Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Sore hari Liora duduk di taman belakang mansion.
Sendiri. Angin berhembus pelan.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar bebas bergerak.
Tanpa bayangan seseorang yang selalu mengawasi terlalu dekat.
Sejak kejadian di ruang makan tadi.
Namun. perasaan itu tidak sepenuhnya nyaman.
Aneh.
Kosong.
Ia menunduk. Memainkan ujung bajunya.
“Kenapa jadi sepi…”
gumamnya pelan.
Langkah kaki terdengar.
Pelan.
Teratur. Liora langsung menoleh.
Dan.
Saga.
Berdiri di sana. Jarak beberapa langkah.
Tidak mendekat. Tidak seperti biasanya.
Hanya… berdiri. Mengawasi.
Liora menelan ludah. Tubuhnya refleks menegang. Namun Saga tidak bergerak
Tidak memaksa.
Tidak menarik.
Hanya berkata.
“Makan malam.”
Suaranya tetap dingin.
Namun kali ini. tidak memerintah dengan keras.
Lebih seperti… memberi tahu.
Liora diam beberapa detik.
Lalu. mengangguk pelan.
***
Di ruang makan. suasana terasa berbeda.
Liora duduk. Di kursinya sendiri.
Dan.
Saga juga duduk.
Di kursinya sendiri. Tidak menarik.
Tidak memaksa.
Para pelayan bahkan terlihat bingung. Namun tidak ada yang berani bicara.
Liora melirik.
Sekilas.
Saga tetap makan dengan tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun.
beberapa kali. tatapannya mengarah ke Liora.
Memastikan. Tanpa kata.
Bahkan saat selesai makan saga langsung pergi begitu saja ,hingga larut malam saga belum juga pulang. liora merasa ada sesuatu yang hilang namun tak terlihat.
Ia memutuskan pergi kekamarnya.
" Lebih baik begini...." gumannya.
***
Pagi itu mansion terasa tenang.
Terlalu tenang. Saga masih belum kembali dari semalam pergi.
Seperti biasa Mengurus bisnisnya dan juga...
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu.
tidak ada bayangan pria itu di dekat Liora. Liora berjalan pelan di halaman depan.
Udara pagi menyentuh wajahnya. Memberi sedikit rasa lega.
Langkahnya ringan. Meski pikirannya masih penuh.
Tentang Saga.
Tentang semua yang terjadi.
Namun setidaknya hari ini ia bisa bernapas sedikit lebih bebas.
Tanpa sadar langkahnya membawa ke arah gerbang utama mansion.
Gerbang besar itu berdiri kokoh. Dengan penjagaan ketat.
Beberapa anak buah Saga berjaga di sana. Namun mereka hanya menunduk hormat saat melihat Liora.
Tidak menghalangi.
Tidak juga banyak bicara.
Liora berhenti.
Menatap keluar. Jalanan di luar tampak lengang.
Dunia luar… yang terasa begitu jauh dari hidupnya sekarang.
Ia menghela napas pelan.
“Seandainya…” gumamnya lirih.
Namun ia tidak melanjutkan.
***
Di kejauhan sebuah mobil hitam terparkir cukup jauh dari gerbang.
Tampak biasa.
Tidak mencurigakan.
Namun.
di dalamnya sepasang mata mengawasi.
Tajam.
Penuh perhitungan.
Varo.
Tangannya mengepal di setir. Tatapannya tidak lepas dari sosok Liora di balik gerbang.
“Jadi ini…”
gumamnya pelan.
“…alasan dia berubah.”
Matanya menyipit.
Mengingat kembali Wajah adiknya.
Selena. Yang hilang beberapa hari yang lalu Karena satu orang. sungguh sangat sempit dunia ini , rival lamanya menjadi salah satu tersangka hilangnya adiknya
Saga.
Dan kini.
orang itu punya seseorang. Yang jelas berarti.
***
Setelah lama mengamati Varo keluar dari mobil.
