NovelToon NovelToon
Bocil Milik Mafia Hyper

Bocil Milik Mafia Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cintapertama / Nikahmuda / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Pandaimut

Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Aca

Aca masih berdiri di atas ranjang dengan napas memburu. Dadanya naik turun cepat karena kaget setengah mati.

Rambutnya yang panjang sedikit berantakan, dan kedua matanya menatap Aron seolah pria itu baru saja muncul dari dimensi lain.

“Kenapa lo ada di kamar gue?!” ujarnya penuh kekesalan.

Aron masih bersandar santai di kepala ranjang, satu kaki ditekuk, ekspresinya hampir terlalu tenang untuk situasi itu.

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Aku juga senang lihat kamu bangun dengan semangat seperti itu,” katanya ringan.

“JANGAN NGALIHIN TOPIK!” Aca menunjuknya kekesalannya lagi. “Jawab dulu!”

Aron menghela napas pelan, lalu duduk lebih tegak. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena baru bangun tidur, tapi entah kenapa justru membuatnya terlihat semakin santai dan percaya diri.

“Aku datang menemui Bara,” katanya akhirnya.

Aca menyipitkan mata. “Terus kenapa lo malah tidur di kamar gue?!”

“Karena aku nunggu.”

“DI RANJANG GUE?!”

Aron mengangkat bahu seolah itu hal paling normal di dunia. “Ini tempatnya nyaman.”

Aca hampir meledak. Ia melompat turun dari ranjang lalu berjalan mondar-mandir di kamar seperti singa kecil yang marah.

“Gila. Ini gila.” Aca memegang kepalanya. “Kalau abang gue tau…”

“Dia tau.”

Aca berhenti mendadak. “Apa?”

Aron mengangguk santai. “Dia bahkan yang membiarkan aku di sini.”

Beberapa detik kamar itu hening. Aca memproses kalimat itu dengan wajah kosong.

Lalu matanya langsung menyala. “ABANG GUE GILA YA?!”

Aron hampir tertawa melihat reaksinya. “Aku tidak bilang gitu sayang.”

Aca berjalan cepat ke arah pintu kamar. “Gue keluar.”

Ia mencoba memutar gagang pintu. Tidak bergerak. Aca mencoba lagi. Masih tidak terbuka.

Ia berhenti. Lalu menoleh perlahan ke arah Aron dengan ekspresi tidak percaya. “Dia ngunci pintunya?”

Aron tidak menjawab. Senyumnya saja sudah cukup sebagai jawaban.

Aca menutup mata sebentar. “Gue dibuang sama keluarga sendiri.”

Aron akhirnya tertawa pelan. Suara tawanya rendah tapi jelas sangat terhibur. “Aku rasa dia cuma ingin memastikan kita tidak saling bunuh.”

Aca berbalik cepat. “Siapa yang mau bunuh siapa?!”

“Kamu kelihatannya ingin menendangku sejak bangun tadi.”

Aca benar-benar melakukannya. Tanpa peringatan ia melangkah cepat lalu memukul bahu Aron. “Ini kamar gue!”

Pukulan kedua. “Ini ranjang gue!”

Pukulan ketiga. “Dan lo….”

Namun sebelum pukulan berikutnya mendarat, Aron menangkap pergelangan tangannya dengan cepat.

Refleksnya jauh lebih cepat. Aca membeku.

Aron tidak terlihat marah. Ia hanya memegang pergelangan tangan Aca agar gadis itu berhenti menyerangnya.

“Tenang,” katanya rendah.

Aca mencoba menarik tangannya. “Lepasin!”

“Aku cuma menahanmu biar kamu gak ngelukain tanganmu sendiri.”

“Gue gak butuh….”

Aca mencoba memukul lagi dengan tangan satunya. Namun Aron sudah mengantisipasinya.

Dalam satu gerakan cepat, ia menarik Aca sedikit lebih dekat lalu menahan kedua tangan gadis itu.

