Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsitektur Dendam Sang Raja Bayangan
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar mati. Namun di sebuah sudut terpencil yang luput dari hingar-bingar lampu neon Sudirman.
Sunyi terasa begitu pekat dan mengancam. Di sebuah kawasan yang tidak tertera dengan jelas di peta digital. Terdapat sebuah gang sempit yang diapit oleh tembok-tembok beton tinggi yang ditumbuhi lumut kering.
Gang itu tampak seperti urat nadi yang tersumbat. Lengang dan memiliki aura privasi yang absolut. Seolah-olah aspal di bawahnya adalah milik pribadi yang tak boleh diinjak oleh sembarang kaki.
Di ujung gang yang paling gelap di mana lampu jalanan hanya menyisakan kerlip kuning yang sekarat, berdiri seorang pria. Tubuhnya tegap dan agak tinggi, dibalut oleh jubah hitam panjang yang menjuntai hingga ke mata kaki.
Jubah itu tidak berkibar meski angin malam berembus kencang. Seolah-olah kainnya memiliki beban rahasia yang berat. Wajahnya tertutup rapat oleh masker hitam misterius.
Hanya menyisakan sepasang mata yang dingin, setajam silet. Memandang lurus ke depan dengan ketenangan seorang predator yang sedang menunggu mangsa.
Ia berdiri mematung, tidak ada gerak napas yang terlihat, tidak ada kepulan asap rokok. Hanya keheningan yang menyesakkan di gang buntu yang menuju sebuah gerbang besi raksasa. Akses menuju sebuah rumah mewah yang tak tersentuh oleh hukum maupun penglihatan publik.
Tak lama kemudian, suara ketukan sepatu hak tinggi memecah kesunyian. Iramanya teratur, mantap dan penuh wibawa. Dari kegelapan di pangkal gang, muncul seorang wanita yang berjalan dengan keanggunan yang mematikan.
Ia mengenakan pakaian serba hitam yang pas di tubuh. Menonjolkan lekuk siluetnya yang atletis namun tetap feminin. Wajahnya pun tak jelas terlihat. Tersembunyi di balik masker hitam yang senada dengan pakaiannya.
Wanita itu berhenti tepat tiga langkah di depan sang pria berjubah. Tidak ada jabatan tangan, tidak ada sapaan hangat yang ada hannyalah ketegangan yang merambat di antara dinding-dinding beton.
"Semuanya sudah sesuai rencana?" suara sang pria terdengar rendah, parau, dan bergetar dengan otoritas yang menakutkan.
Wanita itu mengangguk pelan. Matanya yang indah namun menyimpan kilat kelicikan menatap sang pria tanpa gentar.
"Target sudah dalam genggaman. Dia tidak akan menyangka bahwa kelemahannya adalah jantungnya sendiri. Obat yang dicampurkan ke dalam kopinya bekerja dengan durasi yang sangat presisi. Dia tumbang tepat saat aku tiba."
Pria berjubah itu menarik napas panjang, seolah menghirup aroma kemenangan yang sudah lama ia nantikan. Ia melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang hampir terlihat emosional, ia menepuk pundak sang wanita dengan bangga.
"Bagus. Kita sudah susah payah berdiri lagi dari puing-puing kehancuran dua puluh lima tahun lalu," ucap pria itu, suaranya kini mengandung getaran dendam yang dalam.
"Kita harus mengganti nama, mengubah wajah, dan membangun kembali gurita bisnis kita dari nol. Hanya agar Macan Hitam tidak bisa mengendus keberadaan kita. Tapi sekarang, saatnya mereka tahu bahwa kita tidak pernah benar-benar mati."
Pria itu mencengkeram bahu wanita itu sedikit lebih kuat. Menatap ke arah gerbang rumah mewah di belakang mereka, "Masa lalu dan penghinaan yang dilakukan Darmawan pada keluarga kita. Harus dibalas dengan darah yang setimpal, putriku. Bukan hanya Adnan, tapi seluruh keturunan Darmawan harus lenyap. Tanpa sisa, tanpa nisan dan tanpa jejak."
Wanita bermasker itu hanya tersenyum di balik kain hitamnya, "Segala persiapan sudah matang, Ayah. Arsitektur yang mereka bangun dengan sombong itu akan segera runtuh menimpa kepala mereka sendiri."
Di sisi lain, di balik gerbang besi raksasa yang tadi mereka bicarakan, di dalam salah satu kamar di lantai atas rumah mewah yang interiornya dilapisi marmer dan emas, seorang pria mulai mengerang.
