Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alarm Suara dan Tombol Bingung
Malam telah jatuh di Jakarta, dan penthouse megah itu kini bermandikan cahaya lampu kota yang berkelap-kelip dari balik jendela kaca raksasanya. Arka, Rian, dan Ezra sedang ada urusan di luar, sementara yang lainnya entah bersembunyi di mana. Lana merasa sedikit kesepian di ruang tengah yang sangat luas itu.
"Lana mau kunci pintu aja deh, biar aman," gumamnya pelan.
Ia berjalan menuju pintu utama yang kemarin sempat membuatnya menangis. Namun, di samping pintu itu, ia melihat sebuah panel baru yang tidak ia sadari sebelumnya. Panel itu memiliki lubang kecil seperti mikrofon dan sebuah tombol merah besar di bawahnya. Lana mengernyitkan dahi.
"Ini bel buat panggil satpam ya?" pikir Lana polos. "Atau mungkin ini alat buat pesan martabak?"
Lana teringat di desanya, kalau mau mengunci rumah cukup dengan menggeser kayu di balik pintu. Tapi di sini, semuanya serba tombol. Karena merasa bertanggung jawab menjaga rumah saat kakak-kakaknya tidak ada, Lana mendekatkan wajahnya ke lubang kecil itu.
"Halo? Pak Satpam? Lana mau kunci pintu, gimana ya caranya?" bisik Lana pelan ke arah panel.
Tidak ada jawaban. Lana mencoba lagi, kali ini sedikit lebih keras. "Permisi? Ada orang di dalem tembok?"
Masih hening. Lana mulai penasaran dengan tombol merah besar di bawahnya. Warnanya sangat mencolok, seolah-olah memanggilnya untuk ditekan. Tanpa pikir panjang, Lana menekan tombol itu dengan telunjuknya. Klik.
Seketika, lampu di seluruh ruangan berubah menjadi merah darah yang berkedip-kedip. Sebuah suara wanita robotik yang dingin menggema dari plafon dengan volume yang sangat keras.
"SISTEM KEAMANAN DIAKTIFKAN. PENYUSUP TERDETEKSI. MENGHUBUNGI KANTOR POLISI TERDEKAT DALAM SEPULUH DETIK. SEPULUH... SEMBILAN... DELAPAN..."
"Aaaahhh! Tolong! Kotaknya ngomong! Lana nggak bermaksud nyusup, Lana tinggal di sini!" teriak Lana panik. Ia mulai berlari keliling ruangan, tidak tahu harus bersembunyi di mana. Suara hitungan mundur itu terdengar seperti lonceng kematian baginya. "Kak Arka! Kak Gaza! Tolong Lana!"
"Woi! Gila! Siapa yang pencet tombol darurat, nyet?!"
Sebuah pintu kamar terbanting terbuka. Jeno muncul dengan rambut acak-adakan, hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan yang bergambar logo tim E-Sport-nya. Ia memegang controller PS di tangan kanan dan ponsel di tangan kiri.
"Lana? Lo ngapain di pojokan situ? Lo mau latihan simulasi kiamat apa gimana?" seru Jeno sambil berlari menuju panel dinding.
"Kak Jeno! Maafin Lana! Lana cuma mau kunci pintu, terus mbak-mbak di plafon marah-marah!" isak Lana sambil berjongkok di balik sofa besar, menutupi telinganya.
Jeno dengan cepat menekan serangkaian kode di ponselnya. Suara robotik itu berhenti di angka 'dua'. Lampu merah kembali menjadi putih hangat yang menenangkan. Keheningan kembali menyelimuti penthouse, menyisakan suara napas Lana yang tersengal-sengal.
"Duh, Lan... sumpah ya, jantung gue hampir copot! Gue lagi match penting tadi, gara-gara lo gue jadi AFK!" gerutu Jeno, namun ia segera menghampiri Lana di balik sofa. "Bangun lo, nggak usah drama gitu mukanya."
Jeno mengulurkan tangannya yang penuh dengan gelang hitam karet. Lana meraih tangan itu dan berdiri dengan lutut yang masih lemas. "Maafin Lana, Kak Jeno. Lana beneran nggak tahu kalau tombol merah itu buat panggil polisi. Lana pikir itu buat pesan makanan."
Jeno terdiam sejenak, lalu tawa kerasnya pecah memenuhi ruangan. "Pesen makanan pakai tombol darurat? Gila, lo visioner banget, Lan! Kalau beneran bisa, gue udah pesen piza tiap jam pakai tombol itu!"
Jeno menarik Lana menuju panel yang tadi ditekan gadis itu. "Sini lo, jangan takut. Gue ajarin biar lo nggak kena serangan jantung lagi. Gak asik banget kalau lo mati muda gara-gara kaget sama suara robot."
Jeno berdiri sangat dekat di samping Lana. Berbeda dengan Arka yang wibawa, Jeno terasa lebih seperti teman sebaya yang sangat jahil namun aslinya peduli. Ia menyalakan layar panel tersebut.
