna dengan dahi berkerut, menatap punggung guru matematika yang baru saja berlalu dengan riang.
"Mana gue tau! Gue kan dari tadi bareng kalian terus di sini," sahut Elzion sewot. Ia merasa sedikit curiga, biasanya guru matematika keluar kelas dengan wajah lelah, bukan seperti baru saja memenangkan lotre. Juna hanya cengengesan menanggapi jawaban Elzion.
"Dek..." panggil Alzian lembut ke arah dalam kelas.
Ila, yang tadinya sibuk menatap teman-teman sekelasnya yang masih bersungut-sungut karena ulangan dadakan, langsung menoleh cepat. Begitu melihat sosok kakaknya, wajahnya langsung cerah.
"Abanggggg!" teriak Ila senang. Ia segera berlari kecil menghampiri Alzian yang sudah bersiap menyambutnya di depan pintu.
Namun, tepat saat Alzian hendak menangkap tubuh mungil adiknya, Elzion dengan gerakan gesit langsung menghalanginya. Elzion menyambar Ila lebih dulu dan mengangkatnya masuk ke dalam gendongan ala koala.
"Nakal ya, udah dibilang jangan lari-lari nanti jatuh," tegur Elzion pura-pura tegas sambil mencubit pelan hidung mancung adiknya.
Ila tidak merasa bersalah, ia malah terkikik lucu lalu melingkarkan tangan mungilnya di leher Elzion dengan sangat manja. Alzian yang melihat aksinya didahului hanya bisa berdecak kesal. Lagi-lagi, Elzion mencuri start untuk menggendong si bungsu.
"Kantin," ucap Lanka singkat. Tanpa menunggu balasan, ia membalikkan badan dan berjalan lebih dulu dengan gaya kerennya yang khas menuju kantin sekolah.
"Luna, ayoo ke kantin!" ajak Ila pada Luna yang masih terduduk lemas di bangkunya, tampak kehilangan semangat hidup akibat aljabar.
Luna dengan malas beranjak dari duduknya. Ia mengikuti langkah Ila yang berada di gendongan Elzion, serta rombongan kakak kelas populer itu berjalan menuju kantin.
Sepanjang koridor, Ila terus tersenyum lebar sambil mendekap Elzion, sementara wajah Luna tampak sangat masam—bahkan lebih masam dari asam jawa. Teman-teman Alzian yang memperhatikan perbedaan ekspresi drastis antara Ila dan Luna hanya bisa saling lirik dengan bingung.
Sesampainya mereka di kantin yang mulai ramai, mereka mengambil meja besar untuk duduk bersama.
"Luna," panggil Elzion pada Luna yang duduk tepat di sampingnya dengan wajah yang masih ditekuk.
"Ahh, iya kak? Kenapa?" tanya Luna tanpa semangat.
"Lo kenapa cemberut gitu? Kayak orang belum makan setahun," tanya Elzion heran.
Luna melirik Ila yang masih tampak ceria di sebelah abangnya, lalu menjawab dengan suara ketus, "Tanya aja sama Ila!"
Sekarang Luna benar-benar tidak peduli lagi dengan citra atau rasa takutnya pada abang-abang Ila yang merupakan penguasa sekolah. Rasa kesalnya akibat ulangan dadakan tadi jauh lebih besar dari pada rasa segan kepada Elzion maupun Alzian.
Seluruh anggota geng Lanka menaikkan alis mereka secara bersamaan mendengar nada ketus dari Luna. Elzion menunduk, menatap Ila yang saat ini sedang duduk dengan nyaman di pangkuannya, tampak sangat santai seolah tidak memiliki beban hidup.
"Ila... kamu habis apain Luna sampai dia sewot gitu?" tanya Elzion penuh selidik.
Ila mendongak, menatap mata abangnya dengan binar polos yang sangat meyakinkan. "Ila nggak apa-apain Luna ko," sahutnya pendek.
Liam yang duduk di depan mereka ikut penasaran. "Terus kenapa teman lo cemberut gitu, Cil? Kayak habis kehilangan dompet aja."
"Nilai Luna kecil, hihi..." Ila terkikik geli. Ia teringat kejadian di kelas tadi saat ia sengaja mengintip paksa kertas ulangan Luna yang disembunyikan di bawah meja.
Luna mendengus keras, rasa kesalnya memuncak. "Gara-gara lo sih, Cil! Kan gue belum sempat belajar sama sekali, jadi wajar nilai gue kecil!" gerutu Luna tanpa saringan.
Juna yang mendengar itu langsung menyela. "Heh, kok Ila yang disalahin? Kan salah lo sendiri kenapa nggak belajar, udah tahu ada jadwal ulangan harian," ucapnya membela si bocil.
Alzian hanya tersenyum tipis, ia lebih tertarik pada hasil usaha adiknya. Sambil mengelus lembut pipi chubby Ila yang terasa kenyal, ia bertanya, "Kalau nilai Adek berapa, hm?"
"Besarrr!" ucap Ila dengan nada bangga yang menggemaskan.
"Pinter banget adek Abang," puji Alzian sambil mengacak gemas rambut Ila. Ia merasa bangga tanpa tahu ada drama besar di balik nilai tersebut.