Adnan membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang menusuk di pangkal tengkoraknya, diikuti oleh denyut yang tidak menyenangkan di dadanya.
Pandangannya buram, seolah-olah ada lapisan kabut tebal yang menghalangi matanya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, dan ia menyadari bahwa ia sedang berbaring di atas permukaan yang sangat lembut.
Sebuah kasur king size dengan seprei sutra yang sangat mahal. Adnan berkedip beberapa kali, mencoba menjernihkan pandangannya.
Langit-langit ruangan itu tinggi, dihiasi dengan ukiran klasik dan lampu gantung kristal yang megah. Ini bukan rumahnya. Ini bukan rumah sakit dan ini jelas bukan rumah orang tuanya.
"Di mana..." suara Adnan keluar dengan sangat lemah, tenggorokannya terasa seperti terbakar.
Ingatannya berputar kembali ke beberapa jam yang lalu. Ia ingat sedang duduk di taman kantor. Ia ingat sedang memegang gelas kopi hitam pahit pemberian... siapa? Pikirannya mendadak kosong.
Ia ingat rasa sesak yang tiba-tiba menyerang jantungnya, pandangan yang berkunang-kunang, dan rasa dingin rerumputan di wajahnya. Setelah itu, hanya kegelapan.
Adnan mencoba bangkit, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang yang berlapis beludru. Ia memperhatikan sekeliling. Kamar ini sangat luas, hampir sebesar luas lantai satu rumahnya sendiri.
Jendela-jendela besar ditutupi oleh gorden beludru tebal berwarna merah marun. Tidak ada tanda-tanda peralatan medis di sini. Hanya kemewahan yang terasa mencekam.
Cklek.
Pintu kamar yang berat itu terbuka pelan. Seorang wanita muda mengenakan seragam pelayan berwarna hitam putih. Masuk dengan baki perak di tangannya. Ia meletakkan gelas berisi air putih di atas nakas samping ranjang.
"Tuan sudah sadar?" tanya pelayan itu dengan suara yang sangat datar, hampir tidak memiliki emosi.
Adnan menatap pelayan itu dengan bingung, "Siapa kamu? Ini di mana? Kenapa aku ada di sini?"
Pelayan itu tidak menjawab pertanyaan Adnan. Ia justru membungkuk sopan, "Tuan sebaiknya istirahat sebentar lagi. Nyonya sebentar lagi akan datang menemui Tuan."
Adnan mengerutkan kening, rasa sakit di kepalanya semakin berdenyut, "Nyonya? Siapa yang kamu panggil Nyonya? Apakah Arini ada di sini? Bawa aku keluar dari sini sekarang juga!"
Adnan mencoba turun dari ranjang, namun kakinya terasa seperti jeli. Ia hampir saja terjatuh jika tidak segera berpegangan pada pinggiran meja. Pelayan itu hanya berdiri diam, tidak mencoba membantu namun juga tidak menghalangi.
"Rumah siapa ini?" tanya Adnan sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas meski suaranya masih serak.
"Ini adalah kediaman yang sudah lama menunggu Tuan," jawab pelayan itu misterius sebelum berbalik dan keluar dari kamar, mengunci pintu dari luar dengan suara klik yang sangat jelas.
Adnan terpaku, pintu terkunci. Ia disekap di tengah kemewahan yang asing. Siapa "Nyonya" yang dimaksud pelayan tadi? Arini tidak mungkin memiliki rumah semewah ini tanpa sepengetahuannya. Ataukah... ini adalah rumah milik "Raja" yang dibicarakan ayahnya?
Di tengah kebingungannya, Adnan melihat sebuah foto kecil yang terletak di atas meja rias di sudut kamar. Ia menyeret langkahnya menuju meja itu. Jantungnya berdegup kencang saat melihat bingkai foto tersebut.
Itu adalah foto dirinya. Foto dirinya saat masih kecil, sedang digandeng oleh seorang wanita cantik yang wajahnya sengaja dicoret dengan tinta hitam. Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan yang rapi namun terasa sangat dingin.
Selamat datang di rumah yang seharusnya menjadi milikmu. Jika ayahmu tidak menghancurkan segalanya.
Adnan menjatuhkan foto itu. Rasa takut yang murni kini mulai menjalar di punggungnya.
Ia bukan hanya diculik, ia dibawa ke sebuah sarang dendam yang telah dipersiapkan selama puluhan tahun dan "Nyonya" yang akan datang sebentar lagi. Mungkin adalah malaikat maut yang selama ini ia remehkan keberadaannya.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...