Langkahnya tenang.
Terukur.
Ia mendekat. Tidak terlalu cepat.
Tidak mencurigakan.
Hingga akhirnya berhenti di depan gerbang.
Liora yang masih berdiri
menoleh. Menyadari ada seseorang di luar. Tatapannya bertemu dengan pria asing itu.
DEG.
Liora sedikit tertegun.
Tidak mengenalnya. Namun ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuatnya tidak nyaman.
Namun..
ia tetap diam.
“Pagi.”
Sapa Varo.
Suaranya tenang. Terlalu tenang. Liora ragu sejenak.
Namun tetap menjawab pelan.
“…pagi.”
Ia melirik ke arah penjaga. Namun mereka tidak bereaksi berlebihan.
Karena pria itu masih di luar. Belum dianggap ancaman.
Varo memperhatikan Liora dengan seksama.
Dari dekat ia bisa melihat jelas.
Wajah itu.
Ekspresi itu. Tidak terlihat seperti bagian dari dunia Saga.
Justru terlihat rapuh.
Dan itu membuatnya semakin yakin.
“Namamu Liora, kan?”
Tanyanya Langsung. Karna memang saat selena kelas sma ia selalu menunjukkan foto - foto liora ke dia, Bahkan ia sering melihat liora diam- diam sebelum ia berangkat ke luar negri , Namun liora tidak lernah tahu hal itu.
DEG.
Liora sedikit kaget.
“K-kamu… siapa?”
Varo tersenyum tipis. Namun tidak sampai ke mata.
“Hanya orang yang… tahu banyak hal.”
Jawabnya samar. Liora mengerutkan kening.
Mulai merasa aneh.
“Kalau gak ada urusan, lebih baik pergi.”
Ucapnya pelan. Meski suaranya masih hati-hati.
Namun sudah ada jarak.
Varo tidak langsung pergi. Ia justru sedikit mendekat ke pagar.
Menatap Liora lebih dalam.
“Dia memperlakukanmu dengan baik?”
Pertanyaan itu tiba-tiba. Membuat Liora terdiam.
Tidak tahu harus menjawab apa.
“Kalau kamu butuh bantuan—”
lanjut Varo, "Aku bisa bantu kamu keluar dari tempat ini.”
DEG!
Jantung Liora berdetak lebih cepat.
Kata-kata itu, menggoda.
Namun juga menakutkan. Ia tidak mengenal pria ini.
Sama sekali.
Dan pengalaman sebelumnya.
Mengajarkannya sesuatu. Tidak semua orang yang terlihat menolong benar-benar aman.
Liora mundur satu langkah.
“Aku gak kenal kamu.”
Ucapnya.
Lebih tegas.
Varo tersenyum lagi. Kali ini lebih dingin.
“Tidak apa-apa.”
Katanya.
“Yang penting… aku kenal siapa yang menahanmu di sini.”
Tatapannya berubah.
Lebih tajam. Lebih gelap. Namun cepat kembali normal.
Di kejauhan..
salah satu anak buah Saga mulai memperhatikan lebih serius.
Merasa ada yang tidak beres.
Varo menyadari itu.
Ia melangkah mundur.
“Pikirkan saja.” Ucapnya pelan.
Lalu berbalik. Berjalan kembali ke mobilnya.
Liora berdiri diam. Menatap kepergian pria itu.
Perasaannya tidak tenang. Ada sesuatu yang salah. Namun ia tidak tahu apa.
***
Sementara di dalam mobil, Varo menatap kembali ke arah mansion.
Tatapannya dingin.
Penuh rencana.
“Kalau dia kelemahanmu…”
gumamnya pelan,
“…aku akan mulai dari sana, Saga.”
Mesin mobil menyala.
Dan perlahan ia pergi.
Meninggalkan satu hal yang belum disadari Liora.
Bahwa ia baru saja masuk, ke dalam permainan yang jauh lebih berbahaya
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...........................