"Liat nih. Ini namanya voice command security system. Lo nggak usah bisik-bisik ke tembok kayak tadi, Lan. Norak tau nggak," ucap Jeno dengan bahasa "Gue-Lo" yang santai. "Rumah ini tuh dengerin suara penghuninya. Tapi lo harus sebut kodenya dulu."
Jeno mendekatkan wajahnya ke mikrofon panel tersebut. "Sistem, kunci semua akses."
Bip! Pintu utama langsung berbunyi klik dan lampu hijau kecil menyala.
"Tuh, liat. Dia nurut kan sama gue? Dia nggak bakal marah kalau lo panggilnya bener," Jeno nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Sekarang coba lo ngomong. Bilang 'Sistem, buka kunci'."
Lana menelan ludah, menatap lubang kecil itu dengan ragu. "S-sistem... buka kunci, tolong..."
"Gak usah pakai tolong, Lan! Dia itu budak digital, bukan Pak RT!" ledek Jeno sambil tertawa. "Ulangi, yang tegas!"
Lana menarik napas panjang. "Sistem, buka kunci!"
Bip! Pintu kembali terbuka. Mata Lana membelalak kagum. "Wah! Dia dengerin suara Lana, Kak Jeno! Hebat banget!"
"Iyalah, kan udah gue daftarin suara lo tadi pas lo teriak-teriak manggil Arka," Jeno mengacak rambut Lana dengan gemas, saking gemasnya sampai kepala Lana sedikit terguncang. "Nah, soal tombol merah ini... dengerin gue baik-baik. Jangan pernah lo sentuh kecuali ada maling masuk atau rumah ini beneran kebakaran. Ngerti nggak lo? Kalau lo pencet lagi tanpa alasan, Kak Gaza bakal dateng bawa pasukan polisi lengkap ke sini, terus kita semua masuk berita karena lo iseng."
Lana mengangguk mantap. "Iya, Kak Jeno. Lana janji nggak akan sentuh lagi. Lana takut sama mbak-mbak robotnya."
Jeno tersenyum puas. Ia tiba-tiba merangkul bahu Lana dengan akrab, membawa gadis itu duduk di sofa depan layar televisi raksasa. "Yaudah, karena lo udah bikin gue kalah di game tadi, lo harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab gimana, Kak?" tanya Lana bingung.
"Lo temenin gue main game sampai pagi! Gue ajarin lo gimana caranya jadi pro player. Gak asik banget kalau lo cuma tau cara nyuci sama masak doang," seru Jeno penuh semangat. Ia memberikan satu controller cadangan ke tangan Lana.
"Tapi Kak... Lana nggak tahu cara mainnya. Ini tombolnya banyak banget," bisik Lana sambil menatap controller dengan bingung.
Jeno duduk sangat rapat di samping Lana, bahkan kaki mereka bersentuhan. Ia memegang kedua tangan Lana yang sedang memegang controller, mengarahkan jempol Lana ke stik analog. "Gini caranya, Lan. Jempol lo di sini buat jalan, terus tombol bulet ini buat mukul. Udah, lo hajar aja siapa pun yang muncul di layar. Gampang kan?"
Lana merasakan tangan Jeno yang hangat dan lincah membimbing tangannya. Aroma tubuh Jeno yang seperti wangi detergen dan sedikit aroma kopi terasa sangat segar. Lana mulai mengikuti instruksi Jeno, dan sesaat kemudian, ia mulai larut dalam keseruan permainan di layar.
"Hajar, Lan! Hajar! Nah gitu! Gila, lo bakat juga jadi gamer!" teriak Jeno heboh sambil sesekali bertepuk tangan di paha Lana.
Lana tertawa riang, rasa takutnya pada alarm tadi sirna sepenuhnya. "Wah! Lana menang, Kak Jeno! Lana berhasil pukul monsternya!"
Jeno menatap wajah Lana yang sedang tertawa lepas. Sinar dari layar televisi terpantul di matanya yang bening. Jeno merasa ada sesuatu yang berdesir di hatinya, sesuatu yang lebih mendebarkan daripada memenangkan turnamen internasional. Ia dengan spontan mencubit pipi Lana dengan gemas.
"Lo lucu banget sih, Lan. Sumpah, kalau lo nggak tinggal di sini, rumah ini pasti garing banget kayak kerupuk masuk angin," gumam Jeno pelan.
"Kak Jeno ngomong apa?" tanya Lana sambil menoleh.
"Dih, kepo lo! Udah, ayo main lagi! Pokoknya malam ini gue bikin lo jadi ratu game!" Jeno mengalihkan pembicaraan dengan wajah yang sedikit memerah.
Di tengah malam yang dingin di Jakarta, di dalam penthouse yang serba digital itu, Lana belajar satu hal lagi: bahwa teknologi tidak selamanya menakutkan jika ada seseorang yang bersedia memegang tangannya dan menertawakan kesalahannya. Bagi Lana, Jeno adalah kakak yang paling seru, sementara bagi Jeno, Lana adalah "misi" paling sulit yang pernah ia hadapi—misi untuk menjaga agar kepolosan itu tetap utuh di tengah kerasnya dunia mereka.