Bukan dengan kasar. Tapi cukup kuat untuk menghentikannya bergerak liar.

“Calm down,” katanya pelan.

Aca menatapnya dengan mata menyala. “Lo masuk kamar gue tanpa izin terus nyuruh gue tenang?!”

Aron menatapnya beberapa detik. Ekspresinya berubah sedikit lebih serius.

“Aca,” katanya. Nada suaranya tidak lagi bercanda.

Hanya satu kata. Tapi cukup membuat Aca berhenti bergerak sejenak.

Aron menghela napas pelan. “Aku tidak melakukan apa pun sama kamu.”

Aca mendengus. “Ya iyalah jangan sampe…”

“Aku cuma tidur,” lanjut Aron tenang.

Ia melepas salah satu tangan Aca lalu menunjuk ke arah ranjang. “Kamu yang naik sendiri.”

Aca langsung terdiam. “Apa?”

“Kamu masuk kamar. Kamu pikir aku Bara.”

Aca mengerjapkan mata. “Lalu kamu naik ke ranjang.”

Aca mulai mengingat sesuatu. Sore tadi ia capek banget. Lalu melihat seseorang di ranjang.

Ia pikir itu Bara. Aron melanjutkan dengan nada santai. “Kamu bahkan memelukku duluan.”

Aca membeku total. “Hah?”

Aron mengangguk sedikit. “Kamu juga tidur di dadaku.”

Beberapa detik Aca hanya berdiri diam. Pipinya perlahan berubah merah. “BOHONG!”

Aron mengangkat alis. “Mau bukti, hmm?”

Aca langsung memalingkan wajah. “Oke mungkin…mungkin gue lagi setengah sadar!”

Aron tersenyum kecil. “ Itu jelas sayang.”

Aca menatapnya lagi dengan kesal. “Kenapa lo gak bangunin gue?!”

“Kamu terlihat sangat lelah.” Jawaban itu keluar begitu saja. Tanpa nada bercanda.

Aca sedikit terdiam. Aron melanjutkan. “Seragammu kotor. Rambutmu bau jus buah.”

Aca langsung teringat kejadian di sekolah. Ekspresinya berubah kesal lagi. “Ah… itu.”

Aron memperhatikan perubahan wajahnya. “Siapa yang melakukan itu?”

Nada suaranya pelan. Tapi ada sesuatu yang tajam di dalamnya.

Aca langsung mengibaskan tangan. “Bukan urusan lo.”

“Aca.”

“Gue bilang bukan urusan lo!”

Aron menatapnya beberapa detik. Lalu ia bersandar lagi ke ranjang. “Ya.”

Aca sedikit heran karena ia menyerah terlalu cepat. Namun kemudian Aron berkata lagi dengan santai. “Aku tetap akan mencari tahu sendiri.”

Aca mendengus. “Sok banget.”

Aron tidak menanggapi. Keheningan sebentar memenuhi kamar.

Aca akhirnya duduk di ujung ranjang, masih menjaga jarak. Ia mengacak rambutnya sendiri dengan kesal.

“Ini semua salah abang gue.”

Aron tersenyum tipis. “Dia ngasih waktu buat kita berduaan sayang.”

Aca menatap langit-langit kamar. “Dia pasti lagi ketawa di luar sana.”

Sementara itu, beberapa meter dari kamar Bara benar-benar sedang tertawa. Ia bersandar di dinding koridor sambil melihat ponselnya.

Foto yang tadi ia ambil masih ada di layar. “Ini bakal jadi bahan ledekan setahun,” gumamnya.

Ia menyimpan ponsel lagi lalu berjalan santai ke arah tangga. “Semoga mereka gak ngebakar kamar.”

Kembali ke dalam kamar. Aca akhirnya berdiri lagi. “Oke. Kita keluar sekarang.”

Ia menunjuk pintu. Aron meliriknya. “Pintunya terkunci.”

“Ya makanya kita keluar!” Aron bangkit dari ranjang dengan gerakan santai.

