"Pe-periksa Hadiah Aktivasi Sistem…" kata Liam dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Ding!
[Selamat telah berhasil memperoleh Sistem Tamparan Wajah. Berikut adalah hadiah aktivasi satu kali]
[1.000.000 Dolar (Silakan periksa sakumu untuk detailnya)]
Liam, seorang mahasiswa miskin yang hidup sederhana dan sering dipandang rendah oleh orang lain. Hidupnya berubah drastis setelah ia dikhianati oleh pacarnya, Bella, yang memilih pria kaya dan berkuasa. Dalam kondisi hancur dan putus asa, Liam tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem misterius yang memberinya kekuatan untuk membalas hinaan orang lain dengan cara mempermalukan mereka.
Dengan bantuan sistem tersebut, Liam memperoleh kekayaan, kekuatan, dan berbagai kemampuan luar biasa. Dari seorang pemuda lemah yang diremehkan, ia perlahan bangkit menjadi sosok yang percaya diri, kuat, dan bertekad untuk mengubah nasibnya serta membalas semua orang yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Pengawal?
Mendengar perkataan karyawan pria itu, Liam tidak bisa menahan diri untuk mengerutkan kening karena kesal.
"Apa maksudnya bersandar di kaca? Kapan aku bersandar di kaca?"
Karena pola pikirnya yang lama, Liam masih takut merusak sesuatu di toko mahal ini, sehingga ia memastikan untuk tidak berdiri terlalu dekat dengan etalase kaca saat melihat jam-jam mahal di dalamnya.
Namun karyawan itu masih berani menyuruhnya untuk tidak terlalu dekat?
Apa maunya? Melihat barang dari jarak 10 meter?
Yang lebih membuatnya kesal adalah pria itu benar-benar mengira ia seorang pengawal.
Sejak kapan ia menjadi pengawal? Dan pengawal siapa?
Tatapan merendahkan dari karyawan itu membuat Liam semakin jengkel.
Namun, saat ia hendak membalas, ia tiba-tiba teringat sesuatu yang sangat penting.
"Tunggu. Kenapa aku malah marah? Bukankah aku seharusnya senang dengan hal seperti ini?"
"Kalau aku mempermalukannya, bukankah aku akan mendapatkan Poin Sistem? Hehe."
Saat Liam kembali melihat sikap merendahkan karyawan itu, ia tidak lagi merasa kesal. Sebaliknya, ia justru merasa sedikit senang.
Tanpa sadar, senyum menyeringai muncul di wajah Liam saat ia memandang karyawan itu seperti serigala lapar.
‘Lagi. Lagi. Coba rendahkan aku lebih banyak. Hehe,’ pikir Liam diam-diam.
‘Tunggu, itu terasa salah?’
Namun, menyadari bahwa ia justru merasa senang karena dihina, ia tidak bisa tidak berpikir bahwa ada yang aneh dengan dirinya.
Kenapa ia merasa senang dihina? Ia senang karena poin yang akan didapatkan.
"Ya, pasti itu alasannya. Aku bukan masokis," Liam meyakinkan dirinya sendiri.
Pada saat itu, karyawan tersebut melihat seringai Liam. Ia menjadi semakin kesal, mengira Liam sedang meremehkannya.
"Berani sekali kau. Aku karyawan di toko ini sementara kau hanyalah pengawal. Berani-beraninya kau menatapku seperti itu?"
"Kau sebaiknya keluar, atau aku akan melaporkanmu kepada bosmu," ancam karyawan itu ketika melihat Liam tidak bergerak.
Di sisi lain, Liam hanya menatapnya seolah-olah dia orang bodoh.
‘Bos? Bos kepalamu. Aku tidak punya bos.’
Melihat Liam tetap tidak bergerak, karyawan itu tidak tahan lagi. Ia berbalik dan berjalan menuju Sylvie.
Ia menampilkan senyum paling ramahnya saat berkata sambil menunjuk Liam yang masih berdiri dengan ekspresi santai.
"Permisi, Nona Sylvie? Bisakah kau menyuruh pengawalmu menunggu di luar? Aku khawatir ia menghalangi jalan pelanggan lain."
Dalam pikirannya, Nona Sylvie pasti akan setuju. Lagipula, ia adalah wanita baik yang selalu menginginkan yang terbaik untuk semua orang. Ia juga sangat peduli pada pelanggan.
Jika ia melaporkan bahwa pengawalnya menghalangi pelanggan, bukankah Nona Sylvie akan menegurnya? Dan mungkin saja ia akan menyadari kepeduliannya terhadap pelanggan dan mulai memperhatikannya lebih baik.
Saat pikiran karyawan itu melayang ke mana-mana, Sylvie sudah menunjukkan ekspresi bingung.
‘Pengawal? Sejak kapan aku punya pengawal?’ pikirnya.
Namun, saat ia melihat ke arah yang ditunjuk karyawan itu, ia tidak bisa menahan diri untuk terkejut.
Melihat ekspresi santai Liam, Sylvie kurang lebih memahami apa yang terjadi.
Sylvie hanya bisa tersenyum kecut.
Aku hanya lengah sebentar, dan detik berikutnya sudah ada yang meremehkanmu? Bagaimana kau bisa melakukannya?
Namun, melihat Liam tidak berniat menjelaskan bahwa ia bukan pengawal, Sylvie juga memutuskan untuk tidak mengungkapkannya.
Di dalam hati, ia justru penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Saat itu, Liam sudah berjalan mendekati mereka.
"Aku tidak terlalu paham soal jam. Apakah kau punya rekomendasi?"
Mendengar itu, karyawan tersebut memandangnya dengan jijik.
Tidak hanya berani melihat jam tanpa kemampuan untuk membelinya, ia bahkan berani meminta rekomendasi? Dari mana keberaniannya datang?
Saat ia hendak menghancurkan khayalan Liam, kata-katanya tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar Sylvie berbicara.
"Jika kau belum punya koleksi jam, aku sarankan kau membeli yang harganya menengah. Dari yang dipajang di sini, menurutku yang paling cocok untukmu adalah ini," kata Sylvie sambil tersenyum, lalu berjalan menuju etalase kaca di sudut toko.
Liam mengabaikan karyawan pria yang terkejut itu dan melihat jam yang direkomendasikan Sylvie.
"Ini adalah Patek Philippe Aquanaut, model ini terkenal sebagai jam tangan Patek Philippe yang menggunakan tali karet komposit inovatif. Aquanaut juga hadir dalam berbagai variasi, termasuk lini khusus wanita dengan nama Aquanaut Luce.”
Sylvie menjelaskan fitur jam tersebut dengan sangat rinci. Terlihat jelas bahwa ia sangat berpengetahuan di bidang ini. Tidak heran ia menyarankan untuk datang ke sini terlebih dahulu.
Saat Sylvie menjelaskan, Liam perlahan menjadi tertarik. Ia terpukau dengan fitur-fitur yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui. Baru sekarang ia menyadari betapa minim pengetahuannya tentang jam.
Dengan penjelasan Sylvie, Liam semakin menyukai Patek Philippe Aquanaut itu. Terlihat jelas betapa hebat kemampuan Sylvie dalam menjual.
Setelah Sylvie selesai menjelaskan, Liam mengangguk dan menunjuk jam di dalam etalase.
"Jam yang bagus. Aku ambil yang ini."
Saat itu, ia teringat bahwa ini adalah merek jam yang sangat mahal.
Ia kembali melihat Patek Philippe Aquanaut itu, kali ini melirik harga yang tertera di bawahnya.
Saat melihat harganya, Liam tidak bisa menahan diri untuk tersentak kaget.