Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Malam semakin larut, namun langit seolah belum puas menumpahkan amarahnya. Hujan masih turun, meski intensitasnya kini berubah menjadi rintik-rintik yang membawa hawa dingin menusuk tulang. Di dalam kamar panti yang sempit itu, Isvara masih terbaring lemah. Wajahnya yang pucat pasi terlihat sangat kontras dengan bantal putih yang menyangganya. Di sudut ruangan, Andra masih setia mengawasi, meski egonya terus berperang dengan rasa khawatir yang kian membuncah.
Melihat kondisi Isvara yang tak kunjung membaik, Andra akhirnya berdiri. Ia tidak bisa membiarkan Isvara tetap di sini dalam kondisi seperti ini. Kamar panti ini terlalu dingin, dan ia butuh memastikan Isvara berada di bawah jangkauan dokter pribadinya jika sesuatu yang buruk terjadi.
"Kita pulang sekarang," ucap Andra pelan namun tegas.
Isvara membuka matanya perlahan. "Aku masih lemas, Andra. Biarkan aku di sini semalam saja."
"Tidak. Di rumah lebih aman untukmu," potong Andra cepat. Ia mendekat ke ranjang, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Andra mengulurkan tangan untuk menyentuh pundak Isvara.
Ada rasa ganjil yang merayapi hati Andra saat tangannya bersentuhan dengan tubuh ringkih itu. Ada trauma kecil yang tiba-tiba melintas di benaknya bayangan saat kedua asisten Isvara merampas tubuh istrinya dengan kasar di masa lalu, membawa Isvara pergi tanpa ia bisa mencegah. Namun malam ini, Andra memastikan hal itu tidak akan terjadi. Isvara tidak memegang ponselnya sejak tadi, asisten-asisten itu tidak akan tahu di mana dia berada. Malam ini, Isvara sepenuhnya di bawah kendalinya.
Andra hendak merengkuh tubuh Isvara untuk menggendongnya, namun Isvara memberikan penolakan lemah dengan tangannya. "Jangan... aku bisa jalan sendiri."
Andra mendengus pelan, menahan kekesalannya. Ia tidak memaksa untuk menggendong, namun ia meraih tas selempang kecil milik Isvara dan menyampirkannya di bahunya sendiri sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa bagi pria seangkuh Andra. Ia kemudian melingkarkan lengannya di pinggang Isvara, menyangga tubuh wanita itu agar tidak ambruk.
Sentuhan itu, kehangatan tubuh Andra yang merambat ke kulit Isvara, seketika memicu trigger memori di otak Isvara. Dulu, Andra sering melakukan ini. Dulu, rangkulan ini adalah tempat teraman bagi Isvara. Selama beberapa detik, Isvara terdiam seribu bahasa, membiarkan dirinya hanyut dalam dejavu yang menyakitkan.
"Jangan berpikir macam-macam," suara dingin Andra menyentakkan Isvara kembali ke kenyataan. "Saya hanya ingin melindungi kamu dari orang-orang yang mungkin akan bersikap sok pahlawan jika melihat istrinya Adrian Prayudha jatuh pingsan di depan umum."
Isvara tersenyum getir di dalam hati. Tentu saja, semuanya demi citra. Ia akhirnya pasrah, membiarkan Andra menuntunnya keluar kamar karena jujur saja, kakinya memang sudah tidak sanggup menopang berat badannya sendiri.
Saat mereka sampai di lantai satu, langkah Isvara kembali terhenti. Dewa masih ada di sana, duduk di ruang tamu dengan raut wajah yang tak kalah gelisah.
Begitu melihat Andra menuntun Isvara dengan mesra meski dipaksakan Dewa langsung berdiri.
Andra melirik Dewa dengan tatapan penuh kemenangan yang mematikan. "Masih belum pulang, Tuan Dewa? Sepertinya Anda sangat betah mengurusi urusan rumah tangga orang lain," sindir Andra tajam.
Dewa tidak menjawab, matanya justru salah fokus melihat tas selempang wanita yang tergantung di bahu Andra. Seorang Adrian Prayudha, yang biasanya begitu menjaga wibawa, kini bersedia membawakan tas istrinya? Dewa merasa ulu hatinya terhantam, ada rasa panas yang menjalar di dadanya melihat kedekatan yang seharusnya menjadi miliknya dulu.
Isvara yang menyadari tensi di antara kedua pria itu akan meledak lagi, segera menarik pelan lengan Andra. "Ayo jalan. Aku mau pamit ke Bunda dulu," bisiknya lirih.
Bunda Neli muncul dari arah dapur dengan wajah cemas. Beliau memeluk Isvara sekali lagi dengan sangat erat. "Hati-hati, Nak. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Bunda. Janji?"
"Janji, Bun. Vara baik-baik saja," bohong Isvara sambil memaksakan senyum yang terlihat sangat rapuh di mata Bunda Neli.
Setelah berpamitan, Andra membawa Isvara keluar menuju halaman. Di sana, sebuah mobil mewah jenis Alphard hitam sudah menunggu dengan mesin yang menyala. Isvara tertegun sejenak saat melihat mobil itu. Ini bukan mobil yang biasa dipakai Andra untuk urusan bisnis sehari-hari. Ini adalah mobil yang selalu mereka gunakan bersama dulu, saat mereka masih sering menghabiskan akhir pekan hanya untuk berkeliling kota tanpa tujuan.
"Jangan salah paham dulu," ucap Andra seolah bisa membaca pikiran Isvara saat ia membukakan pintu untuk istrinya. "Saya pakai mobil ini hanya karena kenyamanan suspensinya lebih baik untuk orang sakit, bukan karena alasan kenangan atau apa pun yang ada di kepalamu."
Isvara terdiam, ia hanya mengangguk lemah dan masuk ke dalam kabin mobil yang luas dan nyaman. Bau pengharum mobil itu pun masih sama dengan tiga tahun lalu, membuat sesak di dada Isvara semakin menjadi-jadi.
Begitu mobil mulai berjalan, keanehan perlakuan Andra terus berlanjut. Entah setan apa yang merasuki pria itu, namun Andra mengetuk kaca pembatas dan menginstruksikan sopirnya. "Jalan pelan-pelan saja. Jangan ada guncangan, Nyonya sedang sakit."
Sopir itu mengangguk patuh. Andra kemudian meraih sebuah selimut wol tebal yang sudah tersedia di kursi belakang dan menyelimuti tubuh Isvara yang gemetar karena kedinginan. Tak sampai di situ, Andra meraih tangan Isvara yang terasa seperti es dan menggenggamnya erat, seolah ingin menyalurkan kehangatan tubuhnya sendiri ke tangan yang membeku itu.
Isvara menatap tangannya yang berada dalam genggaman Andra. Ia ingin menariknya, namun tenaganya benar-benar sudah di titik nol. Ia membiarkan kehangatan itu mengalir, meski ia tahu bahwa esok pagi, saat matahari terbit, pria di sampingnya ini mungkin akan kembali berubah menjadi sosok kejam yang menghujatnya dengan kata-kata tajam.
Di tengah keheningan mobil yang melaju membelah malam Jakarta, Isvara memejamkan matanya. Ia tidak tahu sandiwara apa lagi yang sedang dimainkan Andra, atau apakah ini adalah sisa-sisa cinta yang terkubur dalam ego. Namun untuk malam ini, ia memilih untuk pura-pura percaya bahwa ia masih memiliki tempat untuk bersandar.
Crazy up nya ditunggu thor, pengennya isvara bisa balik keadaan