Tubuhnya jauh lebih tinggi dari Aca sehingga gadis itu harus sedikit mendongak untuk menatapnya.

“Sabar.”

Ia berjalan ke pintu. Memutar gagang. Tidak terbuka. Aron mengetuk pintu sekali. Tidak ada jawaban.

Aca melipat tangan. “Liat? Abang gue emang nyebelin.”

Aron mengamati pintu itu sebentar. Lalu ia menoleh ke arah Aca. “Sepertinya kita harus menunggu.”

Aca langsung protes. “Menunggu apa?!”

“Dia pasti akan membuka nanti.”

Aca menghela napas panjang. “Gue bener-bener dikurung sama abang sendiri.”

Ia berjalan kembali ke ranjang lalu menjatuhkan tubuhnya duduk. Aron kembali duduk di kursi dekat jendela.

Beberapa menit mereka hanya diam. Aca akhirnya meliriknya. “Kenapa lo sering banget ganggu hidup gue sih?”

Aron mengangkat alis. “Ganggu?”

“Iya.”

Aca menghitung dengan jari. “Pertama mobil lo hampir nabrak gue.”

“Kamu yang menabrakku.”

“TERSERAH!” Aca melanjutkan. “Terus sekarang lo tidur di kamar gue.”

Aron tersenyum kecil. “Aku udah jelasin itu semua sayang. Apa masih kurang jelas, hmm?”

Aca memutar mata. “Pokoknya aneh.”

Aron menatapnya beberapa detik. Lalu berkata pelan, “Aca.”

“Apa?”

“Jangan panggil aku Om.”

Aca mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Aku masih dua puluh tiga tahun.”

Nada suaranya terdengar sedikit kesal. Aca menatapnya beberapa detik. Lalu tanpa peringatan ia tertawa keras. “HAHAHA!”

Aron menyipitkan mata. “Kamu menertawakanku?”

“Ya jelas!”

Aca menunjuknya. “Tapi panggilan Om cocok sama lo yang dingin kaku gini.”

“Itu cuma candaan.”

“Buat gue itu fakta.” tegas Aca dengan wajah tengilnya.

Aron menghela napas panjang. “Aca.”

“Apa lagi?”

“Panggil saja namaku.”

Aca menyilangkan tangan. “Kenapa?”

“Karena aku tidak suka dipanggil Om.”

Aca memiringkan kepala. Ekspresinya penuh godaan. “Aron?”

Untuk pertama kalinya sejak tadi, Aron terlihat benar-benar puas.

“Ya. Seperti itu.”

Aca langsung menambahkan dengan nada jahil. “Om Aron.”

Aron menutup wajahnya sebentar. “Aca…”

Aca tertawa lagi. Suasana di kamar itu akhirnya berubah sedikit lebih ringan. Meski pintu masih terkunci. Meski mereka masih terjebak di kamar yang sama.

Namun untuk pertama kalinya sejak Aca bangun tadi, ia tidak lagi terlihat seperti ingin melempar Aron keluar jendela.

Dan Aron hanya menatap gadis keras kepala itu dengan senyum kecil. Seolah semua kekacauan hari itu entah kenapa terasa jauh lebih menarik sejak Aca ada di dekatnya.

Beberapa menit kemudian suara langkah kaki terdengar di koridor.

Klik.

Kunci pintu diputar dari luar. Pintu kamar akhirnya terbuka. Bara masuk dengan ekspresi santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun begitu melihat dua orang itu di dalam kamar, senyum jahil langsung muncul di wajahnya.

“Aduh… aduh…” katanya sambil menepuk tangan pelan. “Bangun juga ternyata.”

Aca langsung berdiri. “ABANG!”

Bara pura-pura kaget. “Wah galak banget. Baru bangun tidur ya?”

Aca menunjuknya dengan kesal. “ABANG NGUNCI KAMAR ACA?!”

Bara mengangkat bahu santai. “Cuma bantuin.”

“BANTUIN APA?!”