Dian mencoba menjadi penengah dan menenangkan Luna. "Yaudah, nggak apa-apa Lun. Kan itu cuma ulangan harian, bukan ulangan akhir semester. Masih bisa diperbaiki nanti."
"Gue nggak masalah ya kalau cuma ulangan harian, asalkan ujiannya itu emang udah dikasih tahu dari awal!" sungut Luna tetap pada pendiriannya.
Dahi Liam berkerut. "Maksudnya? Ulangan tadi itu dadakan?"
Luna mengangguk mantap. "Lebih tepatnya, Ila yang minta ulangan matematika hari ini! Padahal materinya aja belum selesai dijelasin semua sama Pak Guru."
Mendengar pengakuan jujur dari Luna, mata mereka semua terbelalak kaget. Sedetik kemudian, mereka mati-matian menahan tawa yang hampir meledak. Mereka bisa membayangkan betapa tersiksanya perasaan seluruh murid di kelas itu karena ulah ajaib seorang Ila.
Sementara itu, sang tersangka utama—Ila—dengan wajah tanpa dosa tetap santai menerima suapan nasi goreng dari tangan Alzian. Ia mengunyah dengan tenang, seolah teriakan frustrasi teman sekelasnya hanyalah musik latar yang merdu.
"Parah sih... si Bocil satu ini bener-bener next level," Juna terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Ia membayangkan jika ia berada di posisi murid kelas itu, mungkin ia sudah pingsan di tempat.
"Adek gue emang beda dari yang lain," ucap Elzion dengan nada bangga yang luar biasa. Tanpa ragu, ia mengecup pipi chubby Ila dengan gemas sebagai bentuk apresiasi atas keberanian adiknya mengacaukan seisi kelas.
"Sumpah ya, kalau gue yang ada di posisi Luna, udah gue geprek nih Bocil sampai penyet, haha!" ujar Liam sambil tertawa terbahak-bahak, membayangkan penderitaan murid-murid kelas X IPA 2.
"Pantesan aja tadi Pak Guru senyum-senyum sendiri sambil muji-muji nih bocil waktu di depan kelas. Ternyata dapet tumbal satu kelas toh, haha!" sahut Juna ikut menimpali.
Di sisi lain meja, Alzian dan Lanka hanya bisa tersenyum kecil. Mereka sudah hafal betul kalau Ila memang penuh kejutan, meski kejutan kali ini cukup membuat teman-teman sekelasnya menderita lahir batin.
"Pokoknya kalau Ila bukan adek kesayangan Kak Alzian sama Kak Elzion, udah gue sleding nih Bocil dari tadi!" gerutu Luna dengan wajah yang masih tertekuk. Mendengar itu, tiga "cucurut"—Liam, Juna, dan Dian—kembali meledak dalam tawa.
"Sudahlah, terima nasib aja sekarang. Cepat dimakan makanannya," titah Elzion kepada Luna. Akhirnya, dengan perasaan dongkol yang masih tersisa di dada, Luna menyuap makanannya dengan kasar, seolah sedang melampiaskan dendam pada nasi di piringnya.
"Yeayyy! Ila udah kenyang!" seru Ila riang begitu suapan terakhir nasi gorengnya habis. Ia mengusap perutnya yang sedikit membuncit dengan tangan mungilnya.
Ila kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling meja. Ia melihat kakak-kakaknya masih sibuk dengan piring masing-masing. Hanya Lanka yang tampak sudah selesai dan sedang menyesap minumannya dengan tenang.
"Huhu... Ila bosen nunggu kalian makan," keluh Ila sambil menopang dagu dengan kedua tangan mungilnya. Matanya mengerjap-erjap bosan, membuat orang-orang di kantin yang melihat tingkahnya itu mendadak merasa gemas berjamaah.
Pandangan Ila kemudian jatuh pada Liam yang asyik mengunyah sambil sesekali menggeser layar ponselnya. "Abang Liam..." panggil Ila lembut.
"Hm?" sahut Liam tanpa menoleh.
"Ila pinjam HP-nya dong," pinta Ila dengan nada memohon yang sulit ditolak.
Liam akhirnya menoleh dan menatap Ila dengan dahi berkerut. "Buat apa?" tanya Liam was-was, takut ponselnya bakal diinstal aplikasi aneh atau malah dijatuhkan.
"Ila mau nonton Upin-Ipin di YouTube," sahut Ila sambil menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan gerakan yang sangat lucu, seolah-olah sedang merayu Liam.
"Nonton Upin-Ipin aja kan? Nggak buka yang lain?" tanya Liam memastikan, menjaga privasi galeri fotonya.
"Hu'um!" Ila mengangguk mantap. Melihat keimutan itu, Liam akhirnya luluh dan memberikan ponselnya ke genggaman tangan kecil Ila.
"Yeayyy! Ila mau nonton!" seru Ila senang bukan main. Sorak kegembiraannya itu membuat Alzian, Elzion, dan yang lainnya kembali terkekeh geli. Si jenius pengacau kelas itu kini kembali menjadi anak kecil yang hanya butuh kartun untuk merasa bahagia.