Bara menoleh ke arah Aron yang sekarang duduk santai di kursi dekat jendela. Lalu kembali menatap Aca dengan senyum yang semakin jahil.

“Bantuin lo tidur nyenyak sama calon pacar.”

Beberapa detik hening. Lalu wajah Aca langsung merah padam. “APA?!”

Bara tertawa keras. “Gue liat sendiri tadi. Peluk-pelukan di ranjang.”

“ITU SALAH PAHAM!”

“Wah romantis banget loh posisinya.”

“ABANG!” Aca langsung melompat ke arah Bara.

Ia benar-benar meloncat dan naik ke tubuh kakaknya itu seperti anak kecil yang sedang marah.

“GUE BUNUH LO!”

Bara langsung mundur beberapa langkah. “WOY WOY!”

Namun Aca sudah mengambil bantal dari ranjang.

Plak!

Bantal itu menghantam kepala Bara.

Plak!

Sekali lagi.

“Berisik banget sih!”

Bara tertawa sambil menahan serangan bantal.

“Aduh! Aduh! Kejam banget adek gue!”

Aca semakin kesal. “Makanya jangan ngomong aneh-aneh!”

Ia memukul lagi. Namun tiba-tiba tubuhnya terangkat dari belakang.

“Eh….”

Dalam satu gerakan cepat Aron sudah mengangkat Aca. Benar-benar seperti mengangkat karung beras.

Tubuh gadis itu langsung berada di bahunya.

“ARON! TURUNIN GUE!”

Aca menendang-nendang udara. Aron sama sekali tidak terlihat kesulitan.

Ia berjalan santai ke arah sofa besar di kamar itu. Lalu menurunkan Aca dan mendudukkannya di sana.

“Aca.” Nada suaranya tenang tapi tegas.

“Cukup sayang.”

Aca masih mendengus kesal.

Sementara Bara menatap mereka dengan mata menyipit. “Woy,” katanya kesal. “Jangan sentuh adek gue seenaknya lo.”

Aron menoleh padanya dengan santai. Lalu menjawab tanpa ragu sedikit pun. “Dia cewek gue.”

Ruangan itu langsung hening. Bara berkedip dua kali. “HAH?!”

Aca juga membeku beberapa detik. Lalu wajahnya langsung berubah jengah. “Ya ampun…”

Ia menutup wajah dengan tangan. “Gue mandi aja deh.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Aca berdiri dari sofa lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.

Pintu ditutup cukup keras. Di luar kamar mandi, Bara masih menatap Aron dengan ekspresi tidak percaya.

“Lo serius?”

Aron malah duduk santai di lantai dekat TV. Ia mengambil stik PlayStation yang ada di meja.

“Main?”

Bara mengerutkan kening. “Lo ketua mafia.”

“Iya.”

“Kerjaan lo banyak.”

“Iya.”

“Tapi lo malah main PS di kamar adek gue?”

Aron menyalakan konsol dengan santai. “Kadang orang juga butuh libur.”

Bara menatapnya beberapa detik. Lalu akhirnya mendengus. “Dasar orang aneh.”

Namun ia tetap duduk di sebelah Aron dan mengambil stik satunya. Beberapa detik kemudian suara game memenuhi kamar.

Sementara itu dari dalam kamar mandi terdengar suara shower menyala.

Bara melirik Aron sebentar. “Lo beneran suka sama dia ya?”

Aron fokus ke layar. “Hmm.”

Bara tertawa kecil. “Ketua mafia paling ditakuti di kota…” Ia menggeleng sambil tersenyum. “ternyata bisa bucin juga.”

Aron tidak menyangkal. Justru sudut bibirnya sedikit terangkat. “Memang.”

“Tapi lo Lucifer bukan manusia Ar.” ujar Bara tiba tiba.

“Yeah, it’s me.” jawab Aron sambil tersenyum miring.

1
Elis yulianti
cerita nya menarik ka,, aku suka
Elis yulianti
lanjut ya ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!